NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Seratus Pertarungan di Hutan Sunyi

​Pagi itu, Wang Dahu meletakkan sebuah buntalan kain di atas meja kayu gubuknya.

​Wang Shun yang sedang menyiapkan sarapan menoleh. “Apa yang kau bawa, Dahu?”

​“Bekal, Ayah. Aku berniat pergi ke hutan di utara selama beberapa waktu.”

​Tangan Wang Shun yang sedang memegang mangkuk kayu mendadak terhenti. “Hutan utara?”

​Dahu mengangguk mantap.

​“Dahu, tempat itu bukan ladang biasa yang bisa kau datangi sesuka hati. Di sana berkeliaran binatang buas. Bahkan pemburu paling berpengalaman di desa kita pun tidak berani masuk terlalu dalam.”

​“Aku tahu, Ayah.”

​“Lalu kenapa kau tetap bersikeras mau pergi?”

​Dahu terdiam sejenak. Ia menatap telapak tangannya sendiri sebelum menjawab jujur, “Aku ingin belajar menjadi kuat. Kalau aku cuma berdiam diri di desa ini, aku tidak akan pernah punya pengalaman untuk melindungi diriku... dan melindungi Ayah.”

​Wang Shun menatap dalam-dalam ke iris mata putranya.

​Ia menyadari perubahan besar pada diri Dahu selama beberapa hari terakhir. Pemuda yang dulunya selalu menunduk ciut kini berdiri tegak dengan tatapan penuh keyakinan. Meski begitu, jauh di lubuk hatinya, Wang Shun tetaplah seorang ayah yang takut kehilangan anak satu-satunya.

​Tanpa bicara lagi, Wang Shun berjalan ke dalam kamar. Ketika kembali, ia menyodorkan sebuah pisau pendek berlaras besi dengan sarung kulit usang.

​“Ini milik Ayah sewaktu masih muda. Bilahnya tidak terlalu istimewa, tapi cukup tajam untuk memotong semak belukar atau membela diri saat darurat.”

​Dahu menerima pisau itu dengan kedua tangannya penuh hormat. “Terima kasih, Ayah. Aku berjanji akan pulang selamat.”

​“Ingat, jangan gegabah mengejar hal di luar batas kemampuanmu. Kalau keadaan membahayakan, segeralah lari. Nyawamu jauh lebih berharga daripada sekadar membuktikan keberanian.”

​Dahu mengangguk mengerti. Ia memutuskan tidak menceritakan soal eksistensi iblis kuno di dalam batinnya—bukan karena tidak percaya pada sang ayah, melainkan karena ia sendiri masih meraba-raba misteri di balik raga aslinya.

​Usai menyantap sarapan sederhana, Dahu berpamitan dan melangkah mantap keluar dari Desa Cangmu.

​Di dalam kepalanya, si iblis langsung melontarkan ejekan sinis.

​“Bagus sekali. Kau berangkat menuju hutan yang berbahaya hanya bermodalkan pisau tumpul dan beberapa potong roti kering. Sungguh persiapan mati yang sangat matang.”

​Dahu melirik pisau di pinggangnya santai. “Kalau kau punya pedang pusaka tingkat dewa, keluarkan saja.”

​“Jangankan pedang, tangan untuk memegang sendok saja aku tidak punya saat ini, sialan!”

​“Kalau begitu, simpan tenagamu dan berhenti mengomel.”

​Si iblis mendengus jengkel, dan perjalanan mereka menuju jantung hutan pun dimulai.

​Hutan belantara di utara Desa Cangmu ternyata jauh lebih lebat dan mengerikan daripada bayangan Dahu.

​Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi mencakar langit, menutupi sinar matahari hingga suasana bawahnya remang-remang. Akar-akar besar menyembul dari tanah bagaikan ular piton raksasa. Kabut tipis merayap dingin di balik vegetasi rapat, diselingi raungan samar binatang buas yang membuat bulu kuduk merinding.

​Dahu tidak langsung nekat menerobos ke zona terdalam.

​Ia dengan cermat mencari titik aman: area yang dekat dengan sumber air bersih, memiliki ceruk goa batu untuk berteduh, serta jalur evakuasi yang jelas jika sewaktu-waktu harus kabur.

​Setelah menemukan tempat yang ideal, ia langsung memulai sesi latihannya.

​Pukulan pertama mendarat di batang pohon pinus raksasa.

​BUK!

​Kulit tangannya seketika lecet dan perih luar biasa.

​Pukulan kedua meleset karena keseimbangan tubuhnya yang belum stabil.

