Masa remaja Natasya yang indah, harus berakhir menyedihkan. saat mahkota yang selama ini dijaganya, direnggut oleh laki-laki yang merupakan cinta pertama dan sahabat sekelasnya Farrel.
Bagaimana kisah perjalanan pernikahan dini mereka berdua? yang dipenuhi bumbu-bumbu pertengkaran, hingga cinta itu benar-benar hadir diantara mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ritasilvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
Natasya meringkuk tidur di kasur, air mata gadis itu tidak keluar lagi namun isakan tangis masih terdengar memilukan, dengan tubuhnya yang berguncang dalam balutan selimut tebal yang menutupi tubuh mungilnya.
"Tok...tok.... Non Natasya, apa non ngak sekolah?"
Suara bibi pengasuh Natasya dari kecil terus mengedor pintu, karena biasanya Natasya sudah bangun untuk sarapan lalu berangkat ke sekolah.
Ceklek... perlahan membuka pintu kamar Natasya, bibi mengintip suasana kamar yang terlihat sepi, nampak Natasya dalam balutan selimut. perlahan dia menghampiri saat mendengar isakan tangis.
"Astaghfirullah Non Tasya kenapa?" mengusap kepala Tasya yang sangat panas.
"Non Bagun, bangun non." namun tidak terdengar Jawaban dari mulut gadis yang biasanya ceria dan bawel itu.
"Aduh... bagaimana ini?" bibi langsung menyambar ponselnya untuk menghubungi kedua orang tua Natasya.
"Ad apa bi?"
"Non Tasya demam Nyonya, badannya sangat panas." Ucap bibi cemas.
"Okey kami akan segera pulang, bibi beri obat penurun panas dulu ya." ucap Mama Tasya.
"Baik Nyonya."
***
Disekolah, Davina dan Vita mersa kesepian dan kehilangan. karena Natasya merupakan teman mereka yang paling bawel dan jail.
"Kelas ini terasa lama ya, padahal aku udah ngak sabaran untuk kerumah Natasya." ucap Davina.
"Iya, kita cabut aja yuk." bujuk Vita tiba-tiba ide gilanya muncul kembali.
"Ngak ah," tolak Davina sambil fokus mengikuti materi pelajaran yang sedang berlangsung. sesekali dia mencuri pandang kearah Aldo yang juga tengah fokus untuk mempertahankan prestasi nya disekolah favorit ini.
Bel pulang sekolah berbunyi, membuat semua wajah lelah dan ngantuk mereka kembali bersemangat.
"Aaaagghhh.... senangnya, akirnya jam pelajaran yang melelahkan ini berakhir juga." ucap Vita.
"Aldo, sebelum pulang. kita mengunjungi Natasya dulu ya kerumah nya." ajak Davina.
"Boleh." balas Aldo.
Kedua gadis itu terlihat tidak sabaran lagi, begitu sampai dirumah Natasya mereka langsung menuju lantai dua kamar sahabatnya.
Sedangkan Aldo lebih memilih duduk menunggu diruang tamu, sambil main games kesukaannya.
"Natasya syala..Lala....kami datang." terdengar suara cempreng Vita begitu sampai didepan pintu masuk kamar Natasya.
"Kalian masuk saja." jawab Natasya dari balik selimut.
"Tasya, kamu kenapa? mata bengkak, hidug merah seperti habis nagis Bombay semalaman?" ucap Davina sambil memeriksa kening Natasya yang panas.
"Ya, kamu kenapa Natasya, selama ini kita selalu saling jujur dan berbagi permasalahan masing-masing." bujuk Vita.
"Ngak papa kok, cuma lagi ngak enak badan saja." ucap Vita.
"Ooo gitu ya, padahal semula aku curiga jika kamu dan Farr ngapa-ngapain." ucap Vita.
"Maksudmu?" Natasya penasaran, dan khawatir jika teman-teman nya mengetahui kejadian yang menimpa nya semalam.
"Habisnya, kalian berdua hari ini sama-sama ngak masuk sekolah." ucap Vita.
"Sebenarnya, semalam kami sempat ketemu sih." Natasya masih ragu-ragu untuk berterus-terang pada kedua sahabatnya.
"Apa?" Davina dan Vita sama-sama kaget.
"Tapi vuma sebentar kok.." elak Natasya berusaha menyembunyikan, tapi Vita dan Davina bisa melihat semua dari ekspresi wajah Natasya yang lain dari biasanya.
"Tapi ngomong-ngomong, kamu udah diapain aja sama Farrel, karena setahuku dia pria paling mesum dan ngak bener. apalagi setelah keluarga nya brokend home karena ayahnya nikah lagi, makanya kita harus selalu hati-hati berdekatan dengan Farrel." ucap Davina.
"Wah....wah pasti kamu nya keenakan sekali, aku yakin kamu pasti udah ngerasain rasanya ciuman pertama, aku aja belum pernah di gituin sama Jonatan" pikiran mesum Vita membayangkan hal itu dengan Jonathan yang malu -malu kucing dan takut jika Vita akan bersikap agresif.
