**INI ADALAH BOOK KE 2 DARI SEMBILAN GULUNGAN NAGA LEGENDARIS.**
Ketika seluruh semesta terancam, satu pemuda harus memilih: menjadi monster yang menyelamatkan dunia, atau tetap manusia dan membiarkan semua musnah.
Lin Tian, kehilangan segalanya, karena invasi entitas misterius yang melahap dimensi. Kini, sebagai pewaris teknik "Orkestrasi Sembilan Naga," ia melintasi batas dimensi untuk berburu Master mereka: Pemangsa Dimensi yang mengancam 30 dimensi sekaligus.
Di Dimensi Asura, dimensi pejuang brutal, Lin Tian menemukan kekuatan... tapi hampir kehilangan kemanusiaannya. Antara latihan mematikan, pertarungan melawan entitas cerdas, dan persahabatan yang tak terduga, ia belajar kebenaran paling sulit: kekuatan tanpa hati adalah tirani, tapi hati tanpa kekuatan adalah kehancuran.
Bisa kah ia menyelamatkan alam semesta tanpa kehilangan jiwanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Upaya Menembus Penghalang
Persiapan Lin Tian sangat sederhana.
Sesuai kebiasaannya, ia tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang dianggap tidak perlu.
Ia memeriksa cincin spasial di jarinya untuk memastikan semua persediaan masih lengkap. Energi spiritual di dalam tubuhnya berada dalam kondisi stabil, sementara indra spiritualnya diperluas hingga batas maksimum.
Secara teknis, ia sudah siap.
Atau setidaknya, cukup siap untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan siapa pun.
Menembus penghalang dimensional.
Risikonya tidak diketahui. Bahkan kemungkinan gagal pun tidak bisa dihitung.
Namun bagi Lin Tian, itu tidak penting.
Memburu sang Pemangsa Dimensi tetap menjadi prioritas utama.
Rasa takut tidak memiliki tempat dalam keputusan ini.
Lin Tian melangkah mendekati penghalang dimensional sekali lagi.
Tangannya perlahan menyentuh lapisan transparan di depannya.
Sensasinya aneh.
Permukaan penghalang itu terasa mengalir seperti cairan, tetapi tetap memiliki tekanan yang menahan.
Tatapan Lin Tian menjadi serius.
Lalu, tanpa ragu lagi, ia mulai mendorong tubuhnya masuk.
Awalnya tekanan yang ia rasakan masih ringan. Namun semakin jauh ia menembus penghalang, tekanannya meningkat dengan cepat.
Sepuluh persen.
Tekanan mulai terasa di seluruh tubuh, tetapi masih bisa ditahan.
Tiga puluh persen.
Napasnya mulai berat. Udara di sekitar seperti berubah menjadi batu yang menekan dadanya.
Lima puluh persen.
Tubuhnya mulai bergetar hebat. Otot-ototnya menegang, sementara energi spiritual di dalam tubuhnya dipaksa bekerja hingga batasnya.
Tujuh puluh persen.
Rasa sakit meledak di seluruh tubuhnya. Tulang-tulangnya mulai berbunyi retak akibat tekanan luar biasa yang menghimpit dari segala arah.
Sembilan puluh persen.
Darah mengalir dari sudut bibirnya. Penglihatannya mulai kabur. Untuk sesaat, Lin Tian benar-benar merasa dirinya berada di ambang kematian.
Dan pada detik berikutnya, Penghalang itu akhirnya ditembus.
Lin Tian terjatuh ke depan sambil terengah-engah.
Seluruh tubuhnya terasa seperti dihancurkan berkali-kali. Rasa sakit akibat menembus penghalang dimensional jauh lebih mengerikan daripada yang ia bayangkan.
Sedikit saja tekadnya goyah, ia mungkin sudah mati di tengah perjalanan.
Tetapi ia berhasil.
Dengan napas berat, Lin Tian perlahan berdiri sambil menahan rasa sakit yang masih menyebar di tubuhnya.
Lalu ia melihat sekelilingnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keterkejutan benar-benar memenuhi wajahnya.
Dunia ini… berbeda.
