NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Dibeli

Jodoh Yang Dibeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Q Lembayun

Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.

Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.

Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.

Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama melayani Tuan

Wajah sumringah pengasuhnya saat menghitung uang membuat Arla merasa sedikit miris. Seandainya saja orang tuanya datang, mungkin kini ia bisa memeluk mereka dengan erat, lalu pulang menuju rumah yang selalu ia bayangkan setiap malam. Namun, sepertinya dibeli oleh laki-laki yang ada di sebelahnya juga tidaklah buruk. Wajahnya tampan, dan pengasuhnya mengatakan bahwa laki-laki ini tidak memiliki temperamen yang meledak-ledak atau kasar. Hal itu membuat Arla merasa sedikit lebih lega.

Mereka saling menjabat tangan sebagai bentuk simbolis dari kesepakatan, tanda bahwa transaksi telah selesai. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa Arla kini resmi menjadi milik laki-laki yang berdiri di hadapannya.

Laki-laki itu kemudian menggenggam tangan Arla dan membawanya menuju mobil.

Ekspresinya tetap datar, dan ia menatap Arla dengan pandangan acuh tak acuh.

“Namaku Abimana, umurku 30 tahun, dan aku seorang dokter. Hari ini seharusnya aku memperkenalkan seorang calon istri kepada nenek dan keluarga besarku, tetapi kami baru saja putus beberapa saat lalu karena dia berselingkuh. Aku membeli mu untuk menjadi istriku sekaligus tameng agar keluargaku berhenti menggangguku dengan ancaman pernikahan.”

Mendengar hal tersebut, Arla terdiam sejenak. Dalam dunia mereka, seorang ‘penghibur’ memang selalu memiliki alasan yang berbeda-beda di balik pembelian mereka. Namun, kebanyakan alasan yang pernah ia dengar adalah untuk pemuas nafsu atau alat untuk menghasilkan keturunan. Ini pertama kalinya Arla mendengar seseorang membeli wanita penghibur untuk dijadikan istri.

“Kenapa kamu tidak mencari wanita yang baik-baik saja untuk dijadikan istri?”

Abimana sempat mengira Arla akan menanyakan hal seperti bayaran atau uang. Namun di luar dugaan, gadis ini justru penasaran pada alasan mengapa ia dijadikannya istri.

“Alasannya sangat jelas. Gadis baik-baik sulit dicari, dan aku membutuhkannya malam ini. Lagipula kamu tidak buruk. Kamu cantik dan masih muda. Aku juga dengar kalian dibesarkan dengan cukup baik dan tidak diizinkan melayani laki-laki lain sebelum usia 18 tahun. Jadi bisa dibilang kamu masih ‘bersih’, karena kebetulan aku tidak suka barang bekas orang lain.”

Arla yang mendengar itu tidak merasa tersinggung. Bagaimanapun, ia sudah terbiasa dinilai seperti sebuah komoditas. Kata ‘bekas’ maupun ‘baru’ terdengar seperti label barang, namun ia bisa memahami itu dengan cukup tenang. Setelah mendengar jawaban jujur Abimana, ia pun mengangguk dan mengulurkan tangan.

“Perkenalkan, namaku Arla. Aku berumur 18 tahun.”

Mereka pun bersalaman sebagai bentuk perkenalan pertama—pertemuan antara pelayan dan tuannya.

Sepanjang perjalanan, Abimana menjelaskan kondisinya. Ia seharusnya memperkenalkan seorang gadis kepada nenek dan keluarga besarnya. Ia sebenarnya sudah memiliki pacar dan berencana memperkenalkannya sebagai calon istri. Namun di luar dugaan, pacarnya berselingkuh, sehingga ia harus mencari pengganti secepat mungkin.

Keluarganya cukup cerewet dan sudah lama mendesaknya untuk menikah. Hal itu wajar, mengingat usia Abimana sudah dianggap matang untuk membina rumah tangga.

Abimana sendiri dikenal sebagai pribadi tertutup dengan citra dingin. Karena itu, keluarganya bahkan sempat mengira ia tidak tertarik pada perempuan, yang membuat tekanan untuk menikah semakin kuat.

“Kondisiku sederhana. Aku hanya butuh seorang istri yang pendiam dan tidak banyak tingkah untuk meredakan desakan keluarga besar. Nanti saat bertemu keluargaku, kamu cukup bersikap malu-malu, dan aku yang akan mengarang cerita tentang hubungan kita agar terlihat masuk akal. Usiamu yang masih muda juga akan jadi alasan kenapa aku baru memperkenalkan mu sekarang.”

