Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Sore harinya, tepat pukul lima, Tirta melangkah dengan senyum bahagia yang menghiasi wajahnya. Jordan sudah mengirim pesan untuk bertemu dengannya. Dari isi pesannya, terlihat bahwa pria itu sudah tidak marah lagi. Tadi pagi pun Tirta sempat mengirim beberapa makanan sebagai permintaan maaf.
"Hari ini apa yang sedang dia persiapkan untukku? Apa sesuatu seperti lamaran atau bahkan pernikahan? Ah! Tapi aku belum siap untuk itu. Sudahlah, Tirta, jangan berpikir yang aneh-aneh lagi. Dia pasti akan kesal kalau aku terlambat."
Tirta segera menghentikan khayalannya yang mulai melambung terlalu jauh. Tanpa membuang waktu, ia mengendarai motornya menuju kafe yang lokasinya sudah dikirimkan oleh sang kekasih.
Gadis itu memang sudah bersiap sejak dari kantor. Pakaiannya telah ia ganti dengan yang lebih bagus, lengkap dengan parfum yang semerbak menguar. Ia begitu bersemangat hingga senyum itu tak kunjung luntur dari wajahnya.
Sesampainya di depan kafe, motornya diparkirkan dengan rapi. Tirta turun, lalu melepaskan helm dan jaketnya. Dari luar, ia bisa melihat Jordan sedang duduk sambil menatap layar ponselnya.
Dengan menarik napas pelan, Tirta berjalan masuk. Namun, senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar ketika segerombolan orang datang menghampiri Jordan.
Mereka terlihat saling menyapa. Jordan pun tampak begitu senang bertemu dengan teman-temannya.
Tirta yang masih bingung memilih maju atau mundur hanya bisa terdiam. Ia takut harus mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar. Lebih baik tidak tahu apa pun daripada harus kembali melukai hatinya sendiri.
Dengan mantap, gadis itu berbalik. Ia memutuskan akan keluar lebih dulu dan masuk lagi setelah teman-teman Jordan pergi.
Namun, obrolan mereka yang terdengar begitu keras tetap berhasil masuk ke telinganya.
"Kamu sungguhan sama pacarmu itu, Jordan?" tanya seorang gadis. Dari nada suaranya terdengar jelas ia sedang menggoda sekaligus meledek.
"Apa maksud pertanyaanmu, Elisa? Tentu saja teman kita ini serius sama hubungannya. Iya, kan, Jordan?" sahut salah satu teman pria mereka.
Elisa hanya tertawa, seolah benar-benar meremehkan.
"Oh, ayolah. Aku tidak bilang apa-apa, kok. Aku cuma bertanya. Soalnya selama ini Jordan tidak pernah membawa pacarnya ke tempat tongkrongan. Jadi aku pikir dia cuma main-main saja."
Kelakarnya langsung disambut tawa teman-teman yang lain.
"Aku tidak bermaksud menghina, tapi apa yang dibilang gadis cantik ini benar. Kalau memang mau putus, ya putus saja secepatnya. Pacarmu itu jelek, hitam lagi. Aku rasa kamu juga tidak dapat apa-apa kalau terus pacaran sama dia." Ucapan itu disambut tawa yang semakin keras.
Jordan yang dianggap sebagai kekasihnya hanya diam sambil melengos. Hatinya memang terusik, tetapi rasa tidak enak untuk menegur teman-temannya jauh lebih besar.
"Benar. Mending sama Elisa, kan? Sudah cantik, putih, seksi lagi."
"Jangan-jangan karena Jordan belum pernah tidur sama dia, bro?"
"Bisa jadi. Soalnya yang kudengar semua mantannya sudah pernah dia tiduri. Tinggal si itik buruk rupa ini saja yang belum."
Tirta memejamkan matanya rapat. Air mata yang hampir jatuh segera ia seka sebelum benar-benar mengalir.
"Nona, ada yang bisa kami bantu?"
Suara seorang pelayan membuat Tirta tersadar. Pelayan itu tampak bingung karena sejak tadi gadis itu hanya berdiri di depan pintu tanpa berniat mencari tempat duduk.
Mendengar suara pelayan itu, Jordan menoleh dan menatap punggung kekasihnya. Ia langsung mengenali siapa gadis yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Tanpa pikir panjang, Jordan menyela obrolan teman-temannya dan berjalan menghampiri Tirta.
Sayangnya, gadis itu sudah lebih dulu melangkah keluar dengan rasa kecewa yang selama ini terus ia telan.
