Bagaimana jika manusia diibaratkan seperti es krim? Es krim itu dingin dan manis. Akan tetapi, itu adalah es krim dan es krim jelas berbeda dengan manusia yang memiliki hati dan emosi.
Bagaimana jika dingin dan manis, hati dan emosi itu dilebur menjadi satu? Kemudian dibumbui sedikit rasa traumatis yang begitu membekas hingga membuat kisahnya menjadi dramatis.
Ini adalah Ambar dan itu adalah Damar. Ambar adalah penikmat es krim yang sangat menyukai perpaduan manis dan dingin. Sedangkan Damar yang dingin tapi diam-diam manis dan dipenuhi emosi yang dramatis.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan yang lain, itu hanya pertemuan singkat yang melibatkan sebuah kecelakaan kecil. Iya, itu hanya kecelakaan kecil. Namun, bagaimana jika selanjutnya mereka terlibat dalam serangan panik hingga percobaan bunuh diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Istik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1 1. C a m e r a
Dengan napas terengah-engah Ambar menyusul Lala dan Angga yang sudah lebih dulu duduk di teras rumah sederhana milik orang tua Ambar. Teras rumah itu terlihat segar dengan tumbuhan rumput jepang yang menghiasi dan terasa sedikit basah ketika pagi. Ambar tiba di depan rumahnya dengan tubuh penuh keringat yang membut bajunya benar-benar basah. Keringat juga menetes dari surai rambut gadis itu.
Perlahan-lahan Ambar menghampiri kedua sahabatnya dan ikut duduk di antara mereka berdua. "Lo harus banyak olahraga biar gak gampang capek. Kalau lo males gerak, ya bakal kayak gini terus," ucap Angga yang mengajak mereka lari pagi.
Saat Ambar baru saja mendudukkan dirinya, seseorang keluar dari rumah Ambar. Seorang wanita paruh baya dengan wajah sedikit pucat berjalan menghampiri Angga, Lala, dan Ambar sambil membawa seteko air putih dan tiga buah gelas. Ambar langsung menolehkan kepala ke belakang begitu merasa ada suara langkah kaki mendekat.
"Loh, Ma? Kan, tadi Ambar udah bilang istirahat aja," ucap Ambar sambil menghampiri sang ibu kemudian mengambil alih teko dan gelas yang dia bawa.
Setelah meletakkan teko dan gelas ke hadapan Angga dan Lala, Ambar kembali menghampiri ibunya dan membantu wanita itu untuk duduk di bangku yang sengaja diletakkan di teras rumah. Nyaris setahun terakhir, bangku itu sering digunakan Amara--Ibu dari Ambar--untuk sekedar duduk mengamati lalu lalang jalanan di gang kecil depan rumahnya, menunggu putri dan suaminya pulang. Atau hanya untuk bersantai setelah mengurus rumah, satu-satunya kegiatan yang dia miliki setelah berhenti bekerja karena semakin sering sakit-sakitan.
Ambar tidak pernah tau pasti ibunya sakit apa. Yang gadis itu tau hanya Amara yang memang sering terlihat pucat, atau terkadang hingga pingsan. Ambar tidak pernah diberi jawaban yang jujur dan pasti oleh orang tuanya. Seolah gadis itu tidak dibolehkan ikut serta menanggung beban yang ada.
Berbeda dengan keluarga berada Lala dan Angga, yang meskipun memiliki uang di mana mana tetapi sang anak tidak dapat dibuatnya bahagia. Keluarga Ambar justru keluarga dengan ekonomi menengah. Sehingga terkadang Lala dan Angga ikut membantu.
"Am, gue sama Lala mau balik dulu, ya. Nanti dua jam lagi gue jemput, anterin ke bandara," ucap Angga setelah mereka selesai minum.
Beberapa detik berlalu, Ambar hanya diam. Kemudian melirik Amara untuk meminta persetujuan. "Oke," jawab Ambar setelah Mamanya mengangguk setuju.
🍒🍒🍒
Lala benar-banar menolak saat di minta menunggu Angga hingga keberangkatan pesawatnya. Seolah dia menolak untuk melihat Angga pergi. Jadi Lala dan Ambar hanya mengantar ke bandara, tanpa menunggu Angga hingga keberangkatannya.
"Nih," ucap Angga sambil memberikan sesuatu pada Ambar. Tidak langsung mengambilnya, Ambar justru menatap Angga dan Lala secara bergantian lalu kembali menatap Angga. "Buat ganti kamera lo yang rusak. Biar lo gak jadi keluar dari ekstra jurnalistik karena kamera lo udah rusak."
