mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ceo sinting
Hari Sabtu adalah hari yang paling dinanti oleh Silla dan Hana. Karena kesibukan kerja di kantor yang berbeda dan jadwal yang padat, mereka berdua sangat jarang bisa menghabiskan waktu bersama. Begitu akhir pekan tiba dan kantor mereka libur, sebuah mall besar di pusat kota langsung menjadi tujuan utama untuk berburu baju, celana, dan melepas penat.
Suasana mall siang itu sangat ramai. Silla dan Hana melangkah masuk ke salah satu toko pakaian ternama. Tangan mereka dengan lincah menggeser deretan gantungan baju, memilih model celana terbaru, hingga mencocokkan beberapa potong pakaian di cermin. Di tengah kesibukan memilih baju itulah, obrolan mereka mengalir tanpa henti.
"Han, lihat deh. Bagusan yang warna pink ini atau yang hitam?" tanya Silla sambil menempelkan dua kemeja pas body di depan tubuhnya.
Hana yang sedang memilah celana kulot menoleh, lalu terkekeh. "Pink dong. Kalau hitam nanti lo dikira mau melayat ke kuburan masa lalu lagi hhahaa"
Silla cemberut, menyadari arah ledekan sahabatnya. "Ih, apaan sih! Tapi ngomong-ngomong soal masa lalu... Lo tahu enggak? Si Sagara, bos rese yang merangkap jadi mantan gue itu, makin hari makin bikin gue naik darah terus!"
Hana langsung menghentikan aktivitasnya, matanya berbinar jenaka. "Hahaha! Kenapa lagi si Bapak Bos terhormat lo itu? Perasaan tiap kita ketemu, menu utamanya pasti gibahin Sagara."
Silla menghentakkan kakinya pelan sambil membawa beberapa potong baju menuju bilik fitting room, diikuti Hana yang setia mengekor di belakangnya.
"Dia itu bener-bener abuse of power tahu enggak!" omel Silla berapi-api dari dalam bilik fitting. "Kemarin masa dia nolak laporan bulanan gue cuma gara-gara spasi di paragraf terakhir kurang satu? Terus dia bilang dengan muka lempengnya, 'Silla, ketelitian kamu berkurang, sama kayak waktu kamu mutusin saya dulu.' Kan sinting! Itu kerjaan profesional atau ajang balas dendam pribadi coba?!"
Tawa Hana langsung meledak di depan pintu bilik. "Bwahaha! Serius dia ngomong gitu? Gila, Sagara belum move on total itu mah! Lagian lo juga sih, cowok tengil begitu malah lo pacarin, giliran putus repot sendiri kan?"
"Ya kan dulu dia enggak se-rese ini pas masih jadi pacar, Han!" sahut Silla defensif. Dia keluar dari bilik mengenakan celana jeans baru dan kaos putih. "Gimana? Bagus enggak celananya?"
"Bagus, pantat lo kelihatan lebih kencang. Cocok buat dipakai pas lo mau ngelempar tumpukan kertas ke muka Sagara," ledek Hana lagi sambil menaik-turunkan alisnya.
"Hanaaa! Gue serius, gue pusing banget satu kantor sama dia. Mana Sabtu-Minggu libur gini aja dia masih sempat-sempatnya kirim email reminder buat hari Senin. Rese banget!" Silla cemberut sambil mematut diri di cermin, mencoba mengabaikan tawa Hana yang masih tersisa.
Hana merangkul pundak Silla gemas. "Udah, jangan dipikirin. Hari ini hari Sabtu, waktunya kita senang-senang. Mending sekarang kita bayar ini semua, terus cari makan. Gue traktir es krim deh, biar otak lo yang panas gara-gara Pak Mantan Bos itu bisa adem lagi."
Silla langsung tersenyum lebar. "Nah, kalau itu baru sahabat terbaik gue! Yuk, ke kasir!"
Mereka pun berjalan menuju kasir dengan tentengan belanjaan dan tawa yang masih terus terdengar, menikmati momen kebersamaan yang langka di hari libur mereka.
