NovelToon NovelToon
Hari Aku Memilih Untuk Menghilang

Hari Aku Memilih Untuk Menghilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Clarissa19

lelah, satu kata yang mewakili keadaan yang Rania rasakan saat ini. sudah 3 tahun pernikahan nya dan kevin berjalan. namun tidak sehari pun Kevin menganggap Rania sebagai istrinya.
" kapan kamu berhenti berselingkuh? dan menganggap aku sebagai istri mu?" tanya Rania dengan suara pelan dan nada lelah.
" saat kau mati" jawab Kevin dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2_ tidak kembali

Jujur, Kevin sedikit tidak tenang setelah mendapatkan foto foto itu dari Alaska. Namun meskipun begitu, logikanya tetap menolak percaya. Otak nya selalu berkata.

" ini prank, mereka mau memberikan aku kejutan"

meskipun hatinya berkata lain

" bagaimana jika ini benar? Bagaimana jika Rania benar benar pergi?"

" ah! Dia menganggu pekerjaan ku saja" ujar Kevin kesal karena dia tidak bisa fokus bekerja. Bahkan saat meeting tadi pikiran nya terus tertuju pada Rania.

Kevin terus mencoba menghilangkan Rania dari kepala nya. Dia mencoba fokus pada pekerjaannya.

tok tok

Cekleek

" babe" panggil seorang wanita yang baru saja masuk ke ruangan kerja Kevin.

" hey, sweety. Kamu disini?" balas Kevin terkejut melihat kehadiran selingkuhan nya.

Kevin menarik tangan wanita itu membawa wanita tersebut duduk di atas pangkuan nya. satu tangan wanita tersebut mengalungkan mesra di leher Kevin, sedangkan satu lagi bergerak liar di dada Kevin.

" aku sangat merindukanmu, sudah lama kita tidak bertemu " ujar Clara manja.

Yap! wanita itu adalah Clara. apa dia wanita semalam yang mengirimkan pesan untuk Kevin? Jawabannya bukan! Selingkuhan Kevin bukan hanya satu.

" aku juga sangat merindukanmu babe" balas Kevin merapikan anak rambut Clara " kapan kamu pulang? Kenapa tidak mengabari ku?" tanya Kevin menatap Clara penuh cinta dan nafsu.

Berbeda jika saat bersama Rania, untuk menatapnya saja Kevin tidak Sudi.

" tadi pagi, rencananya aku ingin memberikan mu kejutan besok. Tapi aku tidak bisa menahan rasa rindu ku lagi" ujar Clara lalu dia mencium bibir Kevin.

Apa Kevin menolak? Tentu saja tidak. dia justru membalasnya dengan lebih ganas. Bahkan dia memeluk pinggang Clara lebih erat agar lebih menempel padanya.

Malam hari, tepat pada pukul 12 malam. pergantian tanggal. Kevin duduk di ruang tamu di temani oleh suara detik jam yang terus berputar. Menatap pintu masuk berharap Rania dan Alaska datang memberikan dia kejutan.

1 jam

2 jam

3 jam

Hingga malam berubah pagi, Kevin masih duduk di sofa dalam keadaan terjaga. Masih berharap sosok yang dia tunggu akan datang.

" apa mereka lupa? atau terjadi sesuatu hingga mereka terlambat? " gumam Kevin terus melirik jam dan lorong masuk secara bersamaan.

semakin lama, semakin pagi, dan hari semakin terang. Begitupun dengan jantung Kevin yang semakin berdetak tak karuan.

Kilasan kejadian kemaren mulai terlintas kembali di benak nya. Mulai dari perdebatan mereka semalam, lalu beralih ke berita kecelakaan, setelah itu ke isi chat dan juga foto foto dari Alaska.

" tidak, itu tidak mungkin" gumam Kevin linglung menolak percaya pada kenyataan.

Kevin meraih ponselnya lalu menghubungi nomor Alaska. Kevin menunggu dengan berharap cemas, bahkan tanpa sadar dia menggigit kuku jempol nya sendiri hingga terluka.

" *apa*?" tanya Alaska dingin, sepertinya Alaska masih marah dengan Kevin.

" *dimana Rania?" tanya Kevin*

" *apa foto foto kemaren masih kurang jelas? Berita kemaren dan foto mobil Rania masih kurang jelas*?"

