Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
CRACK!
Di bawah penderitaan yang melampaui batas dan sentuhan air mata anak kecil itu, raungan tak bersuara meledak di dalam dada Mu Jin.
Bukan tenaga dalam atau qi murni yang bekerja, melainkan mutasi serat ototnya yang telah memadat bagai batu cadas. Dengan satu sentakan brutal dari seluruh bobot tubuhnya yang rusak, pergelangan tangan kiri Mu Jin terangkat. Pasak penekan yang sudah melonggar akibat siksaan bertubi-tubi itu patah mendua!
BAM. PRANG!
Rantai besi hitam utama terlepas dari dinding batu, meruntuhkan tiga rantai lainnya dalam dentuman berantai yang memecah keheningan dungeon. Tubuh Mu Jin yang seberat besi jatuh terjerembap menghantam lantai gua yang dingin.
“Paman!” anak gadis kecil itu memekik tertahan. Dengan tangan mungilnya yang memar dan berdarah, dia merangkul bahu Mu Jin, berusaha sekuat tenaga mengangkat tubuh tegap yang kini terasa sekeras dan seberat bongkahan batu.
Namun, Mu Jin tidak bergerak. Dia terkulai miring, napasnya tersengal-sengal lambat.
***
Lantai batu dungeon itu telah berubah menjadi kolam darah dan nanah. Anak gadis kecil penjual lentera terkulai tak bergerak beberapa langkah dari kepala Mu Jin, napasnya begitu tipis hingga dadanya yang remuk tak lagi terlihat naik turun.
Tetua Du Kang membuang napas serak penuh kekesalan. Lehernya yang terluka berdenyut nyeri, namun matanya yang keruh berkilat serakah dan gila saat menatap tubuh Mu Jin yang tergeletak pasrah di atas lantai batu.
“Tikus pengganggu sudah beres...” desis Du Kang, suaranya serak membakar. “Sekarang, Cacing... saatnya mengikatmu kembali sebelum Bisa Kobra Mahkota Hitam ini benar-benar mencerna habis sisa-sisa sumsum tulangmu.”
Du Kang membungkuk, menjejalkan tangan kirinya yang utuh di bawah leher Mu Jin untuk menggeret tubuh tegap yang kini terasa seberat bongkahan besi dingin itu. Iblis tua itu sama sekali tidak menyadari bahwa di balik keheningan mati dan pandangan mata Mu Jin yang hampa, efek destruktif dari eksperimen beracun itu justru sedang memicu reaksi mutasi liar dalam jaringan sarafnya.
Serat-serat otot keabu-abuan Mu Jin bergetar hebat. Rasa sakit yang membalikkan sumsum tulangnya mendadak menjadi bahan bakar murni yang memicu kembali refleks bertahannya secara brutal.
Saat wajah berkerut Du Kang hanya berjarak beberapa jengkal dari mukanya, mata hitam pekat Mu Jin mendadak membelalak lebar.
CRAP!
Bukan pukulan tangan atau tendangan kaki, melainkan mulut Mu Jin yang miring akibat robekan jahitan kasar itu terbuka lebar, menerjang maju bagai rahang buaya kelaparan.
AAAGHHH!
Gigi-gigi Mu Jin yang menyerap racun dan mengeras menancap dalam-dalam lurus ke leher dan pipi kiri Du Kang. Rahangnya mengatup dengan dentuman kaku yang mengerikan, meremukkan pembuluh darah utama, otot wajah, dan rahang bawah iblis tua itu dalam satu gigitan masif.
UGGGHH! MMMMFFF!
Jeritan Du Kang mendadak terhenti, berganti menjadi erangan tercekik saat darah segarnya yang hangat menyembur deras, memenuhi tenggorokan Mu Jin. Namun Mu Jin tidak melepaskannya. Dengan sisa-sisa tenaga fisiknya yang baru saja terkumpul, Mu Jin memutar kepalanya secara brutal ke arah samping, menarik rahangnya dengan sentakan kebinasaan.
SRET. CRACK!
Daging pipi, urat leher, dan separuh daun telinga kiri Du Kang terobek lepas secara paksa dari tengkoraknya.
Potongan daging tebal bercampur otot merah kental melayang jatuh ke lantai. Darah menyembur bagai pancuran liar dari leher Du Kang yang menganga, membasahi wajah Mu Jin dan masuk ke dalam mulutnya. Wajah Du Kang kini hancur total, memperlihatkan struktur tulang rahang bawahnya yang putih ternoda darah, sementara lidahnya terkulai tak berdaya di celah luka yang robek.
