Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahan Penguasa Surgawi
Di kedalaman terdalam dari Istana Naga Danau Emas, waktu kehilangan otoritasnya. Tidak ada hembusan angin, apalagi suara kehidupan. Di Ruang Pengasingan ini, hanya ada keheningan yang begitu pekat dan berat, sebuah gravitasi spiritual yang cukup untuk menghancurkan tubuh seorang kultivator tingkat tinggi menjadi kabut darah hanya dengan satu pijakan kaki.
Ruangan ini tidak dibangun menggunakan emas fana atau permata rendahan. Dinding-dindingnya dibentuk dari intisari sebuah alam semesta besar yang telah mati, memancarkan pendar biru gelap yang menekan jiwa dan menyerap segala bentuk cahaya.
Di tengah ruangan itu, di lantai cermin hitam surgawi yang permukaannya segelap obsidian, duduklah seorang pria.
Wu Xuan.
Sosok dao agung. Eksistensi yang telah menginjak puncak tertinggi dari alam surgawi—hanya satu helaan napas lagi—untuk menembus batas surgawi dan melangkah ke alam para dewa.
Rambut emasnya berkibar panjang, menentang hukum fisika, memancarkan aura suci yang menyilaukan sekaligus mematikan. Baju putihnya yang ditenun sempurna tanpa cela, jatuh dengan elegan. Wajahnya memahat ketenangan seorang penguasa. Rahangnya tegas, matanya terpejam dalam meditasi, dan bibirnya menyiratkan garis lurus yang tidak mentolerir kelemahan.
Jika ada kultivator alam bawah yang melihatnya saat ini, mereka akan langsung berlutut, menangis dalam ekstasi karena menatap wujud dari kesempurnaan mutlak.
Wu Xuan bukanlah pahlawan berhati suci, namun juga bukan monster haus darah yang membantai tanpa alasan. Ia berdiri di antara cahaya dan kegelapan, melangkah sesuai arah keuntungan yang paling menguntungkan dirinya.
Baginya, keuntungan adalah hukum tertinggi. Moral, kenaifan, dan kepolosan hanyalah rantai tak kasatmata yang membelenggu banyak orang hingga hancur oleh dunia yang kejam. Ia tidak percaya pada kebaikan tanpa imbalan, maupun kejahatan tanpa tujuan.
Jika menyelamatkan sebuah dunia memberinya manfaat, maka ia akan menjadi penyelamat yang dipuja melebih pahlawan. Namun jika menghancurkan jutaan nyawa membuka jalan menuju puncak kekuasaan, maka ia akan melakukannya tanpa keraguan sedikit pun.
Dan Sebelum ia dihormati dan ditakuti sebagai Dao Agung, ia adalah seorang manusia.
Di bumi, ia adalah seorang mahasiswa jenius dengan tiga gelar mayor sekaligus: hukum, manajemen diplomasi, dan tata kelola pemerintahan. Sebagai putra tunggal dari keluarga konglomerat nomor satu di Tiongkok, ia dididik sejak kecil untuk membaca wajah, memanipulasi celah hukum, dan menghancurkan lawan tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.
Dua tahun lalu, saat ia terlempar ke dunia kultivasi yang kejam ini, ia tidak menangis atau mengutuk nasib. Dunia ini mengagungkan kekuatan, namun bagi otak jenius Wu Xuan, ini hanyalah papan permainan dengan aturan lebih tinggi dari bumi.
Namun, di balik semua kekayaan, kekuatan dan kekuasaan ini, ada satu masalah di dalam pondasi jiwanya. Sebuah retakan kecil yang tertanam jauh di kesadaran terdalamnya—retakan yang bahkan tidak mampu ditutup oleh kekuatan sebesar apa pun.
Sebuah hutang karma.
Mata emas Wu Xuan perlahan terbuka. Gelombang energi meledak tanpa suara, membuat realitas di bawahnya beriak keras.
Di bumi, ia meninggalkan kedua orang tuanya. Orang tua yang mendidiknya dengan penuh kasih, yang merawatnya, dan yang membentuk pola pikir rasionalnya.
Ajaran mereka adalah satu-satunya hal di semesta ini yang tidak bisa ia bayar dengan apapun.
"Betapa konyolnya…" gumam Wu Xuan pelan. Suaranya berat dan sedingin es, namun mengandung ketenangan yang menekan jiwa.
"Bahkan setelah memperoleh kekayaan, kekuasaan, dan kekuatan sebesar ini… rasa bersalah ini masih menghantuiku."
