NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2: Sepertinya Dia Tidak Jahat

^^^Selasa, 14 Agustus^^^

Hari Selasa pagi terasa berbeda bagi Azril.

Bukan karena suasana sekolah yang berubah, tapi karena ada sesuatu yang menggelitik di dadanya sejak ia bangun tidur. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang membuat ia tidak sabar untuk segera sampai ke sekolah.

Karena lo jadi korban. Yang salah tuh si Marcel, bukan lo.

Kalimat Bima kemarin sore terus berputar di kepalanya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Azril merasa... dilihat. Bukan sebagai sasaran empuk. Bukan sebagai anak baru yang culun. Tapi sebagai seseorang yang berhak dibela.

Ia mengayuh sepeda tuanya lebih cepat dari biasanya.

...~•~•~•~...

Hari ini Azril tiba lebih awal. Sepeda tuanya ia parkir di rak sepeda yang hanya berisi dua unit lainnya—sebuah prestasi mengingat biasanya ia datang saat bel masuk hampir berbunyi.

"Wah, Zril! Lo berangkat awal pagi ini? Ada yang aneh nih."

Azril menoleh. Bima berjalan mendekat dengan senyum khasnya, kali ini tidak terlambat karena motor kesayangannya akhirnya selesai diperbaiki semalam. Lebam di pelipisnya masih terlihat, begitu juga perban tipis di tangannya, tapi semangatnya tidak berkurang sedikit pun.

"Biasa aja," jawab Azril pelan, berusaha menahan senyum yang mulai muncul di bibirnya.

"Biasa aja katanya, padahal berangkat awal ke sekolah gara-gara mau ketemu gue," Bima menjitak pelan kepala Azril, lalu tertawa lepas. "Yaudah, yuk masuk. Sarapan dulu di kantin, gue beliin."

Mereka berjalan berdampingan memasuki gerbang. Azril yang biasanya selalu menunduk saat melewati satpam atau siswa lain, hari ini sedikit mendongak. Matanya sempat bertemu dengan seorang siswa yang duduk di teras dekat lobi.

Siswa itu memegang sebuah notebook kecil di tangannya. Jari-jarinya gemetar. Wajahnya pucat, dan keringat mulai membasahi dahinya meskipun pagi hari masih sejuk.

Azril hampir saja mengalihkan pandangan-kebiasaan lamanya menghindari kontak mata dengan siapa pun-tapi sesuatu membuatnya berhenti. Siswa itu menatapnya dengan mata yang... familiar. Seperti seseorang yang ingin berbicara tapi tidak bisa.

"Faris!" sapa Bima tiba-tiba, melambaikan tangan ke arah siswa itu.

Faris tersentak. Tangannya langsung sibuk membuka notebook, menulis sesuatu dengan tergesa-gesa. Tulisan tangannya bergetar, tapi masih terbaca:

[Halo. Selamat pagi.]

Bima mendekat, sama sekali tidak canggung dengan cara Faris berkomunikasi. "Lo sendiri aja pagi-pagi? Biasanya kan sama ibumu yang nganterin sampe depan gerbang."

Faris menunduk. Tangannya kembali menulis.

[Ibu ada keperluan. Aku naik angkutan umum sendiri.]

"Wah, keren juga! Berani berangkat sendiri!" Bima mengacungkan jempol. "Udah sarapan? Yuk ke kantin bareng gue sama Azril."

Faris menggeleng cepat. Terlalu cepat. Keringat di dahinya semakin deras, dan tangannya mulai gemetar hebat. Ia menulis lagi dengan tergesa:

[Nanti saja. Aku ke kelas dulu.]

Tanpa menunggu jawaban, Faris berjalan cepat meninggalkan mereka. Notebook-nya masih tergenggam erat, hampir seperti perisai.

Azril memperhatikan punggung Faris yang menjauh. "Dia... kenapa?"

Bima menghela napas. "Faris? Dia punya gangguan kecemasan sosial. Makanya diajak ngomong aja susah, apalagi kumpul sama banyak orang. Tapi baik kok dia. Cuma butuh waktu aja buat deketinnya."

Azril mengangguk pelan. Ada rasa simpati yang tiba-tiba muncul. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tidak bisa leluasa bergaul. Bedanya, Faris memiliki alasan medis. Azril? Ia hanya takut.

"Ayo, ke kantin," ajak Bima, menarik lengan Azril.

...~•~•~•~...

Kantin sekolah mulai ramai. Pedagang kaki lima yang menyewa lapak di belakang gedung mulai berjajar, menawarkan nasi uduk, bubur ayam, dan gorengan. Aroma masakan bercampur dengan suara tawa dan obrolan siswa yang memadati area tersebut.

