Tembus pandang, ahli pengobatan, dan kekuatan tiada tara adalah sepasang mata dewa.
Menjadi buta demi membangkitkan kekuatan mata dewa membuat Ivan begitu menderita.
Namun semuanya terbayar setelah Ivan mendapatkan mata dewa yang sinarnya menembus kegelapan.
Gadis-gadis cantik perlahan jatuh hati kepadanya.
Bagaimana kelanjutannya dapat di baca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agus budianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 2 LEO TANGAN HANTU
Satu jam kemudian, malam juga semakin larut. Star casino tempat Ivan bekerja juga semakin ramai oleh orang yang bermain judi.
Seorang pria dengan menggunakan jaket berlengan panjang berwarna hitam dengan rokok di mulutnya masuk ke dalam casino dengan petantang-petenteng. Di belakang pria dengan jaket hitam tersebut terlihat dua orang pria kekar yang merupakan bawahnya. Seketika kedatangan mereka juga langsung menarik perhatian orang-orang di sana.
"Bukankah dia Leo dari ibukota yang di juluki sebagai tangan dewa, kenapa dia bisa ada di kota Neo ini?" ujar salah seorang di sana.
"Leo si tangan hantu adalah raja judi kartu, setiap berjudi tidak pernah kalah, entah sudah berapa banyak casino yang bangkrut di buatnya," ujar orang yang lain.
"Jika Leo datang ke tempat ini untuk berjudi, bukankah ini akan gawat bagi Star casino, Leo tidak akan berhenti main sebelum casino tersebut bangkrut, jika tempat ini bangkrut, kita bermain judi di mana lagi?" ujar orang yang lain.
Pria dengan jaket berwarna hitam tersebut bernama Leo yang terkenal dengan sebutan tangan hantu. Leo merupakan dewa judi kartu yang berasal dari ibukota. Leo begitu sangat terkenal, sehingga langsung di kenali para penjudi di kota Neo ini.
Leo langsung duduk di hadapan sebuah meja permainan kartu dengan menyilangkan kedua kakinya. Sementara kedua bawahannya langsung meletakkan dua buah tas besar di atas meja tersebut.
"Tuan di sini ada permainan dadu, domino, kartu, mahyong, tuan mau main yang mana?" tanya seorang pelayan wanita kepada Leo.
"Fuhh..." Leo menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Siapa kamu, tuan Leo tidak suka main receh, panggil bos mu ke mari!" ujar salah seorang bawahan Leo.
"Temani tuan Leo main, karena sebentar lagi casino ini akan bangkrut," sambungnya.
Pelayan wanita tersebut juga segera pergi untuk melaporkan hal tersebut kepada Yola. Yola yang saat ini sedang bersama dengan Ivan di ruangannya juga langsung terkejut mendengarnya.
"Apa... Leo si tangan hantu ada di sini..." Yola terkejut.
Yola langsung terdiam sejenak, dirinya juga tahu betul siapa itu Leo. Entah sudah berapa banyak casino yang bangkrut di buat olehnya, dan kini tampaknya Leo menargetkan casino miliknya ini.
Yola tampak gugup dan panik namun dirinya tetap berusaha untuk tenang. Yola sadar begitu sangat seriusnya masalah ini, kelangsungan casino nya di pertaruhan.
"Kamu keluar, aku sebentar lagi menyusul!" ujar Yola kepada pelayan wanita tersebut.
Yola segera mengambil sebuah koper dan membawanya kedepan sebuah brankas. Yola membuka brankas tersebut dan mengambil semua uangnya memasukannya kedalam koper tersebut.
"Ivan bantu aku membawanya!" pinta Yola.
Ivan tampak bingung dan belum mengerti apa yang terjadi. Namun Ivan dapat melihat jelas bahwa saat ini Yola bosnya sedang panik.
Sementara itu, kini orang-orang juga telah mengerumuni Leo. Leo sendiri terlihat begitu santai sambil menikmati rokoknya. Sesaat kemudian, Yola dan Ivan juga telah tiba dan berjalan menembus kerumunan.
"Kamu pasti si tangan hantu ibukota," ujar Yola.
Yola juga langsung duduk di sana dan seketika Leo juga langsung menatapnya. Leo melihat paras Yola yang begitu cantik, sehingga membuat hasratnya tertarik.
"Walaupun casino milikku ini tidak sebesar yang ada di ibukota, tapi kami selalu bermain jujur, jika tuan Leo hendak main, maka kami akan layani, cuma aku tidak tahu, tuan Leo hari ini bawa berapa banyak uang taruhan?" sambung Yola.
Walaupun Yola tahu bahwa jika melawan Leo kemungkinan besar dapat mengakibatkan casino nya bangkrut, namun juga tidak ada pilihan lain.
Jika Yola menolak Leo untuk bermain di tempatnya, itu sama saja menghancurkan nama besar casinonya. Secara tidak langsung itu sama saja seperti bangkrut.