Langit di atasnya bukan berwarna biru, melainkan ungu gelap dengan awan yang bergerak ke arah yang tidak masuk akal, seolah hukum di tempat ini bekerja secara berbeda.
Tanah di bawah kakinya juga bukan tanah biasa. Permukaannya terbentuk dari kristal aneh yang memancarkan cahaya redup dari dalam.
Bahkan gravitasi di tempat ini terasa jauh lebih berat.
Tubuh Lin Tian langsung menyadari perbedaannya. Setiap gerakan terasa lebih lambat, seolah ada tekanan tambahan yang terus menariknya ke bawah.
Namun yang paling mengejutkan adalah energi spiritual di udara.
Terlalu padat.
Konsentrasinya setidaknya sepuluh kali lebih tinggi dibanding dunia tempatnya berada.
Udara di dunia ini memang masih bisa dihirup, tetapi terasa jauh lebih berat dan kaya energi, hampir membuat paru-parunya terasa penuh hanya dengan satu tarikan napas.
Lin Tian mempersempit matanya.
Ini jelas bukan alam yang masih terhubung dengan dunianya.
Tempat ini terasa benar-benar asing, perlahan, ia memperluas indra spiritualnya untuk memeriksa area sekitar.
Dan dalam sekejap, Matanya langsung berubah tajam.
Ada banyak keberadaan di sekitarnya.
Sangat kuat.
Dan mereka bergerak cepat menuju posisinya.
Lin Tian langsung menegang saat merasakan lima keberadaan bergerak cepat ke arahnya.
Namun beberapa detik kemudian, alisnya sedikit berkerut.
Energi mereka berbeda.
Bukan energi entitas.
Aura yang mereka pancarkan jauh lebih stabil, lebih teratur, dan memiliki jejak kesadaran yang jelas. Tidak ada kekacauan atau kegilaan seperti yang biasa ia rasakan dari para entitas.
Kalau begitu… apa mereka?
Tatapan Lin Tian berubah tajam.
Lima sumber energi itu bergerak dengan pola mengepung yang sangat rapi, seolah mereka sudah terbiasa berburu atau bertarung dalam kelompok.
Kultivator?
Di dunia ini?
Pikiran itu membuat jantung Lin Tian berdetak lebih cepat.
Jika memang ada kultivator di luar dimensinya, berarti teori yang selama ini ia yakini benar. Masih ada dunia lain di luar batas dimensional.
Namun saat ia mencoba mengukur kekuatan mereka menggunakan indra spiritualnya, wajahnya langsung berubah.
Terlalu kuat.
Awalnya ia mengira mereka berada di puncak Jiwa Baru Lahir. Tetapi semakin ia merasakan aura mereka, semakin jelas bahwa kekuatan itu sudah melampaui tingkat tersebut.
Dan itu membuat pikiran Lin Tian terguncang.
Melampaui Jiwa Baru Lahir?
Mustahil.
Di dimensi dunianya, Puncak Jiwa Baru Lahir atau Transformasi Jiwa sudah dianggap batas tertinggi kekuatan yang diketahui. Alam di atas itu bahkan tidak pernah tercatat dalam sejarah.
Kecuali…
Di tempat ini, sistem kultivasi memang berkembang jauh lebih tinggi.
Jika itu benar, maka hanya ada satu kesimpulan.
Di dunia ini…
Dirinya paling lemah.
Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, Lin Tian benar-benar merasakan tekanan yang menyerupai kepanikan.
Lima sosok akhirnya muncul dari kejauhan dan langsung mengelilinginya sepenuhnya.
Saat melihat mereka dengan jelas, Lin Tian kembali terkejut.
Mereka memiliki bentuk tubuh yang sangat besar, hampir dua setengah meter tingginya. Otot-otot mereka tampak seperti baja hidup yang dipenuhi bekas luka pertempuran.
Kulit mereka memiliki warna merah samar, sementara mata emas mereka memancarkan aura buas seperti predator yang telah melewati ribuan medan perang.
Aura perang dan haus darah yang keluar dari tubuh mereka begitu kuat hingga udara di sekitar terasa berat.
Armor yang mereka kenakan juga aneh.
Bukan logam.
Melainkan semacam tulang organik berwarna gelap yang menyatu dengan tubuh mereka, membuat penampilan mereka terlihat semakin mengintimidasi.
