Menjelang hari pernikahan Belinda astari harus menerima kenyataan pahit. Calon suaminya Sulthan ardanu yudha menghilang, seperti sudah menduga ini akan terjadi Belinda bisa tegar tapi tidak dengan orang-orang yang dia sayangi. Umi Maryam calon ibu mertua yang sangat menyayangi nya dan ayahnya harus di larikan ke rumah sakit karena shock dengan berita menghilangnya Danu. Saat dia berusaha tegar menghadapi kenyataan tiba-tiba Sulthan Anggara yudha melamar siap menggantikan posisi Danu. Belinda ragu, apakah dia harus menerima atau menolak lamaran adik dari calon suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan perasaan
Indira bersikeras untuk menunggu Angga, segala bujuk rayu sudah Roman lakukan agar Indira pulang. Bukan Indira namanya kalau tidak mendapatkan apa yang dia mau.
"Please Dira, kita pulang ya besok kesini lagi," Bujuk Roman.
"Ga mau, aku maunya disini kamu aja yang pulang besok kan harus kerja ga mau kan kalo papa ngasih sp ke kamu!" Jawab ketus Indira dengan berkacak pinggang pada Roman.
Belinda baru selesai mengurus beberapa administrasi dan keperluan selama di rumah sakit yang di bantu Adit baru bisa masuk ke dalam kamar rawat suaminya dan tubuh lelahnya harus di hadapkan pada keributan kecil antara Roman dan Indira.
"Ya ampun, Kalian apa ga paham kalo ada pasien yang butuh istirahat, kenapa ribut disini udah pulang semua!" Ujar Belinda yang membuka lebar pintu kamarnya.
"Pulang sana man, besok aja kalo mau besuk aku juga mau istirahat nemenin Angga,"
Belinda melotot ke arah Indira yang bersiap akan naik ke atas brankar Angga"stop, stop ngapain kamu?"
Indira Menoleh ke kanan dan ke kiri lalu menunjuk dirinya sendiri "gue? Mau istirahatlah emang mau berenang,"
"Turun ga? Lo mau di usir pake cara halus atau cara kasar? Daritadi aku sudah cukup bersabar ya ngadepin kamu tapi lama-lama ngelunjak, jadi ga ada pilihan lain harus pake kekerasan!"
"Udah Bel biar aku yang bujuk yah, ini rumah sakit jangan ribut!" Roman berusaha menahan agar Belinda tidak emosi.
"Coba aja emang berani pake kekerasan, karir suami lo taruhannya dan asal lo tahu Angga sangat mencintai pekerjaannya, gue lebih tahu apa yang Angga mau daripada lo!" Tantang Indira.
Tanpa menjawab Belinda berjalan ke arah brankar Adit yang bisa menebak apa yang akan Belinda lakukan hanya diam saja. Baginya, ini adalah hiburan tersendiri karena sudah lama tidak melihat sahabatnya mengamuk seperti ini. Indira sudah bersiap untuk merebahkan tubuhnya di sebelah Angga memang tertidur setelah minum obat, terdengar suara jeritan Indira hingga membangunkan Angga bahkan Roman pun bengong melihat apa yang di lakukan Belinda.
Belinda menarik rambut Indira sambil menyeret keluar kamar dan di hempaskannya di depan pintu, Indira terjatuh ke lantai benar-benar tidak menyangka kalau akan di perlakuan seperti ini.
Roman segera membantu Indira berdiri, Dira mulai menangis dan meringis kesakitan. Dari dalam kamar melempar tas dan sepatu Indira.
"Jangan pernah kembali kesini!"
"Perempuan kampung lo bakal nyesel…"
Tanpa menjawab lagi Belinda masuk dan menutup pintu.
Melihat istrinya mengamuk Angga hanya benging, dia terbangun karena suara teriakan Indira tepat di sampingnya.
"Apa liat-liat? Ga Terima mantannya di usir?" Sembur Belinda.
"Santai aja bro, sudah lama nggak ngamuk kalo di tahan jadi bisul nanti," Seloroh Adit yang justru mendapat pelototan dari Belinda.
Angga hanya menggeleng pelan, dan memilih melanjutkan tidur, bukan apa-apa Angga hanya tidak ingin mengganggu singa betina yang mengamuk.
