NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^14

Jika pun lelah singgah pada dua bola di balik kacamata bulat yang bertengger di tulang hidung, tidak membuat niat 'berhenti' menguasi jiwa dan pikirannya. Hanya karena sebuah penasaran, berhasil menghasut jiwanya. Untuk menuntaskan keingintahuannya itu.

Akan tetapi, ego telah berhasil memenangkan petarungan yang ada di kepalanya. Untuk tetap berada di tempat yang di kuasi oleh keheningan. Karena, 30 murid teratas dalam seangkatan berada di dalam ruang belajar yang telah disediakan oleh pihak sekolah.

Tersentak akan sebuah tangan yang baru saja meletakkan selembar soal di atas meja. Membuat sang empu sedikit mendongak untuk melihat siapa orang itu.

"Kau bisa mempelajarinya." ucap sang wanita, guru pembimbing jam belajar tambahan.

Melangkah pergi tanpa menunggu balasan dari sang murid. Hanya diam melihat contoh-contoh soal yang berbaris rapi di dalam kertas putih di tangannya saat ini. Tahu, jika hanya dirinya saja yang mendapatkannya. Karena, uang melakukan segalanya.

Beralih pada layar handphonenya yang menyala, di mana sebuah pesan masuk ke dalam benda pipih itu. Ampuh membuat sang empu tersenyum masam. "Sepertinya aku harus benar-benar mengakhiri hubungan ku?"

Diam sejenak dengan kepala yang tengah bergelut untuk menemukan jawaban tidak pasti. "Apa gadis itu tidak tahu, jika dia kekasih ku?"

"Atau, dia terlalu berani mengambil resikonya?" Imbuh sang empu yang sangat pelan. Tetapi, itu masih bisa di dengar oleh sosok pemuda yang berada di bilik sebelah kananya.

"Jika kau punya harga diri, kau tidak akan mempertahankanya." Suara familiar yang menyapa pendengarannya, benar-benar membuat benak gadis itu mendidih.

Sedikit memundurkan kepalanya, untuk melihat sosok pemuda yang masih saja sibuk bergulat dengan buku-bukunya itu. "Kenapa kau selalu ada di saat aku tidak ingin melihat wajah mu?" Merasa heran, tapi sang gadis juga tidak tahu harus bagaimana lagi.

Membuang napas lelah, sebelum membalas tatapan sang gadis. Yuna. "Apa tidak dosa jika aku menyebutnya sebagai takdir?"

"Berhentilah bicara dengan ku, dan bilang pada gadis itu untuk tidak tebar peso_"

"Aku tidak ada hak untuk mengatakannya." Cepat sang pemuda yang kerap di panggil Aldi oleh siapapun.

"Kenapa? Kau juga ingin mengakhiri perjuangan mu?" Tak kalah cepatnya gadis itu melontarkan perkataannya dengan ketus.

"Perjuangan? Aku tidak pernah memperjuangkan siapapun, kecuali pendidikanku." Balas Aldi yang entah kenapa merasa kesal sendiri. Tapi, Aldi masih bisa menahan emosi dalam dirinya.

"Oh, benarkah?" Ragu sang gadis yang benar-benar tidak percaya sedikit pun dengan perkataan Aldi.

"Benar, aku tidak pernah memperjuangkan orang yang kau maksud itu."

"Bisakah kalian diam?" Tegur seorang siswi, ampuh membuat dua insan itu menoleh ke belakang. Tepat di mana seorang gadis dengan surai yang dicepol secara acak-acakan.

"Maaf jika itu membuatmu terganggu." Akhir Yuna dengan sedikit ketus, sebelum kembali fokus pada lembar kertas yang gadis itu dapatkan dari sang guru.

Sedangkan Aldi hanya tersenyum simpul sembari mengangguk sekilas untuk meminta maaf pada siswi itu.

"Sepertinya gadis itu jauh lebih sensitif dari pada dirimu." Bisik Aldi, ampuh membuat Yuna melayangkan tatapan tajam.

...ʚɞ...

Jarum jam yang berjalan sesuai dengan aturan mengajak seluruh insan keluar dari ruangan tanpa adanya halangan. Hanya karena jam pelajaran tambahan telah selesai. Tapi tidak membuat dua insan itu langsung pulang ke rumah mereka.

"Kau ingin makan dengan ku?" Sebuah tawaran yang di cetuskan begitu saja oleh Aldi kepada sosok gadis di sisi kananya saat ini.

"Jika kau yang mengeluarkan uang aku tidak masalah." Balas Yuna, bukan berarti menerima tawaran itu.

