Sarah adalah gadis desa yang cantik dan polos, dia tertipu dengan cinta palsu Frans.
Frans seorang pria muda, tampan, dan kaya raya yang menikahi Sarah karena taruhan yang dia buat dengan temannya.
Tidak lama setelah menikah Sarah hamil, tapi Frans tidak mau bertanggung jawab pada anak yang dikandungnya.
Frans meninggalkan Sarah yang tengah mengandung anaknya, dan kembali ke Jakarta.
Penderitaan Sarah tidak cukup sampai disitu, Sarah divonis dokter menderita kanker otak. Dokter menyarankan dia untuk menggugurkan kandungan demi kebaikannya. Tuhan tidak pernah membiarkan ketidak-adilan pada hambanya.
Suatu hari Frans mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia tidak bisa punya anak seumur hidupnya. Karena hal itu Frans harus membawa Sarah ke Jakarta, karena anak yang dikandungnya itu satu-satunya yang akan menjadi penerusnya.
Bagaimanakah nasib Sarah selanjutnya? Akankah dia memilih keselamatannya atau bayi yang dikandungannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cussie°®, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bertemu
Di desa Maulinjo,
Siang itu cuacanya cukup terik untuk keluar rumah, apalagi dengan kondisinya yang kini hamil besar membuatnya tak mampu menahan teriknya matahari yang membakar kulit. Jadi Sarah memutuskan untuk tidak pergi bekerja, dia sedang berada di kamarnya, melipat baju yang baru saja di angkatnya dari jemuran.
Tidak lama kemudian, di saat dia hampir selesai melipat baju tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.
Tok…!! Tokk...!!!
"Iya, sebentar...!" jawab Sarah dari dalam kamarnya, dia segera berjalan menuju ruang tamu untuk membukakan pintu rumahnya.
Sesampainya di ruang tamu, dia segera menarik kenop pintunya. Begitu pintunya terbuka, raut mukanya langsung berubah, tubuhnya terdiam dan kaku, bulir-bulir air mata langsung meluncur di wajah cantiknya yang putih. Dia sangat tertegun melihat tamu tersebut adalah Frans, orang yang paling dia rindukan selama ini.
Sedangkan di pandangan Frans dia hanya terfokus menatap perut Sarah yang terlihat besar,
Baguslah dia tidak menggugurkan anakku, pikir Frans di dalam hatinya.
Sarah segera berjalan menghampiri Frans dan memeluk erat tubuhnya, dia ingin memastikan pria di hadapannya itu apakah memang Frans dan bukan imajinasinya saja.
"Frans..., apa ini kamu...? Apa kamu kembali...? Ini bukan mimpi, kan…?!" ucap Sarah dengan berlinangan air mata. Dia sangat senang bisa melihat Frans lagi.
Frans tetap diam dan tidak bergeming, dia hanya memasang wajah datarnya yang dingin. Tidak lama kemudian Frans segera melepaskan tangan Sarah yang memeluknya dengan erat.
"Jangan salah paham! Aku ke sini bukan demi kau, aku ke sini demi calon anakku. Aku tidak mau dia hidup susah karenamu, karena itu ikutlah denganku pulang ke Jakarta!"
Mendengar itu hati Sarah langsung terluka, ternyata ini memang hanyalah sebuah mimpi baginya. Sarah berpikir Frans datang menemui dia karena merindukannya, dia segera menghapus air mata di pipi dengan kedua tangannya.
"Aku tidak butuh bantuanmu untuk merawat anak ini, aku bisa mengurusnya sendiri. Pergilah, aku tidak butuh pertanggung jawabanmu!" usir Sarah menolak ajakan Frans untuk ikut dengannya ke Jakarta.
"Dengar, Sarah! Seharusnya kau bersyukur aku mau mengakui anak ini. Coba pikirkan baik-baik, biaya merawat anak dan menyekolahkannya itu tidak murah, apa kau pernah berpikir masa depan anak ini jika dia hidup bersamamu? Jika dia hidup denganku, akan aku berikan dia kemewahan dan pendidikan yang terbaik," tutur Frans berusaha menjelaskan kenyataan yang akan Sarah hadapi untuk meyakinkannya.
Sarah terpengaruh oleh kata-kata Frans, dia memikirkan tentang masa depan anaknya. Bagaimanapun juga tidak ada yang lebih baik bagi anaknya selain tinggal dengan ayah kandungnya sendiri, apalagi dia tahu usianya tidak akan lama lagi.
