Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sudah genap satu minggu berlalu sejak hari pertunangan yang megah dan penuh kebahagiaan itu. Cincin halus di jari manis tangan kanan Alena kini terasa seperti bagian dari dirinya sendiri—selalu ada, selalu mengingatkan pada janji yang diucapkan di hadapan keluarga dan kerabat. Segala sesuatu berjalan lebih hangat dan tenang, namun hari ini ada satu hal yang berbeda dari biasanya: sejak pagi, Elio tidak tampak seperti biasa menunggu di gerbang maupun berjalan masuk bersama.
Di kelas, Alena baru mendengar kabar dari Bima—sahabat dekatnya—bahwa Elio tidak bisa masuk sekolah karena tiba‑tiba jatuh sakit semalam. Badannya terasa panas, kepala berat, dan tenggorokan terasa perih; dokter menyarankan agar ia beristirahat total di rumah selama beberapa hari sampai pulih sepenuhnya. Mendengar itu, hati Alena langsung terasa tidak tenang sepanjang hari. Ia sering melirik ke kursi kosong di sebelahnya, merasa ruangan itu terasa lebih sepi tanpa suara rendah atau senyum‑senyum kecil yang biasa diberikan Elio.
“Tenang saja, sepertinya hanya flu biasa karena cuaca yang berubah tiba‑tiba,” kata Bima berusaha menenangkan saat jam istirahat. “Besok atau lusa pasti sudah segar kembali.”
Namun kata‑kata itu belum cukup membuat Alena lega. Ia sudah bertekad: begitu bel pulang berbunyi, ia akan langsung berjalan ke rumah keluarga Baskara untuk menjenguk sendiri.
Saat bel pulang akhirnya berbunyi panjang dan nyaring, Alena segera membereskan buku‑bukunya, berjalan cepat menuju gerbang, lalu berbelok ke arah jalan yang biasa mereka lewati bersama. Di tangan kirinya ia membawa keranjang kecil yang rapi—berisi buah‑buahan segar yang dibeli dari toko di dekat sekolah: jeruk manis, apel merah berkilau, serta beberapa potong pepaya yang empuk dan mudah dicerna. Menurut kata ibunya, buah‑buahan ini baik untuk menurunkan panas dan mempercepat pemulihan tenaga.
Langkah kaki Alena terasa ringan namun agak terburu‑buru. Sesampainya di gerbang rumah besar yang selalu menyambutnya dengan suasana damai itu, penjaga gerbang tersenyum mengenalinya dan segera membuka jalan.
“Selamat sore, Nona Alena. Sudah kami duga Anda akan datang,” ujarnya ramah. “Tuan muda sedang beristirahat di kamar lantai atas.”
Di beranda, Kakek Baskara sedang duduk santai menikmati teh sore. Melihat kedatangan Alena, wajahnya langsung berseri‑seri seolah melihat obat yang paling ampuh bagi cucunya.
“Ah, Alena… terima kasih sudah datang,” sapa beliau lembut sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya sejenak. “Kabarnya Elio sempat bertanya‑tanya tentangmu sejak bangun tidur. Sepertinya kehadiranmu justru obat yang paling ia butuhkan.”
Alena tersipu namun tersenyum tulus, lalu menyerahkan keranjang buah kepada pembantu yang lewat. “Saya khawatir sekali, Kek. Bolehkah saya menemui dia sekarang?”
“Silakan saja, Nak. Pintu kamarnya sedikit terbuka.”
Alena berjalan perlahan menaiki tangga yang lebar dan bersih, menuju lorong yang sudah sangat dikenalnya. Di depan pintu kamar Elio yang sedikit terbuka, ia mengetuk pelan sekali.
“Masuklah…” terdengar suara berat, sedikit serak namun tetap terdengar lembut—suara Elio.
Saat pintu didorong perlahan, suasana kamar yang sejuk namun agak remang menyambutnya. Tirai ditarik setengah agar cahaya matahari sore tidak terlalu silau. Di atas tempat tidur yang besar dan rapi, Elio berbaring bersandar pada bantal‑bantal empuk, rambutnya sedikit berantakan, pipinya agak merah karena sisa demam, namun matanya langsung berbinar cerah begitu melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
“Alena…” bisiknya pelan namun jelas, seolah rasa lelah yang dirasakan seketika berkurang separuhnya. “Kamu benar‑benar datang.”
