Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Nana tidak langsung menjawab.
Kalimat Stella masih menggantung di antara mereka, lebih dingin daripada batu alam di bawah telapak kakinya. Di rumah ini, aku perlu seseorang yang tahu cara bertahan hidup.
Rumah macam apa yang membutuhkan kemampuan seperti itu?
Stella melangkah lebih dulu. Nana mengikuti setengah langkah di belakangnya, cukup dekat agar tidak tersesat, cukup jauh agar bisa berlari kalau semua ini berubah menjadi jebakan.
Begitu pintu utama terbuka, hawa dingin dari dalam rumah menyentuh kulitnya. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu gantung yang besar. Di dinding kiri, ada lukisan keluarga dengan bingkai emas. Di bawahnya, meja altar kecil tertata rapi, lengkap dengan dupa yang baru padam dan buah-buahan segar.
Nana menahan diri agar tidak menatap terlalu lama.
Di tempat seperti ini, bahkan jeruk di atas meja terlihat lebih mahal daripada makan siangnya selama seminggu.
"Sepatumu basah," kata Stella pelan.
Nana spontan menarik kakinya. Jejak air dan debu tertinggal tipis di lantai.
Seorang pelayan perempuan yang berdiri dekat tangga langsung menunduk untuk mengambil lap. Gerakannya cepat, tapi sorot matanya sempat menyentuh sandal Nana. Tidak kasar, namun cukup untuk membuat Nana sadar bahwa seluruh tubuhnya tidak cocok berada di sana.
"Maaf," ucap Nana.
"Tidak apa-apa." Stella menoleh kepada pelayan itu. "Tolong siapkan kamar kecil di paviliun belakang. Baju bersih juga."
Pelayan itu ragu. "Untuk Nona ini?"
"Namanya Nana."
Kata itu jatuh ringan, tapi membuat beberapa orang yang ada di aula saling melirik.
Nana menangkap semuanya.
Di jalanan, orang melirik pisau. Di rumah besar, orang melirik nama.
"Stella."
Suara berat dari ujung ruangan membuat semua orang diam.
Seorang pria berusia hampir enam puluh berdiri di depan pintu ruang tengah. Kemeja putihnya sederhana, tapi jam di pergelangan tangannya berkilau tenang. Wajahnya keras, matanya kecil dan tajam. Ia tidak perlu meninggikan suara untuk membuat rumah sebesar itu berhenti bernapas.
Stella segera tersenyum. "Papa sudah pulang?"
Nana menunduk sedikit. Jadi inilah William Sie.
"Siapa dia?" tanya William.
"Nana. Aku membawanya dari Pecinan."
"Dari Pecinan?" Tatapan William turun ke sandal Nana, kantong kainnya, lalu kembali ke wajahnya. "Rumah ini bukan tempat penampungan."
Nana menelan ludah. Ia sudah sering dihina, tapi hinaan orang kaya berbeda. Tidak perlu kasar. Cukup satu kalimat bersih, dan orang yang mendengarnya tahu tempatnya.
"Aku tahu, Papa," jawab Stella. "Dia bisa bekerja. Aku yang bertanggung jawab."
"Kau bahkan belum tahu asal-usulnya."
"Aku tahu dia tidak punya siapa-siapa."
William menatap putrinya lama. Di belakangnya, seorang perempuan anggun keluar dari ruang tengah. Rambutnya disanggul rendah, wajahnya lembut, dan kalung mutiara di lehernya tidak bergerak saat ia berjalan.
"Kalau Stella sudah membawanya sampai ke sini, biarkan anak itu mandi dulu," ujar perempuan itu. Suaranya tenang, seperti air hangat. "Kita bisa bertanya setelah dia makan."
Stella langsung mendekati perempuan itu. "Cici Tamara, kau memang paling baik."
Tamara Sie tersenyum kecil, lalu menatap Nana. Tidak seperti William yang menimbangnya, Tamara melihatnya seperti melihat luka yang berusaha disembunyikan.
"Nana, ya?" tanyanya.
Nana mengangguk. "Iya, Cici."
"Di sini kau panggil aku Cici Tamara. Kalau butuh sesuatu, bilang ke kepala pelayan. Jangan mengambil sendiri."
Kata terakhir itu halus, tapi Nana mengerti.
Ia mengangguk lagi. "Saya mengerti."
"Mengerti?" Suara perempuan lain terdengar dari tangga. "Anak jalanan biasanya paling cepat mengerti di depan orang banyak."
Nana menoleh.
