Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Suara terompet kemenangan kembali menggema di langit Valenor. Suaranya semakin jelas seiring mendekatnya rombongan pasukan dari arah barat.
Penjaga gerbang Valenor langsung menyingkirkan pembatas lalu membuka gerbang lebar-lebar. Antrian warga yang sedang menunggu proses pemeriksaan masuk ibukota pun langsung dibubarkan.
Seluruh masyarakat di dalam Valenor yang mendengar juga langsung mengerumuni tepi jalan utama. Meninggalkan semua aktivitas yang sedang mereka lakukan.
Evren Vance, jenderal muda yang mewarisi darah pejuang sang ayah. Sekali lagi kembali dengan membawa kemenangan dari medan perang. Mempertahankan perdamaian di dalam negeri Alterus setelah enam bulan lamanya berperang di Vargan, perbatasan bagian barat kerajaan.
Saat memasuki gerbang ibukota, sorakan rakyat terdengar begitu menyenangkan di telinganya. Mereka adalah rakyat yang ia lindungi menggunakan darahnya dan mereka juga yang menyambutnya kembali dengan begitu meriah.
Di istana.
Prajurit masuk ke aula sidang untuk menemui Sang Kaisar. Memberikan laporan mendesak hingga menunda jalannya sidang dengan para pejabat.
“hormat yang mulia, jenderal muda Evren Vance telah memasuki ibukota.”
Sang Kaisar tersenyum. Senyum yang begitu lebar hingga semua ikut merasakan kebahagiaan sang Kaisar.
“Langsung bawa ke hadapanku,” perintahnya dengan begitu antusias.
“Baik yang mulia.”
Evren mengikuti utusan istana untuk langsung menghadap Kaisar.
Sesampainya di istana, seorang pelayan langsung mengarahkan Evren ke sebuah kamar ganti untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh istana.
Di dalam aula sidang, Evren berjalan masuk dengan gagahnya dan langsung berlutut di hadapan pemimpin tertinggi negeri ini.
“Jenderal Evren Vance memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar.”
Sang Kaisar memerintahkan Evren untuk berdiri dan mulai memberikan laporan terkait peperangan di Vargan selama enam bulan terakhir. Pujian dari Kaisar Cassian pun langsung memenuhi aula pertemuan, diikuti dengan senyum puas dari para pejabat.
Setelah seluruh agenda selesai dan pertemuan resmi ditutup, Evren memberi hormat kepada Sang Kaisar sebelum melangkah keluar dari aula. Langkahnya bergema di koridor istana hingga akhirnya ia meninggalkan kompleks kekaisaran untuk kembali ke kediamannya.
Bayangan sang ibu yang selalu tersenyum hangat setiap menyambutnya semakin jelas memenuhi pikirannya. Membuat kerinduannya pada rumah semakin dalam.
Evren saat ini baru berusia delapan belas tahun. Terhitung sudah dua tahun ia menyandang gelar jenderal. Menjadi jenderal termuda sepanjang sejarah Kerajaan Alterus.
Sejak usia belia, ia sudah berjuang di medan perang mengikuti sang ayah, mempelajari cara bertahan hidup dan memimpin pasukan. Setelah sang ayah gugur di medan tempur, ia memaksa dirinya untuk tumbuh dewasa lebih cepat daripada anak seusianya.
Baginya, memimpin pasukan bukanlah masalah yang terbesar, yang paling sulit adalah mendapatkan kepercayaan ribuan prajurit yang harus mempertaruhkan nyawa di bawah komando seorang pemuda. Tidak akan ada yang mempercayai seorang anak seusianya untuk memimpin di medan perang, kecuali ia bisa membuktikan dirinya sendiri.
Di depan kediaman Jenderal.
Di depan pintu masuk kediaman, sang ibu sudah berdiri menunggunya. Di sampingnya, paman dan bibinya ikut menyambut kepulangan Evren.
Wajah yang kini terlihat memiliki banyak keriput itu tersenyum hangat sesuai dengan bayangan Evren. Sang ibu membuka kedua tangannya untuk menyambut sang putra masuk ke dalam pelukannya.
Evren turun dari kuda dan berjalan cepat menghampiri sang ibu. Memeluknya dengan erat melepaskan kerinduan di dalam hati.
“Kakek di mana bu?” Tanyanya setelah pelukan mereka terurai. Evren melihat ke kanan kiri dan mengintip ke halaman rumah namun hanya terlihat beberapa pelayan rumah saja.
“Kakek menunggumu di dalam, ayo masuk.”
Sang ibu menggandeng lengan Evren dan mereka berjalan masuk ke dalam kediaman jenderal. Melewati halaman yang luas, taman yang mulai bermekaran, lalu menyusuri setiap lorong lorong panjang di kediaman menuju ke bagian paling belakang. Semakin ke belakang, semakin sepi dan sunyi suasananya.
“Kenapa kakek ada di sini?”
