NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

Pukul setengah sepuluh pagi, suasana rumah sakit tampak sibuk seperti biasanya. Lalu lalang para petugas medis dan para pengunjung rumah sakit, memenuhi lorong-lorong panjang beraroma antiseptik tersebut. Cahaya matahari yang sudah meninggi, masuk melalui dinding kaca membuat suasana semakin terang meskipun tak mampu mengusir dingin yang menyelimuti hati Amara.

Gadis remaja itu melangkah, menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah tegang dan tatapan penuh kegelisahan. Kedua tangannya mengepal dikedua sisi tubuh, sementara dadanya dipenuhi berbagai emosi yang saling bertabrakan. Ia sedang mencari seorang perempuan bernama Anita, sosok yang baru kemarin menjadi bagian dari mimpi buruk keluarganya.

Setiap langkah terasa semakin berat ketika mengingat alasan keberadaannya di tempat ini. Anita, adalah perempuan yang berada bersama Reno papanya saat kecelakaan tragis itu terjadi. Kecelakaan yang merenggut nyawa sang papa, bahkan sebelum sempat mendapatkan penanganan medis. Reno telah dimakamkan, sedangkan Anita masih bertahan dan menjalani perawatan di rumah sakit ini.

Amara mengedarkan pandangannya ke setiap papan petunjuk dan nomor kamar yang dilewatinya, ada begitu banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, begitu banyak luka yang belum sempat ia pahami. Duka karena kehilangan sang papa masih terasa segar, tetapi kenyataan bahwa papanya yang begitu ia cintai ternyata menghabiskan hari-hari terakhirnya bersama perempuan lain, dan itu telah meninggalkan luka yang tak kalah menyakitkan dari kepergiannya.

Dengan langkah yang perlahan namun pasti, Amara terus menyusuri lorong rumah sakit. Di balik salah satu pintu yang sedang ia cari, terbaring perempuan yang menjadi saksi terakhir kehidupan papanya. Dan mungkin juga orang yang menyimpan jawaban atas semua pertanyaan, yang selama ini menghantui pikirannya.

Amara menghentikan langkahnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengetuk pintu membuat sepasang paruh baya yang tengah duduk di samping ranjang seketika menoleh. Amara menganggukkan kepala pelan, "Maaf pak, Bu... Boleh saya masuk?" Ucapnya sopan, menekan gemuruh yang seketika memenuhi dadanya.

Sepasang paruh baya tersebut saling menoleh, namun tak lama kemudian keduanya mengangguk. Terlebih perempuan paruh baya yang di duga sebagai ibunya Anita segera bangkit dan membuka lebar pintu ruangan tersebut. "Silahkan masuk neng," sambutnya ramah memberi jalan pada Amara.

Amara berdiri memaku di samping ranjang Anita, ia menatap perempuan berusia tiga puluh tahunan tersebut dengan bibir yang bergetar. Bahkan kedua matanya seketika memburam.

Seolah merasakan kehadiran Amara, Anita yang tengah terlelap seketika bergerak. Tangannya perlahan terangkat meraba kepala, yang dibalut kain kasa yang menutupi luka dibagian pelipisnya.

"Kalau boleh tahu, neng ini siapa? Apa temannya Anita?" Tanya ibunya Anita sopan, paruh baya itu berdiri di samping Amara kemudian mengusap Anita dengan lembut. "Nak, ini ada tem..."

"Saya Amara, anak dari papa Reno kekasih putri ibu." Potong Amara cepat, suaranya pelan dan datar namun membuat paruh baya itu seketika membeku.

"Saya kesini karena penasaran, ingin tahu keadaan mbak Anita." Amara menjeda ucapannya, kemudian ia menoleh pada perempuan yang masih membeku di sampingnya itu lalu kembali pada Anita yang menatapnya tak percaya. "Mbak Anita, sudah berapa lama anda menjalin hubungan dengan papa saya?" Tanya nya pelan. Amara menunduk, memusatkan tatapannya pada wajah Anita.

"Jawab jujur saja mbak, tidak usah takut. Saya tidak akan menghukum mbak, dan papa saya juga sudah tidak ada." Lanjutnya dengan raut masih sama, tenang.

Anita menatap Amara sesaat, kemudian memalingkan wajahnya sembari bergumam. "Sa-satu setengah t-tahun." Sahutnya tergagap.

Amara menelan ludahnya susah payah, tenggorokannya tercekat mendengar penuturan Anita. Satu setengah tahun bukanlah waktu yang sebentar, selama itu pula papanya berbohong. Menjelma menjadi pria terbaik, pria Sholeh untuk menutupi kebejatannya. "Apa mbak tahu kalau papa saya memiliki istri?" Amara kembali menatap Anita yang terdiam, namun beberapa saat kemudian perempuan itu mengangguk pelan.

