NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:813
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 35

.

Pedang langit memancarkan sinar kebiruan terang memancar tinggi ke angkasa. Energi yang keluar dari bilah pedang pusaka tersebut menyeruak menyebar, dan memberikan tekanan yang kuat kepada sepasang pendekar Jari Iblis.

Namun, sepasang pendekar Jari iblis tiba-tiba memasukkan pedangnya. Mereka tampaknya menginginkan bertarung dengan tangan kosong.

Keduanya sadar, jika bertarung menggunakan senjata pusaka kemungkinan untuk menang sangat tipis sekali, bahkan tidak ada.

"Kalau berani, masukkan pedang kalian! Kita bertarung tangan kosong." Wongsopati berseru sedikit keras.

"Hahaha ... Kalian di sini tidak dalam posisi memberi penawaran. Tapi tidak apa-apa, aku akan melayani tantangan kalian! Arya kau minggir dulu. Biar mereka merasakan kekuatan jurus dari Kuil Keabadian," ucap Mahesa sambil memasukkan Pedang Giok iblis ke dalam sarungnya.

Wongsopati sedikit terkejut setelah Mahesa mengucapkan nama kuil Keabadian. Sedikit banyak dia pernah mendengar tentang nama kuil yang berdiri di puncak gunung Arjuno tersebut. Dan seingatnya, ketua Kuil Keabadian memiliki senjata pusaka berbentuk pedang berwarna hijau dan memancarkan sinar berwarna hijau terang.

Wongsopati akhirnya menyadari, pantas saja jika kekuatan tenaga dalamnya masih berada di bawah lelaki tampan itu. Sebab yang dia hadapi adalah ketua kuil tertua di daratan Jawadwipa.

Arya menganggukkan kepalanya lalu pergi menjauh. Dia juga ingin mengetahui lebih jauh bagaimana jurus dari Kuil Keabadian.

"Apa kalian sudah siap?" Kedua jari tangan Mahesa membentuk cakar, tampaknya jurus cakar Naga akan digunakannya untuk melawan kedua sosok di depannya itu.

Secara perlahan, kedua jari tangan ketua Kuil Keabadian itu mengeluarkan aura sinar kehijauan. Sejak menjadi ketua Kuil Keabadian, Mahesa berhasil mengkombinasikan jurus Cakar Naga dengan Energi Giok iblis miliknya. Dan hasilnya, sambaran cakarnya akan bisa membuat sosok yang terkena membeku seketika.

"Sombong!" teriak Joyorono. Sosok yang memiliki tubuh lumayan tinggi dan berambut ikal itu melesat mendahului menyerang. Serangan kedua tangannya begitu gesit dan liar berusaha membuka celah pertahanan Mahesa.

Sama seperti ketika dulu berkelana bersama Ranu, Mahesa belum berusaha untuk memberikan serangan balik. Dia hanya melakukan tangkisan dan menghindari serangan yang mengincar setiap titik vitalnya. Selain itu, Mahesa juga mempelajari titik lemah jurus yang digunakan Joyorono.

Joyorono mendengus kesal. Jurus Jari Iblis yang digunakannya tidak berhasil mengenai sasarannya, meski sudah puluhan kali dia mencoba menyerang

Tak berselang lama, Wongsopati yang melihat Joyorono gagal menyarangkan serangannya, turut bergabung dalam pertarungan.

Situasi menjadi sedikit berimbang. Kombinasi serangan sepasang pendekar Jari Iblis secara perlahan bisa memberi tekanan kepada Mahesa, meski sejauh ini Mahesa hanya menghindar dan menangkis saja.

"Apa kalian berdua tahu kelemahan terbesar kalian?" Mahesa menarik kepalanya sedikit ke belakang menghindari sambaran jari tangan Wongsopati sekaligus menangkis serangan Joyorono yang mengincar perutnya.

Sepasang pendekar Jari Iblis itu tak menggubris ucapan Mahesa. Mereka terus memberikan tekanan tanpa memberi jeda sekalipun kepada Mahesa, walau untuk sekedar menarik napas.

"Kelemahan kalian adalah ambisi untuk mengalahkan lawan dengan cepat. Tapi sayang kalian tidak bisa membaca kemampuan lawan kalian," lanjut Mahesa.

"Banyak bicara kau!" hardik Joyorono. Emosi lelaki bertubuh tinggi itu terus meningkat seiring serangan mereka berdua yang terus gagal.

"Sekarang giliranku!" seru Mahesa. Dia telah menemukan titik lemah kedua lawannya.

Jari tangannya yang membentuk cakar menyusur deras mengincar perut Joyorono. Akan tetapi lelaki bertubuh tinggi itu masih berhasil menghindarinya.

Tanpa diduga Wongsopati, serangan yang dilakukan Mahesa kepada Joyorono ternyata hanya sekedar pengalihan saja, jari tangan kiri Mahesa ternyata sudah menyasar dadanya di saat Joyorono menghindar.