Tatapannya perlahan meredup, seolah menembus ruang dan waktu menuju dunia yang telah lama ia tinggalkan.
"Aku menghilang tanpa jejak… dan tidak mungkin aku membiarkan Ayah dan Mama terus hidup dalam kesedihan, mencariku hingga akhir hayat mereka."
Wu Xuan mengangkat tangan kanannya.
Di hadapannya, ruang hampa mulai bergetar hebat. Partikel-partikel spiritual paling murni, dipadukan dengan energi dari Akar Spiritual miliknya, perlahan berkumpul dan memadat membentuk sebuah cetakan kehidupan.
Tulang-tulang ditempa langsung dari hukum realitas. Darah diciptakan dari air kehidupan paling murni, sementara daging dirajut lapis demi lapis oleh untaian energi penciptaan tingkat tinggi yang berdenyut seperti denyut alam semesta.
Setiap helai energi yang terbentuk memancarkan aura kedaulatan yang agung, seolah sebuah eksistensi baru sedang dilahirkan langsung oleh tangan para dewa pencipta.
Wu Xuan tidak sedang memanipulasi elemen fana; ia sedang merobek tatanan takdir.
Ia lalu menarik sebuah benang tak kasat mata dari dalam inti jiwanya. Itu adalah untaian identitas masa lalunya. Cahaya keemasan dan merah darah berputar liar di depannya, menenun darah, tulang, dan daging dari intisari ruang dan waktu.
Dalam puluhan napas, sebuah sosok berdiri di atas lantai cermin, berhadapan langsung dengan Wu Xuan.
Itu adalah wujud dirinya yang lain. Wujud yang sama persis dengan tubuh aslinya saat ia masih menghirup udara di bumi.
Tingginya 188 sentimeter. Posturnya tegap, rileks, memancarkan karisma aristokrat yang terbiasa menguasai meja negosiasi. Rambutnya hitam legam, dipotong rapi dengan gaya modern. Wajahnya sangat tampan, memiliki garis rahang tajam, dengan sepasang mata hitam kecoklatan yang gelap, hidup, dan penuh dengan kalkulasi. Usianya 24 tahun. Sebuah wujud fana yang telah lama ia tinggalkan.
Tubuh itu mengenakan setelan jas hitam lengkap, baju terakhir yang ia kenakan, dipadukan dengan celana panjang hitam elegan.
Keduanya kini saling bertatapan.
Satu adalah dewa emas yang tak tersentuh.
Satu lagi adalah pemuda jenius bumi yang tangannya masuk dengan santai ke dalam saku celana.
Mereka terhubung oleh jembatan kesadaran tertinggi. Mereka adalah pikiran yang sama, beroperasi di dua wadah yang berbeda.
Wu Xuan versi Bumi memiringkan kepalanya sedikit, menatap wujud dao agungnya. Senyum di wajahnya perlahan melebar—senyum tenang, elegan, namun membuat siapa pun merasa seperti sedang diincar oleh predator.
"Rambut emas, jubah bercahaya, dan aura suci?" ucap kesadaran tertinggi-nya, melalui kedua tubuh tersebut, memecah keheningan dengan nada humoris yang renyah. "Kalau orang bumi melihatku, mereka pasti mengira aku sedang bercosplay."
Keduanya tidak memerlukan dialog. Mereka terhubung oleh satu kesadaran yang sama dengan wujud yang berbeda.
Namun, sesaat setelah koneksi kesadaran itu benar-benar stabil, Wu Xuan segera menyadari sebuah masalah besar.
Ruang di sekitar tubuh versi Bumi mulai retak perlahan. Realitas di bawah kakinya mendidih dan menguap hanya karena keberadaannya. Bahkan hukum ruang di Ruang Pengasingan itu bergetar seolah berada di ambang kehancuran.
Meskipun baru saja diciptakan dan terlihat seperti manusia biasa, tubuh tersebut dirajut langsung dari keberadaannya sendiri. Secara pasif, ia memancarkan tekanan eksistensi setara Ranah Kedaulatan Dao Menengah.
Jika wujud itu turun ke Bumi, maka alam semesta tempat planet tersebut berada akan langsung runtuh dan menguap, tak sanggup menahan beban keberadaannya.
Tanpa sedikit pun keraguan, keputusan langsung diambil.
