NovelToon NovelToon
THE QUEEN'S RETURN

THE QUEEN'S RETURN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. Aturan Main yang Baru

Suasana di dalam kamar VIP itu mendadak sunyi setelah kepergian Helena yang terburu-buru. Wanita itu pamit dengan alasan ingin menenangkan diri, namun Victoria tahu betul bahwa Helena pergi untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi karena ketakutan.

Kini, yang tersisa di ruangan hanyalah Victoria, yang masih terjebak di tubuh rapuh Clarissa, dan Dominic Pratama.

Dominic masih berdiri di tempatnya, menatap lekat wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut. Sepasang matanya yang tajam seolah sedang berusaha menembus kepala Clarissa, mencari tahu ke mana perginya sosok wanita penakut yang biasanya selalu memohon perhatiannya dengan air mata.

"Siapa kau sebenarnya?" pertanyaan Dominic meluncur begitu saja, memecah keheningan. Suaranya rendah, sarat akan kecurigaan yang mendalam.

Victoria menaikkan sebelah alisnya. Ia meletakkan kedua tangan di atas pangkuan dengan gestur yang sangat tenang, sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan elang pria di hadapannya.

"Pertanyaan yang aneh, Tuan Pratama. Aku adalah istri sah yang kau telantarkan di kediaman ini. Bukankah kau sendiri yang tadi masuk dan meneriakiku karena penurunan saham?"

"Clarissa tidak akan pernah berbicara seperti itu. Dia tidak memiliki keberanian untuk menatap mataku, apalagi mengancam Helena," desis Dominic.

Langkah kakinya bergerak maju, mengikis jarak di antara mereka hingga ia bisa merasakan aura dingin yang entah bagaimana memancar kuat dari tubuh kurus Clarissa.

"Kau tampak seperti orang yang berbeda."

Victoria melepaskan senyuman tipis yang sarat akan teka-teki. *‘Tentu saja aku berbeda, Pria Bodoh,’* batinnya geli.

"Manusia bisa berubah saat mereka menyentuh gerbang kematian, Dominic. Ketika paru-parumu dipenuhi air dan kau menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang datang untuk menyelamatkanmu, rasa takutmu akan menguap dan digantikan oleh sesuatu yang lain."

Victoria mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, membuat Dominic refleks menahan napas.

"Mulai detik ini, biasakan dirimu dengan Clarissa yang sekarang. Karena aku tidak berniat untuk kembali menjadi keset kaki di rumahmu."

Dominic tertegun selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, ia merasa kehilangan kendali atas situasi saat berhadapan dengan Clarissa. Biasanya, ia adalah penguasa mutlak yang kata-katanya adalah hukum. Namun sekarang, wanita di depannya seolah memegang kendali atas atmosfer di ruangan tersebut.

"Kita lihat saja seberapa lama topeng barumu ini bisa bertahan," ucap Dominic dingin, berusaha mengembalikan wibawanya yang sempat goyah. Ia membalikkan badan, bersiap untuk pergi.

"Besok pagi dokter akan memeriksa kondisimu untuk terakhir kali. Jika tidak ada masalah, kau harus segera pulang ke kediaman Pratama. Aku tidak ingin media terus mengendus keberadaanmu di rumah sakit ini."

"Aku akan pulang besok," balas Victoria tenang. "Tapi dengan satu syarat."

Langkah Dominic terhenti tepat di depan pintu. Ia menoleh dengan kilatan kemarahan di matanya. "Kau tidak dalam posisi untuk memberikan syarat padaku, Clarissa."

"Oh, tentu saja aku bisa," Victoria menyahut dengan nada santai namun tegas. "Jika kau menolak, aku bisa memastikan bahwa besok pagi, rumor tentang percobaan pembunuhan yang melibatkan teman masa kecilmu, Helena, akan menjadi tajuk utama di seluruh media massa nasional. Mari kita lihat apakah saham Pratama Group hanya akan turun dua persen setelah itu."