Wongsopati berusaha menarik tubuhnya, namun dia sedikit terlambat sehingga Sambaran cakar Mahesa mengenai bahu kirinya.

"

Aaaakh!

Secara perlahan, Wongsopati merasakan hawa yang begitu dingin mengalir di bahu kirinya. Dia juga sulit untuk menggerakkan tangan kirinya yang tiba-tiba saja seperti membeku.

Mahesa menggelengkan kepalanya. "Jangan lengah ketika bertarung!"

Wongsopati menggeram. Dia berusaha mengalirkan tenaga dalamnya untuk mencairkan kebekuan yang menyerang tangan kirinya. Namun usahanya sia-sia saja, karena tangan kirinya tetap beku dan tak bisa digerakkan.

"Sial!" umpatnya dalam hati. Kini dia hanya memiliki tangan kanan saja yang bisa digerakkan, dan itupun menurutnya tak akan bisa membantunya bertahan lebih jauh.

Di saat Mahesa melayani serangan Joyorono, Wongsopati akhirnya mencabut kembali pedangnya. Dia merasa tidak mungkin menggunakan jurus Jari Iblis hanya dengan satu tangan, jadi hanya pedangnya yang menjadi opsi baginya untuk bisa menyerang.

Dengan cepat Wongsopati berusaha membopong Mahesa dari belakang, namun tiba-tiba pedangnya seperti membentur tembok tebal, padahal dia yakin ujung pedangnya sudah mengenai punggung Mahesa.

Sebuah tendangan diarahkan Mahesa dan mengena dengan telak di perut Wongsojati. Lelaki bertubuh tidak terlalu pendek namun sedikit kekar itu terhuyung-huyung ke belakang, lalu terjungkal dengan keras menghujam tanah.

"Tidak mungkin! Apa yang telah melindunginya?" Tangan kanan Wongsopati bergetar kuat akibat benturan tersebut.

Tanpa diketahui Wongsopati, Perisai Giok Iblis bereaksi melindungi tubuh Mahesa dari serangan yang dilepaskannya.

Mahesa melirik sebentar ke arah Wongsopati yang masih tergeletak di tanah, selepas itu dia meneruskan serangannya mencecar pertahanan Joyorono.

"Cakar Naga Iblis!" Mahesa melompat tinggi lalu menyusur cepat mengincar kepala Joyorono yang terbuka lebar. Namun sebelum serangannya sampai, Mahesa tiba-tiba menarik serangannya, dan bergerak menyamping lalu menyambarkan cakarnya ke punggung Joyorono.

Tak menyangka serangan lawannya berubah arah, Joyorono hanya bisa pasrah punggungnya terkoyak lebar. Namun anehnya tidak ada darah sama sekali yang keluar dari luka koyak itu. Hanya rasa dingin menusuk tulang yang mengalir cepat ke sekujur tubuh Joyorono.

Mahesa berdiri 4 langkah jauhnya dari tubuh Joyorono yang membeku. Dia masih ingin mengamati hasil dari jurus yang sudah dikombinasikannya dengan energi Giok Iblis.

Kesadaran Joyorono perlahan menghilang. Tubuhnya kaku seperti patung dan tidak ada gerakan sama sekali yang bisa dilakukannya. Beberapa saat kemudian, ajal pun menjemputnya dengan tubuh tetap berdiri tegak bagai patung.

Mahesa mengalihkan pandangannya ke arah Wongsopati yang sudah berdiri kembali. "Sekarang giliranmu menyusulnya ke alam baka!"

Ketua Kuil Keabadian itu mencabut pedang Giok Iblis yang tergantung di punggungnya. Dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya, serangan energi dilepaskannya dari jarak jauh.

"Pedang Penebas Embun!"

Sebuah cahaya kehijauan melesat cepat menembus tubuh Wongsopati tanpa bisa dihindari. Awalnya, Wongsopati merasa tubuhnya baik-baik saja, namun sedetik berikutnya, tubuhnya terpotong menjadi dua bagian dan terjatuh menghempas tanah.

Dari jarak sedikit jauh, Arya membelalak lebar melihat jurus yang dikeluarkan Mahesa. Rasa kagum kembali muncul dalam pikirannya. Dia sedikit punya pertanyaan di benaknya, jika kekuatan pamannya saja seperti itu, bagaimana dengan ayahnya? Pantas ayah mendapat julukan pendekar legenda, gumamnya.

Pemuda berambut merah itu berjalan mendekati Mahesa yang sudah berhasil membunuh kedua lawannya. "Paman, ajari aku jurus yang tadi?"

Mahesa mengernyitkan dahinya menatap Arya. "Kau memiliki pedang langit yang kekuatannya jauh di atas pedangku ini, kenapa masih ingin belajar dariku?"

Arya terkekeh pelan. Bukannya dia tidak tahu tentang kekuatan pedang langit, tapi dia ingin mempelajari serangan yang bahkan tidak menimbulkan suara sama sekali, seperti yang Mahesa baru saja praktekkan.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!