Mereka berjalan dulu ke tempat area lain karena kurang puas belanja itu saja.
Langkah kaki silla terhenti seketika di atas lantai marmer mall yang berkilau. Mood-nya yang tadinya 100% bahagia karena sedang asyik shopping berdua dengan hana , sahabatnya. langsung anjlok ke titik nol.
"Silla, lo kenapa kok tiba-tiba berhenti? Lihat deh, jaket yang itu lucu bang-" Ucapan hana terputus saat pandangannya mengikuti arah mata silla.
"Oh, my God... Sila, itu kan..."
Di lorong depan tepat di depan mereka, berdiri seorang pria dengan setelan jas formal rancangan desainer yang melekat sempurna di tubuh tegapnya.Sagara. CEO muda yang arogan, menyebalkan,rese dan sialnya... statusnya adalah mantan kekasih silla.
"Abaikan, han, Anggap aja dia pajangan manekin rusak," bisik silla tajam, berusaha menahan gemuruh emosi yang mulai membakar dada.
Silla memutar tubuh,berniat pergi ke arah berlawanan
"Wah, wah. Dunia sempit banget ya? Atau emang kamu lagi sengaja nguntit saya sampai ke mall ini, Sila?"Suara bariton yang sangat silla kenal-dan sangat ia benci-terdengar dari arah belakang. Nada bicaranya yang super percaya diri dan meremehkan itu sukses memicu sumbu pendek di kepala silla.
Silla berbalik secepat kilat, menatap sagara dengan tatapan yang kalau bisa membunuh, sudah pasti dia langsung terkubur di tempat.
"Nguntit lo? Di mall umum kayak gini?" semprot silla tanpa memedulikan beberapa pasang mata pengunjung lain yang mulai menoleh.
"Jangan kepedean ya,Sagara! Nggak usah merasa jadi pusat semesta cuma karena lo punya jabatan CEO. Muka rese lo itu hal terakhir yang pengen gue lihat di dunia ini!"
Bukan nya marah sagara justru terkekeh pelan. Senyum asimetrisnya yang menyebalkan itu mengembang. Dia melangkah mendekat, memasukkan satu tangannya ke saku celana dengan gaya yang sok keren.
"Masih sama kayak dulu. Gampang banget kepancing, emosian, dan hobi teriak-teriak," sindir Sagara halus, tapi menusuk. "Gimana mau dapat pacar baru kalau sikap kamu masih kayak macan lepas gini, hmm?"
"Heh, CEO rese!" potong silla, selangkah maju hingga jarak kami menipis. Hana yang ada di samping nya seketika memegangi lengan silla mencoba menenangkan nya yang sudah siap meledak.
"Urus aja hidup lo sendiri yang monoton itu! Mau gue jomblo seumur hidup atau pacaran sama alien sekalipun, itu bukan urusan lo. Mending lo pergi dari hadapan gue sekarang sebelum tas belanjaan gue ini melayang ke muka sok ganteng lo itu!"
Sagara mengangkat kedua tangannya ke udara, pura-pura menyerah, tapi matanya masih memancarkan kilat jahil yang sangat memuakkan. "Oke, oke. Gue pergi. Kasihan sahabat lo harus nahan singa kelaparan. Sampai ketemu lagi, Mantan."
Dengan kedipan mata yang sengaja dibuat-buat, sagara berbalik dan berjalan santai meninggalkan kedua wanita itu. dikuti oleh dua asistennya yang tampak tegang dan menunggu dari tadi di pojok.
"Sumpah ya, han! Kenapa sih manusia kayak dia harus hidup di bumi ini?!" amuk silla sambil menghentak-hentakkan kaki, menahan amarah yang meluap-luap.
Hana mengelus pundak silla sambil menarik napas lega. "Sabar, Sila, sabar... Tarik napas, buang. Inget, tensi lo bisa naik. Yuk, kita beli es krim jumbo sekarang buat nurunin suhu kepala lo yang udah berasap itu!"
••••••••••••••