​Pukulan ketiga bahkan membuatnya hampir tersungkur mencium tanah.

​“Luar biasa tajam!” sindir si iblis terkekeh. “Seandainya pohon itu bisa membalas meninju, kau sudah jadi mayat tiga kali berturut-turut.”

​Dahu mengibaskan tangannya yang memerah memar. “Aku baru pemanasan.”

​“Dan kau sudah menemukan tiga cara konyol untuk mempermalukan dirimu sendiri.”

​Dahu mengabaikannya. Ia mencoba mengingat kembali diagram kuda-kuda dan teknik tinju dari buku-buku yang dihafalkannya di paviliun. Namun saat dipraktikkan secara nyata, respons tubuhnya terasa sangat kaku.

​Gerakannya terlalu berat, jangkauannya terlalu lebar, dan bobot tubuh gemuknya justru membebani momentum pergerakannya sendiri.

​Setelah mencoba berulang kali tanpa hasil berarti, Dahu berhenti sejenak. Ia memandangi batang pohon di hadapannya sambil berpikir keras.

​Buku teori memang menyajikan gerakan ideal, tapi buku tidak mengajarkan bagaimana cara mengompensasi bobot tubuh yang timpang, atau bagaimana menyesuaikan pukulan ketika target bergerak dinamis.

​Dahu mencoba kembali dengan pendekatan baru: ia memperpendek jarak kuda-kudanya, mengencangkan tumpuan kaki, dan mengayunkan pukulan dengan sudut yang lebih ringkas.

​Hasilnya langsung terasa. Gerakannya memang masih kasar, tapi ia tidak lagi mudah kehilangan keseimbangan.

​Senyum tipis terukir di wajahnya.

​Ia mulai memahami satu prinsip penting: Teknik bukan sekadar menghafal gambar secara kaku, melainkan mengadaptasi prinsip dasarnya ke dalam raga sendiri.

​Ujian nyata pertama untuk menguji hasil latihannya datang lebih cepat dari perkiraan.

​Saat sedang mengumpulkan kayu bakar, garis telinga Dahu menangkap bunyi kresek samar di balik semak-semak.

​Ia serta-merta menghentikan gerakannya.

​Sepasang mata berwarna kelabu menyala tajam menatapnya dari balik kegelapan pohon.

​Seekor serigala bertubuh besar merayap keluar pelan. Taringnya panjang meneteskan liur, sementara bulu tengkuknya berdiri tajam. Di antara kedua matanya, terdapat guratan pola merah tipis—tanda mutlak bahwa binatang ini telah menyerap energi spiritual alam.

​“Serigala Taring Kelabu,” si iblis memberi tahu. “Monster binatang tahap bawah. Untuk ukuranmu yang baru menjebol satu meridian, dia lawan yang sangat merepotkan.”

​Dahu menelan ludah yang terasa pahit. “Apa aku punya peluang mengalahkannya?”

​“Ada.”

​Mata Dahu berbinar haru. “Benarkah?”

​“Asalkan kau tidak keberatan lengan kirimu putus dikunyah olehnya.”

​“...Kau benar-benar ahli dalam memberikan motivasi hidup.”

​WHOOSH!

​Serigala itu melompat menerjang tanpa aba-aba.

​Dahu refleks melemparkan tubuhnya ke samping. Cakar tajam monster itu berhasil menyambar lengan bajunya hingga robek, meninggalkan tiga sabetan luka berdarah di kulitnya.

​Rasa perih membakar lengannya. Dahu mundur terengah-engah.

​Serigala itu tidak memberinya napas. Ia kembali menerjang ganas, memaksa Dahu menjatuhkan diri dan berguling di tanah.

​BRUK!

​Punggung Dahu menghantam akar pohon yang mencuat.

​Sebelum rahang penuh taring itu sempat mengoyak lehernya, Dahu memusatkan sisa tenaganya untuk menendang rahang bawah monster itu sekuat tenaga dengan kedua kakinya.

​BUK!

​Serigala itu terlempar dan terhuyung beberapa langkah.

​Dahu tidak membuang detik. Ia segera bangkit dan berlari kencang.

​“Pengecut! Kenapa kau malah kabur?!” geram si iblis.

​“Kalau kau punya ide yang lebih cemerlang, silakan gantikan kakiku untuk bertarung!” jerit Dahu dalam batin.

​Ia menerobos celah sempit di antara dua batu raksasa. Serigala itu jauh lebih cepat, namun ukuran tubuhnya yang lebar membuatnya tersangkut sejenak di celah batu tersebut.

