NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Devan mematikan mesin mobil *sport*-nya yang menderu. Ia tak bisa begitu saja mengabaikan bayangan wajah pucat dan mata redup Alya saat hampir tertabrak tadi. Ada dorongan asing yang sangat kuat di dalam dadanya—sebuah rasa penasaran bercampur cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Tanpa berpikir panjang, Devan mengambil jaket hitam yang tergeletak di kursi penumpang, memakainya untuk menutupi seragam sekolah, lalu meraih kunci motor matik kustom milik salah satu anggota gengnya yang kebetulan masih terparkir di pos satpam. Naik mobil mewah untuk memata-matai Alya tentu bukan pilihan bijak jika ia tak ingin tertangkap basah.

Dari jarak aman sekitar lima puluh meter di belakang angkutan umum yang ditumpangi Alya, Devan mengendarai motornya perlahan. Ia terus menjaga jarak, memastikan pandangannya tak lepas dari sosok gadis berbaju pudar yang duduk di dekat pintu belakang angkot tersebut.

Angkot itu melaju menembus pusat kota, melewati kawasan pertokoan megah dan perumahan elit, lalu perlahan berbelok ke arah pinggiran kota. Pemandangan di sekitar mulai berubah drastis. Gedung-gedung tinggi berganti menjadi deretan pemukiman padat penduduk dengan jalanan yang makin menyempit dan bergelombang.

Setelah perjalanan sekitar tiga puluh menit, angkot tersebut akhirnya berhenti di sebuah persimpangan jalan kecil yang hanya cukup dilewati dua sepeda motor. Devan melihat Alya turun, menyerahkan beberapa keping uang koin kepada sopir, lalu berjalan masuk menyusuri gang sempit.

Devan mematikan mesin motornya, memarkirnya di pinggir jalan raya, lalu melanjutkan langkahnya dengan berjalan kaki secara diam-diam. Suasana gang itu tampak begitu sibuk namun bersahaja. Garis-garis jemuran pakaian membentang di antara dinding rumah warga, anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki, dan aroma masakan rumahan menguar dari jendela-jendela kayu yang terbuka.

Devan mengintai dari balik belokan dinding sebuah warung kelontong. Ia melihat Alya berjalan makin jauh ke dalam gang, membelok ke sebuah lorong kecil yang tampak agak redup.

Alya berhenti di depan sebuah rumah sangat sederhana berdinding papan kayu dengan cat biru yang sudah mengelupas di banyak sisi. Atap sengnya terlihat sedikit berkarat di beberapa bagian. Namun, pekarangan rumah yang sangat sempit itu tampak begitu bersih dan tertata rapi dengan beberapa pot tanaman hijau sederhana.

"Assalamu’alaikum, Bu... Alya pulang," suara Alya terdengar lembut menyapa dari luar.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh namun berwajah hangat keluar dari pintu kayu yang berderit. Ibunya Alya. Wajah wanita itu tampak lelah, namun senyum tulus langsung terbit saat melihat putrinya pulang.

"Wa'alaikumsalam, Nak. Sudah pulang? Gimana sekolahnya hari ini?" tanya sang ibu sambil mengusap lembut kepala Alya.

Alya tersenyum—sebuah senyuman tulus yang belum pernah Devan lihat selama di sekolah. Namun, Devan yang memperhatikan dari jauh bisa melihat bagaimana senyuman Alya mendadak menyembunyikan rasa getir saat tangannya meremas pelipisnya sendiri, menahan kesedihan yang siap meledak.

"Lancar, Bu... Alya mau ganti baju dulu, terus bantu Ibu beresin dagangan buat besok ya," jawab Alya berusaha terdengar ceria, meski nadanya sedikit bergetar.

Devan bersandar pada dinding semen dingin di balik belokan gang. Dadanya mendadak terasa sesak dan dihantam rasa bersalah yang teramat sangat.

Di sekolah, Devan dikelilingi oleh fasilitas tanpa batas, uang yang tak pernah ia hitung jumlahnya, dan kemudahan yang selalu disajikan di depannya. Sementara di tempat ini, di sebuah rumah sederhana di ujung gang sempit, ada seorang gadis genius yang harus berjuang keras hanya untuk bisa melangkah ke esok hari.

Devan kini mengerti. Tatapan dingin Alya di sekolah, sikap tidak pedulinya terhadap popularitas atau kekayaan Devan, serta wajah penuh beban sore ini—semuanya masuk akal. Alya tidak punya waktu untuk hal-hal sepele seperti kisah asmara remaja atau hierarki sosial sekolah. Gadis itu sedang berjuang di tengah kerasnya kenyataan hidup.

Devan merogoh saku celananya, mengambil ponselnya, lalu memotret nomor rumah serta patokan gang tempat Alya tinggal. Tatapan mata Devan yang biasanya acuh tak acuh kini berubah menjadi penuh tekat.

'Alya Saraswati...' batin Devan dalam hati, menatap pintu rumah kayu yang baru saja tertutup rapat. 'Gua bakal cari tahu apa yang sebenarnya bikin lo sebeban ini.'

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!