"Kok, kamu tau, Ang?" tanya Ambar yang kemudian menatap Lala. Sang pelaku pun hanya menunjukkan sederet giginya.
"Udah, buruan ambil. Gue buru-buru, nih." Ambar tidak bisa menolak jika sudah sahabatnya yang memberi, jadi diambil lah kamera itu dari tangan Angga.
"Yaudah, gue mau berangkat." Sambil tersenyum lebar, Angga merentangkan tangannya. Lalu spontan saja Ambar dan Lala memeluk Angga secara bersamaan.
"Gue berangkat dulu," ucap Angga setelah berpelukan. Kemudi segera melangkah menuju ruang tunggu dan menghilang dari jangkauan pandangan Ambar dan Lala.
Lala menyenggol lengan Ambar, memberi tanda untuk segera masuk kembali ke dalam mobil. "Habis ini mau ke mana, ya?" tanya Lala pada Ambar setelah mobil yang mereka tumpangi mulai berjalan.
"Pulang?" saran Ambar.
"Yaudah, deh. Pulang aja." Dengan berat hati Lala menyetujui ajakan Ambar untuk pulang saja. Lagi pula dari gelagat sahabatnya yang terus mengecek jam tangan, Lala tau jika Ambar ingin segera pulang.
Dengan waktu yang sedikit lebih lama dibanding saat berangkat, mereka sampai di depan rumah Ambar setelah melewati kemacetan yang cukup padat. Ambar membuka pintu mobil kemudian keluar, lalu berbalik untuk menutup pintu mobil dan melambaikan tangan pada Lala. Tapi saat akan melambaikan tangan, Lala justru ikut keluar dan menutup pintu mobil. Setelahnya mobil itu berjalan menjauh dan masuk ke pelataran rumah Lala yang jaraknya cukup dekat dengan rumah Ambar.
"Ngapain ikut keluar?" tanya Ambar saat Lala berjalan mendekatinya.
"Mau makan masakannya Mama Amara," ucap Ambar dengan santainya lalu mendahului sang tuan rumah untuk masuk ke dalam rumah.
"Enak aja, jatah makanku nanti jadi sedikit," ucap Ambar tidak bermaksud menolak keberadaan Lala.
Lala mengendikkan bahu dan masih dengan santai dia terus berjalan masuk. Merasa di ledek oleh Lala, Ambar berusaha mengejar gadis itu untuk memukul pundaknya. Tetapi Ambar justru tersandung dan hampir menjatuhkan kamera yang ada di tangannya. Nyaris saja kamera baru pemberian Angga itu bernasib sama dengan kamera lama Ambar. Namun, untungnya tidak sehingga membuat Ambar mengelus dadanya lega.
Beberapa saat kemudian Ambar jadi teringat bagaimana kamera lamanya bisa rusak. Saat itu Ambar sedang berjalan-jalan dengan Lala tanpa menggunakan kendaraan. Sengaja mereka melakukan itu, yang Ambar melakukannya untuk mencari inspirasi sedangkan Lala hanya ingin buang-buang waktunya dengan menemani Ambar. Kemudian ketika Ambar telah mendapatkan sebuah objek menarik untuk diabadikan dengan lensa kameranya, seseorang justru menyenggol lengan Ambar dan membuat kamera gadis itu terjatuh melesak pada aspal yang keras.
Selama beberapa detik mereka bertiga hanya bisa menatapi kamera yang sudah hancur. Ambar baru tersadar saat orang yang menabraknya membungkukkan badan sambil berkata, "Maaf." lalu pergi. Lala berniat mengejar orang itu untuk dimintai pertanggung jawaban, tapi Ambar mencegahnya. Sambil menahan tubuh Lala, Ambar menatap seseorang bertubuh jangkung, dengan pundak lebar itu mulai menjauh. Sepintas saat lelaki tadi membungkukkan badan, Ambar sempat melihat jika lelaki itu berkaca mata.
Sekarang Ambar tau siapa orang yang menabraknya. Lelaki jangkung, dengan punggung lebar, dan kaca mata. Tidak mungkin salah, karena Ambar sudah hapal dengan postur tubuh itu.
bagus banget sumpah 😍😍
secara mereka LDR jd bisa buat pemanis cerita angga Nova n lala
Rate-5 ku juga sudah mendarat ya🛬
Jangan lupa feedback ke karyaku 🥰🥰
❤"Meisya & Randi "❤
Kisah sahabat kecil jadi cinta 💕
Terima kasih🙏🙏