Siena gadis sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan besar terlibat sebuah perjanjian dengan pemilik perusahaan tersebut, dan menyeretnya ke dalam cinta segitiga yang di ciptakan oleh Rangga Wijaya, sepupu pemilik perusahaan yang bernama Sagara Abraham.
Akankah cinta Sagara Abraham berlabuh selamanya di hati Siena? atau berhenti di tengah jalan dan berpaling ke hati selanjutnya? Siapakah yang memenangkan hati Siena?
Cover by pinteres, edit by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meeting
Dari hari ke hati, Miranda dan Siena semakin dekat dan tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Bahkan Miranda begitu nyaman menceritakan semua masa lalunya tentang pernikahannya yang berujung perpisahan hanya karena orang ketiga. Ayah Sagara meninggal dalam kecelakann bersama istri simpanannya beserta putri kecil mereka.
Begitu pula dengan Siena, ia sudah menganggap Miranda seperti ibunya sendiri, meski ada satu hal yang belum berani ia berkata jujur tentang pekerjaannya menjadi wanita sewaan bagi pria yang kesepian.
Namun di lain pihak, Sagara berpikir keras bagaimana caranya untuk menghindari keinginan Miranda untuk segera menikahi Siena.
"Perjanjian kontrak kita akan segera berakhir minggu depan. Kau harus membantuku bagaimana caranya supaya Ibuku percaya kalau kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini, kau harus membantuku mencari ide," ucap Sagara
"Itu bukan urusanku," jawab Siena.
"Apa kau sengaja?" tanya Sagara beranjak dari kursi, berjalan menghampiri Siena. "Sebenarnya kau punya niat licik, dengan cara mendekati ibuku."
Siena tersenyum sinis, "kau cukup tampan, siapapun pasti jatuh hati padamu apalagi kau kaya. Tapi aku tidak menyangka, wajahmu memang rupawan tapi hati dan pikiranmu? tidak sama sekali."
"Kau tidak perlu menceramahiku, urus saja dirimu. Apa kau pantas menjadi pasanganku?" Sagara memalingkan wajah, terlihat senyum cemooh di sudut bibirnya. "Membayangkan pu tidak sama sekali."
Siena menghela napas panjang, rasanya ia ingin mencabik cabik mulut atasannya. Tapi apa daya, ia hanyalah seorang bawahan.
"Meskipun aku kotor, pekerjaanku tidak layak." Siena berjalan mendekati Sagara lebih dekat lagi. "Tapi aku tidak akan menggunakan cara kotor hanya untuk mendapatkan pria sepertimu."
Sagara mengalihkan pandangan menatap lekat wajah Siena. Cantik, itu yang ada di pikiran Sagara.
"Aku tidak yakin, kalaupun ada pria yang mendekatimu. Itu bukan karena pria itu mencintaimu, tapi hanya menginginkan tubuhmu saja." Cibir Sagara.
Siena tersenyum tipis, menundukkan kepala sesaat. Ia berpikir kalau berdebat terus tidak akan ada yang mau mengalah.
"Baiklah, aku memang kotor dan tidak pantas dalam segala hal. Tempatku di lumpur hitam, so..kita jadi berangkat meeting?"
"Astaga, aku hampir saja lupa gara gara bicara denganmu," ucap Sagara lalu berjalan mendahului Siena keluar dari ruangan menuju ruangan rapat.
Di ruang meeting.
Jovan Erlian, salah satu CEO perusahaan Berlian yang selama ini menjadi saingan Sagara. Berada di ruang meeting memimpin rapat penting itu. Akan ada pameran Berlian yang akan di adakan bulan depan.
Selama rapat itu berlangsung, Sagara tidak terlalu memperhatikan apa yang di sampaikan Jovan. Kebenciannya terhadap Jovan masih bercokol dalam hatinya. Bukan karena ia saingan dalam bisnis. Tetapi pria itu pernah berkali kali menghancurkan hubungannya dengan Kinan. Wanita yang sangat di cintai Sagara dan meninggalkan dirinya di saat pesta pernikahan.
Tak lama kemudian rapat itu berjalan dengan sukses. Semua yang ikut dalam rapat tersebut merasa puas dengan apa yang di sampaikan Jovanka. Mereka mengucapkan selamat, lalu satu persatu beranjak dari ruangan.
Kini tinggal Sagara, Siena, Jovanka dan sekretarisnya.
"Semoga kau juga puas, Ga." Sapa Jovanka Erlian berbasa basi.
Namun Sagara menanggapi dingin sapaan Jovanka. 'Hm."
"Halo Siena, rupanya kau bekerja dengan Sagara. Dulu aku menawarkan pekerjaan yang lebih baik lagi, kau menolak? kenapa?" tanya Jovanka menatap wajah Siena.
"Aku tidak perlu menjelaskan apa apa," jawab Siena.
"Oke, tidak masalah. Mungkin lain kali kau akan membutuhkan bantuanku." Jovanka tersenyum. "Ga, selamat bekerja."
Sagara hanya menarik napas dalam dalam, enggan menjawab sepatah katapun.
"Kau mengenalnya?" tanya Sagara menatap tajam Siena.
"Aku tidak perlu menjelaskan apa apa padamu." Siena balik badan, melangkahkan kakinya.
"Wanita ini sombong sekali, menyebalkan!" rutuk Sagara pelan. Lalu berjalan mengikuti langkah Siena dan mensejajarkannya.
"Setelah ini, kau harus bertemu dengan Pak Hardi di Kafe XX." Siena mengingatkan tanpa menoleh ke arah Sagara.
"Apa sikapmu selalu seperti ini?" tanya Sagara di sela sela langkahnya.
"Penting Bapak tahu?" Siena melirik sesaat.
"Tidak juga!" sahut Sagara.
Jd saga,rangga dan arga ini bersaudara bgitu ??? Yg punya dendam ini para orgtua nya . Tp ank2 nya yg pda jd korban
Jd sedihhh krna rangganya meninggal ,
Rangga nya munculin lg aja thor biar hdp bhgia sma siena..
Aku udh ga srek sma saga krna ibunya skrg udh jahat..dan mlah skrg berpihak sma si melati..sma² jahat mreka