NovelToon NovelToon
Pak Bos, Tolong Lepaskan Aku!

Pak Bos, Tolong Lepaskan Aku!

Status: tamat
Genre:CEO / One Night Stand / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat / Mengubah Takdir / Wanita Karir / Office Romance / Tamat
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kartika

Di hari yang sama, **Kirana Halim** ditinggalkan kekasih empat tahunnya hanya karena dianggap "tidak selevel"—dan di hari yang sama pula, nomor teleponnya diserahkan sang ayah kepada penagih utang demi utang keluarga **Rp 2 miliar**. Malam itu, dalam keadaan mabuk dan hancur lebur, Kirana melakukan satu kesalahan fatal: tidur dengan bosnya sendiri—**Arka**, manajer dingin yang diam-diam diidamkan seluruh karyawati **PT Cakra Nusantara**.

Paginya, Kirana cuma ingin menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Tapi Pak Bos yang biasanya tak tersentuh itu malah berubah jadi pria yang tak sudi melepasnya.

"Anggap saja tidak pernah terjadi, Pak."
"Kamu terlalu manis. Mana bisa kulepas?"

Dari karyawan kontrak bergaji **Rp 6 juta**, Kirana bertekad naik dengan tangannya sendiri—memenangkan tender, diangkat jadi karyawan tetap, naik jadi manajer, sampai kursi direktur. Sementara itu, fitur **"JodohMatch"** di aplikasi Belio terus mencocokkan jodohnya sesuai penghasilan: dari satpam, pegawai kantoran… sampai akhirnya menunjuk pria yang sama—Arka.

Di antara mantan yang menyesal, saingan anak konglomerat, cinta lama yang tiba-tiba kembali, tekanan "bibit-bebet-bobot", dan badai keluarga yang merenggut segalanya, hanya satu hal yang tak pernah berubah: **Arka selalu memilih Kirana.** Dan Kirana? Ia bersumpah akan menjadi perempuan yang pantas—untuk Arka, dan untuk siapa pun.

Tapi kalau pada akhirnya takdir benar-benar mempertemukan mereka lagi… kira-kira, siapa yang akan melamar lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002: Kesalahan Satu Malam

"Pak..."

Suara Kirana pecah di ujung lidah. Ia ingin menarik tangannya, ingin berdiri tegak seperti karyawan yang tahu batas, tapi tubuhnya tidak lagi mendengar perintah. Dunia berputar pelan, lampu kanopi hotel menjadi lingkaran-lingkaran emas yang menyakitkan mata.

Arka menatapnya dari jarak terlalu dekat.

"Bu Kirana?"

Panggilan itu seharusnya membuatnya sadar. Seharusnya ia langsung mundur, menunduk, meminta maaf, lalu kembali ke dalam restoran seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, begitu mendengar suara rendah itu, sesuatu yang sejak tadi ia tahan justru retak.

Kirana tertawa kecil.

Tawa yang basah.

"Jangan panggil Bu," gumamnya. "Hari ini semua orang manggil saya Bu Kirana, selamat Bu Kirana, hebat Bu Kirana. Terus malamnya saya dibuang karena nggak selevel."

Alis Arka bergerak tipis. "Anda mabuk."

"Saya tahu."

"Saya antar pulang."

Kirana menggeleng terlalu cepat. Gerakan itu membuat kepalanya berdenyut. Ia hampir jatuh lagi jika Arka tidak menahan sikunya.

"Pulang ke mana, Pak?" Ia mendongak, memaksa matanya fokus pada wajah Arka. "Kos saya sempit. Rumah saya penuh utang. Pacar saya sudah bukan pacar. Papa saya..." Suaranya menggantung, lalu turun menjadi bisikan. "Papa saya kasih nomor saya ke penagih utang."

Untuk pertama kalinya, tatapan Arka tidak sedingin ruang rapat. Ada sesuatu yang mengeras di rahangnya, cepat sekali, seperti kilatan yang ia sembunyikan sebelum siapa pun sempat melihat.

"Di mana teman Anda?"

"Mega?" Kirana berkedip, lalu mencari-cari tasnya seolah nama itu tersimpan di dalam sana. Ponselnya bergetar berkali-kali. Layar menyala: Mega calling. Ia menatapnya, tapi tidak mengangkat. "Dia baik. Dia pasti marah nanti."

"Angkat teleponnya."

"Nggak mau."

"Bu Kirana."

"Jangan panggil itu." Kirana menepis udara, bukan tangan Arka, tapi gerakannya tetap mengenai pergelangan pria itu. Kulit mereka bersentuhan. Hangatnya terlalu nyata. "Saya capek jadi Bu Kirana. Capek jadi anak baik. Capek jadi orang yang selalu harus paham."

Sebuah mobil berhenti di dekat drop-off. Petugas valet melirik mereka dengan ragu. Arka melihat sekitar, lalu menarik Kirana sedikit menjauh dari jalur kendaraan.

