NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Dilamar Ceo Dingin

Tiba-tiba Dilamar Ceo Dingin

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Airlangit

Follow IG-Airlangit9

Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis polos

Said memarkirkan mobilnya di halaman sebuah pusat perbelanjaan.

Keluar dari mobilnya, pria itu memutari bodi depan dan membukakan pintu untuk Dilara.

Seorang pria menghampiri Said sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Said langsung memberikan kunci mobil pada pria itu.

"Nanti, mobil kamu dicuri." Dilara melihat mobil Said dibawa pergi oleh pria asing berseragam tadi.

Said mengulum senyum. "Tidak. Dia petugas keamanan di sini. Mobil saya dibawa ke parkiran khusus."

"Oh, begitu, ya." Dilara melirik ke arah berbeda dan beberapa pengendara melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Said barusan. Memberikan kunci mobil pada petugas keamanan.

Said mulai melangkah memasuki gedung, Dilara pun mengikutinya.

"Jadi, kamu beli ponsel mahal itu di sini?" tanyanya sangat penasaran.

"Bukan, tapi kita bisa menjual di sini."

"Di mana kamu beli?"

"Dubai UAE."

"Kamu jadi TKW di sana?"

"Bukan, waktu jalan-jalan saya tertarik membeli ponsel merk negara sana."

"Kapan kamu jalan-jalannya? Perasaan tiap hari kerja."

"Tak lama, sebelum kamu hadir di perusahaan saya sudah membelinya. Tadinya ini untuk ganti hape saya yang satunya, kalau bosan. Saat kamu kehilangan hape, saya ikhlaskan untukmu. Sebelum diberikan padamu, saya ke center service hape untuk memeriksa software dan hardware-nya masih bagus, ternyata masih bagus seperti baru, lalu diberikan padamu sebagai ganti ponselmu yang rusak." Said menjelaskan panjang lebar.

"Kamu berlebihan, Said. Masa membeli ponsel harga segitu."

"Itu standar hidup saya, Dil. Lingkar pergaulan saya adalah orang-orang yang mengenakan ponsel dengan harga segitu, itu sudah biasa. Bahkan ada yang ponselnya jauh lebih mahal daripada saya. Misalkan ada yang ponselnya harga dua milyar, lima milyar."

Dilara berdecak dan memicingkan mata. "Mudah sekali bibirmu menyebutkan nominal rupiah. Saya benar-benar iri padamu."

Said tertawa kecil, dan menoleh pada Dilara. "Kalau begitu, kamu mau jadi istriku?"

"Ah, yang benar saja." Dilara mendelik sebentar ke arah Said, lalu membuang muka.

"Agar bisa melakukan apapun yang kamu inginkan." Said melanjutkan ucapannya.

Dilara tak menyahut, matanya membulat saat melihat beberapa artis tampak berada di tempat tersebut.

"Itu ... itu Kate Winslet, ya Allah, saya tak salah lihat, kan?" Dilara menutup mulutnya sendiri dan tertawa tertahan saking senangnya. "Itu ... itu, Desi Ratnasari, ya Allah."

Dilara terus saja mengoceh ketika melihat beberapa publik figur dan Said membiarkannya.

Tiba di sebuah gerai hape yang besar, beberapa perempuan berpakaian rapi tampak berlalu-lalang. Adapula yang menyambut kedatangan Said dengan ramah, tetapi saat melihat ke arah Dilara, pelayan perempuan itu sontak berwajah datar.

"Cari apa, Pak?" tanyanya sembari tersenyum tipis. "Mari saya antar."

Said pun mengikuti langkah perempuan be-rok di atas lutut itu. Tinggi sekali, kakinya mulus dan jenjang. Seketika Dilara merasa minder.

"Saya yang mau jual hape, kok lelaki itu yang kamu pedulikan." Merasa kesal, Dilara protes.

Perempuan itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badan ke arah Dilara. "Hape merk apa? Anda tersesat, Bu? Di sini tak ada ponsel yang harganya di bawah seratus juta. Silakan jika ingin menjual ponsel bisa di konter tepi jalan." Meskipun perempuan itu tersenyum, tetapi pandangan matanya dingin.

Said berdeham menarik perhatian pelayan perempuan tersebut. "Ia yang akan menjual ponsel, Nona. Dilara ke mari!" Said melambaikan tangannya pada Dilara yang hanya diam di tempat.

Pelayan itu tetap bersikap ketus apalagi melihat Dilara jalan berdampingan dengan Said.