Senjata mereka bahkan lebih mengerikan.
Pedang raksasa, kapak besar, dan tombak perang berukuran tidak masuk akal tergenggam di tangan mereka dengan mudah, seolah berat benda-benda itu tidak berarti apa-apa.
Lin Tian diam-diam mengaktifkan indra spiritualnya sekali lagi.
Dan hasilnya membuat tubuhnya menegang.
Kelima prajurit itu…
Masing-masing kemungkinan lebih kuat darinya.
Mungkin sedikit.
Mungkin jauh lebih kuat.
Tetapi satu hal pasti.
Jika pertarungan terjadi sekarang, peluangnya untuk menang sangat kecil.
Ia benar-benar berada dalam situasi berbahaya.
Salah satu prajurit melangkah maju.
Tubuhnya yang paling besar membuat tekanan auranya terasa jauh lebih mengerikan dibanding yang lain. Mata emasnya menatap tajam ke arah Lin Tian seperti sedang mengawasi mangsa asing yang tiba-tiba muncul di wilayah mereka.
Lalu suara beratnya mengguncang udara.
"Orang luar! sebutkan identitasmu! cepat!"
Lin Tian sedikit terkejut karena ia bisa memahami bahasa para prajurit itu dengan jelas.
Seolah ada semacam hukum dimensional yang secara otomatis menerjemahkan percakapan mereka ke dalam pemahaman masing-masing.
Namun ia tidak memiliki waktu untuk memikirkannya lebih jauh.
Tatapan lima prajurit itu terlalu tajam.
Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, Lin Tian benar-benar berhati-hati saat berbicara.
"Aku Lin Tian," ucapnya tenang. "Seorang kultivator yang bukan dari dimensi ini. Aku sedang menyelidiki invasi entitas dan tanpa sengaja melewati penghalang dimensional."
Itu kebohongan.
Tetapi dalam situasi seperti ini, mengatakan bahwa ia sengaja menembus batas dunia terdengar seperti bunuh diri.
Kelima prajurit itu saling bertukar pandang. Mereka mulai berbicara dengan bahasa yang berbeda dan kali ini Lin Tian tidak bisa memahaminya sama sekali.
Beberapa saat kemudian, prajurit pemimpin kembali menatapnya.
"'Bukan dari dimensi ini?" ulangnya pelan. "Maksudmu Alam Rendah? Alam Jiwa Baru Lahir?"
Lin Tian mengangguk perlahan.
"Ya. Di tempat asalku, Puncak Jiwa Baru Lahir adalah batas tertinggi."
Keheningan seketika terjadi sesaat.
Lalu tiba-tiba kelima prajurit itu tertawa keras.
Suara mereka menggema seperti petir di seluruh area.
Lin Tian langsung mengernyit. Mereka… menertawakannya?
Prajurit pemimpin menyeringai lebar.
"Puncak Jiwa Baru Lahir sebagai batas tertinggi?" katanya sambil tertawa kecil. "Alam anak-anak. Sangat lemah."
Tatapan emasnya lalu mengamati tubuh Lin Tian dari atas sampai bawah.
"Kultivasimu berada di Alam Transformasi Jiwa?"
Tubuh Lin Tian sedikit menegang.
Mereka mengetahui tentang Ranah Transformasi Jiwa.
Artinya tingkat itu memang umum di dunia ini.
"Iya, Lapisan Ketiga," jawab Lin Tian singkat.
Tawa kembali pecah.
Namun kali ini tidak sepenuhnya mengejek. Lebih seperti rasa kasihan.
Prajurit pemimpin menggelengkan kepalanya pelan.
"Lapisan Ketiga?" katanya. "Itu bahkan belum dianggap dewasa di Dimensi Asura."
Ia menunjuk langit ungu di atas mereka.
"Wilayah luar sangat berbahaya. Ranah Transformasi Jiwa Lapisan Kelima adalah syarat minimum untuk bertahan hidup."
Tatapan Lin Tian langsung berubah.
Minimum?
Berarti dirinya… lemah di tempat ini?
Prajurit itu melanjutkan tanpa peduli pada keterkejutannya.