"Anda tidak bisa berdiri di sini."

"Saya juga tidak bisa berdiri di hidup saya sendiri malam ini."

Kalimat itu membuat Kirana sendiri terdiam. Mungkin karena terlalu jujur. Mungkin karena begitu keluar, ia tidak bisa menariknya kembali.

Arka tidak menjawab. Ia melihat ponsel Kirana kembali menyala oleh panggilan Mega, tapi Kirana segera menekan layar tanpa benar-benar sadar, membuat panggilan itu terputus.

"Teman Anda mencari."

"Nanti," gumam Kirana.

"Sekarang."

"Nanti, Pak. Tolong."

Kirana mendengar suaranya sendiri seperti dari dasar air. Ia ingin mengatakan ia tidak perlu diselamatkan, tapi tubuhnya sudah lelah melawan apa pun. Ketika Arka memanggil staf hotel dengan suara singkat, ia hanya menatap kancing kemeja pria itu.

Putih. Rapi. Tidak tersentuh kekacauan.

Berbeda sekali dengan atasan merahnya yang mulai kusut.

***

Lift hotel bergerak naik tanpa suara. Dinding logam memantulkan bayangan mereka: Arka berdiri tegak, satu tangan menahan lengan Kirana; Kirana bersandar terlalu dekat, pipinya panas, rambutnya lepas dari jepit.

"Saya bisa sendiri," gumam Kirana.

"Anda hampir jatuh tiga kali sejak lobi."

"Itu karena lantainya miring."

"Lantainya tidak miring."

"Berarti hidup saya yang miring."

Arka menoleh. Untuk sesaat, sudut bibirnya seperti ingin bergerak, tapi ia menahannya. "Anda selalu bicara seperti ini kalau mabuk?"

"Saya nggak pernah mabuk."

"Malam ini?"

"Malam ini banyak hal pertama."

Pintu lift terbuka. Arka membawa Kirana melewati koridor berkarpet tebal. Aroma hotel yang mahal, dingin dan bersih, membuat perut Kirana semakin mual. Ia berhenti tiba-tiba, satu tangan menutup mulut.

Arka segera membuka pintu kamar yang baru diberikan resepsionis. Ia menuntunnya masuk ke kamar mandi tepat waktu. Kirana muntah, tubuhnya gemetar, rasa pahit membakar tenggorokan.

Malu datang terlambat.

Ketika ia menyadari Arka berdiri di belakangnya, memegang rambutnya agar tidak jatuh ke wajah, mata Kirana panas.

"Jangan lihat."

"Saya tidak sedang menilai Anda."

"Semua orang menilai."

Arka mengambil handuk kecil, membasahinya, lalu menyerahkannya. Gerakannya tenang, terlalu tenang, membuat dada Kirana sakit dengan cara yang berbeda.

"Bilas mulut Anda. Setelah itu duduk. Saya pesan air hangat."

"Kenapa Pak Arka baik?"

"Karena Anda sedang tidak bisa menjaga diri."

"Besok Pak Arka akan pura-pura tidak lihat?"

Arka diam.

Kirana tertawa lagi, tapi air matanya jatuh. "Bagus. Semua orang pura-pura. Fajar pura-pura empat tahun. Papa pura-pura masih bisa jadi kepala keluarga. Saya pura-pura kuat."

"Kirana."

Nama itu, tanpa Bu, tanpa jarak kantor, membuat napasnya tersangkut.

Ia menoleh. Arka berdiri di ambang kamar mandi. Lampu putih jatuh di wajahnya, mempertegas garis rahang dan mata yang sulit dibaca. Kirana seharusnya takut. Ia memang takut. Tapi di bawah rasa takut itu ada kelelahan yang lebih besar, keinginan bodoh untuk berhenti menjadi orang yang selalu ditinggalkan di sisi yang salah.

"Jangan baik sama saya kalau besok cuma jadi atasan lagi," bisiknya.

Arka menatapnya lama. "Anda mabuk. Jangan bicara hal yang besok Anda sesali."

"Saya sudah sesali banyak hal yang saya lakukan sadar."

Ia melangkah maju. Atau mungkin tersandung. Arka menangkap bahunya. Telapak tangan pria itu terasa mantap di atas kain sutra merahnya. Kirana mendongak dan menemukan dirinya terlalu dekat dengan napas Arka.

Mint. Sedikit asap. Sedikit malam.

"Pak Arka punya orang yang nunggu di rumah?"

"Tidak."

"Pacar?"

"Tidak."

"Tunangan?"

"Tidak."

"Berarti nggak ada yang akan sakit hati kalau malam ini saya pinjam Pak Arka sebentar."

Mata Arka menggelap. "Kirana."

"Saya tahu. Saya mabuk." Ia mengangkat tangan, menyentuh kerah kemeja Arka dengan jari yang gemetar. "Tapi saya masih tahu saya nggak mau sendiri."

