NovelToon NovelToon
Monster Pedang Gerbang Timur

Monster Pedang Gerbang Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Ahli Bela Diri Kuno / Fantasi Timur
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Muzu

Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.

Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.

Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.

Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Timur

Meski dalam hati senang, dekrit yang dikeluarkan Kaisar Qin lagi-lagi tidak membuat sang permaisuri puas. Sebelum Jenderal Yao Ming menjalankan tugas, Permaisuri Li Hua diam-diam menemuinya.

“Kau adalah orang kepercayaanku, aku ingin anak haram itu tidak hanya cacat mental, juga harus cacat fisik. Tugasmu adalah merusak wajahnya, dan juga mematahkan kedua tangan dan kakinya. Lakukanlah ketika sudah sampai di Gerbang Timur!”

“Hamba menuruti perintah,” balas sang jenderal seraya menerima imbalan yang diberi Permaisuri.

***

Beberapa hari berlalu, rombongan Jenderal Yao Ming sampai di mulut Gerbang Timur. Suasana di Gerbang Timur tak ubahnya pemakaman kuno yang begitu hening dan dipenuhi aura mistis.

Berada di kedalaman lembah tandus dan dikelilingi perbukitan, Gerbang Timur menjadi tempat yang diasingkan. Tidak ada apa pun di tempat ini selain beberapa gubuk yang rapuh dimakan usia, juga tulang-belulang dari para korban pembuangan istana.

“Aku tidak merasakan adanya jejak kehidupan di sekitar sini. Sepertinya Selir Bai An sudah lama mati di tempat ini. Sayang sekali nasibmu, Nak. Kau mungkin harus bertemu ibumu di alam baka,” ucap sang jenderal setelah memperhatikan area di sekitarnya.

Pangeran Qin Zhao hanya mengangguk tanpa bersuara. Ia kemudian dibawa Jenderal Yao Ming ke arah salah satu gubuk dan didudukkan di dalamnya.

“Toilet kediaman para pelayan jauh lebih baik dari tempat ini,” komentar sang jenderal begitu melihat kondisi di dalam gubuk. “Nak, aku diperintahkan untuk membuatmu cacat seumur hidup. Semoga dengan ini kau akan segera menyusul mendiang ibumu.” Setelah mengatakannya, Jenderal Yao Ming langsung menghunus pedang dan menyayat wajah sang pangeran yang terdiam tanpa perlawanan.

Sedikit terkesima melihat reaksi sang pangeran, Jenderal Yao Ming melanjutkan aksinya dengan mematahkan kedua tangan dan kaki Pangeran seraya menutup mulut agar tidak ada teriakan yang keluar. Setelah melihat sang pangeran tak sadarkan diri, Jenderal Yao Ming bergegas meninggalkan lokasi bersama pasukannya.

***

Tiga hari berlalu, Qin Zhao akhirnya tersadar. Matanya terbuka memperhatikan langit-langit yang berlubang di atasnya. Reaksinya tenang tanpa adanya kepanikan yang tergurat di wajahnya.

Rasa sakit di wajah serta tangan dan kakinya itu pun seolah tak mampu membuatnya meringis. Satu-satunya hal yang dirasakannya adalah kerinduan pada sang ibu. Ia sangat merindukannya, tetapi ia tidak tahu keberadaan sang ibu selama ini.

Mulutnya yang kering masih terkunci. Darah kering di wajahnya terasa seperti karet yang menempel, begitu erat, bercampur debu, dan berbau amis. Anehnya, tidak ada satu pun serangga yang menghinggapi.

Beberapa hela napas kemudian, kepalanya mulai menoleh ke arah pintu yang terbuka. Sesosok kakek tua berdiri menatapnya dingin tanpa terlihat adanya empati terhadap dirinya.

Kakek itu mendekat dengan langkahnya yang hening, seolah dirinya melayang di atas tanah. Pangeran Qin Zhao mengedip pelan dan mendapati ujung tongkat sudah menempel di keningnya.

“Amis darahmu sama dengan wanita yang lehernya hampir putus, tapi sebagai orang yang memiliki garis darah leluhur, aku akan menenggelamkanmu,” ucap sang kakek terdengar parau.

Qin Zhao diam tidak memahaminya. Ia hanya menatap sayu wajah lapuk sang kakek yang terus menekan ujung tongkat hingga terdengar suara tulang retak. Sejurus kemudian, Qin Zhao berteriak histeris merasakan sakit yang teramat di sekujur tubuhnya. Rupanya yang dilakukan sang kakek adalah melepas ilusi yang selama ini membelenggu tubuh sang pangeran.

Berikutnya, sang kakek menjambak rambut Qin Zhao dan menariknya meninggalkan gubuk hingga sampai di tepi kolam kecil berwarna merah pekat dan berbau amis. Tanpa aba-aba, tubuh Qin Zhao dilemparkannya ke dalam kolam yang langsung menelannya.

“Kuharap kaulah orang yang ditakdirkan,” kata sang kakek yang kemudian duduk bermeditasi di dekatnya.

Hari demi hari berlalu, si kakek mulai membuka mata. Biasanya ia akan mendapati serakan tulang dari orang yang dilemparkannya. Akan tetapi, kali ini berbeda. Ia mendapati seorang pemuda yang dinaungi cahaya keemasan terbaring di atas tanah dengan sebilah pedang berkarat yang melayang di atas tubuh si pemuda.