Enam bulan lalu sebelum ia berangkat ke Vargan, kakeknya masih tinggal di halaman utama kediaman. Tapi baru enam bulan berlalu, sang kakek sudah pindah ke sudut paling belakang dan paling sepi di kediaman.
“usia kakek sudah semakin tua dan kesehatannya terus menurun,” ucap sang ibu sambil menatap lekat pintu kamar di depannya.
Lalu ibu kembali melanjutkan kalimatnya.
“kakek sendiri yang minta pindah kesini karena lebih tenang.”
Evren melirik paman dan bibinya dan mereka berdua mengangguk membenarkan ucapan ibunya.
“kemarin kakek sempat bertanya kapan kamu sampai rumah, sekarang kakek pasti senang karena cucu kesayangannya ini sudah kembali dengan selamat.” sang ibu mendorong Evren pelan agar putranya itu segera masuk ke dalam kamar kakeknya.
Evren membuka pintu kayu tersebut secara perlahan. Tidak ada suara khas pintu yang berdecit ketika dibuka. Orang-orang kediaman benar-benar memastikan tempat ini tetap tenang sesuai keinginan sang kakek.
Di dalam hanya ada sebuah lilin sebagai penerang ruangan, membuat suasana terasa remang meskipun sekarang masih siang. Jendela pun hanya satu yang dibuka di dekat tempat tidur.
“Kakek?” Panggilnya dengan suara pelan.
Evren terus berjalan masuk dan melihat sosok tua renta terbaring di atas kasur. Matanya terbuka melihatnya namun tidak bersuara sedikitpun.
“Arthur apa itu kamu?”
Evren terdiam dan langkahnya terhenti. Menatap sendu sang kakek yang terlihat begitu merindukan putranya.
Setelah menarik nafas, Evren mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur. Menggenggam tangan sang kakek dengan erat.
“Kakek, ini aku Evren, cucu kesayangan kakek,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Evren? Ini benar Evren?”
Sang Kakek berusaha bangkit dari tempat tidur dan melihat lekat-lekat wajah pemuda di depannya.
“Iya kek.”
Senyum sekaligus air mata menetes di wajah Evren.
“Akhirnya kamu kembali, kamu tidak terluka kan?.”
Evren menganggukkan kepalanya cukup kuat lalu mengatakan ‘iya’ dengan suara seraknya.
Setelah mengobrol cukup lama, napas sang kakek mulai terdengar semakin berat.
Evren membantu menyelimuti tubuh renta itu sebelum menggenggam tangannya untuk terakhir kali.
"Istirahatlah, Kek. Nanti malam aku akan datang lagi."
Sang kakek hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis di wajahnya.
Evren berdiri, menatap sang kakek beberapa saat, lalu melangkah keluar dari kamar.
Ibunya sudah tidak berada di luar kamar kakek. Seorang pelayan menghampirinya dan menyampaikan pesan dari sang ibu untuk datang ke ruang makan. Evren mengangguk mengerti lalu ia berjalan menuju halaman utama.
Pandangan Evren menyapu setiap sudut kediaman yang telah enam bulan ia tinggalkan.
Tidak banyak yang berubah, hanya ada beberapa bunga baru. Bahkan tempatnya biasa duduk setelah latihan pun masih ada. Padahal itu hanya sebuah kursi usang yang sudah lapuk dan bisa dibuang kapan saja. Tapi tidak ada yang menyentuhnya sedikitpun.
Aroma di kediamannya pun masih sama seperti dulu. Aroma menyegarkan dari bunga yang ditanam ibunya di taman. Ditambah dengan pengharum tambahan karena dulu dirinya pernah mengatakan bahwa aroma bunga itu terasa segar. Ia tahu, ibunyalah yang secara khusus mengurus semua itu sendirian tanpa dibantu pelayan. Ibunya sudah bekerja keras mengurus kediaman sebesar ini.
“Ayo nak duduk dan makan, ini ada iga asam manis kesukaanmu.”
Sesampainya di ruang makan, Sang Ibu langsung menarik kursi agar putranya itu bisa langsung duduk. Bak anak kecil, Evren berjalan dengan langkah yang begitu ringan menghampiri sang ibu.
“Sudah lama aku tidak makan masakan ibu.”
Evren mulai menyantap makanan di atas meja dengan begitu lahap. Ibunya duduk di sampingnya sambil sesekali meletakkan beberapa lauk ke dalam mangkuk Evren. Meskipun sudah bertahun-tahun berada di medan perang, ia tetaplah seorang anak yang kini sudah menginjak usia remaja. Kasih sayang dan kehangatan seperti ini selalu ia dambakan ketika sedang jauh dari rumah. Karena kehangatan seperti ini hanya bisa ia rasakan saat pulang ke rumah, Evren selalu menghargai momen saat bersama keluarganya.
“Nyonya! Nyonya!”