Di luar jendela, Surabaya menyala seperti kota yang tidak pernah peduli pada siapa pun yang hancur di dalam kamar hotel. Kirana merasakan Arka menahan napas. Tangannya di bahu Kirana mengencang sedikit, lalu melemah, seolah ia sedang berdebat dengan dirinya sendiri.

"Saya bisa panggil Mega," katanya rendah.

"Jangan."

"Saya bisa tidur di sofa dan Anda di ranjang."

"Jangan jadi terlalu benar malam ini."

Kirana tidak tahu siapa yang lebih dulu bergerak. Yang ia ingat hanya jarak yang runtuh, napas yang bertemu, dan rasa hangat yang membuat suara Fajar, suara Papa, suara penagih utang, semuanya mundur ke tempat yang jauh.

Ciuman pertama mereka tidak lembut. Terlalu banyak kesedihan di mulut Kirana, terlalu banyak kendali yang pecah di tangan Arka. Ia merasakan punggungnya menyentuh dinding, merasakan jemari Arka berhenti di tepi atasan merahnya, ragu tepat pada batas terakhir.

"Katakan berhenti, dan saya berhenti," bisik Arka.

Kirana membuka mata. Pandangannya basah, tapi kali ini bukan hanya karena alkohol.

"Kalau saya bilang jangan berhenti?"

Rahang Arka menegang.

Malam itu, merah di tubuh Kirana tidak lagi menjadi baju perang. Di bawah cahaya hotel yang redup, warna itu berubah menjadi tanda menyerah yang indah dan berbahaya. Arka menyentuhnya seperti seseorang yang tahu ia sedang melewati batas, tapi tidak lagi sanggup mundur. Kirana menggenggam kemejanya seperti orang yang takut tenggelam jika dilepaskan.

Tidak ada janji.

Tidak ada nama hubungan.

Hanya dua orang dewasa yang sama-sama belum menikah, terjebak dalam satu malam yang terlalu penuh luka, kehangatan, dan keputusan yang esok pagi akan terasa seperti dosa paling nyata.

Di sela napas yang patah, Kirana sempat menangis tanpa suara.

Arka menyadarinya.

Ia berhenti, menangkup wajah Kirana, ibu jarinya menghapus air mata yang jatuh di pipi. "Sakit?"

Kirana menggeleng.

"Lalu kenapa menangis?"

"Karena..." Ia menelan napas. "Karena malam ini ada yang pegang saya seolah saya bukan beban."

Sesuatu di mata Arka berubah. Lebih gelap, tapi juga lebih lembut.

"Kamu bukan beban."

Kata itu seharusnya sederhana. Namun, bagi Kirana yang sepanjang malam dihitung sebagai risiko, utang, dan level yang tidak pantas, kalimat itu mematahkan pertahanan terakhirnya.

Ia menarik Arka mendekat lagi.

***

Cahaya pagi masuk dari celah tirai.

Kirana terbangun karena kepalanya berdenyut seperti dipukul dari dalam. Mulutnya kering. Tubuhnya berat. Selimut hotel yang putih terasa asing di kulitnya, terlalu halus, terlalu dingin, terlalu bukan miliknya.

Ia berkedip beberapa kali, mencoba memahami langit-langit tinggi, lampu gantung kecil, aroma linen bersih, dan rasa nyeri samar di beberapa bagian tubuhnya.

Lalu ingatan datang tidak utuh.

Drop-off hotel. Tangan hangat. Lift. Kamar mandi. Mint dan asap. Kemeja putih. Atasan merah yang terlepas dari bahunya. Suara rendah yang berkata, kamu bukan beban.

Darah Kirana seolah berhenti.

Ia menahan napas, perlahan menoleh ke samping.

Di sisi lain ranjang, seorang pria tidur miring membelakanginya. Bahunya telanjang, napasnya teratur. Di meja dekat ranjang, jam tangan gelap dan kartu akses kamar tergeletak rapi. Kemeja putih tersampir di kursi. Atasan sutra merah Kirana jatuh di lantai, kusut seperti rahasia yang tidak bisa dilipat kembali.

Pria itu bergerak sedikit, wajahnya berbalik terkena cahaya pagi.

Kirana membeku.

Semua sisa mabuk lenyap dalam satu detik.

Pak Arka.

1
harianti hasanuddin
👍
Normida Naibaho
Mksh cefitanya tbor..👍
Linda Nuraini
ceritanya bagus banget 👍👍
🌹 Mommy caeeeem 😍
novel semenakjubkan begini kok sepi pembaca sih,, heran deh akoh,,,
woyyyyyyyy,,,buruan,,,,ayo baca novel ini,,, sumpah,,, bagus banget ceritanya,,,
Ira Widiyastuti
Terima kasih sudah membuat cerita yang bagus
aisiteru
ceritanya menarik walaupun harus mikir alurnya
aisiteru
cerita ini udah tamat ato blm thor? aku tunggu up tp g ada
Kam1la
💪💪👍, hebat langsung sehari jadi banyak bab....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!