Faylan Laurentika Plavius, gadis penebus hutang yang kemudian dijadikan tumbal sebuah tradisi di kerajaan Oesteria, di mana setiap keturunan bangsawan wajib menjadi duda agar terhindar dari kutukan. Faylan dipaksa menikah dengan seorang pangeran yang arogant dan kejam. Sesuai tradisi Faylan akan diceraikan setelah sebulan menjadi Unlucky Bride.
Allison Jois Afson, pangeran tampan yang sengaja menikahi Faylan dan tak berniat menceraikannya. Apa alasan Allison enggan menceraikan Faylan? Benarkah karena timbulnya perasaan cinta atau hanya ingin membuktikan kebenaran tentang kutukan? Atau ada motif lain di baliknya?
Sekuel DUREN BANGSAWAN
jangan lupa follow IG Author @Oniya_99
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 ~ Susu
Saat di jalan menuju kediaman plavius, Allison tampak kesal karena mobil pemadam kebakaran yang lewat membuat jalanan macet.
"Sial!" umpat Allison karena tak bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia mengekor di belakang mobil pemadam kebakaran tanpa rasa curiga sedikit pun.
Ketika hampir sampai di kediaman plavius, Allison pun baru menyadari bahwa kebakaran besar terjadi di rumah Faylan. Allison mempercepat laju kendaraan. Saat tiba ia pun segera turun dari mobil.
"Tuan Allison!" seorang pelayan menghampiri Allison.
"Mana Faylan?" tanya Allison khawatir.
"Tuan, tolong lakukan sesuatu, tolong selamatkan nona Faylan," pintanya memohon.
"Di mana dia!?" Allison membentak tak sabaran. Sang pelayan tak menjawab, tapi langsung menunjuk ke arah kobaran api yang berusaha pemadam kebakaran taklukkan.
Tahu Faylan dalam bahaya, Allison bergerak cepat akan menerobos api. Tapi, usahanya gagal kala seseorang menahan pergelangan tangannya.
"Jangan gegabah, tuan," Allison menepis pergelangan tangannya, kemudian melesat pergi, Allison sangat kuat, siapa yang sanggup menahannya.
"Apa yang kalian lihat!? Cepat susul tuan muda!" asisten Juan membentak beberapa orang pemadam kebakaran untuk menyusul Allison. Setelah siap dengan jubah khusus serta oksigen, mereka pun menyusul Allison. Asisten Juan juga turut menerobos api.
"Faylan!" teriak Allison melihat Faylan yang tergeletak di lantai, api sedikit lagi melahapnya. Beruntung Allison datang tepat waktu. Allison langsung menggendong Faylan ala bridal.
"Sial!" Allison berdecak kesal karena sudah terjebak di lingkaran api yang merambat ingin melahapnya.
"Tuan!" terdengar suara asisten Juan memanggilnya.
Asisten Juan datang bersama dengan dua orang pemadam kebakaran. Allison dan Faylan berhasil selamat.
***
Oesterian Hospital
Sehari dirawat, akhirnya Faylan sadarkan diri, kondisinya juga sudah membaik. Dokter memberikan terapi oksigen terbaik hingga kondisi Faylan cepat pulih.
"Olivia, Daisy, Alexa," Faylan mengabsen ketiga adik yang datang mengunjungi.
"Akhirnya kak Faylan sadar juga!" seru ketiganya bersamaan. Olivia dan Daisy kompak memeluk Faylan.
"Jangan terlalu menempel, jangan memperburuk keadaan kak Faylan," Alexa mengingatkan.
"Tidak apa-apa, Alexa. Kakak sudah lebih baik," balas Faylan ramah.
"Syukurlah kalau begitu."
"Kak Faylan mau sarapan apa? Isy suapkan," tawar Daisy.
"Apa saja yang ada," Faylan tersenyum manis, ia senang dengan kehadiran ketiga adiknya, ia tak akan lagi kesepian. Faylan berhasil menyembunyikan kesedihannya di hadapan ketiga adiknya.
"Baik, Kak."
Setelah sarapan, seorang dokter datang dan memeriksa kondisi Faylan. Faylan meminta pulang lebih awal, dokter pun mengizinkan karena ia telah pulih seperti sedia kala.
Olivia, Daisy dan Alexa tak bisa menemani Faylan pulang karena mereka ingin berkunjung ke panti dengan membawa makanan. Faylan senang mendengarnya. Ketiganya hanya mengantar Faylan sampai di mobil.
