Malam itu, kelab privat paling elit di pusat kota Solaria, The Velvet Lounge, tampak sangat meriah. Musik berdentum keras, lampu neon warna-warni menyinari lantai dansa, dan botol-botol minuman mahal berjejer di atas meja marmer.
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA angkatan mereka. Anak-anak dari kalangan paling berkuasa di Solaria berkumpul, merayakan berakhirnya masa sekolah dengan cara yang biasa mereka lakukan: menghamburkan uang orang tua.
Di salah satu sofa VIP paling empuk, Ghea sedang duduk dengan anggun. Di tangannya ada segelas jus jeruk segar—dia tidak minum alkohol, tapi gaya hidup mewahnya tidak kalah dari siapa pun. Di sampingnya, tiga tas belanja dari butik ternama dunia tergeletak begitu saja.
"Ghe, lo serius besok mau langsung terbang ke Paris buat self-reward kelulusan?" tanya salah satu temannya, seorang cewek berambut pirang hasil salon mahal.
Ghea mengibaskan rambut panjangnya yang berkilau. "Ya iyalah. ......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyangkalan yang Lelah, Senyum yang Dipaksakan, dan Hati yang Mulai Membeku
Malam setelah pertengkaran hebat itu berlalu dengan sangat lambat di ruko Sukaasih.
Arkan duduk di tepi ranjang kosannya yang gelap, menatap langit-langit semen dengan pandangan kosong. Kata "murahan" yang siang tadi meluncur bebas dari mulutnya terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak, terasa sangat kotor dan menjijikkan di telinganya sendiri.
Arkan mengacak rambutnya dengan frustrasi. Napasnya memburu kasar di tengah keheningan malam.
Kenapa mulut lo harus sejahat itu, Arkan? batinnya menyumpahi diri sendiri dengan rasa sesak yang luar biasa menghimpit dadanya.
Dia hanya ingin menyapa Ghea. Dia hanya ingin menuntaskan rasa rindunya yang membakar selama berminggu-minggu. Namun, melihat Ghea tersenyum semanis itu pada Rendra, melihat bagaimana tangan pria itu dengan begitu leluasa menyentuh rambut halus Ghea, membuat seluruh akal sehat Arkan mendadak lumpuh terbakar cemburu.
Rasa frustrasi, cemburu, dan tidak berdaya itu kini resmi berubah menjadi keputusasaan yang dingin. Arkan merasa dia telah benar-benar melompati batas yang salah. Dia merasa... dia tidak akan pernah bisa memiliki tempat di hati Ghea yang kini sudah dihiasi oleh kesempurnaan Rendra.
"Udah lah, Kan. Emang dari awal lo gak selevel sama dia," bisik Arkan pada kegelapan kamarnya, suaranya terdengar sangat lelah dan pasrah.
Mulai malam itu, Arkan mengambil keputusan besar. Dia harus berhenti menjadi orang bodoh yang terus-menerus mengawasi ruko sebelah. Dia harus menyangkal seluruh perasaan ganjil yang selama ini menyiksanya.
Keesokan harinya, ketika Hana datang ke kantor Arka-Logistics membawa sekotak kue kering buatannya sendiri, Arkan tidak lagi memasang wajah kaku yang berjarak.
"Wah, repot-repot amat, Mbak Hana," sapa Arkan dengan senyuman tipis yang dipaksakan, mencoba terdengar seramah mungkin.
Hana sempat tertegun sesaat, menatap wajah tirus Arkan yang tampak sedikit pucat namun terlihat jauh lebih terbuka hari ini. Binar bahagia langsung terpancar di sepasang mata teduh milik Hana.
"Sama sekali tidak repot, Mas Arkan. Kebetulan kemarin malam saya membuat lebih di rumah," jawab Hana manis dengan pipi yang merona merah tipis. "Mas Arkan... sore ini kalau tidak sibuk, mau menemani saya mencari buku referensi tanaman herbal di kota sebelah?"
Arkan terdiam sejenak. Biasanya, dia akan langsung mencari seribu alasan untuk menolak secara halus agar bisa tetap berada di ruko untuk mengawasi kedai sebelah. Namun kali ini, Arkan memantapkan hatinya. Dia harus melangkah maju. Dia harus memaksa dirinya membuka hati untuk wanita sebaik Hana.
"Boleh, Mbak Hana. Kebetulan sore ini jadwal pengiriman saya sedang kosong," jawab Arkan tenang dengan senyuman yang dia paksakan mengembang sempurna di bibirnya.
Sementara itu, di seberang pagar pembatas ruko yang rendah.
Kedai Kopi Karsa hari itu berjalan dengan ritme yang sangat sunyi. Ghea berdiri di balik meja bar, menatap mesin espresso manual kuningan antik dari Rendra yang kini sudah terpasang dengan gagah di sudut meja bar.
Namun, binar di mata bulat Ghea tampak sepenuhnya mati.