Melihat jawaban Anita lewat anggukan, seketika airmata Amara luruh. "Kenapa mbak tega? Bagaimana kalau itu terjadi pada mbak? Apa yang akan mbak lakukan." Cecar Amara dengan suara rendahnya, tak ada teriakan ataupun makian yang keluar dari bibirnya. Hanya airmata yang terus berhamburan membasahi kedua pipinya.

"Maaf..."

Amara menggeleng, "Terimakasih untuk jawaban jujurnya, semoga kelak anak keturunan mbak tidak merasakan apa yang saya rasakan saat ini. Kehilangan papa, dan menahan malu di depan semua orang, terlebih di depan mama yang telah merawat ku selama belasan tahun. Tetapi mendapat balasan pengkhianatan dari papaku! Permisi."

Amara meninggalkan ruangan tersebut, ia melangkah melewati ibunya Anita tanpa berkata apapun.

Sesampainya di lorong, Amara berlari sembari mengusap kasar airmatanya. Ia tak tahu hendak kemana, kebisuan Sonia dirumah membuat hatinya kian perih dengan rasa bersalah yang semakin memenuhi jiwanya atas semua yang dilakukan Reno, papanya.

Sesampainya di lobby rumah sakit, Amara melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia ingin segera keluar dari bangunan tersebut, tujuannya saat ini hanya tempat sepi.

"PAPAAA!!! KENAPA PAPA LAKUKAN INI? KENAPA PAPA TEGA?" Jerit Amara di pinggir taman kota yang hanya berjarak beberapa meter dari jalan raya. Tubuhnya tersungkur di atas rumput hijau dengan bahu yang bergetar hebat, menumpahkan tangis pilu seorang anak yang telah kehilangan sandaran hidup.

"Kenapa papa tega mengkhianati mama? Mama yang merawat dan membesarkan aku dengan tulus, aku bisa tumbuh seperti ini karena mama Sonia. Tapi kenapa papa malah mengkhianatinya pa... Kenapa?" Raung Amara, menangis sejadi-jadinya. Tak peduli lagi dengan beberapa pasang mata yang menatapnya penuh curiga, bahkan ada beberapa orang yang berbisik. "Gadis stress"

--

Satu jam berlalu, Amara pun sudah tak lagi menangis. Gadis itu bangkit, kembali melangkah ke arah trotoar dengan tatapan kosong. Ia melangkah perlahan menyusuri trotoar, lalu lalang kendaraan seolah tak terlihat di matanya yang sembab. Ia hanya menatap lurus ke depan, rencana seminggu ke depan memenuhi kepalanya seperti kepingan puzzle. Kelulusan yang hanya tinggal menghitung hari, dengan segala pernak pernik yang sudah ia siapkan. Namun takdir berkata lain, hari yang seharusnya menjadi momen terindah kini lenyap bagai a-bu yang tersapu angin. Kampus yang sudah menjadi target dan impiannya sedari kecil kini harus ia kubur dalam-dalam.

Di tengah pikirannya yang masih kacau, Amara terus mengayunkan langkahnya. Tanpa menyadari keadaan sekeliling yang ternyata kian sepi, bahkan tak jauh di belakangnya ada dua orang remaja yang sedari tadi terus memperhatikannya.

Kedua remaja tersebut saling bertukar pandang, lalu perlahan mendekat sambil mengincar ponsel yang sedang di genggam Amara.

Semuanya terjadi begitu cepat. Saat Amara lengah, salah satu remaja tiba-tiba menyambar ponselnya dengan gerakan kilat. Namun refleksnya bekerja lebih cepat dari pikirannya. Jemari Amara langsung mencengkram ponselnya sekuat tenaga, sebelum terlepas sepenuhnya.

"Astaga! Jambret, lepaskan!" Teriak Amara kaget. Namun remaja itu tak menyerah, bahkan teman satunya yang sedari tadi hanya berdiri mengawasi sekeliling kini mendekat dan ikut menarik ponsel dari tangan Amara hingga benda pintar itu akhirnya terlepas. Dua remaja itu berdiri puas kemudian saling melirik, tanpa menyadari ada sebuah mobil yang sedang mendekat ke arah mereka.