Mendengar nama Helena disebut, rahang Dominic mendadak mengeras. Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. Bagi Dominic, Helena adalah teman masa kecilnya, sosok yang tumbuh bersamanya dan seseorang yang ia rasa perlu ia lindungi seperti dahulu kala. Menuduhnya memiliki hubungan gelap di belakang pernikahan bisnis ini adalah sebuah penghinaan terhadap prinsipnya.

"Jaga bicaramu, Clarissa!" Dominic berbalik, suaranya menggelegar dingin, penuh penegasan yang tidak bisa dibantah.

"Aku tidak memiliki wanita simpanan. Helena adalah teman masa kecilku, dan aku menjaganya hanya karena rasa tanggung jawab masa lalu. Jangan pernah mengulangi tuduhan murahan itu lagi di depanku."

Victoria tidak berkedip, ia justru tersentak sedikit lalu tersemukan meremehkan melihat kegeraman suaminya.

"Teman masa kecil atau bukan, dia baru saja mendorong istri sahmu ke danau, Tuan Pratama. Jadi, apakah kau akan menerima syaratku atau membiarkan reputasi keluargamu hancur?"

Dominic mengepalkan tinjunya di sisi tubuh. Ia sangat kesal, namun fakta bahwa Clarissa memegang kartu truf berupa reputasi klan Pratama membuatnya tidak punya pilihan. Setelah keheningan yang panjang, Dominic akhirnya mendengus dingin.

"Apa syaratmu?"

"Pindahkan seluruh pelayan yang berada di paviliun barat kediaman kita. Aku ingin orang-orang baru yang aku pilih sendiri," ujar Victoria, mengingat kembali ingatan Clarissa tentang betapa setianya para pelayan lama di paviliun itu kepada Helena hingga mereka sering mempersulit hidup Clarissa.

"Dan satu lagi, pastikan teman masa kecilmu itu tidak menginjakkan kakinya di rumah utama selama aku berada di sana. Kediaman Pratama adalah rumah istri sah, bukan tempat bernostalgia masa kecil."

Dominic menatap Victoria dengan tatapan tajam sebelum akhirnya membalikkan badan.

"Akan kuatur. Tapi ingat, jangan membuat masalah lagi di rumah."

Pintu kamar VIP itu tertutup dengan keras saat Dominic melangkah keluar. Victoria kembali bersandar pada bantalnya, mengembuskan napas panjang. Tubuh ini benar-benar terlalu lemah. Hanya berbicara beberapa menit dengan Dominic saja sudah membuat dadanya terasa sedikit sesak.

Keesokan paginya, sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik sudah menunggu di lobby rumah sakit.

Sesuai dengan kesepakatan, Victoria kembali ke kediaman utama klan Pratama. Rumah itu adalah sebuah mansion megah dengan arsitektur modern yang berdiri di atas lahan luas, dikelilingi oleh penjagaan yang sangat ketat. Kemewahannya tidak kalah dengan istana-istana kecil di masa lalu Victoria, namun atmosfernya terasa sangat mati dan dingin.

Begitu Victoria melangkah masuk ke dalam aula utama dengan langkah kaki yang anggun dan dagu yang terangkat tinggi, beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruangan langsung menghentikan aktivitas mereka.

Mereka menatap Clarissa dengan pandangan meremehkan yang biasa mereka tunjukkan.

"Ah, Nyonya sudah kembali?" seorang pelayan senior bernama Santi melangkah maju tanpa memberikan penghormatan yang layak. Nada suaranya terdengar malas dan tidak sopan.

"Nona Helena tadi berpesan agar Nyonya segera membersihkan diri dan tidak membuat kekacauan lagi seperti di danau kemarin. Tuan Besar tidak suka melihat rumah berantakan."

Victoria menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuh secara perlahan, menatap Santi dengan pandangan lurus yang dingin. Keheningan yang mengekam mendadak menyelimuti aula tersebut.

