“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pinangan Diterima
Di Kamar Affandy yang cukup mewah dan luas, Gerald sedang menunggu adik lelakinya. Ia duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Affandy keluar dengan rambut yang masih basah. Ia baru saja selesai mandi setelah berolahraga.
“Kenapa?” tanya Affandy.
Ia duduk di depan meja rias sambil memperhatikan pantulan wajahnya di cermin.
“Kamu benar-benar mau nikah secepat ini?” tanya Gerald.
“Iyalah, Bang.”
Affandy menoleh. “Kenapa? Abang nggak suka kalau Andy nikah duluan?”
“Ngebet banget,” jawab Gerald. “Jangan bilang kamu cuma mau merasakan malam pertama.”
Affandy tertawa kecil. Ia berjalan mendekati kakaknya, kemudian duduk di samping Gerald.
“Bang, Andy memang nakal. Tapi Andy tahu kok tujuan menikah.”
Gerald menatap wajah adiknya lekat-lekat.
“Ya, walaupun ada sedikit rasa penasaran,” lanjut Affandy sambil menyeringai. “Hahaha...”
Gerald pun ikut juga tertawa. “Tapi jangan bercanda, Andy. Abang nggak mau kamu menikah cuma karena hal itu.”
“Enggak, Bang ... Andy merasa memang sudah siap menikah. Bukan karena mengejar malam pertama.”
“Baguslah. Abang suka cara berpikir kamu.”
Gerald tidak tahu satu hal bahwa keinginan Affandy untuk menikah secepat mungkin sebenarnya bukan sepenuhnya karena dirinya sudah siap.
Ada alasan lain yang jauh lebih kuat, yaitu Tiffany. Affandy ingin membuktikan kepada mantan kekasihnya itu bahwa ia bisa move on dengan cepat.
Bahkan, jika sudah menjadikan Hulya sebagai istrinya, Affandy ingin memperlihatkan kepada Tiffany bahwa wanita yang ia nikahi jauh lebih cantik darinya.
[] [] []
Tiga hari sudah Maria dan Fatir pergi meninggalkan dua anak lelaki dan rumah mereka. Mereka berada di Kalimantan untuk meminang Hulya Anindita, putri dari sahabat lama mereka, agar menjadi istri Affandy.
Sementara itu, Affandy semakin tidak sabar menunggu kepulangan kedua orangtuanya. Sepulang dari kantor, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu.
Hari itu suasana hatinya kembali buruk. Tiffany datang menemuinya di kantor dan meminta maaf. Wanita itu bahkan ingin kembali menjalin hubungan dengannya.
Namun Affandy berusaha bersikap tegas. Ia ingin membuat Tiffany menyesal karena telah meninggalkannya. Keinginannya untuk segera menikah pun semakin kuat. Affandy ingin membuktikan bahwa hidupnya tetap bisa berjalan tanpa Tiffany.
“Assalamualaikum.”
Suara seseorang terdengar dari arah pintu.
Gerald baru saja pulang dari kantor. Ia melihat Affandy duduk di ruang tamu, tetapi adiknya sama sekali tidak menjawab salam.
“Kebiasaan,” gumam Gerald.
Gerald masuk ke kamar untuk mengganti pakaian. Tak lama kemudian, ia kembali dengan mengenakan kaus sederhana. Sebelum menghampiri Affandy, Gerald pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
Ketika kembali, satu tangannya membawa segelas minuman dingin, sedangkan tangan lainnya membawa sepiring kue kering.
“Minum Andy, mana?” Affandy melirik tangan Gerald.
“Kamu nggak lihat? Tangan Abang cuma dua.”
Affandy langsung membenarkan posisi duduknya. Begitu Gerald meletakkan minuman di meja, Affandy segera mengambil gelas tersebut dan meneguknya.
“Kebiasaan, ini anak,” ketus Gerald.
“Dikit doang. Pelit banget.”
Affandy meletakkan gelasnya kembali.
“Pesan makanan, dong. Abang lapar.”
Affandy merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. “Makanya, Bang, nikah. Kalau ada Mami, kita nggak susah begini. Makanan selalu tersedia.”
“Iya-iya, yang mau nikah nggak usah ngejek.”
“Belum tentu juga, Bang. Kita nggak tahu Hulya mau atau nggak sama Andy.”
“Dia pasti mau.”
“Semoga aja. Andy mau cepat nikah biar Fany nggak datang gangguin Andy lagi.”
Gerald langsung mengernyitkan kening. “Dia gangguin kamu?”
“Iya. Tadi di kantor dia datang. Mau minta maaf.”
“Di kantor? Tapi Abang nggak lihat dia.”
“Di parkiran. Dia nggak masuk ke dalam.”
“Kamu nggak perlu mikirin dia lagi. Fokus melupakan dia.”