Alena mendekat perlahan, meletakkan tasnya di kursi samping tempat tidur, lalu duduk di tepi kasur dengan hati‑hati. “Tentu saja aku datang. Bagaimana rasamu? Bima bilang kamu demam semalam.”
Elio menggeleng pelan namun langsung mengulurkan kedua tangannya seolah ingin segera menyentuhnya. Begitu Alena cukup dekat, ia menaruh satu tangan di atas telapak tangan gadis itu, lalu mengeratkan genggamannya—lebih erat dari biasanya, seolah takut gadis itu akan pergi lagi.
“Sedikit pening saja… tapi rasanya jauh lebih baik sekarang kamu sudah ada di sini,” jawabnya dengan nada yang membuat Alena tersenyum—karena suara itu terdengar sangat berbeda: lebih lunak, lebih manja, persis seperti anak kecil yang menemukan kembali mainan kesayangannya yang hilang.
Ternyata, sakitnya membuat Elio yang biasanya tenang, tegas, dan sedikit berwibawa kini berubah menjadi sosok yang sangat… ingin dekat dan tidak mau dilepaskan.
Ketika Alena mengusap pelan dahinya untuk memeriksa suhu tubuhnya, Elio tanpa sadar memiringkan kepala dan menyandarkan pipinya ke telapak tangan itu, menutup matanya sambil tersenyum puas—seolah sentuhan itu jauh lebih sejuk dan menenangkan daripada kain dingin yang ditempelkan tadi.
“Tanganmu dingin… nyaman sekali,” gumamnya pelan, lalu bergerak sedikit lagi hingga bahunya hampir menyentuh lengan Alena.
Alena tertawa kecil namun lembut agar tidak mengganggu. “Kamu ini… biasanya yang paling tegas dan menjaga jarak, sekarang malah seperti anak kecil yang tidak mau lepas.”
Elio membuka mata perlahan, menatapnya dengan tatapan yang sedikit malas namun sangat manis—bahkan sedikit berkedip‑kedip dengan cara yang membuat Alena tak kuasa menolak. “Karena sedang sakit, boleh kan sedikit lebih manja? Lagipula… kamu adalah obat yang paling saya butuhkan.”
Kata‑kata itu sederhana tapi manis sekali hingga membuat pipi Alena kembali merona.
Sore itu berlalu dengan cara yang sangat berbeda namun menyenangkan. Alena mengupas beberapa buah jeruk yang dibawanya, membaginya menjadi bagian‑bagian kecil, lalu menyuapi satu per satu perlahan. Elio menerimanya dengan senang hati, bahkan sesekali sengaja memperlambat gerakan mulutnya atau menatap Alena lekat‑lekat di antara suapan—seolah ingin memperpanjang setiap detik kedekatan itu.
Saat Alena berniat bangun sebentar untuk mengambil gelas air di meja seberang, tangannya langsung ditahan kembali oleh Elio yang masih menggenggam erat.
“Ke mana?” tanyanya sedikit mendesak namun tetap bernada lembut. “Jangan pergi jauh‑jauh dulu… tetaplah di sini.”
“Hanya mengambil air saja, sebentar saja,” jawab Alena tersenyum geli.
“Kalau begitu aku ikut saja…” ujarnya lalu berusaha bangun, meski masih terlihat sedikit lemas—sangat jelas hanya alasan agar tidak terpisah.
Alena segera mendorongnya kembali perlahan ke bantal sambil tertawa renyah. “Sudah, tetaplah berbaring saja. Aku akan ambil dan kembali lagi dalam hitungan detik.”
Dan benar saja—begitu ia kembali ke tepi kasur, tangan Elio langsung mencari kembali dan menempel di lengan atau pinggangnya seolah tidak mau memberi celah sekecil apa pun.
Saat sore mulai berubah menjadi senja dan cahaya kamar makin lembut, Elio malah bergerak lebih berani: perlahan menggeser tubuhnya sedikit ke samping lalu menaruh kepalanya di atas paha Alena yang duduk bersandar di tepi kasur, memejamkan mata dengan tenang dan puas. Rambutnya yang sedikit berantakan terasa halus saat disentuh jari‑jemari Alena yang mengelus pelan seolah menidurkan anak kecil.