Sebelumnya Faylan bingung harus pulang ke mama, karena mengingat rumahnya telah terbakar. Tapi ternyata, di luar sudah ada asisten Juan yang secara khusus datang menjemputnya.
"Apa tuan Son yang meminta anda menjemput saya?" tanya Faylan yang duduk di kursi bagian tengah.
"Tidak, Nona. Saya sendiri yang berinisiatif," balas asisten Juan.
"Oh."
"Apa benar tuan Son yang menyelamatkan saya?" Faylan kembali bertanya.
"Untuk hal itu, nona bisa tanyakan langsung kepada tuan muda," jawab asisten Juan dengan sabar. Faylan pun mengangguk kepalanya.
Beberapa menit di perjalanan, mobil pun berhenti di depan spring mansion milik Allison. Asisten Juan ingin memindahkannya ke atas kursi roda. Tapi, Faylan menolak dan memilih berjalan sendiri hingga sampai di kamarnya dan langsung mengistirahatkan tubuh yang masih lemah.
Sore menjelang malam, bibi Fani mengetuk pintu kamar Faylan. Faylan yang baru saja selesai mandi dan berpakaian langsung membukakan pintu.
"Makan malamnya, nona."
"Tidak perlu begini, Bik. Faylan bisa ambil sendiri," tutur Faylan memberi jalan agar bibi Fani masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak apa-apa, nona. Ini memang tugas saya," balas bibi Fani seraya meletakkan makanan sehat yang ia bawakan untuk Faylan.
"Kalau begitu terima kasih banyak, Bik."
"Sama-sama, Nona. Silakan dimakan, setelah itu minum obatnya." Faylan patuh akan ucapan bibi Fani. Ia melahap makan malamnya hingga habis, setelah itu minum pil yang dokter resepkan.
"Apa tuan Allison sudah pulang, Bik?" tanya Faylan.
"Sudah dari tadi, nona. Kebetulan saat ini tuan muda sedang bersama dengan asisten Juan di ruang kerjanya."
"Apa tidak apa-apa kalau saya mengganggu?"
"Sepertinya tidak apa-apa."
***
Tok, tok, tok!
Pintu Faylan ketuk sebanyak tiga kali.
"Silakan masuk, nona," asisten Juan membukakan pintu, kemudian mempersilahkan Faylan masuk. Faylan berterima kasih, kemudian langsung masuk menghampiri Allison yang tetap duduk di kursi kebesarannya. Sementara asisten Juan telah pergi undur diri meninggalkan sepasang suami istri dalam satu ruangan yang sama.
"Apa?" Allison membuka pembicaraan dengan singkat.
"Saya ingin meminta maaf karena sudah membuat tuan koma," ucap Faylan lugas.
"Lalu?"
"Saya juga ingin bertanya."
"Hem."
"Apa tuan yang menyelamatkan saya?" tanya Faylan yang masih penasaran dengan sosok yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Kau terlalu percaya diri. Apa menurutmu aku peduli?" tanya balik Allison tanpa menoleh dan tetap fokus membaca dokumennya. Faylan menyesali kebodohannya.
"Minuman apa yang tuan suka? Akan saya buatkan sebagai permintaan maaf," Faylan mengalihkan topik.
"Minuman?" Allison tertarik dengan pertanyaan Faylan, ia memberikan tatapan elangnya. Faylan dibuat gugup.
"I-iya, Tuan. Kopi atau teh tidak mungkin karena tuan alergi kafein. Jadi, minuman apa yang biasa tuan minum? Apa pun itu, pasti akan saya usahakan untuk tuan."
"Apa pun?" Allison memastikan.
"Iya, Tuan. Sebagai permintaan maaf saya, minuman apa pun yang tuan mau, akan saya berikan," lanjut Faylan bersemangat.
"Susu," jawab Allison tersenyum miring.
"Oh susu ... Hah! Su ... Su...."
.
.
.
Hayo Fay, gimana tuh. Merk susu yang Allison minum agak laen loh🤌✌️
Btw, prince kita dah pake baju, Guys👏. Semoga Istikomah, ya🤲🙈. Cuma belum cukuran dia, kurang rapi deh. Tapi, tetap tampan😘. Jangan like, komen, hadiah, vote dan bintang limanya, ya😘😘😘