" *Lo bohong kan? Rania nggak mungkin meninggal. dia cinta banget sama gw. Nggak mungkin dia ninggalin gw*"

" *cinta akan kalah dengan rasa lelah vin, ini kesalahan Lo. Anggap aja karma buat Lo. Lo emang nggak pantas dapatin cewek sebaik Rania*"

" *nggak! Rania milik gw! cuma milik gw seorang! dia nggak boleh pergi!" ujar Kevin seperti orang gila*.

Panggilan di putuskan oleh Kevin. Kevin pergi dengan keadaan berantakan. dari semalam dia tidak tidur, dan pagi ini dia tidak mandi. Kevin pergi menggunakan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang lumayan sepi di pagi hari.

Mobil hitam milik Kevin berhenti di area parkiran pemakaman elit. Kevin keluar dari mobilnya dan memasuki area pemakaman dengan langkah gontai namun pasti dan cepat.

Matanya menatap ke sekeliling mencari kuburan baru yang bernama Rania Saputri. Nama istri nya yang selama ini tidak pernah dia anggap.

Hingga langkah nya berhenti tepat setelah matanya menangkap sebuah batu Nisan yang dia cari. lutut nya lemah seketika, tubuhnya jatuh berlutut di samping makam tersebut.

" ran? Ini bercanda kan? Ini bukan kuburan kamu kan? Ini kuburan palsukan?" gumam Kevin dengan suara bergetar dan tanpa sadar air matanya terjatuh.

Sangat munafik bukan? Saat Rania masih hidup dia terus menyiksa nya. Dan ketika rania pergi barulah dia menangis seolah oleh dialah orang yang paling kehilangan atas kepergian Rania.

" Rania, ucapan aku itu nggak ada yang benar, aku tidak ingin kamu mati. aku hanya ingin kamu tetap di sisi ku karena itu aku tidak ingin menceraikan mu. tapi... aku... aku..."

Isak tangis Kevin pecah, bahunya bergetar, kepalanya menunduk menumpuk pada batu nisan Rania.

Yaa, ucapan dia selama ini itu tidak benar. dia hanya tidak tahu bagaimana caranya membuat Rania bertahan jika bukan dengan cara seperti itu. dia juga gengsi jika harus mengatakan semua yang dia rasakan. dia takut Rania besar kepala dan nantinya akan meninggalkan nya.

" Rania, sayang... aku mohon, kembali lah. Jangan tinggalkan aku seperti ini, aku belum sempat jujur dengan perasaan ku. Aku mohon, kembali lah" bisik Kevin pilu

Selama Rania hidup, Kevin belum pernah memanggil Rania dengan sebutan manis. Dia tidak pernah memanggil Rania dengan sebutan sayang, baby, sweety atau semacamnya.

Dan sekarang, dia benar-benar menyesali semua itu. dia benar benar menyesal.

" kamu sudah tiba? Bagaimana keadaan di sana?" tanya Alaska pada teman yang sedang bertelepon dengan nya.

" disini lebih nyaman dari pada di Indonesia. Setidaknya disini aku bebas beraktivitas"

Alaska bernafas lega " baguslah, kalo terjadi sesuatu kabari aku. Orang orang ku akan menjaga mu disana "

" Alaska, aku bukan buronan, tidak perlu di jaga ketat seperti ini"

" jangan membantah haruna, kamu belum mengenal suasana tempat baru mu"

" hmm, baiklah, terserah pada mu. Terimakasih banyak atas bantuan mu" ujar Haruna tulus.

" aku tidak menerima ucapan terimakasih, jika ingin berterimakasih hidup lah dengan sehat dan baik baik saja. Aku hanya ingin kamu bahagia"

" siap laksanakan tuan"

Alaska terkekeh geli. Dia bisa lebih lega sekarang. Haruna nya sudah bisa hidup tenang. Setidaknya untuk saat ini.

" i love you " ujar Alaska.

Hening, Haruna tidak langsung menjawab dan Alaska sudah terbiasa dengan hal itu. Dia akan terus memaklumi nya dan terus menunggu.

" udah dulu ya ka, aku mau istirahat sebentar. nanti aku kabari lagi " ujar Haruna.

" baiklah, aku juga harus bekerja. Good bye. hubungi aku secepatnya ya?"

" baik tuan Alaska "

panggilan pun berakhir. Alaska menghela nafas berat lalu meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya.

Tadi pagi, dia mendapatkan kabar dari anak buah nya jika Kevin datang dan menangis di pemakaman rania. Alaska bingung dengan sifat Kevin. padahal selama ini jelas jelas Kevin tidak terlihat mencintai Rania.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!