Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Balik Segel
Suasana pesta akhirnya melandai saat rembulan mencapai puncaknya, menyisakan aroma lilin yang mulai habis dan sisa-sisan anggur di dasar gelas. Sesuai perintah Ratu, Ares terpaksa menuntun Ciara menuju taman gantung. Mereka berjalan bersisian, namun jarak di antara mereka terasa seperti jurang yang tak berujung. Hanya suara gesekan gaun sutra Ciara di atas lantai marmer yang memecah keheningan malam.
"Kau membenciku, bukan?" Suara Ciara memecah kesunyian saat mereka sampai di balkon yang menghadap ke lembah Sanjaya. Ia tidak menoleh, matanya tetap menatap hamparan lampu kota di bawah sana.
Ares berhenti, menyandarkan sikunya pada pagar pembatas batu yang dingin. "Aku tidak punya cukup energi untuk membencimu, Putri. Aku hanya membenci cara dunia ini bekerja. Kita hanyalah dua bidak yang dipindahkan oleh tangan-tangan tua yang takut akan kehilangan kekuasaan."
Ciara terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar getir. "Setidaknya kau punya pilihan untuk menjadi bidak yang memberontak. Sedangkan aku? Aku adalah piala yang sudah dipoles sejak lahir untuk diletakkan di atas mejamu."
Ares menoleh, menatap wajah profil Ciara yang tampak pucat di bawah sinar bulan. Ada kejujuran yang jarang ia temukan pada bangsawan lain, namun sebelum ia sempat menanggapi, rasa panas yang menyengat tiba-tiba menyerang lengan kirinya. Ia meringis, secara refleks mencengkeram lengannya sendiri.
"Pangeran Ares? Ada apa?" Ciara melangkah mendekat, wajahnya menunjukkan gurat kecemasan yang tulus.
"Bukan apa-apa. Hanya luka lama yang berdenyut," dusta Ares dengan napas yang mulai memburu. Di balik lengan bajunya, rune kuno itu mulai berpendar merah, seolah-olah sedang menghisap kehangatan dari kulitnya.
Di saat yang sama, di bawah bayang-bayang pohon cemara yang rimbun di tepi taman, Naomi berdiri mematung. Ia telah membuntuti mereka sejak meninggalkan aula. Dari posisi ini, ia bisa melihat Ares yang kesakitan dan Ciara yang mencoba menyentuhnya.
"Jangan sentuh dia dengan tangan kotormu," desis Naomi. Amarah yang sedari tadi ia tahan kini berubah menjadi energi dingin yang aneh.
Tanpa ia sadari, tangannya meraba sebuah simbol yang terukir di salah satu pilar kuno di sudut taman, simbol yang hampir sama dengan yang ada di lengan Ares. Sejak kecil, Naomi sering bermain di sini dan merasa memiliki koneksi aneh dengan ukiran-ukiran tua ini. Saat ujung jarinya menyentuh lekukan batu itu, sebuah bisikan seolah merayap masuk ke dalam pikirannya.
Darah dibalas darah. Rune yang tertidur menanti pemicunya.
"Naomi! Apa yang kau lakukan di sini?!"
Suara bentakan ayahnya, yang entah bagaimana bisa menemukannya, membuat Naomi tersentak. Ayahnya menarik lengan Naomi dengan kasar, menyeretnya menjauh dari area taman gantung.
"Sudah kukatakan jangan keluar! Kau ingin kita semua dihukum?" ayahnya berbisik dengan nada penuh ketakutan.
Naomi meronta, matanya masih terpaku pada sosok Ares di kejauhan. "Ayah, dia kesakitan! Ares kesakitan karena perempuan itu!"
"Diam kau!" Ayahnya menampar pipi Naomi dengan pelan namun tegas, cukup untuk membuatnya terdiam. "Dia adalah Pangeran, dan kau hanyalah debu di bawah kakinya. Pahami posisimu sebelum kau menghancurkan kita semua!"
Di balkon, Ares berhasil menenangkan denyut di lengannya setelah menjauhkan diri dari jangkauan Ciara. Ia merasa ada sesuatu yang mengawasinya dari kegelapan taman, sesuatu yang emosional dan penuh luka.
"Kau harus istirahat, Putri," ujar Ares dengan suara yang kembali datar. "Perjalananmu jauh, dan esok akan ada upacara pertukaran janji awal."
Ciara menatap Ares lama, seolah ingin menembus dinding pertahanan pria itu. "Kau menyembunyikan sesuatu, Pangeran. Sesuatu yang lebih dari sekadar ketidaksukaan pada perjodohan ini. Aku bisa merasakannya."
Ares tidak menjawab. Ia hanya membungkuk singkat sebelum berbalik pergi, meninggalkan Ciara sendirian di bawah cahaya bulan. Saat ia melewati lorong menuju kamarnya, ia berpapasan dengan Naomi yang sedang diseret ayahnya menuju sayap pelayan.
Mata mereka bertemu selama satu detik. Di mata Naomi, Ares melihat api pemberontakan yang sama dengan yang ia rasakan.
Namun di mata Ares, Naomi melihat kesepian yang mendalam. Ares ingin berhenti, ingin menanyakan mengapa mata gadis itu sembab, tapi protokol dan penjaga yang berdiri di sepanjang koridor memaksanya untuk terus berjalan seolah-olah Naomi hanyalah bagian dari dekorasi dinding.
Malam itu, di kamar masing-masing, tiga hati terjebak dalam perangkap yang berbeda. Ares dengan kutukan di lengannya, Ciara dengan tuntutan takhtanya, dan Naomi dengan dendam yang mulai mengakar di dalam jiwanya. Rahasia besar Kerajaan Sanjaya bukan lagi tentang siapa yang akan menikah dengan siapa, melainkan tentang kapan rune itu akan bangkit dan menuntut tumbal pertamanya.