"Tapi ngomong-ngomong, kamu udah diapain aja sama Farrel" Ucap Davina kembali, karena dia melihat gelagat aneh dari Natasya.
"Dia....dia... " Tiba-tiba pandangan mata Natasya buram, dia sukses pingsan sebelum berterus-terang.
"Natasya bangun...," semua terlihat panik.
"Sebaiknya, kita langsung bawa dia kerumah sakit." usul Davina sambil menyuruh Aldo untuk menyiapkan mobil, sementara Davina, Vita dan pelayan membantu mengangkat tubuh Natasya yang terkulai lemah. lalu memasukkan dan menidurkan nya didalam mobil.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah sakit, Davina terlihat cemas melihat kondisi sahabatnya. diapun menghubungi kedua orang tua Natasya untuk segera menyusul kerumah Sakit.
"Baiklah Vina, kami sebentar lagi sampai, kamu tolong jaga Natasya dulu ya nak. dan beri dia perawatan terbaik." ucap Mama Natasya.
"Ya Tante." balas Davina.
Sampai dirumah sakit, Natasya langsung mendapatkan penanganan secepatnya dari dokter yang memeriksa. sementara Davina dan teman-temannya terlihat resah menunggu didepan ruangan dokter.
"Mana kedua orang tua pasien?" ucap dokter keluar dari ruangan nya.
"Masih dalam perjalanan menuju kerumah sakit ini dok." balas Davina. yang tidak menyadari jika kedua orang tua Davina dudah sampai, mereka berjalan tergesa-gesa menuju ruangan dokter.
"Kami kedua orang tuanya, dok." ucap papa Natasya.
"Silahkan masuk, ada hal penting yang ingin saya sampaikan mengenai Putri bapak dan ibu." ucap dokter seperti merahasiakan sesuatu dari teman-temannya Natasya.
"Baik dok." kedua orang tua Natasya ikut masuk keruangan dokter.
"Semoga tidak terjadi apa-apa ya sama Natasya." ucap Davina.
"Iya Vin, mana perasaanku tidak enak dari semalam." ucap Vita yang mondar-mandir kayak setrika.
"Aldo, tolong beritahu Mama ya. jika kita pulang telat." ucap Davina pada Aldo yang duduk tidak terlalu jauh dari posisinya.
"Ya Davina." balas Aldo mengeluarkan ponselnya.
Sementara diruang dokter, Mama Davina langsung pingsan karena syok. sementara papa mengepalkan tinju geram. begitu mendengar keterangan dokter mengenai kabar buruk yang menimpa Putri mereka satu-satunya.
"Bajingan, siapa laki-laki bresengsek yang telah melakukan pelecehan ini terhadap Putri ku." dia kembali meninju-ninju meja kerja dokter.
Mama Natasya kembali tersadar, setelah diberi pertolongan oleh dokter. dia kembali menangis.
"Apa dokter tidak salah denga hasil pemeriksaan dokter barusan?" ulang Mama kembali disela-sela isak tangisan nya.
"Tidak Nyonya, Putri Anda benar mengalami trauma dan tekanan. karena kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup nya. berdasarkan hasil visum kami ini, Anda bisa menjerat pelakunya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tapi ingat!! jangan paksa Putri kalian untuk mengaku atau mengingat kejadian buruk ini. beri dia ketengan dan kenyamanan dulu selama proses perawatan dirumah sakit ini, sampai kondisi dan trauma berkurang dan dia bisa berfikir secara jernih." terang dokter.
"Baik dokter, terimakasih atas semuanya." ucap Mama.
"Pa, kita harus mencari informasi dari teman-temannya, aku yakin pasti pelakunya masih teman-teman satu sekolahnya. karena ibu hafal jika anak kita tidak pernah bergaul dengan orang-orang baru dikenalnya diluaran sana." ucap mama mengusap air matanya.
Davina, Vita dan Aldo ikut masuk keruangan dokter. setelah bdokter memberi izin untuk menanyakannya permasalahan itu secara langsung pada teman-teman terdekatnya.
Aldo yang ikut masuk langsung menundukkan kepalanya, begitu tatapan tajam dari papa Natasya langsung tertuju padanya. dengan tangan mengepal geram siap melayangkan pukulan nya.
"Ada apa ya dok, Tante dan Om?" tanya Davina garam karena mereka disuruh masuk dan langsung dihadapkan pada wajah tegang, marah dan sedih dari mereka bertiga.
"Davina hu...hu.." Mama langsung menghambur memeluk tubuh Davina.
"Tenanglah Tante." Davina mengusap punggung Mama dari sahabatnya itu.
"Tante tidak akan bisa tenang, sebelum mengetahui laki-laki yang telah merusak Natasya anak Tante hu...hu....dia telah menodai Natasya ku." ucap Mama menangis.
"Astaghfirullah." ucap Davina ikut syok.
"Farrel benar-benar bresengsek, penjahat kelamin masih sekolah sudah pengen ***- ***." ucap Vita.
"Farrel, siapa dia. apa laki-laki ini." papa menunjuk Aldo yang langsung terlonjak kaget.
"Bukan....bukan om, tapi teman satu sekolah kami." terang Aldo gemetaran.