NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:471
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 – Cincin dan Janji

“Ada orang yang hadir bukan untuk membuatmu jatuh cinta. Mereka hadir untuk membuatmu percaya bahwa rumah itu benar-benar ada.”

--

Mentari pagi menyinari deretan gedung pencakar langit yang mulai dipenuhi oleh aktivitas. Jalanan ibu kota kembali sibuk setelah akhir pekan berlalu. Orang-orang berjalan tergesa-gesa, kendaraan yang lewat saling berebut ruang, sementara waktu seolah berlomba meninggalkan siapa pun yang terlambat.

Di antara bangunan-bangunan tinggi itu, berdirilah sebuah gedung yang dilapisi kaca dengan logo mahkota berwarna emas di bagian paling atas. Sebuah gedung perusahaan ternama di Ibu Kota.

Adhyaksa Jewellery. Nama itu telah lama menjadi simbol kemewahan selama puluhan tahun, perusahaan tersebut dikenal sebagai rumah bagi berbagai koleksi perhiasan eksklusif yang dikenakan tokoh-tokoh penting, artis papan atas, hingga keluarga konglomerat.

Dibalik setiap berlian yang berkilau, tersimpan ratusan jam kerja, ribuan goresan pensil, dan tangan-tangan terampil yang mengubah imajinasi menjadi karya bernilai tinggi. Banyak orang mengira kemewahan lahir dari emas, padahal kemewahan sesungguhnya lahir dari cerita.

Tak banyak orang yang mampu menerjemahkan cerita menjadi sebuah perhiasan, Alina Maheswari adalah salah satunya. Wanita itu melangkah melewati pintu lobi dengan setelan kerja bernuansa krem yang sederhana namun elegan.

Rambut panjang wanita itu digulung rendah, memperlihatkan sepasang anting mutiara kecil yang menjadi aksesoris favoritnya. Wajahnya nyaris tanpa riasan berlebihan, tetapi senyum tipis yang selalu menghiasi bibirnya membuat siapa pun merasa nyaman saat berbicara dengannya.

“Selamat pagi, Bu Alina.” Sapaan itu datang dari petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk, dan Alina membalas dengan anggukan ramah.

“Selamat pagi, Pak.” Beberapa langkah kemudian, sapaan lain kembali terdengar, kali ini dari para staff divisi desain yang sudah memenuhi ruang kerja mereka.

Tidak ada yang terlihat canggung ketika menyapanya, dan tidak ada juga tatapan yang dipenuhi dengan kewaspadaan sebagaimana biasanya bawahan saat memandang seorang atasan. Sebaliknya, mereka tampak menghormatinya dengan tulus.

Usia Alina memang belum genap dua puluh enam tahun. Namun, sejak tiga tahun terakhir, ia dipercaya untuk memimpin Divisi Desain, posisi yang tidak mudah diraih bahkan oleh desainer-desainer senior.

Sebagian orang beranggapan jabatan itu ia dapatkan karena kedekatannya dengan Birendra Adhyaksa, seorang pewaris tunggal perusahaan. Mereka yang berpikir demikian, biasanya hanya bertahan beberapa minggu. Sebab, setelah melihat bagaimana Alina bekerja, semua prasangka itu akan gugur dengan sendirinya.

Alina bukanlah tipe pemimpin yang hanya memberi perintah, namun ia akan ikut duduk bersama timnya, menghapus sketsa yang dirasa kurang sempurna, menggambar ulang tanpa mengeluh, bahkan rela pulang paling akhir jika masih ada desain yang belum selesai.

Baginya, sebuah perhiasan bukan hanya soal bentuk yang indah. Setiap lengkungan cincin, setiap susunan berlian, bahkan ukuran batu terkecil sekalipun harus mampu menyimpan sebuah makna, karena orang membeli perhiasan bukan hanya untuk dipakai, mereka membeli sebuah kenangan.

Di ruang kerjanya yang dipenuhi papan inspirasi, Alina meletakkan tas di atas kursi sebelum membuka map berisi beberapa sketsa terbaru. Hari itu akan ada presentasi koleksi baru bertema Aurora, sebuah seri perhiasan yang terinspirasi dari cahaya langit utara.

Alina memeriksa kembali setiap detail dengan teliti. Mulai dari ketebalan cincin, posisi berlian hingga lengkungan emas putih tidak ada yang luput dari perhatiannya sampai suara ketukan pelan di pintu membuatnya mengangkat kepala.

“Maaf mengganggu, Bu.” Seorang staff muda bernama Nisa muncul dengan wajah yang sedikit ragu, namun Alina langsung menimpalinya dengan sebuah senyuman.

“Ada apa, Nis?”

“Pak Birendra meminta Ibu ke ruangannya.” Alina melirik jam dinding untuk sekilas.

“Sekarang banget, Nis?” Tanyanya yang membuat Nisa langsung mengangguk.

“Katanya penting.” Balas Nisa yang langsung ditimpali dengan sebuah senyum tipis yang tersimpul dibibir Alina.

