“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Malam: Antara Kesepian Sang CEO dan Ketulusan Sang Pendengar
Di jantung kota yang tak pernah tidur, di balik tembok-tembok kaca gedung pencakar langit, terdapat sebuah tempat yang menjadi persembunyian bagi mereka yang lelah dengan dunia nyata. Sebuah ruangan VIP yang eksklusif, di mana cahaya tidak menyinari dengan terang, melainkan jatuh dalam alunan lembut dan temaram, menciptakan bayang-bayang yang menari di dinding mengikuti irama musik yang mengalun pelan namun memukau. Udara di sana terasa berat, bercampur dengan aroma wangi mahal yang samar dan bau minuman berkelas yang memabukkan, namun bukan memabukkan dalam arti kesenangan, melainkan memabukkan dalam kesepian yang mendalam.
Di sudut paling gelap dan tenang ruangan itu, duduklah seorang pria yang keberadaannya seolah mendominasi seluruh ruangan. Ia memancarkan aura kekuasaan yang tak tertandingi, sebuah wibawa yang membuat siapa pun segan untuk mendekat, namun di saat yang sama sulit untuk dialihkan pandangan darinya. Namanya Kevin Mahendra. Di usianya yang masih sangat muda—dua puluh delapan tahun—ia telah mencapai puncak kesuksesan yang bahkan mungkin tidak terbayangkan oleh orang lain dalam seumur hidupnya. Sebagai seorang CEO perusahaan raksasa, namanya dikagumi, ditakuti, dan sering menjadi bahan pembicaraan di berbagai kalangan.
Wajahnya tampan bak pahatan tangan pematung terbaik; rahang yang tegas, hidung bangir, dan bibir yang sering terkatup rapat membentuk garis dingin. Namun, sorot matanya adalah hal yang paling mencolok. Di balik kilauan kecerdasan dan ketajaman bisnis itu, tersimpan kelelahan yang sedalam samudra. Sebuah beban yang dipikulnya sendirian, jauh lebih berat daripada sekadar angka dan tanggung jawab perusahaan. Meski usianya terpaut tujuh tahun di atas Alya, kedewasaan sikapnya, tatapannya, dan caranya memandang dunia membuatnya terlihat seperti sosok yang telah menempuh perjalanan waktu jauh lebih lama, penuh luka dan pengalaman yang menempa jiwanya menjadi baja.
Di tangannya yang kekar dan terawat, sebuah gelas kristal berisi cairan berwarna merah kemerahan tergenggam erat. Ia memutarnya perlahan, memperhatikan cairan itu bergerak mengikuti putaran gelas, lalu sesekali meneguknya pelan-pelan. Bukan karena ia haus akan kenikmatan, melainkan seolah sedang berusaha menenggelamkan segala kegelisahan dan pikiran yang berisik di kepalanya ke dalam kegelapan minuman itu. 🥃🖤
🥀 Pertemuan di Antara Kilauan Lampu dan Bayang-Bayang Kesunyian
Malam itu, Alya melangkah masuk ke ruangan itu dengan langkah yang ringan namun penuh kehati-hatian. Ia adalah bagian dari tempat ini, namun ia juga merasa seperti orang asing yang hanya sedang berpura-pura. Seperti biasa, ia mengenakan gaun elegan yang sopan, membalut tubuhnya dengan indah namun tetap menjaga kesederhanaan. Wajahnya dihias rapi, tidak berlebihan, cukup untuk menyembunyikan kantung mata yang lelah dan menampilkan senyum yang menyenangkan bagi siapa saja yang melihatnya.
Tugasnya di sini, sebagaimana ia tegaskan pada dirinya sendiri setiap hari, adalah murni profesional. Ia melayani tamu dengan tulus, menyajikan minuman terbaik dengan ketelitian tinggi, dan menjadi pendengar yang baik—sebuah tempat curhat berjalan bagi mereka yang membutuhkan telinga untuk mendengar cerita hidup mereka yang rumit. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang kotor, dan tidak ada yang melanggar batas. Baginya, tempat ini hanyalah sebuah panggung sandiwara besar; ia adalah pemeran yang memegang peran pelayan setia dan teman ngobrol yang menyenangkan.
Saat ia melangkah mendekati meja di sudut ruangan tempat Kevin duduk, ia merasakan perbedaan suguhan yang tajam. Suasana di sana terasa hening, seolah udara di sekitarnya lebih padat. Pria itu tidak berisik, tidak menuntut perhatian dengan teriakan atau tawa palsu seperti kebanyakan tamu lain yang sering ia temui. Kevin hanya diam, mematung dengan tatapan kosong menembus jendela kaca besar yang memandang lanskap kota yang berkelap-kelip di bawah sana.
Alya tidak terganggu oleh keheningan itu. Dengan kelembutan yang menjadi ciri khasnya, ia mendekat dan membuka suara, memecah kesunyian itu tanpa merusaknya.
"Selamat malam, Tuan," sapanya lembut dan sopan, seolah membawa angin sejuk yang berhembus pelan di tengah ruangan yang panas oleh kemewahan itu. "Apakah ada yang bisa saya bantu? Atau mungkin Anda ingin menuang ulang minumannya agar tetap segar?"
Kevin menoleh perlahan. Gerakannya lambat, penuh perhitungan, dan matanya yang tajam menelusuri setiap inci wajah Alya. Namun, sorot itu bukanlah sorot nafsu atau kerakusan yang biasa ia temui dari mata laki-laki lain. Ini adalah tatapan rasa ingin tahu yang tulus, sebuah penyelidikan yang lembut. Ia menatap jauh ke dalam manik mata Alya, mencoba melihat di balik topeng keramahan yang dipakai gadis itu. Ia melihat ketulusan yang jarang ia temukan, melihat sorot mata yang meski bersinar terang namun menyembunyikan luka yang dalam dan tangis yang tertahan.
"Terima kasih," jawab Kevin. Suaranya berat, serak, dan bergetar pada frekuensi rendah yang khas dari orang yang terlalu lama menyendiri. "Cukup di sini saja. Tidak perlu sibuk lagi. Duduklah sebentar di sana jika kau tidak keberatan. Malam ini, aku tidak sedang mencari pelayan. Aku hanya butuh seseorang yang sudi menjadi teman bicara, atau bahkan hanya pendengar yang baik."
Alya sedikit terkejut mendengar permintaan itu, namun ia tidak membiarkan keterkejutannya terlihat di permukaan wajahnya. Ia tetap tenang, tersenyum anggun, lalu menarik kursi yang ada di hadapan pria itu dengan jarak yang sangat aman dan terhormat.
"Tentu saja, Tuan," jawabnya pelan. "Silakan luapkan segala beban yang Tuan rasakan. Saya di sini bukan untuk menghakimi, melainkan hanya untuk mendengarkan dan membiarkan kata-kata itu menemukan jalan keluarnya." 🤝