"Kau baru Lapisan Ketiga. Dengan kekuatan seperti itu, kau mungkin mati dalam beberapa hari."
Kata-kata itu menghantam Lin Tian jauh lebih keras daripada serangan apa pun.
Selama ini, di dunianya, dirinya adalah salah satu eksistensi terkuat.
Tak terkalahkan.
Namun di dunia ini, kekuatannya hanya setara anak kecil yang baru belajar bertahan hidup.
Untuk pertama kalinya sejak menembus Ranah Transformasi Jiwa, Lin Tian benar-benar merasakan kelemahan yang nyata.
Dan perasaan itu terasa menghancurkan.
Seluruh skala kekuatan yang ia pahami selama ini berubah total.
Dimensi dunianya ternyata hanyalah kolam kecil. Sedangkan tempat ini adalah lautan tanpa batas.
Dan dirinya… Hanya setetes kecil di dalamnya.
Prajurit pemimpin kembali mendekat sambil menatap Lin Tian lebih serius.
"Orang luar. Berasal dari Alam Rendah. Lemah." Suaranya berat dan penuh tekanan. "Tapi kau berhasil melewati penghalang dimensional dalam keadaan hidup. Itu cukup mengesankan."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Hukum Asura menyatakan bahwa penyusup dari luar seharusnya dibunuh."
Aura membunuh samar langsung memenuhi udara. Namun sesaat kemudian, tekanan itu menghilang.
"Tapi membunuh seseorang selemah dirimu tidak membawa kehormatan."
Tatapan emasnya menyipit.
"Karena itu, kami memberimu belas kasihan."
Ia mengangkat dua jari besar di depan Lin Tian.
"Pilihan pertama. Kembali ke Alam Rendah sekarang juga dan jangan pernah kembali."
"Pilihan kedua. Tetap di Dimensi Asura. Berlatih. Menjadi lebih kuat."
Nada suaranya berubah dingin.
"Tapi ketahuilah satu hal. Bertahan hidup tidak dijamin."
"Kemungkinan besar… kau akan mati."
Lin Tian terdiam.
Pikirannya bergerak cepat.
Jika kembali ke dunianya, ia akan aman. Namun itu juga berarti misinya gagal. Semua petunjuk yang ia temukan sudah jelas mengarah ke dunia di luar penghalang.
Sang Pemangsa Dimensi kemungkinan besar berada di tempat seperti ini.
Jika ia kembali sekarang, maka ia tidak akan pernah menemukan jawabannya.
Namun jika tetap tinggal…
Risikonya sangat besar.
Bahkan para prajurit ini sendiri sudah mengatakan bahwa kemungkinan hidupnya kecil.
Tetapi di sinilah jawaban nya berada.
Dan bagi Lin Tian, itu sudah cukup.
Tatapannya kembali tenang.
"Aku akan tetap tinggal," jawabnya tanpa ragu. "Aku akan berlatih dan menjadi lebih kuat. Apa pun yang diperlukan."
Kelima prajurit itu tampak sedikit terkejut.
Mereka jelas mengira Lin Tian akan memilih mundur.
Prajurit pemimpin lalu menyeringai tipis.
"Berani… atau bodoh. Sulit dibedakan."
Namun kali ini ada sedikit rasa hormat dalam suaranya.
"Baiklah. Dimensi Asura menerima keputusanmu."
Ia berbalik sambil mengangkat senjatanya ke bahu.
"Ujian pertamamu adalah bertahan hidup."
"Ikuti kami. Kita menuju tempat pelatihan."
Kelima prajurit itu mulai berjalan pergi tanpa menunggu jawaban lain.
Lin Tian sempat diam beberapa detik.
Apakah ini keputusan yang benar?
Mungkin tidak.
Tempat ini jelas sangat berbahaya. Namun ia kembali mengingat tujuan awalnya.
Misi.
Alam semesta.
Warisan Yeye.
Semua itu tetap menjadi prioritas utama.
Berapa pun harga yang harus dibayar, ia tidak akan berhenti sekarang.
Dengan napas pelan, Lin Tian akhirnya melangkah mengikuti para prajurit Asura menuju masa depan yang sama sekali belum diketahui.