Alina mengenal lelaki itu dengan sangat baik, kata penting dalam kamus Birendra sering kali memiliki arti yang berbeda. Kadang memang benar-benar mendesak, namun lebih sering hanya menjadi alasan agar mereka bisa bertemu di sela kesibukan.

“Baik. Bilang lima menit lagi saya kesana.” Usai Nisa pergi, Alina langsung merapikan beberapa lembar sketsa dimejanya sebelum akhirnya berjalan menuju lift khusus direksi.

Lantai paling atas jauh lebih sunyi dibandingkan lantai lainnya. Koridor tersebut dipenuhi oleh bingkai yang menampilkan perjalanan panjang Adhyaksa Jewellery sejak perusahaan itu masih berupa toko kecil milik kakek Birendra.

Alina selalu menyukai lorong itu. Baginya, setiap foto adalah pengingat bahwa sebuah impian tidak dibangun dalam semalam. Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna hitam, tanpa sempat mengetuk, suara dari dalam sudah terdengar lebih dulu.

“Masuk saja.” Alina terkekeh pelan mendengar suara tersebut. Entah bagaimana caranya, Birendra selalu bisa mengenali langkah kakinya.

Ruangan itu luas, tetapi tidak berlebihan. Dominasi warna cokelat tua dan abu-abu membuatnya terasa hangat, jauh dari kesan kaku yang biasa dimiliki ruang seorang direktur utama. Birendra berdiri di dekat jendela, membelakanginya.

Dari tempatnya berdiri, lelaki itu tampak begitu berbeda dengan sosok yang dikenalnya lima tahun lalu. Bahunya kini lebih tegap, sorot matanya lebih dewasa, dan caranya membawa diri membuat siapa pun mudah percaya mengapa ribuan karyawan bersedia mengikutinya setiap keputusan yang dibuat olehnya.

Berbeda dengan Alina, baginya Birendra tetaplah pria yang sama. Pria yang diam-diam selalu memastikan dirinya sudah sarapan, pria yang selalu mengirim pesan hanya untuk mengingatkan agar pulang sebelum tengah malam, dan tidak pernah lupa mengucapkan selamat setiap kali Alina berhasil menyelesaikan sebuah desain.

“Aku tahu kamu belum sempat makan.” Tanpa menoleh, Birendra mendorong sebuah kotak makan ke arahnya. Alina pun menghela napasnya pelan seraya tersenyum kecil. “Aku Cuma tidak mau manager desain terbaikku pingsan sebelum presentasi dimulai.” Pungkasnya lagi.

“Manager desain?” Birendra akhirnya menoleh dan tatapan keduanya pun bertemu.

“Juga wanita yang sangat ingin kunikahi.” Kalimat itu keluar begitu saja. Tidak diucapkan secara dramatis maupun dengan nada menggoda, seolah menjadi sesuatu yang paling wajar di dunia. Alina hanya mampu menundukkan kepala menyembunyikan pipinya yang mulai memerah.

“Kalau setiap pagi kamu bicara seperti itu, lama-lama aku bisa malu sendiri.” Birendra terkekeh mendengar celetukkan pujaan hatinya.

“Berarti berhasil.” Ruangan kembali dipenuhi keheningan yang terasa nyaman. Tak ada percakapan panjang maupun rayuan berlebihan, hanya dua orang yang saling memahami tanpa perlu banyak kata.

Barangkali begitulah bentuk cinta yang sesungguhnya, tidak selalu dipenuhi oleh kalimat manis, kadang cukup dengan seseorang yang mengingat kebiasan-kebiasaan kecil. Seserang yang tahu kapan pasangannya sedang lelah, bahkan sebelum ia mengakuinya.

Saat Alina tengah menikmati sarapannya, tanpa sepengetahuannya, Birendra membuka laci meja yang berada paling bawah. Di sana tersimpan sebuah kotak beludru berwarna biru tua yang didalamnya terdapat sebuah cincin dengan berlian berbentuk kelopak bunga berkilau setiap kali diterpa cahaya matahari yang masuk melalui dinding kacanya.

Cincin tersebut bukanlah cincin koleksi perusahaan, maupun pesanan milik pelanggan. Cincin itu adalah satu-satunya desain yang tidak akan pernah dijual kepada siapa pun, karena sejak awal cincin itu hanya dibuat untuk satu orang.

Birendra kembali menutup laci itu perlahan, senyum tipis terukir dibibirnya, ia pun sudah menentukan tanggal hingga menentukan tempat, bahkan telah meminta restu dari ibunya sejak jauh-jauh hari.

Kini, ia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengubah status wanita yang sedang duduk dihadapannya untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun, mereka juga tidak pernah tahu bahwa takdir juga sedang menghitung hari.

Ketika waktunya tiba, bukan hanya cincin itu yang belum sempat dikenakan, melainkan juga janji yang akan dipaksa menunggu oleh luka yang datang tanpa permisi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!