Menyadari keberadaan mobil yang berhenti di depannya Amara kembali berteriak. "Jambret, tolong!" Teriaknya, bersamaan dengan pintu mobil yang terbuka membuat dua remaja jambret itu terlihat panik hingga refleks melarikan diri. Namun nahas, remaja satunya yang memegang ponsel Amara berhasil ditangkap oleh laki-laki pemilik mobil yang tak lain adalah Abimanyu.

"Heh, bocah ingusan! Kembalikan hpnya!" Sentak Abimanyu mencengkram erat kerah baju remaja tersebut, hingga kesulitan bernapas.

"O-om Abi." Gumam Amara, menatap tak percaya pada laki-laki yang tengah menggertak remaja yang menjambretnya.

"A-ampun o-om.. Ini!" Tanpa perlawanan sang remaja menyerahkan ponsel itu pada Abimanyu. Dengan cepat Abimanyu pun merebutnya.

Setelah ponsel berada ditangannya, dengan sekali hentakan Abimanyu melepaskan remaja tersebut. Ia segera menghampiri Amara yang masih terduduk lemas di atas paving trotoar. "Mara!" Abimanyu terkejut melihat gadis yang tadi hampir jadi korban jambret itu ternyata Amara, anak tiri Sonia sahabatnya.

Dengan cepat ia mengulurkan tangan, "ayo bangun!" lanjutnya kemudian menarik Amara hingga mendarat di dadanya. Gadis itu memeluknya erat sembari menangis tersedu. "Makasih om... Makasih sudah menolong aku." Ucapnya lirih.

Abimanyu menunduk, menatap puncak kepala Amara dengan iba. Hingga suara teriakan minta tolong tiba-tiba menggema dibelakangnya.

"TOLONG!! TOLONG!! Saya dihajar sepasang kekasih ini!"

Abimanyu membalikkan badannya, menatap ke arah suara tersebut. Seketika tubuhnya memaku, remaja yang ia hempaskan tadi tengah menunjuk ke arahnya bersamaan dengan beberapa kendaraan bermotor yang tiba-tiba berhenti dengan pemiliknya yang turun dan menghampirinya dengan penuh emosi.

DEG.

1
Mimi Yoh
ayo...itu apa...😄😄😄
Mimi Yoh
kalau khawatir bilang aja...nggak usah banyak alasan ya 😁😁😁
Mimi Yoh
keluar diam-diam 😯😯 ..mara memangnya kalau mau keluar kamar sambil nyanyi atau teriak gitu..
Mimi Yoh
😯😯😆😆😆😆😆
Mimi Yoh
sama-sama ngegedein gengsi
Mimi Yoh
saking khusunya masak ya mara 😁😁
Mimi Yoh
hahahahah jadi mara bener-bener nggak nyadar kalau pak suami sudah pulang dan sudah jauh pindah ke alam mimpi 🤗🤗
Mimi Yoh
berasa ada yg hilang ya om 😁😁
Mimi Yoh
tahu masih punya suami...malah dibantu selingkuh...
Mimi Yoh
dasar matre
Mimi Yoh
oooh dijanjiin sesuatu kamu ya...
Mimi Yoh
sudah tahu kesalahan ada pada jenny, masih aja dibantu untuk deketin abi, tahu abi juga sudah menikah, terpaksa ataupun tidak, tetap abi sudah punya istri...kayak bukan sesama perempuan saja, dimana hatimu tya...
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
sama-sama gengsi... padahal saling mengkhawatirkan.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaa ampun demi hadiah liburan ternyata....
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Tya dimana hatimu sebagai sesama perempuan. Abi kan sekarang sudah punya istri, tapi kamu kok bisa²nya malah berusaha mendekatkan Abi dengan Jenny. Kalau posisimu sebagai seorang istri apa nggak sakit hati yaaa....
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : keknya Tya itu mkkb masa kecil kurang bahagia 😅
total 4 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahhh keren... begitu donk Bi, jangan mau dimanfaatkan lagi apalagi sama mantan. Semoga sikap tegasnya bisa terus dipertahankan yaa, ingat... ingat... kamu sekarang sudah bukan single lagi.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Iyaa iyaa ngerti om... tapi yaa jangan kasar² gitu donk. Seharusnya kamu lebih berpengalaman bagaimana meredakan amarah. Ini om mantan bujang lapuk beneran nggak tahu yaa caranya meluluhkan hati perempuan.
ms. yati74
🤣🤣🤣yg atu manta bujang lapuk yg atu bocah baru netes....angeeell tooo nyatu nyaa🤣🤣🤣🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ
canggung dan sama" jaim yg bikin nagih, cukup buat ngilangin rasa kesel gegara Tya😥🤣
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
baguss kau Abi tegas begitu
Iper: Pasti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!