“ARGHHH! UAAAGHH!” Du Kang tersungkur mundur, mencengkeram lehernya yang mengucurkan darah segar dengan melengking histeris. Otaknya tak sanggup mencerna horor yang baru saja terjadi. Binatang buas di depannya bukan lagi manusia, melainkan iblis pemakan daging yang tercipta dari kegilaannya sendiri.
Srekk... srekk...
Suara gesekan kaku bergema di atas lantai batu.
Mu Jin membisu. Dia memuntahkan potongan daging leher Du Kang dari mulutnya yang bertaut benang hitam kasar. Darah hitam dan darah segar menetes berulir dari sudut bibirnya yang terbelah.
Efek racun kobra di dalam tubuhnya perlahan-lahan dipaksa bekerja oleh lonjakan adrenalin murni. Dengan pergerakan yang teramat kaku, lambat, dan menyiksa, seperti engsel besi berkarat yang dipaksa berputar, Mu Jin menyangga tubuhnya memakai kedua tangannya yang membeku.
CRACK!
Tulang-tulang rusuknya berderak hebat saat dia memaksakan lutut kirinya menekuk di atas lantai. Setiap inci pergerakannya diiringi oleh rasa terbakar yang luar biasa di dalam pembuluh darahnya, namun mata hitam pekat Mu Jin tetap terkunci lurus pada sosok Du Kang yang merayap panik menuju pintu keluar.
Mu Jin tidak berteriak. Tidak ada suara penderitaan yang keluar dari tenggorokannya yang rusak.
Hanya ada aura kematian yang pekat dan langkah kakinya yang berat bagai batu cadas saat dia mulai merayap maju dengan susah payah, menyeret rantai besi hitam yang masih melekat di kakinya untuk menyelesaikan pembantaian di dalam neraka bawah tanah tersebut.
Pengaruh gabungan dari Bisa Kobra Mahkota Hitam dan destruksi jaringan fisiknya membuat seluruh sistem sarafnya lumpuh sementara. Pikirannya kosong, melayang dalam keheningan yang pekat. Dia bagai patung bernyawa yang kehilangan seluruh kesadarannya. Tidak sanggup menopang kakinya sendiri, tidak pula sanggup menggerakkan jemarinya.
“Ayo, Paman... sedikit lagi...” bisik anak itu sambil terisak, menyeret tubuh Mu Jin inci demi inci menuju lorong pembuangan air.
“APA YANG KAU LAKUKAN, TIKUS KOTOR?!”
Sebuah raungan melengking penuh murka meledak dari pintu gerbang dungeon.
Tetua Du Kang berdiri di sana. Wajah keriputnya memerah gila, sementara lehernya yang terbalut perban menegang hebat. Matanya melotot lebar saat melihat mahakarya terbesarnya telah tergeletak di lantai dan rantai penahannya hancur.
WUSH!
Tanpa penyesalan, Du Kang melompat maju. Tangan kirinya yang utuh terangkat, mengibaskan pukulan bertengakan racun murni lurus ke arah anak kecil itu.
BAM!
“AAAGHH!”
Anak gadis kecil itu terlempar tiga meter, menghantam dinding batu sebelum tersungkur di atas lantai berdebu. Pukulan Du Kang meremukkan tulang rusuknya yang rapuh. Darah segar menyembur dari mulut mungilnya, membasahi lantai dungeon di dekat kepala Mu Jin.
“Tikus sialan! Kau merusak eksperimenku!” raung Du Kang histeris. Dia mendekati anak kecil yang terkulai lemah itu, lalu menendang perutnya bertubi-tubi tanpa belas kasihan. BUG! BUG! BUG! “Mati kau! Mati!”
Anak kecil itu tidak sanggup menjerit lagi. Hanya erangan tipis dan napas tersengal yang keluar dari tenggorokannya. Matanya yang mulai mengabur menatap lurus ke arah Mu Jin, menyodorkan tangannya yang gemetar, seolah memohon perlindungan dari pria yang pernah menyelamatkannya.
Di sampingnya, Mu Jin tetap berbaring kaku.
Jahitan benang hitam kasar di pipi kirinya tertarik kaku, memperlihatkan separuh deretan giginya yang bersimbah darah. Pupil mata hitam pekatnya terbuka lebar, menatap lurus pada darah anak kecil yang mengalir merayap menyentuh pipinya.
Namun, tidak ada pergerakan. Tidak ada raungan amarah.
Jiwa Mu Jin terperangkap di dalam cangkang tubuhnya sendiri yang lumpuh. Dia seperti orang yang kehilangan akal, terdiam bisu dan tak berdaya melihat kehancuran di depan matanya sendiri, sementara tawa dan makian Du Kang terus bergema memenuhi gua yang berbau darah itu.