“Rasanya jauh lebih tenang begini…” bisiknya hampir tertidur namun masih berusaha berbicara. “Jangan bergerak ya… biarkan aku tetap seperti ini.”
Alena hanya bisa tersenyum dan terus mengelus pelan dahi serta rambutnya. Di luar dugaan, sikap manja ini justru membuat hubungan mereka makin hangat dan lucu—sisi lain Elio yang jarang diperlihatkan kepada orang lain, namun kini miliknya saja.
Waktu berlalu begitu cepat hingga hari mulai gelap. Alena tahu seharusnya ia segera pulang agar tidak terlambat dan membuat keluarganya khawatir. Namun saat ia perlahan berbisik: “Elio… sepertinya aku harus pulang sekarang,” reaksi yang didapatkan benar‑benar membuatnya tertawa sekaligus tersentuh.
Elio langsung membuka mata, menatapnya dengan pandangan sedikit kecewa dan sangat manja—seolah mendengar kabar yang paling tidak menyenangkan hari itu. Tangannya yang melingkar di pinggang Alena dipererat sedikit lagi, menahan agar gadis itu tidak segera bangun.
“Masih terlalu cepat untuk pulang…” keluhnya pelan namun tegas. “Tinggallah sedikit lagi saja… hanya sebentar.”
“Sudah hampir jam makan malam, Elio. Kalau aku terlambat, ibu akan cemas,” bujuk Alena lembut sambil berusaha mengangkat kepala pria itu perlahan dari pahanya.
Namun Elio justru semakin mengeratkan pelukannya, kini menyandarkan wajahnya di dada samping Alena—posisi yang membuatnya terasa semakin dekat dan tidak mau melepaskan. “Kalau begitu… biarkan saja mereka tahu kamu sedang menjengukku. Aku belum siap melepaskanmu. Begitu kamu pergi, kamar ini akan terasa sepi lagi.”
Suaranya terdengar begitu tulus namun juga sangat lucu—sangat berbeda dengan Elio yang gagah dan tegas di sekolah atau di acara resmi. Alena hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar dan memukul pelan bahunya.
“Kamu benar‑benar berubah menjadi sangat manja saat sakit… tapi tidak apa‑apa, aku mengerti,” ujarnya lembut sambil mencium keningnya perlahan—sebagai tanda kasih sayang sekaligus penenang. “Besok sepulang sekolah aku akan datang lagi. Berjanjilah kamu akan makan dan istirahat dengan benar.”
Elio mengangguk perlahan namun masih menggenggam erat jari‑jemari Alena seolah takut jika dilepaskan, gadis itu akan lenyap begitu saja. “Baiklah… aku berjanji. Tapi pastikan kamu benar‑benar datang lagi, ya? Kalau tidak… aku mungkin akan pulang‑pulang ke sekolah sendiri meski belum sembuh.”
Ancaman kecil yang diucapkan dengan nada manja itu membuat Alena tertawa renyah hingga menggema pelan di ruangan yang tenang itu.
“Tenang saja, pasti datang. Sekarang lepaskan dulu sedikit ya, biar aku pulang.”
Baru perlahan‑lahan Elio melemaskan pelukannya, namun masih mengikuti setiap gerakan Alena dengan matanya yang tak beralih sedikit pun—seolah ingin menyimpan setiap gerakan gadis itu dalam ingatan sampai pertemuan berikutnya.
Saat Alena melangkah keluar pintu dan berbalik sekali lagi untuk melambaikan tangan, Elio masih menyandarkan kepalanya di bantal, tersenyum lembut namun dengan tatapan yang jelas: sangat merindukan kehadirannya yang baru saja pergi.
Di lorong bawah, saat berjalan keluar, Kakek Baskara yang menunggu di ruang tengah langsung tersenyum lebar melihat wajah Alena yang masih terlihat tersipu namun bahagia.
“Terima kasih sudah datang, Alena,” ujar beliau lembut sambil mengantarnya hingga ke pintu depan. “Sepertinya obat yang paling ampuh untuk Elio memang kedatanganmu. Dia tidak pernah semanja itu kepada siapa pun sebelumnya.”
Alena tersenyum malu namun tulus. “Hanya sebentar saja, Kek… tapi saya senang rasanya dia sedikit lebih tenang.”