"Ya sudah, kamu istrahat ya Bel kalo butuh apa-apa telpon saja jangan khawatir masalah kerjaan biar aku handle semua,"
"Thanks ya Dit, sampaikan maafku pada Opa,"
"Opa ngerti kok, oh ya gue suka gaya loo sudah lama ga liat lo ngamuk kayak tadi," Ujar Adit yang tertawa.
Belinda yang di goda melempar botol minum ke arah Adit " Mau di seret juga?"
Tengah malam Angga terbangun, melihat Belinda masih duduk di sebelah brankarnya sibuk dengan ponselnya. Melihat pergerakan dari suaminya gegas ia letakkan gawainya.
"Ada apa? Butuh sesuatu?apa mau minum?"
Angga menganggukkan kepala, Belinda membantunya minum.
"Bisa minta tolong, aku mau sandaran aja dari tadi tiduran capek,"
Belinda segera mengatur posisi brankar posisi yang diminta suaminya, kembali dia duduk di kursi samping brankar.
"Kamu ga capek? Kenapa belum tidur?"
Belinda hanya menggeleng, kembali sibuk dengan gawainya terlalu banyak pekerjaannya yang membuat mata betah terjaga.
"Kamu masih marah?" Tanya Angga lagi.
"Marah kenapa?"
"Soal Indira, beneran aku ga tahu kenapa dia ada disini," Jawab Angga dengan mengacungkan dua jari.
Belinda tersenyum "kalau aku marah sudah aku tinggal pulang daritadi, ngapain aku capek-capek disini,"
"Makasih ya!" Angga meraih tangan Belinda dan menggenggam nya.
Canggung itulah yang di rasakan Belinda.
"Aku mau tanya sesuatu, tapi kamu jawab jujur ya?" Tanya Belinda gugup.
"Apa?"
"Kamu beneran ga terpaksa menikah dengan aku? Aku lihat kamu enjoy aja jalanin semua ini sedangkan aku masih merasa canggung.Bahkan Indira yang masih mengejar kamu juga abaikan apa ada sesuatu yang aku ga tau? Atau kamu punya rencana lain?"
Angga tersenyum, diciumnya tangan Belinda. Belinda terkejut dengan respon Angga.
"Aku bahagia menikah denganmu, boleh percaya atau tidak aku bersyukur menikah dengan wanita yang aku cintai sejak kelas lima SD,"
"Hah, sejak kelas lima?" Belinda terkejut dengan jawaban Angga. Bagaimana tidak terkejut kalau Angga kelas lima SD bberati saat itu Belinda kelas tiga SMP.
"Iya, Diam-diam aku mengagumi seorang gadis tomboy yang usianya empat tahun diatasku. caraku menunjukkan perhatianku dengan selalu mengganggu nya, membuatnya marah dan jengkel lalu mengejarku untuk balas dendam. Aku sangat bahagia jika dia membalasku tapi suatu saat aku tidak sengaja mendorongnya jatuh ke parit membuatnya terluka makanya aku diam saja saat dia melempar batu ke arahku,"Angga menghela nafas.
"Lalu?" Tanya Belinda tak sabar.
"Saat kepalaku bocor dan harus di jahit pun aku menahan agar tidak menangis itu semua karena aku sangat merasa bersalah pada gadis itu. Apalagi, saat pakdenya ngamuk sama Abah dan mengatakan kalau kaki keponakan nya harus di jahit banyak aku semakin merasa bersalah. Sejak itu, aku berhenti untuk mengganggu nya sedih karena aku tidak lagi bisa melihatnya secara dekat,"
Tenggorokan Belinda tercekat, sedalam itukah Angga mencintai nya.
"Kalau memang kamu mencintaiku kenapa ga mencari dan menyatakannya?"
