NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Iblis

"Kak, kita... sedang di mana ?"

Aluna berdiri dengan tubuh gemetar di luar gerbang sebuah vila megah. Ia menarik-narik ujung kemeja Rendra dengan raut wajah cemas.

Rendra tidak menyahut. Pria itu mengabaikan ketakutan adiknya dan terus menarik lengan Aluna untuk melangkah masuk, menyusuri koridor taman yang panjang, hingga akhirnya tiba di ruang tamu utama.

Begitu mata Aluna menangkap sosok pria yang sedang duduk di sana, matanya seketika membelalak ngeri. "Gavin?"

Pria itu bersandar santai di sofa dengan sebatang rokok menjuntai di bibir. Dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka. Cahaya dari lampu gantung kristal di atas kepala memantulkan kilau di rambutnya yang kecokelatan, membingkai wajahnya yang tampan.

Namun bagi Aluna, pria ini tidak lebih dari seekor iblis.

Gavin mengembuskan asap rokoknya perlahan, menyamarkan ekspresi wajahnya, lalu berucap dengan lirih, "Aluna, sudah lama kita tidak bertemu."

Rentetan memori kelam dan mengerikan langsung berputar di benak Aluna begitu mendengar suara itu. Rasa takut yang menjalar membuat tangan dan kakinya terasa sedingin es.

Dulu, saat Gavin dan ibunya pertama kali menginjakkan kaki di rumah keluarga Aluna, Gavin bersikap layaknya seorang kakak yang begitu hangat. Namun, segalanya berubah total setelah pria itu kembali tinggal bersama ayah kandungnya.

Melihat Aluna yang mematung, Rendra segera menyenggol lengannya. "Kenapa malah berdiri di situ? Cepat duduk di samping Ka Gavin."

Sambil berkata demikian, Rendra melangkah maju dan berusaha menarik Aluna ke arah sofa.

"Tidak mau." Aluna menahan kakinya kuat-kuat pada marmer lantai. Ia menolak bergerak, tidak peduli seberapa keras sang kakak memaksanya.

Ia lebih memilih mati daripada harus berada dalam jarak sedekat itu lagi dengan Gavin.

Gavin memperhatikan pergelangan kedua bersaudara itu dengan sorot mata yang tenang, lalu kembali menghisap rokoknya. "Tidak apa-apa. Selama Aluna merasa nyaman, dia boleh duduk di mana saja."

Rendra tampak gugup. Ia menggertakkan gigi dan berbisik tajam, "Dengarkan kakak! Bibi pernah bercerita bahwa sejak kecil kamu selalu ingin menjadi istri Gavin. Cepat duduk di sebelahnya!"

Tanpa memedulikan penolakan, Rendra menarik paksa Aluna dan mendudukkannya tepat di samping Gavin. "Kalian berdua begitu lekat saat masih kanak-kanak, mengapa sekarang justru bersikap asing begini?"

Aluna kehilangan keseimbangannya sesaat. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh ke belakang. Dengan kaku, ia menyahut, "Kami selalu menjaga jarak."

Sebuah telapak tangan yang besar dan terasa hangat tiba-tiba mendarat di pinggang rampingnya. Aluna tersentak kaget.

Punggungnya menegang dengan kaku seketika. Namun, sebelum ia sempat menjauh, pria di sampingnya justru terkekeh rendah. "Benarkah demikian?"

Aroma maskulin yang samar dari tubuh Gavin langsung menyergap indra penciuman Aluna.

Pada saat yang sama, seorang pelayan datang membawa beberapa botol anggur merah. Gavin mengerutkan kening, menyiratkan rasa tidak suka. "Bawakan juga segelas jus jeruk."

Merasakan tatapan tajam yang seolah ingin menguliti punggungnya, Aluna hanya ingin segera angkat kaki dari tempat ini bersama Rendra.

Tak lama, segelas jus jeruk lengkap dengan sedotan disodorkan ke hadapannya.

"Habiskan," kta Gavin, suaranya terdengar berat tepat di sisi telinga Aluna.

Aluna menerimanya dengan gerakan kaku, memanfaatkan momen itu untuk bergeser beberapa senti untuk menjauh. Gavin menaikkan sebelah alisnya, mengamati pergerakan kecil tersebut tanpa melontarkan sepatah kata pun.

Di tengah siksaan batin, Aluna hanya tertunduk membisu, mendengarkan Rendra dan Gavin yang mulai bertukar basa-basi.

