"Aku ingin mati saja, buat apa aku hidup toh semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang bisa dibanggakan lagi dari diriku. Semuanya telah hancur. Keluargaku akan hancur bila mengetahui ini semua, akulah kebanggaan mereka tapi kini leyaplah semua" ucapku dengan melempar buku-buku. Aku duduk terdiam dengan fikiran menerawang entah apa yang aku fikirkan. Aku gak punya semangat lagi, seakan semuanya musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 FITNAH 1
Mobil perlahan-lahan memasuki halaman kontrakan panji, Merekapun turun dan segera masuk kedalam. Panji mengantarkan Najwa kekamar agar istrinya istirahat. Habis itu panji, papa dan mamanya berbincang-bincang diruang tamu.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada istrimu ji" tanya pak dedi karena belum mendengar penjelasan anaknya sebelumnya.
"Kemaren itu kami sudah siap-siap mau berangkat, Najwa lari karena kebetulan panji yang ngejarnya namun tiba-tiba Najwa jatuh dan bayi kita gak bisa tertolong" jelas panji.
"Apa? Najwa hamil?" tanya pak dedi karena merasa kaget.
"Iya pa, Najwa hamil masih berapa minggu tapi karena jatuh bayinya gak bisa ditolong" bohong panji karena panji gak mau sampai orang tuanya tahu kalau sebenarnya Najwa sudah hamil duluan.
"Maafkan kami pa karena sudah bohong"batin panji.
"Alah paling dia sengaja menjatuhkan diri karena gak mau hamil, dia itu nikah sama kamu bukan karena tulus tapi ada niat terselubung, percaya sama mama. Mama bisa merasakan kalau dia itu sebenarnya bukan perempuan baik-baik. Wajahnya aja terlihat polos padahal hatinya busuk".
" mama!!!!" bentak panji karena mendengar ucapan mamanya yang sudah keterlaluan. "Mama sudah keterlaluan, Najwa tidak seperti apa yang mama tuduhkan. Panji tau seperti apa Najwa. Jadi, mama gak usah menfitnah Najwa macam-macam. Panji lebih tau Najwa ketimbang mama" ucap panji dengan wajah memerah menahan rasa marah. Panji gak habis fikir, mamanya bisa berkata sesadis itu terhadap istrinya.
Deg
Didalam kamar, Najwa hanya bisa menangis mendengar ucapan mama mertuanya, sungguh tuduhan yang dituduhkan mertuanya sangat kejam. Najwa gak tau, kenapa mertuanya begitu membencinya, apa karena Najwa bukan orang kaya, hingga mertuanya begitu benci padanya. Najwa hanya bisa bersabar dan pasrah menghadapi mama mertuanya, Najwa selalu berdoa semoga nanti hati mama mertuanya bisa luluh dan bisa menerima kehadiran Najwa. Hanya Allah yang bisa membolak balikkan hati seseorang.
"Yasudah kalau kamu tidak percaya omongan mama, tapi ingat suatu saat kamu akan tahu yang sebenarnya dan akan menyesal sudah menikah dan tidak percaya dengan ucapan mama. Istri model kayak gitu yang dibela-bela masih mending imel jauh. Imel cantik, pintar dan keturunan dari keluarga yang jelas. Gak kayak dia gak jelas asal usulnya " ucap mamanya panji dengan meninggalkan ruang tamu. Didalam kamar mama panji masih merasa jengah dengan sikap anaknya yang sudah tidak mau menurut lagi. Dulu panji selalu nurut apa kata mamanya tapi sekarang tidak lagi, mungkin panji sudah merasa lelah dengan sikap dan sifat mamanya yang selalu menilai sesuatu dengan harta dan jabatan.
"Ini semua gara-gara perempuan itu, panji sudah berani padaku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui mereka. Kita tunggu saja sampai kapan panji bisa menentang kata-kataku. Banyak cara untuk memisahkan mereka. Demi masa depan anakku satu-satunya, semua akan aku lakukan" batin mama panji sambil senyum-senyum sendiri di tepi ranjang. Sedangkan dikamar lain, Najwa hanya bisa menangis mengingat kata-kata mama mertuanya yang secara langsung sudah membuat Najwa sakit hati. Dia hanya bisa bersabar mempunyai mertua yang seperti itu. Dia tidak menyesal menikah dengan panji, akan tetapi dia belum siap terus-terusan sakit hati karena ucapan mama mertuanya.
"Sayang, kok gak istirahat?" tanya panji dengan menghampiri istrinya yang sedang duduk didepan meja rias. "Loh kenapa kok nangis?" tanya panji lagi yang hanya dijawab dengan senyuman palsu Najwa. Ya...senyuman yang sengaja dia buat-buat agar sang suami tidak khawatir.