"Mengapa kamu tiba-tiba berubah pikiran? Bukanya dulu kamu tidak mau bertanggung jawab pada anak ini?" tanya Sarah yang heran dengan perubahan sikap Frans yang tiba-tiba.
Frans terkejut mendengar pertanyaan tersebut, dia menjawabnya dengan beralasan,
"Emm…, itu ... aku terus-terusan kepikiran dengan anak ini sepanjang waktu. Aku memikirkan bagaimana masa depan anak ini nantinya, jika aku tidak mau bertanggung jawab padanya. Bagaimanapun juga anak ini adalah darah dagingku sendiri."
Frans berusaha meyakinkan Sarah supaya dia percaya. Dia tidak menceritakan alasan sesungguhnya dia menemui Sarah bukan karena ingin bertanggung jawab pada anaknya, tapi karena Frans yang divonis oleh dokter tidak akan pernah bisa punya anak seumur hidupnya.
Sarah mempercayai ucapan Frans dan memikirkannya dalam hati,
Apa yang aku harapkan, dari awal dia tidak pernah mencintaiku. Tapi setidaknya anak ini akan punya masa depan yang cerah jika aku menerima ajakan Frans ke Jakarta. Asalkan anakku bahagia, aku rela melakukan apapun, meskipun aku harus menderita batin nantinya.
"Baiklah, aku mau ikut denganmu ke Jakarta. Tapi kamu harus janji satu hal padaku?”
“Katakanlah, apapun itu pasti akan aku turuti!”
“Kamu tidak boleh memisahkan aku dengan anak ini setelah dia lahir."
"Tentu, seperti keinginanmu. Aku tidak akan memisahkanmu dengan anak ini," ujar Frans berjanji untuk meyakinkan Sarah. Sebelum pergi ke desa Maulinjo, Frans sempat berbicara pada ibunya tadi pagi.
***
"Aku memang menerima anak itu, karena dia satu-satunya yang akan menjadi cucuku. Tapi aku tidak mau menerima ibunya, karena dia gadis kampungan yang tidak cocok dengan kita Frans!" kata Grace menjelaskan pada Frans jika dia tidak mau menerima Sarah sebagai menantunya.
"Aku mengerti maksud Mama, tapi sebelum anak itu lahir, Sarah akan tinggal di rumahku, itu juga demi kebaikan calon cucu Mama sendiri. Begitu Sarah melahirkan bayinya, aku akan ceraikan dan pulangkan dia ke desa Maulinjo," jawab Frans menjelaskan rencananya untuk menenangkan hati ibunya.
"Baiklah, kalau kamu sudah mengerti." Grace tersenyum puas mendengar apa yang Frans rencanakan nantinya.
***
Sarah hanya mengemasi sedikit barang-barangnya, karena dia memang tidak punya baju banyak. Di perjalanan menuju ke Jakarta, Frans hanya fokus menyetir mobil menghadap lurus ke jalan raya. Sarah yang duduk di sampingnya, memandangi wajah Frans sambil mengelus perutnya, dia bicara di dalam hatinya,
Kamu adalah suamiku, tapi aku merasa asing denganmu, kamu ada di sampingku tapi aku merasa jauh denganmu, inikah dirimu yang sesungguhnya Frans? Ke mana Frans yang ku kenal baik dan lembut dulu? Apa itu semua hanyalah sandiwara? Tidak pernahkah sedikitpun aku ada di hatimu, Frans?
Frans menyadari tatapan Sarah padanya, dia pun menoleh dan bertanya,
"Mengapa kau menatapku seperti itu?"
"Tidak, aku hanya masih tidak percaya kamu mau bertanggung jawab pada anakku dan menjemputku pulang ke rumahmu," kilah Sarah untuk mengalihkan pertanyaan Frans.
"Aku memang mau bertanggung jawab dengan anakmu, tapi bukan berarti kau bisa mengatur hidupku. Apapun yang kulakukan jangan pernah ikut campur urusan pribadiku, kau mengerti!" tegas Frans dengan wajah dingin.
"Iya, aku mengerti. Aku tahu posisiku di mana," jawab Sarah lirih dengan wajah yang sedih.
Setelah pembicaraan itu, suasana menjadi hening. Mereka berdua tidak bicara apapun sampai tiba di Jakarta.
up
up