Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Asal yang Tersembunyi
Gue berdiri kaku di tempat. Napas gak sampe ke dada.
"Bu... apa yang dia bilang soal Farhan?"
Ibu natap gue khawatir, pegang bahu gue pelan. "Dia bilang, jangan gampang percaya apa yang kita lihat. Nama yang dipake Farhan selama ini... mungkin bukan nama aslinya. Dan orang tua yang ngerawat dia... mungkin bukan orang tua kandungnya."
Dunia rasanya berhenti berputar. "Gak mungkin lah, Bu. aku kenal Farhan dari kecil. Semuanya biasa aja."
"Itu dia bilang juga — semuanya dibuat keliatan biasa. Padahal di baliknya ada yang sengaja ditutup-tutupin." Ibu hening sebentar. "Katanya dia bakal datang lagi besok, bawa bukti."
Gue duduk di tepi kursi, kepala rasanya berat banget. Semua rahasia yang baru aja kelar... ganti sama rahasia lain yang jauh lebih gede. Dan kali ini soal siapa Farhan sebenarnya.
"Aku harus bilang ke Farhan ya, Bu?"
"Pikirin dulu, Nak. Jangan buru-buru."
"Aku, gak bakal asal bilang. Tapi dia berhak tau. Apalagi kalau orang lain udah tau duluan sebelum dia."
Malam itu gue susah tidur. Buku terbuka tapi gak masuk satu baris. Pikiran gue ke mana-mana.
Besok paginya, gue bangun lebih awal. Jantung udah berdebar dari tadi. Pas keluar rumah, Farhan udah nunggu di depan. Tersenyum kayak biasa, bawa dua botol susu. Tapi pas lihat gue, senyumnya berubah jadi khawatir.
"Mir? Lo oke? Muka lo pucat banget."
Gue berhenti di depannya, mau langsung bilang tapi lidah terasa berat. "Han... gue harus ngomong sesuatu. Penting banget."
Dia letak susu di pagar, maju dikit. "Bilang aja. Apa pun itu."
Gue tarik napas panjang. "Kemarin pagi... sebelum kita ketemu, ada perempuan datang ke rumah gue. Pakai jaket cokelat."
Farhan kerutkan kening. "Perempuan? Siapa?"
"Gue gak kenal. Tapi dia bilang kerabat jauh keluarga lo. Dan dia bilang hal yang bikin gak tenang semalaman." Gue natap matanya. "Dia bilang nama lo mungkin bukan nama asli. Bahwa Bapak sama Ibu yang ngerawat lo... mungkin bukan orang tua kandung lo."
Diem. Berat banget.
Farhan diam, matanya melebar pelan. Tangan di saku ngepal erat. "Itu... gak mungkin. Gak masuk akal."
"Gue juga gak percaya. Tapi dia bilang mau datang hari ini bawa bukti." Gue pegang tangannya pelan. "Han, kalau emang ada hal yang disembunyiin dari lo... lo berhak tau. Dan gue di sini. Gak kemana-mana."
Dia turunkan kepala, tarik napas panjang tapi gemetar. "Selama ini gue kadang ngerasa... ada yang beda. Kadang Bapak sama Ibu natap gue kayak takut gue nanya terlalu banyak. Kadang mereka cerita terus berhenti tiba-tiba. Gue kira cuma perasaan doang."
"Itu bukan salah Bapak sama Ibu kalau mereka nyembunyiin. Tapi lo berhak tau yang bener."
Dia angkat muka, matanya berkaca-kaca dan bingung. "Terus siapa gue sebenarnya, Mir?"
Gue peluk dia pelan. "Siapa pun lo... lo tetap Farhan yang gue kenal. Yang baik, yang tulus, yang gue sayang. Nama gak ubah siapa lo di hati."
Dia peluk balik erat, napasnya berat di bahu gue. "Makasih... makasih gak langsung pergi."
"Gue gak bakal pergi. Kita hadapi bareng."
Jalan ke sekolah bawa beban baru. Di gerbang, banyak anak natap — sebagian senyum, sebagian masih bisik-bisik. Tapi gue gak peduli. Gue pegang lengan Farhan pelan.
Bel pulang bunyi. Farhan berdiri di depan kelas. "Gue mau pulang dulu. Mau tanya langsung ke Bapak sama Ibu."
"Gue ikut," kata gue tegas.
Dia ragu. "Lo yakin? Bisa jadi gak enak."
"Gue yakin. Kalau mereka gak jujur... setidaknya ada dua orang yang denger."
Sampai di rumah Farhan, Bapak sama Ibu lagi di ruang tengah. Pas lihat kita masuk, mereka senyum dikit — langsung berubah cemas lihat wajah Farhan.
"Ada apa, Nak?" tanya Ibu lembut.
Farhan berdiri tegak, tarik napas dalam. "Saya mau tanya sesuatu. Dan saya mohon... jawab jujur ya, Pak, Bu."
Bapak letak koran pelan. "Tanya saja."
"Apakah nama saya Farhan... nama asli saya? Dan apakah Bapak dan Ibu... orang tua kandung saya?"
Diem seketika. Wajah mereka langsung pucat. Ibu pegang dada, duduk pelan di sofa.
"Siapa yang bilang?" suara Bapak gemetar.
"Jadi bener?" Farhan mundur selangkah, napasnya tersangkut. "Semua ini... beneran?"
Ibu mulai nangis, tutup muka pakai tangan. "Kami gak bermaksud nyakitin kamu, Nak. Kami sayang kamu kayak anak sendiri."
"Terus siapa saya sebenarnya?" Farhan suaranya agak naik, bingung dan takut. "Dari mana saya asal? Di mana orang tua saya yang sebenarnya?"
Bapak berdiri, matanya basah. "Kami janji bakal jelasin semuanya. Tapi bukan sekarang. Bukan hari ini. Nanti... perempuan yang ke rumah Amira itu — dia bakal ke sini. Dia yang bakal jelasin semuanya."
"Kenapa harus dia?" Farhan gemetar seluruh badan. "Kenapa Bapak sama Ibu sendiri yang gak bisa bilang?"
"Karena..." Bapak berhenti, telan ludah susah. "Karena cerita itu terlalu berat buat kami ceritain."
Tiba-tiba pintu diketuk pelan. Tiga kali. Pelan tapi tegas.
Kita bertiga saling natap.
"Dia udah datang," kata Ibu pelan, air mata masih di pipi.
Farhan jalan pelan buka pintu.
Di depan, berdiri perempuan pakai jaket cokelat. Wajahnya tenang tapi matanya penuh cerita. Dia natap Farhan lama banget, kayak orang yang nemu sesuatu yang hilang lama.
Terus dia bicara pelan tapi jelas banget.
"Halo... kamu udah gede banget sekarang. Kamu persis kayak ayahmu."