"Padahal uangnya lebih banyak ketimbang milikku. Kenapa dia selalu mengatakan hal seperti itu?" Gumam Aldi yang berharap tidak dapat di dengar oleh Yuna. Tapi sayangnya, harapannya pupus. Seperti kera yang tidak sanggup melarikan diri dari sang pemburu.

"Aku bisa mendengar perkataan mu." Rendah Yuna, sebelum melangkah pelan terlebih dahulu.

Mau tidak mau Aldi menjajarkan kaki jenjangnya dengan milik Yuna, dengan ukiran kecil yang menghiasi wajah lelahnya. Menatap langit malam penuh makna.

"Kau tahu, ada beberapa hal yang sulit sekali aku katakan pada siapapun. Tapi begitu mudah terlontar saat bicara dengan mu." Tenang Aldi.

"Jaga jarak lah dengan ku, karena kau harus memperjuangkannya. Agar gadis itu tidak lagi menerima tawarannya." Rendah Yuna.

"Jikapun aku menyayanginya, aku tidak akan memperjuangkannya. Karena memiliki akan jauh membuat ku merasa kecewa." Balas Aldi, meniup udara.

"Kau mengakuinya sekarang?" Sebentar mengarahkan pandangannya untuk melihat wajah Aldi dari samping. Yuna kini tersenyum kecil.

"Tanpa ku akui kaupun juga sudah tahu."

"Karena kau tidak bisa mengatur strateginya. Setiap jam pelajaran, kau selalu melihat kearahnya. Setiap istirahat tiba kau selalu makan di hadapannya. Dengan alasan, kau ingin berteman dengannya. Setiap pulang sekolah, kau selalu mengikutinya sampai di rumahnya. Dan kau selalu telat saat jam tambahan. Padahal__"

"Tutup mulut mu jika kau tidak tahu apapun." Cepat Aldi yang kini berdiri di hadapan Yuna. Spontan menghentikan langkah kakinya, dengan tubuh sedikit tersentak akan sikap Aldi.

"Kau selalu saja mengelak, padahal itu memang sangat jelas." Penuh penekanan Yuna memberi balasan.

"Kau__"

"Menyingkirlah, perut ku butuh asupan." Dengan pelan Yuna menggeser tubuh Aldi, agar tidak menghalangi jalannya.

Berjalan beriringan dengan menikmati angin malam, membiarkan keheningan menyelimuti mereka.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar paman? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Yuna yang memecahkan kesunyian sesaat itu.

"Jika kau penasaran dengan pria tua itu," diam sejenak untuk melihat Yuna dari samping. "Temui lah dia, dan tanyakan langsung padanya. Karena jawaban itu akan berbeda jika bertanya padaku."

"Kau tidak akan memberiku opini yang tidak sesuai. Apalagi jika itu menyangkut ayah mu." Sungguh amat tenang Yuna memberi sahutan.

"Benar." Sadar Aldi dengan kepala mengangguk kecil. Merasa bodoh saat bertukar argumen dengan Yuna, walau topik itu sangat sederhana.

Saat itu juga kedua mata Aldi berbinar saat objek utama menerangi penglihatannya, sembari memelankan langkah kakinya. Tanpa peduli dengan sorot mata milik Yuna, perlahan berubah penuh arti.

"Wahh..." Masam Yuna yang mendapati pemandangan tidak diinginkan.

"Wahh.. Bukankah makanan di sana sangat enak-enak?" Antusias Aldi. Kini menoleh untuk melihat Yuna. "Ayo, aku akan mentraktir mu malam ini."

"Pergilah, aku harus menuntaskannya malam ini juga." Pinta Yuna yang tidak lagi memiliki napsu untuk mengisi perutnya dengan makanan apapun. Hanya karena satu objek yang benar-benar ampuh membuat dadanya merasa nyeri sekaligus sesak.

"Memangnya apa yang ingin kau tuntaskan?"

Tanpa memberi sahutan, Yuna melangkah pergi meninggalkan Aldi sendiri.

"Anna, kau mau pergi kemana?" Seru Aldi yang merasa frustasi sendiri saat berhadapan dengan gadis satu itu.

"Sebenarnya apa yang ada di pikiran gadis itu?" Gumam Aldi, sebelum mengikuti kemana perginya Yuna. Karena Aldi tidak ingin gadis itu melakukan hal yang sangat konyol. Hingga, mendatangkan huru-hara tak diharapakan siapapun.

"Bukankah itu sangat menyenangkan?"

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!