“Ha-ha-ha! Akhirnya tugasku berakhir!” serunya lalu bergegas mendekati si pemuda. Matanya bersinar memindai tubuh si pemuda dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, lalu mengangguk bahagia.

“Bangunlah!” pinta si kakek seraya menepuk pipi si pemuda. Tak lama kemudian, pemuda itu pun membuka mata dan mengernyit memperhatikan kakek tua di dekatnya.

“Anda siapa?” tanya Qin Zhao tidak mengenalinya.

“Aku adalah orang yang ditugaskan leluhur Kaisar Qin untuk bertemu denganmu,” jawab si kakek yang kali ini terdengar ramah.

Qin Zhao termenung. Pikirannya menerawang ke masa sebelum ia diracuni. “Ibu …!” teriaknya seketika.

Kakek tua itu menatap heran memperhatikannya. Tiba-tiba saja Qin Zhao mencengkeram kedua pundak si kakek dan bertanya, “Ibuku mana?”

Sepertinya belenggu yang ditanam di anak ini sudah terlalu lama, batin si kakek yang terus memperhatikannya.

“Ibumu sudah mati, dan aku ingin tahu berapa umurmu sekarang?” tanyanya menguji.

“Kemarin aku berulang tahun kesepuluh, Kek. Hadiahku banyak. Apa Kakek mau memberiku hadiah?” jawab Qin Zhao dengan raut ceria.

Kakek tua itu mengangguk pelan, lalu tersenyum simpul. “Pedang yang melayang di atasmu adalah hadiah untukmu.”

Qin Zhao mendongak. Kedua matanya membesar tidak percaya melihat sebilah pedang besar melayang di atasnya. “Be … benarkah itu untukku? Tapi kok jelek.”

“Sesuai dengan kemampuan pemiliknya, dan sekarang pedang itu sudah mengikat darah denganmu,” kata si kakek yang kemudian mengambil pakaian dari cincin penyimpanannya. Sebelum pergi, si kakek berpesan, “Pakailah, lalu ikuti aku!”

Melihat pakaian yang berukuran dewasa, Qin Zhao mengernyit. Ia masih merasa dirinya berumur sepuluh tahun. “Pakaian ini terlalu besar untuk anak seusiaku,” keluhnya.

“Tengoklah ekor depanmu yang sudah ditumbuhi rambut!” kata si kakek dari kejauhan.

Qin Zhao menunduk, ekor matanya mendapati sesuatu yang menggantung layu dengan ukuran tiga kali lipat dari yang diingatnya. Sontak saja wajahnya pucat dan bulir-bulir keringat mulai keluar dari pori-pori kulitnya.

“Mengapa jadi besar begini? Bukannya punyaku sangat imut?” celotehnya seraya mengapit ujung kepala dan memperhatikannya.

“Cepatlah, Bocah!” teriak si kakek yang tidak lagi terlihat keberadaannya.

“Baik,” timpal Qin Zhao. Ia berdiri dan akhirnya menyadari betapa besar tubuhnya. “A … aku sudah besar.”

***

Di kedalaman lembah yang dipenuhi aura mistis, Qin Zhao duduk berhadapan dengan si kakek di atas batu besar. Keduanya terdiam dalam keheningan. Begitu lama sampai matahari pagi keluar dari peraduannya.

Sang kakek mulai membuka mata menatap si pemuda yang duduk tertidur di depannya. Tangannya terangkat, jari manisnya terjulur ke kening si pemuda. Ia pindahkan semua warisan yang diamanatkan sang leluhur kepadanya. Setelah itu, ia pun menghilang dari posisinya.

Menjelang siang, Qin Zhao terbangun. Tidak ada lagi sang kakek yang duduk di depannya. “Ke mana Kakek?” ucapnya bertanya. Matanya mengedar ke segala penjuru, tetapi sosok tua itu tidak ditemukan di mana pun. Ia berdiri bangkit, lalu transmisi suara terdengar di telinganya. “Semua yang dititipkan telah aku sampaikan kepadamu. Pelajarilah semuanya dengan baik, dan jangan pernah meninggalkan Gerbang Timur hingga kau menguasai seluruhnya. Pintar-pintarlah menyembunyikan diri di dunia yang penuh tipu daya ini.”

1
Didi h Suawa
baik
Didi h Suawa
kacau fiksinya,🤭🤭🤭
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: 😄😄😄😄 maafkan 🙏 di sini MC lg masa transisi sebelum dapat kekuatan yang sesungguhnya
total 1 replies
soegiman aja
kok jadi gini?😄😄
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: itu bab penggiringan, Ka. Terima kasih sudah berkenan mampir 🙏
total 1 replies
RN
di tunggu fantasi lokal nya bg biar kaga belibet nyebut nn nya🤣
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: 😄😄😄 nanti ya
total 1 replies
RH
lanjut thor, udah ngasi gift nih👍
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: terima kasih, Ka. Maaf kemarin ga sempat up, agak sibuk di rl 😄
total 1 replies
RH
jdi inget wedang😄
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: wedang jahe diminum pas lg ujan, enak tuh 😄
total 1 replies
Quinnela Estesa
kak Muzu😊 sesekali dong buat Fantasi Barat.
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: Aku kurang suka sama fantasi barat 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!