Para pelayan lain yang awalnya berbisik-bisik langsung terdiam saat merasakan perubahan atmosfer yang sangat drastis dari sang Nyonya rumah.

"Siapa yang memberimu izin untuk menyebut nama wanita asing itu di depanku?" suara Victoria terdengar sangat tenang, namun memiliki daya tekan yang membuat nyali Santi mendadak ciut.

Santi tersentak, wajahnya sedikit memucat, namun ia mencoba mempertahankan keangkuhannya karena merasa diistimewakan oleh kehadiran Helena selama ini.

"N-Nona Helena adalah tamu penting Tuan Dominic sejak kecil, Nyonya. Saya hanya menyampaikan"

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Santi sebelum pelayan itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Tamparan itu tidak menggunakan tenaga fisik yang besar, karena tubuh Clarissa masih lemah, namun ketepatan dan sudut hantamannya membuat Santi terhuyung dan jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin.

Seluruh pelayan di aula itu terkesiap, menutup mulut mereka dengan tangan karena tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

Clarissa yang penakut dan selalu menangis saat dibentak, baru saja menampar kepala pelayan yang paling vokal di mansion itu.

"Dengarkan aku baik-baik, Pelayan Rendahan," Victoria melangkah maju, berdiri tegas di depan Santi yang sedang memegangi pipinya yang memerah dengan mata yang dipenuhi rasa syok.

Victoria menunduk, menatap Santi layaknya seorang ratu yang sedang melihat serangga.

"Di rumah ini, aku adalah Nyonya Pratama yang sah. Jika aku mendengar ada satu lagi kata yang keluar dari mulutmu atau pelayan lain yang membawa-bawa nama wanita itu untuk mendikteku, aku tidak akan segan-segan melempar kalian keluar dari gerbang rumah ini tanpa pesangon sepeser pun."

Victoria mengedarkan pandangannya ke seluruh pelayan yang ada di ruangan tersebut, membuat mereka semua tertunduk ketakutan, tidak berani menatap mata Clarissa.

"Dan kau, Santi," Victoria kembali menatap pelayan di bawahnya. "Kemasi barang-barangmu sekarang. Kau dipecat."

"N-Nyonya... Anda tidak bisa memecat saya begitu saja! Tuan Dominic yang mempekerjakan saya!" Santi berteriak histeris, mencoba membawa nama Dominic sebagai pelindungnya.

"Tanya pada tuanmu apakah dia berani membatalkan keputusanku setelah apa yang terjadi di rumah sakit semalam," ucap Victoria dengan nada dingin yang mutlak, sebelum akhirnya membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya menuju lantai atas dengan keanggunan yang tidak tergoyahkan.

Dari balik pilar lantai dua, Dominic rupanya telah berdiri di sana sejak tadi, menyaksikan seluruh kejadian di aula utama. Ia mendengar bagaimana Clarissa menyindir Helena sebagai 'wanita asing', dan ia juga melihat bagaimana istrinya menundukkan para pelayan yang pembangkang hanya dalam hitungan menit tanpa kehilangan harga dirinya sedikit pun.

Sudut bibir Dominic berkedut tipis, membentuk sebuah lengkungan yang sangat samar. Ketertarikan yang belum pernah ada sebelumnya mulai tumbuh di dalam hatinya.

Clarissa Pratama yang baru ini benar-benar tahu cara menegakkan otoritas di dalam wilayah kekuasaannya.

Perang dingin di dalam mansion Pratama telah resmi dimulai, dan Dominic tidak sabar untuk melihat langkah apa lagi yang akan diambil oleh sang Ratu selanjutnya.

1
Anonim
Lanjutkan
Anonim
Teruskan
atulyaas
semangatt kakk, ditunggu updatenya yaaaa
sangat menarik sekali
Annida Annida
bagus , lanjut tor
nilim
akhirnya up jugaa aku tunggu kamuu kaa 😍, semangat ya kak 🫰
Senja_Puan: Waaah terima kasih kak😍
total 1 replies
nilim
BAGUSS UPP TERUSS😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!