Wu Xuan Dao Agung mengangkat tangannya perlahan, mengaktifkan Otoritas Manipulasi Keberadaan. Seketika, seluruh cahaya surgawi, energi spiritual, dan hukum dao yang mengalir di dalam tubuh pemuda berambut hitam itu ditarik keluar.
Cahaya di matanya meredup. Aura penindasannya lenyap sepenuhnya. Tubuh itu tidak lagi memiliki setetes energi spiritual untuk menggunakan sihir ataupun memanipulasi hukum. Dari fluktuasi kekuatannya, ia kini tampak tidak lebih dari seorang manusia fana biasa.
Namun… "fana" dalam standar tubuh Wu Xuan adalah sesuatu yang sangat melenceng dari akal sehat.
Karena tubuh itu ditempa langsung dari Hukum Realitas, kepadatan selnya, tenunan ototnya, hingga struktur tulangnya berada jauh melampaui batas kehidupan fana.
Tubuh versi Bumi itu perlahan mengepalkan tangan kanannya, lalu melayangkan satu pukulan santai ke udara kosong di Ruang Pengasingan.
ZRAAAAK!!!
BOOOOOOM!!!
Murni dari kekuatan kinetik ototnya, udara di depannya meledak hebat, menciptakan rentetan sonic boom yang menyapu puluhan meter ruang di sekitarnya! Gelombang tekanannya merobek lantai cermin air dan mengguncang dimensi kecil itu hingga beriak liar.
Kekuatan fisik murni semacam itu sudah cukup untuk meremukkan sebuah gunung menjadi serpihan debu hanya dengan satu pukulan. Dan untuk bertahan hidup saat melintasi lorong spasial menuju Bumi… itu lebih dari cukup.
Melalui hukum karma yang tertanam di tubuh versi Buminya, Wu Xuan menarik benang realitas yang terhubung menuju dunia asalnya. Benang-benang tak kasatmata itu melintasi kehampaan realitas, menembus lapisan dimensi dan arus ruang-waktu menuju titik keberadaan yang telah lama ia tinggalkan.
Secara bersamaan, ia mengangkat tangan kanannya perlahan.
"Akar Spiritual Gerbang Tertinggi… aktif."
"Kunci koordinat spasial: Realitas Alam Semesta Origin — Galaksi Bima Sakti — Planet E3006—Nomor 7266— Planet Bumi."
Saat kalimat itu selesai diucapkan, Teknik Realitas langsung dieksekusi.
Simbol-simbol emas kuno bermunculan di udara, berputar seperti roda surgawi raksasa. Setiap rune memancarkan tekanan hukum yang mampu membelokkan ruang itu sendiri. Udara di sekitarnya mulai terkikis dan retak, hingga suara pecahan kaca yang memekakkan telinga menggema ke seluruh Ruang Pengasingan.
KRRRRAAAAKK—!!
Di hadapan Wu Xuan, realitas perlahan terbelah, membuka lorong spasial gelap yang dipenuhi badai kehampaan dan kilatan petir dimensi. Di balik celah itu… samar-samar terlihat sebuah planet biru kecil yang begitu familiar di matanya.
Wu Xuan versi Bumi melangkah maju. Angin dimensi mulai merobek tepian pakaiannya, tapi ia berjalan dengan santai, mengabaikan tekanan mengerikan itu dengan arogansi seorang penakluk.
Wu Xuan versi Bumi melangkah masuk ke dalam lorong spasial itu. Dalam sekejap, tubuhnya langsung melesat menembus kehampaan dengan kecepatan yang melampaui cahaya, karena seluruh pergerakan dan energinya terus terhubung dengan kesadaran tertingginya dari kejauhan.
Lapisan demi lapisan realitas ia terobos tanpa hambatan. Arus kehampaan, badai spasial, dan tekanan kosmik yang mampu menghancurkan makhluk biasa bahkan tidak mampu memperlambat pergerakannya sedikit pun.
Namun, saat ia hanya tinggal selangkah lagi mencapai Galaksi Bima Sakti… tatanan dimensi mulai hancur.
BOOOOOOM!
Suhu di ruang hampa anjlok hingga mencapai titik beku absolut. Badai merah yang mengamuk di sepanjang lorong dimensi terbelah paksa, seolah ditekan oleh kekuatan yang jauh melampaui hukum alam.
Lalu… dari kedalaman kegelapan dimensi, sebuah eksistensi mulai memaksakan kehendaknya untuk memotong jalur portal itu.
Sebuah mata.