Tatapan intens dari pria di sampingnya terus mengunci pergerakannya, membuat atmosfer di sekitar terasa semakin menyesakkan.

Hingga akhirnya, Rendra membuka suara,

"Karena semua persyaratan yang Anda ajukan sangat baik, saya merasa lega memercayakan Aluna kepada Anda. Kebetulan saya ada urusan mendesak setelah ini, jadi saya mohon pamit..."

Sebelum kata "pamit" itu selesai diucapkan, kesabaran Aluna langsung runtuh. Ia berteriak histeris,

"Apa maksudmu, Kak?! Siapa yang bilang aku akan tinggal di sini? Aku mau pulang!"

Raut penyesalan dan rasa malu terlintas sekilas di wajah Rendra. "Ayah yang meminta agar kamu tinggal bersama Gavin untuk sementara waktu..."

"Mustahil! Ayah tidak akan pernah tega melakukan itu!" Aluna bangkit berdiri dengan mendadak. "Aku akan menanyakannya langsung pada Ayah!"

Aluna berlari sekencang mungkin menuju pintu utama bagai orang kesurupan. Namun, para pelayan di sekitar ruangan bergerak lebih cepat dan langsung mengunci pintu sebelum Aluna berhasil mencapainya.

"Buka! Lepaskan aku!" Seluruh tubuh Aluna mulai bergetar hebat. Ia memukul dan menendang daun pintu kayu yang kokoh itu dengan frustrasi, berteriak sekencang-kencangnya ke arah luar.

Namun, tidak ada satu pun yang bergeming.

Gavin mematikan puntung rokoknya pada asbak, lalu menatap Rendra dengan dingin.

"kau boleh pergi sekarang. Biar saya yang menangani ini."

Aluna menggelengkan kepalanya kuat-kuat, air mata keputusasaan langsung merebak di pelupuk matanya. "Jangan! Kak Rendra, aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian di sini!"

Dengan kepanikan yang semakin memuncak, ia mencoba berbalik untuk menggapai Rendra, namun sang kakak telah melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Gavin berjalan perlahan mendekati Aluna yang terpaku di depan pintu, lalu membungkuk tipis untuk berbisik di lehernya, "Aluna."

Aura dingin yang menguar dari tubuh Gavin membuat Aluna tersentak. Ia mencoba melarikan diri, namun dengan gerakan kilat, Gavin dengan mudah mengunci pinggang rampingnya dalam satu dekapan.

"Lepas! Jangan sebut namaku dengan mulutmu itu! Aku muak!" Karena tidak ada lagi celah untuk menghindar, Aluna menjerit histeris dan mulai meronta dengan brutal.

"Muak?"

Detik berikutnya, Gavin mencengkeram kedua pergelangan tangan Aluna dengan satu tangan, sementara lututnya menekan paha Aluna ke dinding, mengunci seluruh pergerakan gadis itu tanpa ampun.

"Dasar bajingan!" Aluna gemetar semakin hebat di bawah kukungan Gavin.

"Ya, aku memang bajingan." Jari-jari panjang Gavin perlahan naik menelusuri lekuk wajah Aluna, membelai bibir merah yang bergetar itu dengan lembut. Suaranya berubah parau. "Aku ingin menciummu."

"Jangan gila..." Air mata Aluna menetes, giginya bergeletuk karena rasa takut. "Kamu... kamu sudah gila."

Gavin mengusap tubuh indah yang sedang gemetar dalam pelukannya, lalu menundukkan wajah hingga hidung mereka saling bersentuhan. "Bukankah sejak lama kamu sudah tahu seberapa gilanya aku?"

"Apa kamu tidak takut jika ibumu tahu tentang hal ini?" Setetes air mata keputusasaan kembali meluncur membasahi pipi Aluna.

Gerakan Gavin langsung terhenti. Ekspresi wajahnya menggelap seketika, menyiratkan kilat kemarahan. "Jangan pernah sebut-sebut nama wanita itu di hadapanku."

Aluna menggertakkan giginya, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya di tengah kepungan sesak itu. "Sebenarnya... apa yang kamu inginkan dariku?"

Gavin menatap lurus ke dalam netra Aluna, mengikis jarak yang tersisa sebelum berbisik dengan nada rendah, "Aku ingin memiliki anak bersamamu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!