​Dahu memanfaatkan momen itu. Ia menyambar batu sebesar kepalan tangan dan melemparkannya tepat ke arah wajah monster tersebut.

​BLETAK!

​Batu itu memang tidak mencederai secara serius, tapi sukses memicu amarah membara si serigala. Dengan raungan murka, monster itu berhasil menerobos celah batu dan menerjang lebih brutal.

​Kali ini, Dahu tidak menghindar secara lurus. Mengingat evaluasi latihannya, ia menyamping tepat di detik terakhir lompatan lawan, lalu mengayunkan sebatang kayu keras sekuat tenaga ke arah pelipis monster tersebut.

​TAK!

​Kayu itu patah berkeping-keping, dan serigala itu tersungkur menghantam tanah. Namun binatang buas itu masih sanggup bangkit kembali dengan mata memerah.

​Dahu sadar serangan fisik biasa tidak akan cukup. Ia harus memutar otak.

​Saat serigala itu kembali melompat, Dahu sengaja memancingnya menuju area tanah yang dipenuhi jalinan akar licin. Benar saja, tapak kaki monster itu tersandung akar, membuatnya kehilangan keseimbangan di udara.

​Kesempatan emas itu hanya berlangsung sekejap mata.

​Dahu menyambar pisau pemberian ayahnya di pinggang, memusatkan aliran energi tipis dari meridian pertamanya ke lengan, lalu menancapkan bilah pisau itu tepat ke ulu hati sang monster saat ia terjatuh.

​JLEB!

​Darah segar menyembur keluar. Serigala itu mengerang keras, meliuk-liuk sesaat sebelum akhirnya terkulai kaku tak bernyawa.

​Dahu terduduk beberapa langkah di samping bangkai serigala, memegang pisaunya dengan tangan bergetar hebat.

​Ia berhasil menang.

​Namun, kemenangan itu sama sekali tidak anggun seperti kisah pahlawan di dalam kitab. Napasnya memburu kacau, bajunya robek berlumur darah, dan sekujur tubuhnya ngilu seperti dihantam gada.

​“Jangan mendekat dulu,” si iblis memperingatkan. “Pastikan jantungnya benar-benar berhenti berdenyut.”

​Dahu menunggu beberapa menit dengan napas terengah-engah sebelum akhirnya memberanikan diri memeriksa bangkai lawan.

​Ia menghenyakkan tubuhnya di atas tanah basah. “Aku... menang.”

​“Menang dengan cara memancingnya ke akar licin, melempar batu, dan mengandalkan keberuntungan,” cibir si iblis.

​Dahu menoleh lemah. “Memangnya syarat kemenangan harus terlihat tampan dan keren?”

​Si iblis terdiam sejenak di dalam alam bawah sadar.

​Beberapa detik kemudian, ia mendengus pelan. “Tidak. Setidaknya kau cukup cerdik untuk sadar bahwa adu otot secara langsung cuma akan membuatmu jadi bangkai.”

​Dahu tertawa ringik, lalu meringis kesakitan saat luka sabetan di lengannya berdenyut perih.

​Hari itu, ia memetik pelajaran paling berharga tentang pertarungan hidup dan mati di alam liar. Dan pelajaran itu dibayar tuntas dengan tetesan darahnya sendiri.

​Hari-hari berikutnya diisi oleh siklus latihan dan pertarungan yang intensif.

​Dahu tidak lagi bertarung sekadar meniru teori. Ia menjadikan setiap luka, sabetan, dan kesalahan sebagai bahan evaluasi tajam berkat kemampuan ingatan fotografisnya.

​Di minggu pertama, ia masih sering kedapatan babak belur saat berhadapan dengan binatang buas. Ia kerap membuang tenaga untuk pergerakan tidak efisien dan mudah panik ketika terkepung.

​Namun, otaknya secara konstan merekam dan memperbaiki setiap detail kesalahan tersebut.

​Ia mengoreksi sudut kuda-kudanya, memangkas gerakan ekstra yang tidak perlu, serta belajar membaca pola serangan monster yang berbeda-beda.

​Monster berukuran besar dipancingnya ke medan sempit.

Monster berkecepatan tinggi dihadapinya dengan menangkal momentum yang presisi.

Monster bertaring beracun ditahannya dari jarak jauh menggunakan jebakan lingkungan.

​Perlahan tapi pasti, gerakan Dahu bertransformasi. Tidak ada lagi keraguan. Gerakannya menjadi sangat efisien dan mematikan.

​Memasuki minggu kedua, Dahu mulai berhasil mengintegrasikan energi spiritual dari meridian pertamanya ke dalam gerakan fisik. Meski alirannya masih sangat tipis, setiap pukulan yang dilapisi energi spiritual memiliki daya hantam dua kali lipat lebih dahsyat.