Bima dan Azril mengambil nasi bungkus dari langganan Bima-seorang ibu paruh baya yang sudah hafal dengan pesanan "nasi campur ekstra kerupuk" untuk Bima dan "nasi campur tanpa sambal" untuk Azril. Setelah membayar, mereka mencari tempat duduk.

Kantin dipenuhi siswa. Hampir tidak ada bangku kosong.

"Wah, rame amat," gerutu Bima, matanya menyapu area. "Oh, itu ada satu bangku kosong di pojok."

Mereka berjalan ke arah bangku panjang di pojok kantin yang hanya diisi satu orang. Seorang siswa laki-laki bertubuh sedang, dengan rambut agak panjang menutupi dahi, duduk sendirian. Ia menunduk, menyuap nasi kotaknya pelan-pelan, berusaha terlihat sibuk.

Tapi yang menarik perhatian Azril adalah bagaimana siswa-siswa lain di sekitar bangku itu memilih berdiri meskipun bangku lain penuh. Mereka lebih memilih berdesakan di bangku lain daripada duduk di dekat siswa itu.

Azril baru menyadari identitas siswa itu saat mereka semakin dekat.

Elang Darmawan.

Mantan anggota Geng Bhayangkara. Dan salah satu siswa yang paling ditakuti-atau paling dijauhi-di sekolah ini.

Bima berhenti sejenak. Ia menatap Elang, lalu menatap bangku kosong di seberang Elang, lalu menatap Azril. "Yaudah, kita duduk di sini aja. Gak ada pilihan lain."

Azril mengangguk. Ia sebenarnya ragu, tapi perutnya sudah keroncongan dan jam pelajaran pertama sebentar lagi dimulai.

Mereka duduk di bangku yang sama dengan Elang, meskipun di ujung yang berlawanan. Elang tidak mengangkat kepala, tapi sesekali matanya melirik ke arah mereka. Ada sesuatu di balik tatapannya-bukan ancaman, bukan juga kemarahan.

Suasana canggung menyelimuti bangku itu. Bima yang biasanya cerewet tiba-tiba diam, fokus mengunyah nasinya. Azril hanya bisa menunduk, sesekali melirik ke arah Elang yang juga diam membisu.

Kwek-kwek-kwek.

Suara bebek dari ponsel seseorang memecahkan keheningan. Bima mengangkat alis, lalu tertawa kecil. "Itu nada dering siapa? Kocak banget."

Elang menggerakkan tangannya ke saku celana. Ia mengeluarkan ponsel dan menekan tombol merah, membatalkan panggilan masuk tanpa menjawab. Wajahnya sedikit memerah karena malu.

Bima nyaris tertawa, tapi menahannya. Azril justru tersenyum kecil melihat ekspresi Elang yang tiba-tiba menjadi... manusiawi. Bukan sosok menakutkan seperti yang digambarkan siswa lain.

"Maaf," kata Elang pelan. Suaranya serak dan berat, tapi nadanya... sopan.

Bima menggeleng. "Santai aja. Gue suka nada dering lo, kocak."

Elang tidak menjawab. Ia kembali menunduk ke nasi kotaknya, tapi sudut bibirnya terlihat sedikit terangkat. Senyum kecil yang cepat hilang.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Azril mulai merasa sedikit lebih nyaman. Mungkin Elang tidak seburuk yang orang-orang katakan. Mungkin-

"Eh, tumben lo pada berani duduk di sini."

Suara itu membuat Azril membeku. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.

Marcel berdiri di samping bangku mereka, dua temannya di belakang seperti bayangan. Senyum sinisnya terukir sempurna, matanya bergantian menatap Bima, Azril, lalu berhenti di Elang.

"Wah, ada mantan anak buah gue juga ternyata," Marcel menyeringai. "Elang, lo udah mulai punya teman baru? Padahal gue dulu baik banget sama lo."

Elang tidak menjawab. Tangannya yang memegang sendok berhenti bergerak, tapi ia tetap menunduk. Membisu.

"Lo masih diem kayak patung? Gitu ya cara lo balas budi?" Marcel tertawa. Matanya lalu beralih ke Azril. "Eh, Culun. Lo pindah bangku ya? Nanti kena debu dari langit-langit soalnya bangku ini gak layak buat orang kayak lo."

Bima meletakkan sendoknya. "Marcel, jangan mulai."

"Mulai apa? Gue cuma ngasih saran baik-baik." Marcel melangkah mendekati Azril. "Lo tau kenapa bangku ini kosong? Karena di sini tempatnya orang-orang elit. Kaya. Gak kayak lo berdua."

