Luna Heart namanya, cantik, sexy dan cerdas. Dibesarkan oleh keluarga kaya semenjak dia ditemukan di depan pintu rumahnya. Semenjak orang tua angkatnya meninggal dia mulai ditindas, diusir, bahkan dibunuh. Tuhan maha besar, dia ditemukan masih bernafas oleh seorang ibu. Kebaikan ibu ini dia tebus dengan cara menjual dirinya ke kota.....
Hallo reader, ini karya baruku. support ya, dalam bentuk, like, comment, gift, vote....trimakasih love you all ♥️♥️♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERUSAHA KABUR
Dalam lelapku, aku tidak menyadari þahwa pria yang berada di sampingku adalah musuh besarku. Kala kepalaku menyusup ke dadanya, tangannya menolak kepalaku. Aku kaget dan bangun. Sontak aku melompat turun dari ranjang dan menjauhinya.
"Kenapa kamu tidur disini?" tanyaku geram.
"Tanyakan kepada dirimu." sahut Yudha bangun dan mengambil segelas air dari atas meja. Air itu dia sudah campur dengan obat.
Aku baru nenyadari bahwa saat ini tidur di kamar Yudha. Dengan perasaan jengah aku mohon maaf kepadanya.
"Maaf, aku tidak sadar tidur disini." kataku melangkah mau pergi.
"Minum dulu, setelah itu kamu pergi. Ingat kunci pintunya kalau tidur." katanya menyodorkan segelas air. Tumben iblis ini baik. bathin ku.
"Trimakasih.. " aku meneguk air itu sekaligus dan keluar kamar. Di luar sangat sepi dan gelap gulita, aku masuk ke kamar dan mengunci pintu. Jarum pendek jam dinding mengarah di angka sebelas. Pantas sudah sepi, rupanya sudah malam.
Badanku terasa gerah sekali, hawa panas seolah membakar tubuhku. Aku mulai menanggalkan pakaianku satu persatu dan menuju kamar mandi. Air shower tidak bisa membuat gejolak gairahku yang menggebu. Sudah hilang pikiran warasku, nafasku tiba- tiba tersengal. Aku tidak mengerti kenapa tubuhku menjadi bergetar tidak keruan. Aku mengambil handuk dan menyudahi mandi.
"Tookk...tookk..tookk...." suara ketukan pintu menyeret kakiku keluar dari kamar mandi. Aku membuka pintu, Yudha nyelonong masuk.
"Aku mau mengambil gelas." katanya menatapku yang cuma melilitkan handuk di tubuh. Aku menunggu dia keluar, yang terjadi dia malah melemparkan tubuhnya ke atas kasur.
"Sini tidur..." perintahnya.
Aku perlahan naik ke tempat tidur. Kemudian aku duluan yang berinisiatif untuk melempar handuk yang melilit tubuhku. Aku menerkam buruanku yang menunggu aksiku. Otakku sudah tidak bisa berpikir saat badan sexy ku menindih tubuh kekarnya.
Aku melampiaskan energiku yang bergolak sampai aku tidak peduli batas malu yang melekat. Aku tidak memahami semua yang terjadi. Kami seperti kuda liar berlomba untuk mencapai batas akhir. Jeritan kecil dan lenguhan puas membahana ketika puncak itu telah kami gapai. Terakhir bibir kami saling bertaut, dan kamipun terkulai.
Matahari pagi menyinari kamarku lewat jendela kaca. Badanku sedikit hangat kena cahayanya. Lalu aku berguling kekiri dan hampir jatuh ke pinggir. Aku bangun dan duduk di tepi ranjang, mencoba mengingat apa yang terjadi. Mataku terbuka lebar saat menyadari tubuh ku yang polos.
Aku menuju pintu, ternyata pintu masih terkunci rapat. Perasaanku lega menyadari bahwa kegiatan brutalku bersama Yudha hanya mimpi. Mimpiku mungkin tembus dan sangat dasyat sehingga badanku terasa pegal semua.
Aku buru-buru ke dapur menghampiri bibi yang sibuk memasak sarapan.
"Pagi bibi, maaf aku baru bangun." kataku malu. Bibi tersenyum menatapku.
"Kenapa bibi menatapku, karena aku tidak memakai masker? di rumah aku tidak memakai masker, kalau keluar baru pakai. Boleh kan bi."
"Boleh, kalau ada nyonya ingat pakai baju, dan pakaian yang tertutup. Jangan bikin marah nyonya."
"Siap bi." kataku membawa sarapan ke meja makan. Disana sudah ada Yudha sedang minum teh. Aku menaruh sarapan di meja tanpa mau menyapa "selamat pagi" aku sudah tidak hormat padanya.
"Selamat pagi babu, apa tidurmu nyenyak semalam?" ejek Yudha menatapku.
"Nyenyak tuan, tidak ada buaya darat yang masuk. Saya harap untuk seterusnya begitu." ketusku.
"Hemm..sungguh dasyat mimpiku semalam sampai menggoncang ranjang."
Aku tidak jadi keluar dari meja makan dan berdiri menatapnya tajam. Apa maksud perkataannya, aku merasa dia tahu sesuatu.
"Apa kamu mengintipku saat tidur?" aku kepo atas sikapnya yang slengean.
"Buat apa ngintip babu, mendingan cari artis yang sexy dan wangi."
"Aku akan ingat katamu, mulai saat ini jangan coba menyentuhku."
"Ya..ya...ya.." katanya sambil tertawa.