"Ini ponsel saya, saya mau menjualnya." Dilara meletakkan ponsel di atas etalase. Berbeda dengan pelayanan tadi, pelayan yang berdiri depan etalase tampak ramah dan murah senyum. "Tanggal pembelian dan harganya tertera di sana."

Pelayan itu memeriksa isi ponsel kemudian meminta nomor rekening Dilara.

"Berapa nomor rekeningmu, Bu?"

"Tak bisa langsung bayar tunai saja?" Dilara balik bertanya.

"Kita tak menyediakan uang tunai dalam jumlah banyak, Bu."

"Oh." Dilara pun langsung menyebutkan nomor rekeningnya. Pelayan itu dengan cekatan mencatat di atas kertas dan membawa catatan itu ke belakang.

Beberapa menit kemudian, pelayan itu kembali sambil membawa struk bukti transfer. "Ini bukti transfernya, Bu. Berhasil."

"Terima kasih, Mbak." Dilara meraih kertas kecil itu sambil mengangguk.

Ketika melihat nominal harga di kertas itu, gadis itu merasa terharu. "Hanya dipotong beberapa juta, saja," lirihnya dengan mata berkaca-kaca.

"Kalau begitu, mari kita pergi, katanya ingin mencari ponsel biasa, saya ada beberapa rekomendasi tempat yang bagus."

Dilara mengangguk, kemudian mengikuti langkah pria tinggi itu.

***

Berhasil mendapatkan ponsel baru dengan harga yang biasa orang gunakan, Dilara dan Said memilih beristirahat di sebuah taman kota yang lumayan sepi.

"Kenapa minta bantuan saya untuk jual ponsel?" Said bertanya.

"Karena kalau jual sembarangan, takut kena tipu, Said."

"Kamu cerdas juga ya." Said terkekeh.

"Saya benar-benar minta maaf telah menjual ponsel pemberianmu."

"Sudahlah, Dil. Saya yakin kamu tak akan menjual jika tak benar-benar butuh."

"Emakku banyak hutang, dan adikku akan dikeluarkan dari sekolah jika tak bayar uang belajar." Dilara bercerita tanpa dipinta. Air matanya kembali menitik.

Said tak merespon, ia hanya diam mendengarkan gadis itu berkeluh kesah. Setelah Dilara puas bercerita, barulah Said bertanya, "Kamu tak malu bercerita pada saya? Biasanya perempuan itu gengsian. Apalagi masalah pribadi."

"Entahlah, saat bercerita padamu saya tak malu. Mungkin karena kamu beberapa kali membantu kesulitan saya dan melihat kekurangan saya dan sepertinya hanya kamu yang tak terganggu matanya dengan penampilan saya ini."

Said terkekeh sebentar dan menatap wajah samping Dilara.

Saat itu, tukang es cendol lewat, merasa haus, Said langsung berdiri dan mengejar tukang es keliling itu.

Tak berselang lama, Said kembali pada Dilara membawa dua cup es yang tampak segar, dan menyodorkan satu pada Dilara.

"Terima kasih, Said."

Said kembali duduk di sampingnya. "Sama-sama."

Keduanya diam menghabiskan minuman masing-masing.

"Dil, pulang yuk. Sepertinya akan hujan." Sekian lama diam di sana, Said merasa jenuh.

Dilara meraih tas dan paper bag terburu, minuman di tangannya masih penuh, ia tak ada niat membuangnya.

Mengetahui Said telah berjalan, gadis itu mengejar. "Said tunggu," serunya.

Said membalikkan badan, ketika melihat Dilara tampak kerepotan membawa tas, paper bag dan minuman, ia berniat membawa salah satu barang gadis itu. Oleh karenanya Said menghampiri Dilara lagi.

Dilara terus melangkah tanpa melihat situasi jalan di bawah kakinya. Begitu berhasil menghampiri Said, kakinya terantuk batu, ia terjatuh langsung menabrak Said dan minuman di tangannya tumpah mengenai kerudungnya juga kemeja Said.

Dilara terkejut, begitu juga dengan Said.

"Maafkan saya, saya tak sengaja." Dilara berusaha membersihkan kotoran di kemeja pria itu.

Merasa tak nyaman dadanya dipegang-pegang, Said menangkap tangan Dilara dan menurunkannya.

"Maafkan saya, Said. Saya tak sengaja."

Said mengeluarkan sapu tangan dari balik jas dan membersihkan kemeja depannya. "Ada kios pakaian dekat sini, saya lihat tadi, mari kita ke sana."