Tangan Marcel bergerak cepat. BUK! Tinjunya menghantam punggung Azril, tepat di antara tulang belikat. Azril tersentak, tubuhnya terdorong ke depan hingga dagu hampir membentur meja. Rasa sakit menjalar dari punggung hingga ke dadanya. Nasi bungkusnya tumpah.

"AZRIL!" Bima berdiri, tinjunya sudah mengepal. "Marcel, LO-"

"Lo mau apa?" Marcel menantang, dadanya membusung. "Kemarin aja lo udah hampir kena skors gara-gara bela si Culun. Sekarang lo mau bikin masalah lagi? Berani?"

Bima membisu. Ia memang tidak takut pada Marcel, tapi ancaman skors bukan hal sepele. Ayahnya sudah marah besar kemarin, dan ibunya menangis sepanjang malam. Jika ia bermasalah lagi...

Tapi Azril—

Bima sudah melangkah maju ketika Marcel kembali mengangkat tangannya. "Gue ajarin lo supaya tau diri ya Culu—"

Tangan Marcel tidak jadi mendarat.

Seseorang menggenggam pergelangan tangannya erat. Sangat erat.

Marcel menoleh. Matanya membulat. "Elang?! Lo—"

Elang berdiri. Tingginya hampir sama dengan Marcel, tapi sikapnya tidak menantang. Ia hanya menatap Marcel dengan mata teduh yang anehnya justru lebih menekan daripada amarah.

"Cukup, Marcel," kata Elang. Suaranya berat, tapi tenang. Tidak ada nada mengancam, tapi juga tidak ada keraguan.

Marcel mencoba melepaskan tangannya, tapi Elang menggenggam erat. "Lo mau ngelawan gue, Elang? Lo lupa siapa yang bikin lo gak jadi sampah? Gue yang terima lo jadi anak buah gue dulu!"

"Dan gue keluar," Elang membalas, suaranya tetap datar. "Sudah selesai, Marcel. Gue udah bukan bagian dari geng lo lagi."

"Terus lo berani pegang gue? Berani lawan gue?"

"Gue gak ngelawan." Elang melepaskan genggamannya, namun tetap berdiri di antara Marcel dan Azril. "Gue cuma minta lo berhenti. Ini kantin. Banyak yang lihat. Lo gak mau reputasi lo tercoreng gara-gara ribut di tempat umum, kan?"

Marcel terdiam. Matanya menyipit. Ia menatap Elang lama, lalu menatap Bima yang masih siap menyerang, lalu menatap Azril yang masih terduduk di bangku dengan wajah pucat. Sekeliling mereka, siswa-siswa lain mulai memperhatikan. Beberapa bahkan mengeluarkan ponsel, merekam.

"Tch," Marcel mendecak. Ia menarik tangan dari Elang, lalu meludah ke samping. "Lo hoki kali ini, Culun. Dan lo, Elang..." Ia menunjuk wajah Elang dengan jari telunjuknya. "Gue kasih waktu seminggu. Lo minta maaf dan balik lagi ke geng gue, atau lo bakal nyesel. Hidup lo bakal lebih susah daripada sekarang."

Ia berbalik, diikuti kedua temannya. Sebelum pergi, Marcel sempat melirik Bima. "Lo juga, Bima. Jaga baik-baik temen lo. Siapa tau besok... hilang."

Tawanya terdengar samar saat ia menjauh, diselingi bisik-bisik siswa lain yang mulai membubarkan diri.

Kantin perlahan kembali normal, tapi suasana di bangku pojok itu masih terasa berat.

Elang duduk kembali. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengambil nasi kotaknya yang sudah dingin dan mulai makan lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

Azril masih terpaku di bangku. Nasi bungkusnya berhamburan di meja, beberapa butir menempel di seragamnya. Punggungnya masih terasa nyeri, tapi yang lebih mengganggu adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat dadanya sesak.

Bima duduk di samping Azril, tangannya menepuk pundak pelan. "Lo oke, Zril?"

Azril tidak menjawab. Matanya tertuju pada Elang yang duduk di seberang, menunduk, menyuap nasi dengan tenang.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, Azril berbicara langsung kepada seseorang yang baru ia temui. Suaranya pelan, sedikit bergetar, tapi jelas.

"Makasih, Elang."

Elang berhenti mengunyah. Ia mendongak, menatap Azril dengan mata yang tadi malam dipenuhi kelelahan, tapi sekarang... ada sedikit kilau. Seperti seseorang yang sudah lama tidak mendengar ucapan terima kasih.

Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menunduk.