Seorang perempuan bergaun merah tua turun perlahan, kipas kecil di tangannya terbuka setengah. Wajahnya cantik, tapi senyumnya terlalu tipis untuk disebut ramah.
Stella menarik napas pendek. "Mama."
Lusia Lu berhenti di anak tangga terakhir. "Aku hanya bertanya. Pagi-pagi kau membawa pulang pencuri, sekarang kami semua harus pura-pura ini hal biasa?"
Udara di aula berubah.
Nana tidak terkejut Lusia tahu. Rumah seperti ini pasti punya mata lebih banyak daripada pasar. Yang membuatnya sulit bernapas adalah cara semua orang mendadak tidak melihat ke arahnya, seolah kata pencuri menempel di dahinya.
"Dompetnya sudah dikembalikan," kata Stella.
"Oh, kalau begitu hebat sekali. Dosa selesai setelah dompet kembali." Lusia tersenyum kepada William. "Ko William, kau benar-benar membiarkan ini?"
William tidak menjawab Lusia. Ia tetap menatap Nana.
"Kalau tinggal di rumah ini, kau ikut aturan rumah ini. Tidak mencuri. Tidak berbohong. Tidak masuk ke ruangan yang tidak diizinkan. Kau bekerja di bawah pengawasan kepala pelayan. Kalau ada satu barang hilang, kau pergi hari itu juga."
Nana mengangkat wajahnya.
Tatapan William berat, tapi jelas. Tidak manis, tidak berpura-pura menolong.
Itu lebih mudah ia pahami.
"Baik, Pak William."
Alis Lusia bergerak sedikit, mungkin karena Nana tidak menangis atau membela diri.
Tamara justru terlihat lega. "Stella, bawa dia makan. Setelah itu, aku minta orang menyiapkan kamar."
"Aku ikut," kata Stella cepat, seolah takut Nana akan berubah pikiran dan kabur.
Mereka melewati ruang makan yang pintunya terbuka. Nana sempat melihat meja panjang dengan dua belas kursi, peralatan makan mengilap, mangkuk sup porselen, dan bunga segar di tengah meja. Di salah satu kursi, ada koran bisnis yang dilipat rapi. Judul besarnya menyebut Sie Group dan tekanan dari perusahaan asing.
Stella menutup pintu itu sebelum Nana sempat membaca lebih jauh.
"Jangan terlalu banyak melihat," bisiknya.
"Kenapa?"
"Karena di rumah ini, orang akan marah kalau kau melihat hal yang tepat."
Nana menatap Stella.
Kali ini Stella tidak tersenyum.
Mereka tiba di lorong samping yang lebih sepi. Bau kayu tua dan obat pel lantai memenuhi udara. Di dinding, foto-foto keluarga tersusun rapi. William muda, Tamara saat remaja, Stella kecil dengan rambut dikuncir dua. Ada satu foto yang sengaja diletakkan agak tinggi, separuh tertutup bayangan.
Nana berhenti tanpa sadar.
Dalam foto itu, seorang pemuda berdiri terpisah dari yang lain. Wajahnya tampan, tapi matanya seperti tidak mau berada di sana.
"Jangan lihat lama-lama," bisik Stella.
Terlambat.
Dari belokan lorong, seseorang muncul.
Pemuda itu bukan lagi bayangan di foto. Ia berdiri beberapa langkah dari Nana, memakai kemeja hitam dengan lengan digulung, rambut sedikit berantakan, dan wajah yang terlalu dingin untuk rumah sehangat ini. Di tangannya ada kunci mobil. Matanya menatap Nana, lalu Stella, tanpa rasa ingin tahu sedikit pun.
"Koko Steven," suara Stella melembut.
Steven Sie tidak membalas.
Ia melewati mereka begitu saja. Bahunya hampir menyentuh Nana, membawa aroma hujan dan rokok tipis yang cepat menghilang.
Nana menoleh mengikuti langkahnya.
Di ujung lorong, dua pelayan yang tadi sedang membawa seprai langsung menunduk dan menepi. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang bertanya. Bahkan Stella hanya berdiri diam sampai pintu samping tertutup di belakang Steven.
"Dia siapa?" tanya Nana pelan.
Stella baru menjawab setelah beberapa detik.
"Putra ketiga keluarga ini."
"Kenapa semua orang seperti takut menyebut namanya?"
Stella menatap pintu yang sudah tertutup itu.
"Karena di Rumah Besar Sie," ucapnya lirih, "ada nama yang lebih baik tidak kau panggil terlalu keras."