"Aku tidak menyangka pemilik tempat ini begitu cantik, aku jadi semakin bersemangat," balas Leo.
Bawahnya Leo juga membuka dua tas milik mereka di atas meja. Seketika terlihat tumpukan uang yang sangat banyak di dalamnya.
"Banyak sekali uangnya, apalagi dalam bentuk bentuk dolar," ujar salah seorang di sana terkejut.
"Melihat tumpukan sebanyak itu dalam dua tas, mungkin saja jumlahnya ratusan milyar," ujar orang yang lain.
Yola juga menggigit bibirnya melihat uang sebanyak itu. Setidaknya uang sebanyak itu setara dengan seluruh harta casino miliknya.
"Aku rasa uang ini cukup untuk membuat permainan menjadi lebih singkat," ujar Leo.
"Karena tuan Leo mau main, maka kami Star casino pasti layani," ujar Yola.
"Silahkan tuan Leo buat batasan!" sambung Yola.
"Tidak usah terburu-buru, aku katakan yang terburuknya dahulu, kalau bermain, aku akan bermain sampai tuntas," balas Leo.
"Kalau aku memenangkan semua uang di casino ini, kalian harus tutup," sambung Leo.
Seketika semua orang di sana juga langsung terdiam mendengarnya. Mereka juga tahu bahwa jika Leo si tangan hantu dalam berjudi tidak akan berhenti main sampai casino tersebut bangkrut. Hingga kemudian seorang pria berbicara melepas keheningan.
"Leo, kamu benar-benar sombong, kamu pikir aku di sini cuma pajangan," ujar pria tersebut sambil memukul meja.
Pria tersebut merupakan bawahan dari Yola yang bernama Doris. Doris adalah seorang ahli permainan kartu yang ada di Star casino milik Yola ini.
Doris yang mengendalikan permainan kartu di casino, sehingga kemenangan seorang pemain itu ada di tangannya. Kemampuannya sangat hebat, sehingga jika Doris menjadi bandar kartu, maka para pemain judi tidak akan berani bermain dengannya.
"Kamu ahli di tempat ini bukan?" balas Leo kepada Doris.
"Casino kalian punya berapa orang ahli seperti kamu, panggil semua ke sini, jangan buang-buang waktu!" sambung Leo menantang.
"Sombong sekali, aku saja sudah cukup untuk mengalahkan mu," ujar Doris dengan emosi.
Leo juga mematikan rokoknya dan membuang puntungnya ke udara. Kemudian pandangannya langsung tertuju kepada Yola pemilik dari Star casino.
"Kita mulai saja, permainan kartu adu qiu, dua kartu saja, taruhan awal 10 milyar, selanjutnya tidak terbatas," ujar Leo kepada Yola.
"Bagaimana, berani atau tidak?" sambung Leo bertanya.
"Oke, kami terima," jawab Yola.
"Tunjukkan uang kalian!" pinta Leo.
Yola memberikan instruksi kepada Ivan yang berdiri di belakangnya. Ivan juga meletakkan koper yang dia bawa ke atas meja dan membukanya. Terlihat tumpukan uang yang sangat banyak, juga dalam bentuk pecahan dolar.
Yola kemudian juga memberikan instruksi kepada Doris untuk menghadapi Leo. Di Star casino miliknya ini, hanya Doris lah ahli dalam permainan kartu.
"Wah uangnya banyak sekali, tampaknya pertarungan permainan kartu adu qiu ini akan sangat seru sekali," ujar salah seorang di sana.
"Tuan Leo si tangan hantu begitu terkenal di ibukota, sementara tuan Doris adalah yang nomor satu di kota Neo ini, entah siapa yang lebih hebat dan menjadi pemenangnya," ujar orang yang lain.
Doris juga duduk dan saling berhadapan dengan Leo. Kemudian seorang pelayan datang dengan membawa kartu lalu meletakkannya di atas meja.
Sebelum permainan di mulai, sebagai taruhan awal, Leo dan Doris juga memasukkan masing-masing 10 milyar sebagai taruhan.
"Sesuai dengan aturan, kamu yang lebih dahulu kocok kartunya!" ujar Leo.
Doris mengambil tumpukan kartu tersebut dan mulai mengocoknya. Terlihat Doris begitu terampil sekali dalam mengocok. Setiap kartu bertukar tempat dalam kocokan dengan sangat rapi dan indah.
"Ini adalah teknik yang aku pelajari dengan susah payah bertahun-tahun, dengan begitu aku bisa mengingat dan mengatur kartu," ucap Doris dalam hati sambil terus mengocok kartu.
Sementara itu, Leo tampak memperhatikan setiap gerakan tangan Doris dalam mengocok kartu. Bahkan telinga Leo juga ikut mendengarkan setiap bunyi dari kocokan tersebut.
Doris juga telah selesai mengocok kartu dan meletakkannya di atas meja. Doris lalu meminta Leo untuk memotongnya agar tidak ada kecurigaan dalam berbuat curang.