Rasanya ia muak. Ia ingin berhenti. Namun, sayangnya ia masih belum menyerah, seolah masih menunggu pria yang dulu pernah mencintainya dengan begitu besar untuk kembali.
Jordan mengejar Tirta dan mencekal pergelangan tangannya agar gadis itu berhenti.
"Sayang, kenapa tidak jadi makan malam denganku?" tanyanya sambil menatap kedua mata Tirta yang sudah memerah.
Ia tidak buta. Namun, tetap saja bertanya seolah tidak tahu apa-apa.
Apa pria itu bodoh? Atau memang pura-pura bodoh?
Ah, tapi sayangnya bukan Jordan yang bodoh. Melainkan dirinya yang masih memilih diam dalam keadaan seperti ini.
"Aku ingin pulang saja. Aku sudah lelah."
Tirta melepaskan tangan besar yang menggenggam pergelangannya. Jordan mengernyitkan dahi melihat sikap itu.
"Kamu marah karena perkataan teman-temanku? Oh, ayolah. Mereka cuma bercanda." Ujarnya sambil terkekeh pelan. Tirta tersenyum. Tatapannya sudah benar-benar menyerah. Bahkan rasanya, amarah itu sudah tidak lagi ada di dalam hatinya.
Dan mungkin... perasaan cinta itu pun sebenarnya sudah ikut menghilang.
"Oh...."
"Hanya itu? Kamu tidak marah? Ini tidak seperti dirimu." Jordan menatapnya heran.
"Kamu tahu hari ini hari apa?" tanya Tirta sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat.
"Ada apa dengan hari ini? Hari anniversary kita? Sepertinya bukan."
"Lalu kenapa kamu mengajakku makan malam?"
"Karena tadi pagi aku marah padamu. Aku ingin minta maaf."
Jawaban itu justru membuat Tirta tertawa cukup keras. Air matanya ikut jatuh bersama tawanya.
"Sayang, kamu kenapa? Tidak seperti biasanya. Apa ada masalah di kantor?"
"Meminta maaf, katamu?" Tirta tertawa lagi. "Lucu sekali kata itu keluar dari bibirmu. Lalu besok kamu akan melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih buruk, lalu meminta maaf lagi. Bukankah meminta maaf itu memang hal yang paling mudah diucapkan?"
Jordan memegang kedua pundak gadis di depannya. Tirta sesekali mengusap air matanya, tetapi tawanya masih terdengar.
"Sayang, kamu marah? Aku tidak bisa membaca setiap perasaanmu kalau kamu tidak mengatakannya dengan jujur." Jordan membelai pipi Tirta. Namun, gadis itu langsung menepis kedua tangan pria tersebut.
"Marah?" Tirta menatap Jordan dengan sorot mata yang tegas. "Apa aku masih pantas marah?"
Jordan terdiam.
"Aku tidak peduli kamu ingat atau tidak hari ini hari apa. Tapi dengarkan aku baik-baik." Tirta menarik napas pelan. "Kesabaranku juga ada batasnya dalam sebuah hubungan. Selama dua puluh satu tahun hidupku, aku tidak pernah merendahkan diriku serendah ini."
Ia menatap Jordan tanpa berkedip.
"Jadi... ini adalah kesempatan terakhir yang bisa aku berikan."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Tirta langsung menaiki motornya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sementara Jordan masih berdiri mematung. Untuk pertama kalinya, ia melihat tatapan mata Tirta yang benar-benar kosong.
Tatapan yang tidak lagi dipenuhi amarah.
Tatapan yang hanya menyisakan kehampaan.
Saat Jordan hendak mengejar, Elisa tiba-tiba datang dan meraih lengannya, menghentikan langkah pria itu.
"Pacarmu itu terlalu serius menanggapi candaan tadi. Biarkan saja. Nanti juga baik sendiri." Ucapnya dengan suara manja sambil bergelayut di lengan Jordan. Jordan langsung menepis tangan gadis itu dan menatapnya tajam.
"Sepertinya kamu lupa. Perlu aku ingatkan lagi kalau aku sudah punya pacar?" Tanpa menunggu jawaban, Jordan berbalik dan kembali masuk ke dalam kafe, tempat teman-temannya masih menunggu.
Sementara itu, Tirta sempat melihat melalui kaca spion bagaimana gadis cantik itu bergelayut manja di lengan pria yang masih ia sebut sebagai kekasihnya.
Senyum tipis kembali terukir di wajahnya.
Senyum yang terasa begitu pahit.
Betapa bodohnya dirinya selama ini.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