Seorang pelayan wanita berteriak dari luar. Saat tiba di ambang pintu, nafasnya terdengar terengah-engah dan buliran keringat memenuhi dahinya.
“Ada apa? Kediaman jenderal tidak pernah mengajarimu untuk bersikap tidak sopan seperti ini!”
Ibunya Evren sebagai nyonya besar di kediaman ini langsung menegur sikap pelayan tersebut yang menurutnya tidak sopan.
“Tapi nyonya, di luar ada utusan kerajaan membawa titah Kaisar.”
“Apa itu penghargaan untuk Evren?”
Berlawanan dengan raut panik pelayan, Ibu Evren terlihat antusias karena mengira utusan kali ini pasti membawa hadiah seperti sebelumnya saat putranya itu kembali dari medan perang.
“S-saya rasa bukan,” ucap sang pelayan dengan terbata-bata. Keringat masih terus mengalir dari dahinya.
Jika itu adalah titah hadiah, rombongan istana pasti akan membawa juga hadiah tersebut. Tapi mereka justru membawa kuk tahanan. Semua orang di kota tahu kalau alat itu hanya muncul untuk mengiringi terpidana. Hal itu langsung menggemparkan seluruh penjuru kota.
Sang Ibu langsung membeku, senyumnya luntur lalu ia menoleh secara perlahan ke arah Evren. Ibu dan anak itu bertatapan dalam diam. Evren pun tidak tahu dimana letak kesalahannya. Sebagai seorang jenderal, ia tahu titah kerajaan hanya akan membawa dua kemungkinan : penghargaan atau hukuman. Namun ia tidak memiliki petunjuk sedikitpun mengapa hukuman yang menantinya setelah membawa kemenangan dan kedamaian bagi kekaisaran Alterus.
Tidak lama kemudian, langkah kaki yang tergesa terdengar mendekat. Eldrick bersama sang istri muncul dengan raut wajah cemas. Keduanya baru saja mendapat laporan dari pelayan tentang utusan kerajaan.
“Sebaiknya kita keluar dan dengarkan dulu titahnya, baru kita tahu apa yang terjadi.” Ucap Eldrick.
Dalam situasi seperti ini, mereka tidak bisa menunda lebih lama. Jika benar titah itu berisi hukuman, menolak atau mengulur waktu menerimanya hanya akan memperburuk keadaan.
“Tapi kalau titah sampai dibacakan, itu sudah tidak bisa ditarik lagi!” Seru sang ibu dengan sedikit berteriak. Tentu saja ia panik ketika melihat ada kemungkinan sesuatu yang merugikan putra semata wayangnya.
“Tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja,” Ucap Eldrick dengan penuh keyakinan. Sorot matanya tetap tenang. Ketenangan itu membuat semua orang di ruangan tersebut diam lalu menurutinya.
Evren dan ibunya pergi keluar lebih dahulu, sedangkan pamannya menyuruh seorang pelayan untuk menemui kakek. Ia merasa waktu untuk menggunakan benda itu sudah tiba.
Dulu ia gagal melindungi kakaknya di medan perang. Sejak kehilangan fungsi tangan kirinya, ia bersama istrinya hanya bisa hidup menumpang di kediaman sang kakak ipar.
Namun wanita itu tak pernah sekalipun mengeluh. Ia merawat ayah mertua mereka yang telah renta dengan penuh kesabaran, sementara Evren menerima paman dan bibinya layaknya keluarga sendiri. Pengobatan terbaik, makanan yang layak, hingga pakaian hangat, tak pernah luput mereka sediakan.
Sekarang yang tersisa hanya Evren Vance, keponakan satu-satunya sekaligus keturunan tunggal sang kakak, akan ia jaga nyawanya bagaimanapun caranya. Bahkan jika itu hanya memperpanjang nyawanya satu menit saja, akan ia lakukan segala cara untuk itu.
“Apa kamu akan mengeluarkan benda itu?” tanya sang istri yang berdiri di sampingnya. Eldrick menatap sang istri lalu menggenggam tangannya dengan erat.
“Kalau memang dibutuhkan, aku akan menggunakannya. Lagipula, benda itu didapatkan kakak karena jasanya di medan perang. Evren sebagai keturunan langsung kakak lah yang paling pantas menggunakannya,” Jawabnya dengan penuh keyakinan.
Setelah itu, keduanya berjalan keluar menuju ke halaman. Utusan Kerajaan sudah memasuki area halaman dengan selembar titah di genggaman tangannya. Semua orang segera berlutut menghadap utusan kerajaan yang membawa titah sang Kaisar.
Evren berlutut di posisi paling depan sebagai penerima titah. Tangannya berkeringat dan kepalanya terasa pening. Situasi saat ini jauh lebih menegangkan dibandingkan harus berhadapan dengan ribuan tentara musuh. Jantung setiap orang di kediaman itu berdegup keras. Apa pun isi titah yang akan dibacakan, hari itu akan menentukan nasib keluarga Jenderal Vance untuk selamanya.