"Aku merasa belum pantas, kenapa aku memilih kuliah di Jakarta, karena aku mau mencarimu orang- orang bilang kamu kerja di pabrik makanan di sini. Setiap ada waktu luang aku mencarimu di sekitar pabrik dan ga pernah bisa ketemu, bahkan media sosialmu minim informasi,"
Belinda tertawa "ya ga bakal ketemu lah, aku ga kerja di pabrik bagian produksi, emang sih kalau orang Tanya aku jawabnya kerja di pabrik makanan biar gampang aja. Kalaupun aku ke kantor ya pasti lewat gerbang khusus bareng Adit bukan gerbang utama. Tunggu, jadi itu alasan kenapa saat acara lamaran aku sama mas Danu kamu ga pulang trus pas lebaran juga kita ga ketemu?"
"Iya, karena aku patah hati, padahal selalu kusebut namamu disetiap doaku, selain memantaskan diri dengan pekerjaan yang mapan aku selalu berdoa semoga gadis tomboy itu jodohku. Tapi kenapa malah mas Danu yang akan menikah denganmu, aku yang berusaha kenapa dia yang diberi kemudahan," Ucap Angga lesu.
"Tapi, kan tiap lebaran aku mudik kenapa kita bisa ga ketemu ya!" Sela Belinda.
"Entahlah, padahal aku berusaha memcarimu. Selalu kamunya sudah balik ke Jakarta. Ketika umi memberitahu kalo mas Danu menghilang entah kenapa aku merasa ini jalan jodohku, aku juga sudah putus dari Indira. Bahkan belum pernah aku sesemangat ini untuk pulang, pengen cepet-cepet meminangmu. Bahkan sebelum ijabkabul aku selalu berdoa mas Danu jangan pulang,"
Belinda melotot ke arah Angga "jadi, aku gagal nikah dua kali itu gara-gara doa kamu!"
Angga mencubit pipi istrinya gemas "maaf ya, doa orang yang tulus mencintaimu, dan kini kesabaran ku berubah manis,"
Seketika pipi Belinda merona, seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan, dia bahkan tidak menyangka ada orang yang mencintainya sedemikian. Belinda selalu mengira Danu lah yang terbaik ternyata dia hanya seorang pecundang yang pergi tanpa pesan.
"Emang apa alasannya kamu bisa sebucin itu sama aku? Bukan hanya karena rasa bersalah kan?"
"Bukan, entahlah dulu aku sangat suka melihat kamu yang tidak pernah takut apapun. Jadi, mulai sekarang kita jalani rumah tangga kita dengan normal ya, ga ada itu tidur terpisah,"
"Lah, kan kmu sendiri yang minta kita tidur pisah," Belinda membela diri.
"Aku mau bilang kasur aku kecil, besok kita beli yang agak lebar malah kamu salah paham,"
"Ya itukan gara-gara mantan kamu, datang-datang nyerang kayak gitu ya bad mood lah,"ujar Belinda sewot.
" Ohya, emang wajahku berubah drastis ya, sampe kamu ga ngenalin aku pas pertama kita ketemu di rumah sakit?"
"Beda lah, dulu item dekil pendek jelek!"
"Berati sekarang ganteng kan? Sampe ibu aja bilang mirip Lee Min ho,"
"Ga usah kepedean Angga!"
" Berati mulai besok kalo aku udah boleh pulang kita tidur bareng ya!" Ujar Angga sambil memainkan alisnya.
"Dasar kamu yang ada dipikiran nya tidur bareng mulu!"
"Ya mau ngapain lagi coba pengantin baru," Ujar Angga yang memainkan kedua alisnya.
"Udah tidur, hampir pagi ngantuk aku," Ujar Belinda sambil berlalu ke arah kasur khusus untuk penunggu pasien, segera merebahkan diri dan menutup dirinya dengan selimut. Dia hanya tidak ingin Angga tahu bahwa hatinya sedang berbunga-bunga.
"Sayang, bobok bareng sini yuk!" Ajak Angga.
Belinda dari dalam selimut tak menyahut, tapi dia senyum-senyum sendiri. Kalau ada Riska pasti sudah di olok-olok.
dari tadi nerocos mulu
jadi penasaran niih gantengnya kek apa sih Angga ini kok di samain sama Lee min ho🤔🤔
awas sampai kau berulah
mampir juga di karya ku yaa ..
mohon di baca dengan benar tolong jangan di skip....jangan boom like yaa 🙏
saling dukung yukk, jangan lupa yaa mampir juga di karya ku /Smile/