Aku beranjak dari hadapannya menuju cucian, dan mulai memisahkan pakaian kotor dan bersih. Khayalanku melambung tinggi, aku ingin cepat bebas dari sini untuk memperlihatkan jati diriku yang sebenarnya. Yudha terlalu merendahkanku, aku rasa istrinya tidak sebanding denganku. Dasar iblis murahan, benciku sudah segunung dengannya.
Selesai mencuci aku mengambil sapu dan keluar ke halaman depan. Aku mencari scurity yang sedang jaga.
"Pak koming sudah sarapan, kalau belum, sarapan dulu aku menjaga disini."
"Tidak apa-apa nona, saya gantian dengan pak Simon."
"Pak simon sudah sarapan?" tanyaku lagi. Pak Koming tidak menjawab, dia malah menunjuk mobil Yudha yang keluar dari rumah. Aku menoleh sebentar kemudian tetap di luar gardu.
Mobil Yudha berhenti disampingku, aku kaget. Dia turun dari mobil dengan raut wajah kesal.
"Dasar babu, pakai maskernya!!" Yudha menbentak kasar dan melempar sebungkus masker padaku.
"Kau tidak usah tebar pesona, masuk ke rumah, kampungan!!" perintahnya dengan ke marahan yang besar.
Aku memungut masker dengan kesal. Kenapa aku ketemu majikan arogan begini. Aku yakin dia lahir saat gunung meletus yang mengeluarkan lahar panas. Sama istrinya dia manis, sedangkan sama aku dia marah melulu. Apa salahku.
"Aku bosan disini, aku mau pergi!!" teriakku emosi. Aku langsung lari ke jalan raya.
"Berhenti!!" aku mendengar Yudha berteriak. Aku tidak peduli terus berlari semampuku. Nafasku sudah ngosngosan, tiba-tiba aku di kagetkan oleh suara gonggongan anjing. Aku terpaksa berhenti dan menoleh ke belakang. Aku cepat berjongkok.
"Bleky...bleky..." panggilku dengan suara ketakutan. Jantungku mengkerut saat anjing herder itu melompat ke arahku. Untung tidak menggigitku.
"Pulang, atau aku biarkan Bleky mencabik- cabik tubuhmu." kata Yudha merasa menang. Pak koming mengambil Bleky dan menuntun ke kandang.
Panas kupingku mendengar ceramah Yudha yang tidak masuk akal. Apa kuasanya dia kepadaku. Yang membeli ku, adalah nyonya Hanun. Kenapa aku di klaim menjadi miliknya. Dasar pecundang. Kenapa dia marah padaku.
"Aku sudah berbaik hati tidak menyekapmu di gudang, masih saja kau bertingkah. Dasar tidak tahu diri. Jangan membuat aku marah atau kau memang senang tebar pesona di depan laki-laki." teriak Yudha menyeretku ke kamar.
Perasaanku ciut melihat wajahnya yang merah membara. Aku duduk di tepi ranjang ketika dia memakiku dengan bahasa hina. Air mataku bergulir menyesali nasib ku.
"Apa kau mengerti perintahku??" tanyanya menurunkan volume suaranya.
"Tuan Yudha, aku minta bebaskan aku. Kamu tidak punya hak memperlakukan aku seperti ini. Aku bisa saja melapor ke polisi tentang perlakuanmu kepadaku. Aku tahu diriku orang hina, tapi tolong jangan terlalu mengeluarkan kata-kata kotor padaku." aku akhirnya memberanikan diri mengeluarkan unek-unekku.
Dia menghentikan bicaranya dan menoleh padaku, mata kami bertemu pandang. Aku memastikan kalau dia semakin marah, dan tangannya hampir terayun menamparku.
"Manusia tidak tahu di untung!!" bentaknya.
Kemudian dia keluar kamar, mengambil ponselnya yang dari tadi berdering. Aku lega dia sudah pergi, aku akan lebih bersyukur jika dia pergi dan tak kembali.
"Tuan sudah pergi, nona ke dapur sarapan. Nanti bibi nyapu keliling, nona cukup bersih- bersih disini saja, setelah itu saya akan mengantar nona ke barbershop supaya rambut nona rapi." bibi datang mengajaku ke dapur.
"Ya bi.." aku mengangguk samar.
Langkahku gontai saat mengikuti bibi ke dapur. Menyesali nasib sudah tidak ada gunanya. Harga diri sudah di injak-injak oleh iblis itu. Jalan satu-satunya menghubungi Dhevalee dan Valeria.
"Bibi aku pinjam ponselnya?" pintaku saat aku sudah selesai sarapan. Mata tua itu menatapku, bibi ikut duduk di sampingku.
"Mau nelpon siapa nona?"
"Temanku, aku sudah tidak kuat disini. Setiap hari di caci maki. Aku salah melulu, sku bosan disini."
"Sabar...jangan dulu pergi. Nanti kita sama-sama pergi. Tapi jika kamu ingin "say hello" saja tidak apa-apa. Jangan katakan dimana nona berada, kita melihat situasi takutnya tuan tambah beringas."
"Ya bi.." sahutku pendek.
"Diam disini, bibi mau mengambil ponsel dulu, nona duduk manis disini."
"Aku ikut bibi saja." kataku berdiri. Kami berjalan beriringan, kemudian aku ikut masuk ke kamar bibi. Ksmarnya bibi bersih sekali, tidak apek.
"Ini nona...!!" bibi menyerahkan ponselnya padaku. Astaga, ponselnya sudah jadul, hanya bisa di pakai nelpon saja. Sebenarnya aku jarang ingat nomer HP orang kecuali nomer kantor.
*****
semangat
makasih
sukses