Tapi senyum kecil itu muncul lagi. Kali ini lebih lama.

Bima memperhatikan interaksi mereka, lalu tersenyum. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya, membersihkan tumpahan nasi di meja depan Azril. "Besok gue traktir yang lebih enak, ya, Prof. Yang ini udah berantakan."

Azril menggeleng pelan. "Gapapa, Bim."

"Tuh kan, lo baik banget."

Bima lalu menoleh ke Elang. "Oi, Lang. Makasih juga. Lo tadi berani banget megang tangan Marcel."

Elang mengangkat bahu. "Bukan masalah besar."

"Buat lo mungkin bukan. Tapi buat kita, besar." Bima menyodorkan tangannya. "Gue Bima. Itu Azril. Lo udah kenal kan? Sebenernya lo udah kenal lama sama gue, tapi gue rasa kita belum pernah kenalan secara resmi."

Elang menatap tangan Bima beberapa saat. Seolah ia tidak percaya ada seseorang yang mau berjabat tangan dengannya tanpa rasa takut. Perlahan, ia menyambut jabat tangan itu. Genggamannya kuat, tapi tidak mencengkeram.

"Elang."

"Ya, gue tau." Bima tersenyum lebar. "Nah, sekarang kita udah resmi kenalan. Jadi kalau ada apa-apa, lo jangan sungkan ya."

Elang tidak menjawab. Tapi ia tidak melepaskan jabat tangan itu terlalu cepat.

Azril memperhatikan mereka dari samping. Perasaannya campur aduk. Punggungnya sakit, nasi bungkusnya tumpah, dan Marcel mungkin akan kembali lagi. Tapi di saat yang sama...

Ia melihat Elang yang duduk di seberang, yang tadi membelanya meskipun tidak ada keuntungan untuk dirinya sendiri. Ia melihat Bima yang dengan mudah menerima Elang tanpa prasangka. Ia mengingat Faris yang tadi pagi gemetar tapi tetap berusaha membalas sapaan.

Untuk pertama kalinya, Azril merasa bahwa mungkin, di sekolah ini, ada tempat untuk orang-orang seperti mereka.

...~•~•~•~...

Bel pulang berbunyi. Siswa-siswa mulai berhamburan keluar kelas, kecuali beberapa yang masih mengobrol atau merapikan buku.

Azril duduk di bangkunya yang di pojok dekat jendela. Buku catatannya terbuka, tapi ia tidak benar-benar menulis. Pikirannya masih di kantin tadi pagi.

Tangan Marcel yang melayang.

Genggaman Elang yang menghentikannya.

Tatapan Marcel yang penuh amarah.

Dan Elang yang hanya duduk dan makan lagi seolah semua itu biasa.

Azril mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia membuka aplikasi pesan, mengetik sesuatu, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu menghapus lagi.

Akhirnya, ia hanya menulis pesan pendek:

[Azril]: Bim, lo kenal deket sama Elang?

Pesan balasan datang cepat:

[Bima]: Gak deket sih. Cuma kebetulan temen sekelas. Emang kenapa?

[Azril]: Dia tadi bantuin kita. Padahal gak kenal.

[Bima]: Iya. Gue juga mikirin itu. Kayaknya dia emang beda dari yang orang-orang bilang.

[Bima]: Besok kita ajak dia makan siang bareng lagi yuk. Biar gak sendiri terus.

Azril membaca pesan itu beberapa kali. Lalu tersenyum kecil.

Ia mengetik balasan:

[Azril]: Oke.

Dari kejauhan, di luar jendela kelas, Azril melihat seseorang berjalan sendirian menuju gerbang sekolah. Rambut agak panjang, langkah berat, pundak sedikit membungkuk.

Elang.

Beberapa siswa yang berpapasan dengannya memilih menyeberang jalan. Seorang siswi kelas bawah bahkan berlari kecil menjauh saat Elang melintas di dekatnya.

Elang tidak bereaksi. Ia hanya terus berjalan, seperti biasa, seperti setiap hari.

Tapi Azril melihat bagaimana pundaknya sedikit menurun setiap kali seseorang menjauh darinya.

Sepertinya dia tidak sejahat yang orang-orang kira.

Azril memasukkan ponselnya ke saku, merapikan buku-bukunya, dan berjalan keluar kelas. Ia tidak menyusul Elang-belum berani sejauh itu. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak berbalik arah saat melihat bayangan mantan anggota geng berjalan di depannya.

Ia hanya berjalan di jalurnya sendiri, dengan pikiran yang mulai terbuka pada kemungkinan baru.

Mungkin, di sekolah ini, mereka yang tersisih bisa bersatu.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!