NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Milik Nona Su Ying

Ruang Rahasia Milik Nona Su Ying

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Iblis / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DewaC1nta

Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Kontrak dengan sang iblis (bagian pertama)

 Masih di tempat yang sama dan dengan pemandangan seperti hari kemarin di rumah kuno. Sudah semalaman gerombolan penjahat itu masih terjebak dalam kegilaan. Begitu juga dengan gadis yang semenjak kemarin tak sadarkan diri, sekarang ia terbangun dari tidurnya yang panjang. Tubuhnya terasa kaku dan dingin, perlahan dia mulai membuka mata, namun pandangannya masih kabur dan kepalanya berdenyut hebat. Hal pertama yang merangsang inderanya bukanlah matahari, melainkan suara parau yang menyayat hati. Jeritan-jeritan yang tak lagi terdengar seperti manusia.

 Gadis itu mencoba menggerakkan jemarinya di atas tanah yang lembap oleh embun. Ingatannya yang berantakan perlahan mulai menyatu kembali. Pengejaran, rasa takut, dan wajah-wajah buas itu Dengan sisa tenaga yang ada, dia menyeret tubuhnya untuk duduk, hanya untuk mendapati pemandangan yang lebih mengerikan dari kematian itu sendiri.

  Di hadapannya, gerombolan pria yang kemarin memburunya kini tampak seperti mayat hidup. Mereka merangkak, tertawa, dan menangis di saat yang bersamaan, mencakar wajah mereka sendiri tanpa menyadari kehadirannya. Rasa mual melilit perut sang gadis. Dia berada tepat di tengah-tengah kumpulan orang gila, di depan pintu sebuah rumah kuno yang membisu.

 Sesaat kemudian, ia pun tersadar sepenuhnya. Napasnya memburu saat ia mulai memeriksa pakaian dan tubuhnya dengan gerakan panik yang gemetar.

"Apakah... apakah mereka te..."

Kalimatnya terputus di tenggorokan. Udara di sekitarnya mendadak terasa membeku. Sosok pemuda tampan yang menghuni rumah kuno itu telah berdiri tepat di hadapannya. Ia berdiri menjulang, menatap sang gadis dengan tatapan dingin yang tak terbaca, seolah nyawa manusia di hadapannya tak lebih dari sekadar debu.

 "Ini semua tidak gratis nona, kamu harus membayar semua yang kulakukan untuk menyelamatkanmu." ucap pemuda itu datar, tanpa sedikitpun keramahan.

 "Membayar?," gadis itu menengadah memandang pria di hadapannya dengan tatapan sendu yang sarat atas keputusasaan, sebelum kembali menunduk. "apa yang kau inginkan?, aku hanyalah rakyat jelata yang tidak memiliki apapun, jika kau menginginkan uang, aku tidak memilikinya."

 Tak disangka, pria itu tertawa. Suara tawa yang tiba-tiba itu memberikan kesan yang sangat kontras dengan sikap dinginnya barusan.

"Hahaha... Uang?" Ia menyeringai, menatap gadis itu dengan kilat mata yang sulit diartikan. "Mana mungkin aku menginginkan uang, jika dibandingkan dengan nilai sebuah nyawa manusia."

 Semula merasa aman, sekarang gadis itu diselimuti rasa kekhawatiran lagi terhadap pemuda yang sempat ia harapkan akan menjadi penolongnya. Kali ini, meski dia berusaha untuk kabur, tubuhnya seolah terpaku pada tanah yang ia pijak. Setiap kali ia mencoba menggerakkan kakinya untuk berlari ke arah hutan, udara di sekelilingnya mendadak terasa seberat timah, mengunci setiap persendiannya.

 Sepasang matanya yang bergetar menatap ke arah gerombolan penjahat yang masih mengerang gila di kejauhan, lalu kembali pada pemuda di hadapannya. Ia sadar, ia tidak sedang berhadapan dengan manusia biasa. Ia telah keluar dari mulut harimau, hanya untuk masuk ke dalam sangkar sesuatu yang jauh lebih purba dan berbahaya.

 "a-apakah kau ingin membunuhku?" bisik gadis itu dengan suara bergetar hebat. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, tak sanggup melihat apa yang akan dilakukan pemuda itu selanjutnya. Setitik air mata jatuh membasahi pipinya yang kotor oleh debu hutan.

 Pemuda itu terdiam sejenak. Ia melangkah mendekat, membuat bayangannya menutupi tubuh mungil sang gadis. Udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih dingin, namun anehnya, bau harum bunga yang ganjil mulai tercium, menggantikan bau anyir dari kegilaan para penjahat di belakang mereka.

 "Membunuhmu?" Pemuda itu membungkuk, menyamakan tingginya dengan sang gadis hingga napasnya terasa di telinga gadis itu. "Terlalu mudah bagiku untuk melakukan itu. Namun, bukankah kau baru saja memohon untuk diselamatkan?"

 Pemuda itu kembali berdiri tegak sambil menghela napas panjang, seolah sedang membuang rasa bosannya. "Aku tidak sekejam manusia," ucapnya tenang. "Kami adalah makhluk tertinggi di antara semua ciptaan. Membunuhmu hanya akan mengotori tanganku dengan darah yang tidak berharga."

 Ia kemudian berbalik, menatap tajam ke arah sang gadis. Dari balik jubahnya, ia mengeluarkan sebuah gulungan kertas kuno yang tampak berpendar redup dan mengulurkannya.

"Buatlah kontrak denganku, maka hidupmu akan berada dalam perlindunganku selamanya."

 Secercah harapan kembali muncul di hati gadis itu, meski ia tahu harapan ini datang dengan harga yang mungkin tak sanggup ia bayar. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menatap gulungan kertas itu seolah benda itu adalah tali penyelamat di tengah badai. Baginya, menjadi pelayan makhluk ini jauh lebih baik daripada berakhir mengenaskan di tangan para bandit yang kini telah kehilangan akal mereka.

 "Ulurkan tanganmu!" perintah pemuda itu singkat.

Perlahan, gadis itu mengangkat tangannya dengan patuh, seolah raga dan batinnya telah menyerah pada kehendak sang pemuda.

 "Akh!" Gadis itu terjerit kecil saat rasa perih yang tajam menusuk ujung jemarinya. Tanpa ia sadari, pemuda itu telah memegang sebuah pena perak runcing yang entah dari mana asalnya. Setetes darah merah segar muncul dari telunjuknya.

 "Harus dengan darah untuk mengikat kontrak ini," ucap pemuda itu dingin, matanya menatap tetesan darah tersebut dengan binar yang misterius.

 Pemuda itu menatap gulungan kertas yang kini telah menyerap tetesan darah sang gadis, lalu sebuah senyum misterius tersungging di bibirnya. Ia melipat kembali kontrak tersebut dengan gerakan anggun.

"Baiklah," ucapnya sambil menatap lurus ke dalam mata sang gadis yang masih gemetar. "Kontrak telah sah. Dalam tiga bulan ke depan, aku akan datang kembali untuk menagih hutangmu. Pastikan kau siap saat waktu itu tiba."

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!