Sebuah bola mata merah raksasa yang ukurannya melampaui pemahaman, dipenuhi pembuluh darah hitam yang berdenyut dengan kekacauan murni. Pupilnya menatap langsung ke arah Wu Xuan versi Bumi dengan aura penolakan purba dan niat membunuh yang melampaui logika.
Wu Xuan versi Bumi menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam menyipit. Senyum santainya lenyap, digantikan tatapan predator yang sangat dingin. Otak jeniusnya memproses data ancaman dalam hitungan milidetik.
'Akhirnya… kita bertemu lagi,' batin Wu Xuan.
Baik versi Bumi maupun Dao Agung mengenali entitas itu. Itu adalah anomali kosmik yang sama, entitas yang menyebabkan ia menghilang dari bumi dua tahun lalu dan memindahkan kesadarannya ke dunia kultivasi ini.
"Siapa kau sebenarnya?!" suara Wu Xuan versi Bumi menggema tenang di tengah badai spasial. Alih-alih gemetar ketakutan, senyum tiraninya mengembang. Niat membunuh terpancar pada tubuh fananya itu. "Dan kenapa kau menghalangiku?!"
Sebagai respons atas keberanian manusia itu, pupil mata merah itu menyusut. Gelombang kejut dimensional yang maha dahsyat meledak dari pandangannya.
BLAAARRR!
Hukum kausalitas tingkat dewa di dalam lorong itu dipelintir lalu dihancurkan secara brutal. Gelombang merah menyapu seluruh terowongan dimensi, menghantam ruang dan waktu dengan kekuatan mengerikan yang bahkan mampu memusnahkan ribuan alam surgawi dalam sekejap.
Retakan demi retakan mulai menjalar di sepanjang lorong spasial sebelum akhirnya runtuh sepenuhnya.
BOOOOOOM!!
Lorong itu menghilang tanpa sisa.
Dan pada saat yang bersamaan, koneksi Wu Xuan dengan kesadaran fananya langsung terputus.
Di dalam Istana Naga, Wu Xuan Dao Agung seketika merasakan terputusnya koneksi dengan kesadaran tubuh fananya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ruang di sekitar singgasananya bergetar pelan akibat fluktuasi emosinya.
"Sialan!!" gumam Wu Xuan Dao Agung, matanya bergerak cepat seperti mesin presisi, menganalisis kemungkinan. "Entitas yang menjaga perbatasan dimensi ini masih terlalu kuat untuk kulawan. Jika aku memaksakan perlawanan… maka inti Kesadaran Tertinggiku akan ikut dipertaruhkan."
Tidak ada keraguan. Tidak ada heroisme bodoh yang mendasari keputusannya. Wu Xuan adalah seorang pragmatis yang rasional. Mengorbankan posisi mutlaknya demi wujud fana adalah kerugian yang tidak bisa diterima.
Keheningan kembali merajai Istana Naga Danau Emas.
Wu Xuan Dao Agung menurunkan tangannya perlahan. Ia berjalan kembali menuju singgasananya dengan langkah elegan, wajahnya tidak menunjukkan kepanikan atau penyesalan.
Baginya, kehilangan satu wujud fana sama sekali bukan kerugian. Tubuh semacam itu dapat ia ciptakan kembali sesuka hati, sebanyak yang ia inginkan.
"Terputus di tengah badai dimensi sebesar itu… kemungkinan keselamatan wujud fanaku sangat kecil."
Tatapan Wu Xuan Dao Agung perlahan menjadi dingin.
"Tapi… jika ia berhasil selamat, maka keberadaan itu akan menjadi kartu asku yang lain."
Sudut bibir Wu Xuan terangkat tipis. "Dan saat kesadaran kami kembali terhubung, keberadaan tertinggiku mungkin akan meningkat secara pesat."
Di luar jangkauan pandangan sang dao agung, di balik dimensi yang telah tertutup rapat, badai ruang dan waktu terus mengamuk. Ledakan merah dari entitas kosmik itu telah menyapu bersih segalanya. Kehampaan tercipta di sana.
Akan tetapi, di tengah pusaran kegelapan dimensi yang tak berujung itu, seutas benang karma bumi yang sangat tipis dan transparan tidak ikut hancur.
Benang tak kasat mata itu melayang liar, terseret arus dimensi yang tak diketahui ujung pangkalnya. Ia memegang sisa-sisa nasib dari wujud fana yang telah terputus dari sumber utamanya.
Bersambung...