Air mata yang kemarin sempat meluncur deras kini telah mengering sempurna, meninggalkan ruang kosong yang teramat dingin dan membeku di dalam dadanya. Rasa sakit yang teramat dahsyat akibat hinaan Arkan kemarin sore telah berhasil membakar habis seluruh kepedulian yang pernah Ghea miliki untuk cowok kaku di sebelah rukonya.
Ghea meremas kain lap di tangannya erat-erat, matanya menatap tajam ke arah dinding semen garasi sebelah yang tampak sunyi.
Gue peduli sama lo, gue begadang demi barang lo, dan lo sebut gue murahan? batin Ghea, senyuman sedih yang teramat dingin terukir di bibir tipisnya. Mulai hari ini, Arkan Surya... lo gak lebih dari sekadar hantu yang gak pernah ada di hidup gue.
Ghea menarik napas dalam-dalam, membuang seluruh sisa sesak di dadanya, lalu berbalik dengan ekspresi wajah yang sangat tenang, datar, dan benar-benar tidak peduli. Dia tidak lagi memasang wajah judes andalannya untuk menutupi rasa gugup; kali ini, wajahnya benar-benar kosong dari emosi apa pun terhadap Arkan.
Selasa sore yang cerah di halaman ruko Sukaasih mendadak terasa sangat dingin saat mereka berdua tidak sengaja dipertemukan kembali oleh takdir.
Arkan berjalan keluar dari kantor logistiknya bersama Hana. Dia sengaja berjalan dengan langkah yang sedikit diperlambat, bahkan beberapa kali tertawa kecil mendengar cerita Hana—sesuatu yang sengaja dia lakukan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia baik-baik saja bersama Hana.
Tepat saat itu, pintu kaca Kopi Karsa terbuka. Ghea berjalan keluar dengan blazer kremnya yang elegan, membawa satu tas kertas berisi beberapa dokumen pengiriman ke arah jalan raya untuk memesan taksi daring.
Langkah kaki Arkan seketika terhenti kaku di teras garasinya. Jantungnya berdegup dengan ritme yang sangat liar. Di balik topeng senyumnya untuk Hana, Arkan bersiap-siap jika Ghea akan melotot galak, membalas makiannya kemarin, atau setidaknya menunjukkan kemarahan yang meluap-luap seperti biasa.
Hana yang menyadari kehadiran Ghea juga langsung terdiam, menatap Ghea dengan pandangan cemas.
Namun, apa yang terjadi berikutnya justru membuat seluruh tubuh Arkan mendadak kaku bagai es.
Ghea berjalan menyeberangi halaman ruko dengan langkah yang sangat anggun dan tenang. Jalurnya berjalan tepat melewati depan teras garasi Arkan, hanya berjarak kurang dari dua meter di depan cowok itu.
Saat mata bulat Ghea secara tidak sengaja terarah ke posisi Arkan dan Hana berdiri, tidak ada binar kemarahan di mata itu. Tidak ada kerutan kesal di dahinya. Tidak ada bibir tipis yang mengerucut galak.
Mata Ghea menatap lurus ke arah manik mata hitam Arkan dengan pandangan yang teramat sangat kosong, datar, dan asing—persis seperti cara seseorang menatap tiang listrik tak bernyawa di pinggir jalan raya yang bising. Ghea melewati mereka berdua begitu saja tanpa menghentikan langkah kakinya sedikit pun, seolah-olah Arkan dan Hana hanyalah udara kosong yang tidak kasat mata.
Gak peduli, batin Ghea dingin saat matanya beralih ke layar ponselnya untuk memeriksa posisi taksinya, meninggalkan kepulan aroma kopi arabika yang harum di belakang langkah kakinya.
Arkan mematung di tempatnya berdiri ditiup angin sore Sukaasih yang dingin.
Dada Arkan terasa sangat kosong, disusul oleh denyut nyeri yang jauh lebih menyiksa dan menghantam seluruh batinnya hingga hancur berkeping-keping. Tatapan tak peduli dari Ghea barusan terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian kasar atau tamparan keras di wajahnya.
Arkan menyadari satu kenyataan yang teramat menakutkan: Ghea tidak lagi membencinya. Ghea hanya... tidak lagi menganggap dirinya ada di dalam dunianya.
"Mas Arkan? Mas? Kita jalan sekarang?" panggil Hana lembut, membuyarkan lamunan kosong Arkan yang menyedihkan.
Arkan memejamkan matanya rapat-rapat, menahan sesak yang luar biasa hebat yang menghimpit paru-parunya hingga ia merasa sulit untuk bernapas, sebelum akhirnya menatap Hana dengan senyuman yang teramat sangat kosong.
"Iya, Mbak Hana. Yuk, kita jalan sekarang," jawab Arkan dengan suara seraknya yang terdengar sangat layu dan rapuh di bawah teduhnya langit senja Sukaasih yang perlahan mulai menggelap ditiup angin dingin.