Dilara tak berani menyahut, ia mengikuti langkah Said dengan perasaan yang tak menentu.

Depan kios pakaian keduanya berdiri, seorang perempuan paruh baya langsung menyambut.

"Butuh apa, Mas, Mbak?" tanyanya.

"Tolong carikan kerudung buat perempuan ini, dan kaos santai buat saya."

Perempuan itu menatap sejenak Said dan Dilara bergantian. "Ok siap, Mas. Tunggu sebentar, ya."

Perempuan itu tampak membongkar-bongkar tumpukan pakaian dan tak berselang lama, ia menampilkan kaos berwarna ungu tua dan jilbab instan dengan warna yang sama.

"Sepertinya ini, cocok."

Merasa tsangat tak betah dengan kemejanya yang basah, Said menerima begitu saja kaos lengan panjang itu dan masuk ke ruang ganti. Sedangkan Dilara yang tak pernah mempermasalahkan penampilan langsung membuka kerudungnya di balik etalase dan memakai kerudung instan berwarna ungu itu.

Said keluar dari balik tirai dengan pakaian berbeda, ia langsung membayar dua pakaian tersebut.

"Terima kasih, Mas. Lain kali mampir lagi, ya." Perempuan tua itu tersenyum lebar.

"Sama-sama." Said berjalan menghampiri mobilnya dan melihat Dilara duduk dekat mobilnya.

Gadis itu berdiri begitu menyadari dirinya datang. Melihat penampilan Dilara, Said terpaku, gadis itu tampak berbeda dengan jilbab instan yang dibelikannya barusan.

Terus ditatap oleh Said seperti demikian, Dilara merasa tak nyaman. Ia pun berkata gugup agar Said berhenti menatapnya. "Nanti saya ganti uang kerudung ini, ya."

"Oh, ya. Mari masuk mobil." Pria itu membukakan pintu mobil untuk Dilara kemudian dirinya duduk di balik kemudi.

"Kamu suka kerudungnya?" tanya Said iseng saat sedang mengemudi.

"Tentu saja saya bersyukur jika ada yang membelikan."

"Oh, gitu, ya." Said manggut-manggut. "Kamu cocok dengan model jilbab tersebut."

"Benarkah?"

"Tentu saja. Kamu tampak cantik." Setelah mengatakan hal tersebut, Said berdeham.

Dilara langsung tertawa. "Kata ibuku juga gitu. Setiap memakai pakaian baru aku tampak selalu cantik. Said rupanya seperti ibuku bermata jeli melihat penampilanku."

Said terdiam mendengar tanggapan Dilara. Barusan hatinya bersiap dengan situasi yang akan canggung. Perempuan jika dipuji akan merona dan salah tingkah. Mengapa gadis itu berbeda?

1
Nur RaudLoh NauRa
menakjubkan/Drool/
Nur RaudLoh NauRa
bagus sila, dasar pemalas tu mbk2 m mas seenak e udelle
Nur RaudLoh NauRa
lucunya/Drool/
Apreel Leeya
typo trus..ayahnya dipanggil Murad..Murad...
Teresia Atik tinus
Kecewa
Cechen Mei li
lelaki dancuk
Cechen Mei li
kok murad sih
Cechen Mei li
said kk
Cechen Mei li
saik kk bukan Danil🤦‍♀️
Nayla Azizah
kasihan ms dilara menderita mulu Thor??kpan bahagia menghampiri'n??
Shen shandian luo
gak mau uangnya tapi tetep ikutan bohong...kan percuma bicara soal dosa....😂😂😂😂😂😂😂😂
Irma Yanti
dilara lugu.. kadang bikin emosi ya..maaf Thor
Irma Yanti
cerita bagus Thor...semangaaad
Yuniarti Rossyidie
ceritanya lumayan menghibur...lucu...
💟노르 아스마💟
sejauh ini bayik suka ...gk bertele²
Marchel
halo kakak author yang baik hati aku ijin share novel aku ya yang berjudul " Bos and me " dan " gadis cantik itu milikku " terimakasih kakak author 🙏
Cusy Low Aty
lanjut
Suriani Anhy
biarlah said bersama Dilara, utk daniel mudah2hn selamat dn mnjdi mafia utk bisa bls dendam kpd murad.... 😀😀🤭, bisa dong kita menghayal juga thor🤭
Ziza Yazid
lanjut persi dilara
Ziza Yazid
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!