Gerald menatap adiknya. “Atau jangan-jangan kamu masih suka sama dia?”
Affandy terdiam. “Jujur, ya, Bang. Andy masih cinta sama Fany.”
Gerald menghela napas.
“Tapi kalau mengingat kelakuannya ... Andy jadi benci sama dia.”
“Kamu nggak perlu mengingat dia lagi. Fokus kamu sekarang adalah menikah.”
“Iya, Bang. Andy tahu.”
Kedua kakak beradik itu hanya bisa menunggu kepulangan Maria dan Fatir. Terutama Affandy yang sangat ingin mengetahui hasil pinangan kedua orangtuanya.
[] [] []
Hari kepulangan orang tua mereka tiba, tepatnya di hari rabu. Setelah beberapa hari berada di Kalimantan, Maria dan Fatir akhirnya tiba di rumah karena urusan mereka di sana telah selesai
Anehnya, baik Affandy maupun Gerald sama-sama tidak pergi ke kantor. Mereka bahkan belum keluar dari kamar masing-masing meskipun hari sudah menjelang siang.
Perjalanan yang jauh itu tidak sia-sia. Perjodohan yang pernah direncanakan bertahun-tahun lalu akhirnya akan terlaksana.
Keluarga Irwan dan Liya ternyata masih mengingat janji lama tersebut. Mereka bahkan masih menunggu kedatangan Maria dan Fatir setelah bertahun-tahun berlalu.
Begitu masuk ke halaman rumah, Maria melihat kedua mobil anaknya masih terparkir rapi di garasi. Ia yakin Affandy dan Gerald tidak pergi ke mana-mana.
“Assalamualaikum!”
Tidak ada jawaban apapun yang mereka dapatkan.
“Kayaknya mereka masih tidur,” ujar Fatir.
“Kebiasaan. Kalau kita nggak ada, mereka pasti malas keluar kamar.”
Tok! Tok! Tok!
“Andy! Gerald!”
Masih sama, tidak ada jawaban dari salah satu putra mereka. Fatir kembali mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
“Andy! Gerald!”
Cukup lama mereka menunggu akhirnya pintu mulai terbuka. Gerald muncul dengan kaus oblong dan rambut yang masih berantakan.
“Mami, Papi.”
“Kalian nggak ke kantor?” tanya Fatir.
“Males, Pi. Istirahat sekali-kali, kan, boleh.”
“Andy mana?” tanya Maria.
“Ada. Mungkin masih tidur.”
Maria menghela napas panjang. “Ya Tuhan ...”
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Gerald berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah, sementara Maria dan Fatir duduk di ruang keluarga.
“Lihat anak kamu itu,” keluh Fatir. “Gimana mau sukses kalau kerja di perusahaan orangtuanya sendiri saja mereka malas-malasan?”
“Biarinlah, Mas. Namanya juga masih muda.”
Tak lama kemudian, Gerald kembali. Bersamaan dengannya, Affandy juga muncul dari kamar.
“Mami, Papi...”
“Kamu baru bangun juga?” tanya Maria.
“Iya, Mi.”
“Satu nggak kerja, dua-duanya langsung nggak kerja,” gerutu Fatir. “Mau jadi apa kalian? Kamu juga, Andy. Mau menikah tapi malas kerja.”
Affandy langsung membuka matanya lebar-lebar. “Nikah?”
Ia mendekati kedua orangtuanya. “Pinangannya diterima, Pi?”
“Iya.”
“YES!” Affandy mengepalkan tangannya.
“Andy sudah nggak sabar nikah!”
Maria sampai tertawa melihat antusiasme anaknya. “Semangat banget.”
“Iyalah, Mi. Mau ibadah, kan? Harus semangat.”
Fatir tersenyum. “Satu minggu lagi kamu menikah.”
“Beneran, Pi?”
“Iya.”
Affandy semakin bahagia.
“Kamu jangan aneh-aneh lagi,” pesan Maria. “Kamu sudah menjadi calon suami orang.”
“Siap!”
Affandy berdiri sambil memberikan hormat kepada kedua orangtuanya. Namun, di balik senyum bahagianya, ada niat lain yang tersimpan.
"Tunggu saja, Fany. Aku akan membuat kamu menyesal karena sudah meninggalkan aku."
Affandy tidak sabar menunggu hari pernikahannya. Ia mengira dirinya sudah siap menjadi seorang suami. Padahal, tanpa disadarinya, keputusan itu lahir bukan dari kesiapan, melainkan dari luka dan keinginan untuk membalas sakit hati.
Affandy hendak memasuki sebuah pernikahan yang belum tentu mampu ia jalani dengan hati yang benar. Dan wanita yang akan menjadi istrinya adalah Hulya Anindita. Wanita itu sama sekali tidak tahu bahwa dirinya akan menjadi bagian dari rencana seorang pria yang masih terjebak dalam masa lalunya.