Arla mengangguk. Ia tidak memiliki keluhan apa pun. Lagi pula, ia merasa cukup beruntung dibeli oleh laki-laki yang terlihat ‘normal’, tidak memiliki kebiasaan aneh atau obsesi seksual berlebihan. Ia hanya perlu mengikuti perintah.

“Aku mengerti.”

Saat mereka tiba, Abimana membukakan pintu mobil untuk Arla layaknya seorang pria yang memperlakukan kekasihnya dengan sopan. Sebagai laki-laki dewasa, ia tampak cukup berpengalaman. Ia menggenggam tangan Arla dan memberi sedikit instruksi.

“Jangan lupa pasang wajah malu-malu, sedikit takut, dan terlihat bergantung padaku. Itu akan membantumu menghindari pertanyaan aneh dari keluargaku.”

Mendengar itu, Arla sedikit membungkukkan tubuhnya dan memeluk lengan Abimana lebih erat, seolah ia benar-benar gugup dan takut menghadapi keluarga pria itu untuk pertama kalinya.

Melihat Arla yang cepat beradaptasi dan menjalankan instruksinya dengan baik, Abimana merasa puas. Arla cukup pintar dan tenang, sangat sesuai dengan yang ia inginkan. Tidak heran jika dia disebut sebagai gadis paling mahal di tempat itu—dan Abimana merasa keputusannya tidak sia-sia.

Saat keduanya masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju pada Arla dengan tatapan intens. Mereka adalah keluarga Abimana yang sudah lama menantikan momen ia membawa kekasih pulang. Jujur saja, mereka tidak terlalu percaya dengan ucapan Abimana yang katanya memiliki pacar dan akan menikah. Citra Abimana sebagai pria gila kerja sudah melekat kuat, membuat mereka mengira ia bahkan tidak sempat berkencan.

Namun, dugaan itu tampaknya salah. Abimana benar-benar datang membawa seorang wanita. Wanita itu sangat cantik, tetapi terlihat terlalu muda, bahkan perbedaan tinggi badan membuatnya tampak seperti anak kecil.

Mereka pun mendekat dengan antusias, tersenyum lebar seolah menyambut keajaiban yang telah lama dinantikan.

“Apakah ini pasangan Abimana? Cantik sekali dan manis juga,” ucap seorang bibi sambil mengelus pipi Arla dengan gemas.

Arla yang merasa tidak nyaman segera menghindar dan bersembunyi di belakang punggung Abimana. Gerakan itu membuatnya terlihat polos, seolah mencari perlindungan dari ‘kekasihnya’. Abimana tersenyum puas melihat reaksi itu—semuanya berjalan sesuai instruksinya.

“Bibi, kamu membuat kekasihku takut.”

“Oh, maafkan Bibi. Kami terlalu antusias, ini pertama kalinya kami melihatmu membawa gadis ke rumah.”

Arla dan Abimana kemudian dipersilakan duduk di ruang makan. Di sana sudah hadir bukan hanya para bibi dan paman, tetapi juga seorang wanita tua yang menjadi kepala keluarga—nenek Abimana.

Wanda sudah lama mendengar gosip bahwa cucu kesayangannya tidak menyukai perempuan dan mungkin memiliki ketertarikan lain. Hal itu membuatnya sering mendesak Abimana untuk segera menikah, karena ia takut tidak akan pernah melihat cicit dari garis keturunan darinya. Namun kini, dugaan itu tampaknya salah. Abimana benar-benar membawa seorang wanita—meski terlihat sangat muda.

“Jangan salahkan bibimu, pacarmu memang sangat cantik dan terlihat muda. Wajar saja kalau dia jadi gemas.”

Melihat situasi itu, Abimana tiba-tiba menyimpan niat kecil yang licik—sekadar untuk “membalas” keluarganya yang terus mendesak pernikahan.

“Pacarku memang masih muda. Dia baru berumur 18 tahun, bahkan baru saja mendapatkan KTP hari ini."

Suasana langsung hening.

Semua orang menatap Arla yang masih bersembunyi di balik lengan Abimana, lalu menatap kembali ke arah Abimana seolah mereka baru saja melihat sesuatu yang berbahaya.

“Abimana, ikut aku ke ruang kerja!” ucap sang nenek dengan nada marah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!