​Bekas pukulannya di pohon kini meninggalkan retakan mendalam.

Langkah kakinya menjadi sangat ringan dan lincah.

Daya tahan fisiknya melompat drastis.

​Namun yang paling menakjubkan adalah kecepatan pemulihan fisiknya. Luka-luka sabetan ringan yang biasanya butuh waktu seminggu untuk sembuh, kini merapat hanya dalam hitungan hari. Tampaknya, energi kuno yang terserap di dalam raganya ikut meregenerasi jaringan tubuhnya secara konstan.

​“Ragamu ini benar-benar tidak masuk akal,” gumam si iblis pada suatu malam ketika mengamati luka Dahu merapat.

​Dahu yang sedang membalut lengannya menyahut ringan, “Tidak masuk akal dalam artian bagus?”

​“Tidak masuk akal karena kau masih bisa bernapas setelah melakukan puluhan aksi nekat mencari mati.”

​“Itu terdengar seperti pujian terselubung.”

​“Kalau kau haus pujian, cari penyair pasar sana!”

​Dahu terkekeh pelan. Ia mulai terbiasa dengan lidah tajam sang iblis. Meski terkesan sinis, petunjuk kasar si iblis sering kali membantunya melihat blind spot atau celah bahaya yang luput dari pandangannya.

​Memasuki minggu ketiga, transformasi fisik Dahu semakin kentara.

​Timbunan lemak di tubuhnya menyusut drastis, berganti dengan guratan otot yang padat dan efisien hasil tempaan pertarungan hidup dan mati. Wajahnya yang dulu tembam kini bergaris tegas, dan binar matanya memancarkan ketenangan seorang pendekar.

​Ia memang belum menjadi penguasa alam, tapi Wang Dahu yang sekarang berada di level yang sama sekali berbeda dari pemuda ringkih tiga minggu lalu.

​Pada hari ke-23 keberadaannya di hutan, Dahu menemukan jejak yang amat janggal di dekat area tebing batu.

​Tanah di sekitar sana koyak hancur dengan bekas cakaran raksasa. Pohon-pohon diameter besar tumbang patah, dan bebatuan sekitarnya hancur berkeping-keping.

​Dahu berjongkok memeriksa bekas pijakan di tanah. “Ini... jejak binatang yang sangat besar.”

​Si iblis mendadak memberi peringatan keras dari dalam batinnya. “Mundur, Dahu! Jejak ini milik binatang tingkat tinggi. Tingkat kekuatannya jauh di atas serigala-serigala yang kau bantai sebelumnya!”

​Dahu tidak langsung lari. Ia mengamati arah kerusakan vegetasi dan mencium bau amis pekat yang terbawa angin.

​ROAAAR!

​Sebuah raungan berat mengguncang tanah dan membuang pepohonan di sekitarnya.

​Dari balik rerimbunan semak, muncul sosok monster menyerupai beruang hitam raksasa dengan cakar sepanjang pisau pemotong. Setiap kali tapak kakinya menginjak tanah, getarannya terasa hingga ke dada Dahu.

​Mata Dahu menyipit tajam.

​Ia sadar secara mentah bahwa secara kekuatan fisik, ia bukan tandingan monster ini.

​Namun kali ini, ia tidak panik. Ia tidak lari membabi buta.

​Ia mundur beberapa langkah secara tenang, memetakan jarak, posisi pohon-pohon besar, serta ceruk-ceruk batu di tebing belakangnya.

​“Wang Dahu!” suara si iblis terdengar sangat tegang. “Jangan jumawa! Satu tamparan dari cakar itu bisa menghancurkan seluruh tulang rusukmu!”

​“Aku tahu,” jawab Dahu dingin.

​“Kalau tahu, cepat pergi dari sini!”

​Dahu menggenggam erat pisau di tangannya, memusatkan seluruh energi dari meridian pertamanya ke ujung kaki.

​“Aku tidak berniat adu otot dengannya.”

​Ia menatap beruang raksasa itu tajam, mengunci fokus pada pola gerak lawan.

​“Aku hanya ingin membuktikan... seberapa jauh tempaan seratus pertarungan ini telah mengubah diriku.”

​Beruang raksasa itu meraung murka, lalu menerjang bagaikan badai yang menghancurkan segala rintangan di depannya.

​Bumi bergetar hebat.

​Dan di tengah terjangan maut itu, Wang Dahu melangkah maju menyongsong takdirnya.

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!