"Gak apa-apa mas, aku hanya ingat calon bayi kita, gak nyangka diperutku sudah gak ada baby kita. Dia pergi sebelum hadir kedunia ini. Dia pergi disaat aku mulai menyayanginya. Rasanya ada yang hilang dalam diri aku hiks hiks hiks" air mata tak dapat dibendung lagi, entah Najwa menangis karena kehilangan banyinya atau karena ingat kata-kata mertuanya. Entahlah saat ini masalah yang dia pikul terlalu besar, rasanya Najwa tak mampu untuk memikul semuanya. Najwa berharap semuanya akan baik-baik saja. Saat ini Najwa hanya butuh dukungan seorang suami.
"Aku paham apa yang kamu rasa sayank, tapi ikhlaskan semuanya. Mungkin Allah belum mempercayakan bayi kepada kita. Kita butuh kesiapan dan keikhlasan untuk bisa merawatnya" jawab panji dengan mengelus ujung kepala Najwa.
"Yaudah mas mau menemani papa ya soalnya nanti sore papa sama mama mau pulang. Kamu istirahat ya soalnya kondisimu belum begitu fit" ujar panji dengan menggandeng tangan Najwa agar segera naik ke ranjang.
"Iya sayank nanti aku istirahat. Aku pengen sambil dengerin musik ya" Najwa berusaha tersenyum walau sebenarnya hatinya sakit. Najwa tidak mau melihat suaminya terus-terusan sedih melihat keadaan Najwa. Najwa berusaha terlihat baik-baik saja didepan suaminya.
"Yaudah gimana enaknya kamu aja yank, aku keluar dulu ya" ucapnya lagi sambil mencium kening Najwa. Perlahan-lahan panji keluar dengan menutup pintu kamarnya lagi. Najwa mulai mencari-cari musik kesukaannya dan tentunya mewakili perasaannya saat ini. Najwapun menyalakan lagu yang dipopulerkan oleh Mahalini penyanyi pendatang baru.
Indah semua cerita
Yang t'lah terlewati
Dalam satu cinta
Kita yang pernah bermimpi
Jalani semua
Hanya ada kita
Namun ternyata
Pada akhirnya
Tak mungkin bisa kupaksa
Restunya tak berpihak
Pada kita
Mungkinkah saya meminta
Kisah kita selamanya
Tak terlintas dalam benakku
Bila hariku tanpamu
S'gala cara t'lah ku coba
Pertahankan cinta kita
S'lalu kutitipkan dalam doaku
Tapi saya tidak mampu
Melawan restu
Namun ternyata
Pada akhirnya
Tak mungkin bisa kupaksa
Restunya tak berpihak
Pada kita
Mungkinkah saya meminta
Kisah kita selamanya
Tak terlintas dalam benakku
Bila hariku tanpamu
S'gala cara t'lah ku coba
Pertahankan cinta kita
Tanpa terasa air mata Najwa jatuh kembali, kata-kata sang mama mertua melambai-lambai di ingatannya.
"Ya Allah kuatkanlah hati ini dalam menghadapi sikap mama yang begitu membenci hamba. Ya Allah lindungilah pernikahan hamba semoga selalu dijalnMU. Hamba berserah diri kepadamu ya Rabb" batin Najwa. Tiba-tiba Najwa ingat akan kedua orang tuanya. Najwapun mematikan musik dan segera mencari no telfon sang bapak. Ditekannya no bapaknya.
Duuutttt
Duuutttt
Duuuutttt
Panggilan pertama tidak diangkat, Najwa mengulanginya kembali akhirnya telfonpun diangkat.
"Hallo nduk, Assalamualaikum" jawab sang bapak diseberang sana.
"Waalaikumsalam bapak, bagaimana kabar bapak?" tanya Najwa dengan wajah sumringah karena sudah lama tidak mendengar suara bapaknya.
"Alhamdulillah kabar bapak dan ibu baik nduk, bagaimana kabar kamu dan suamimu?"
"Alhamdulillah kabar kami juga baik pak"
"Syukurlah kalau begitu. Oiya bagaimana kuliah kamu nduk lancar?" tanya bapak kembali.
"Alhamdulillah lancar pak, sebentar lagi ujian akhir dan skripsi. Doain Najwa dan mas panji ya pak semoga skripsi kami cepat selesai agar kami bisa secepatnya mencari pekerjaan"
"Doa bapak dan ibu selalu menyertai kalian. Tanpa kalian minta setiap sujud kami selalu menyebut nama kalian. Kalian sehat-sehat ya disana. Kalau ada kesulitan kasih tahu kami, insyaallah kami akan selalu ada untuk kalian".
"Iya pak terimakasih oiya ibu kemana pak?"
"Ibumu lagi ngerewang nduk, si sofi mau nikah lusa"
"Alhamdulillah sofi udah mau nikah pak, Najwa senang mendengarnya. Semoga acaranya lancar sampai selesai. Bapak dan ibu jaga kesehatan ya. Yaudah Najwa tutup dulu telfonnya Assalamualaikum" Najwapun mematikan telfonnya dan menaroknya diatas nakas. Tatapannya memandangi langit-langit kamarnya dengan fikiran amburadul.