NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:767
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

[11] Balapan Bumi Vs Langit

Binaa

[Balapan?]

[Iya. Mau gak?]

Langit sontak melihat Gea yang sedang bermain sama Ibra. Gea sibuk bikin tugas Sekolah untuk besok. Papanya sedang nonton. Mamanya sibuk di dapur. Ia berdiri dan pergi begitu saja. Meninggalkan aktivitasnya tadi yang tengah membaca novel.

"Kak Langit ke mana?"

Netranya beralih pada Ezhar. "Kak Langit ngantuk papa." Selepas isya keluarga mereka memang diharuskan duduk bersama di ruang tengah hingga pukul sepuluh malam. Mau main HP, kerjakan tugas atau sepertinya yang membaca novel.

Kalau kata papanya setelah seharian sibuk diluar, sekolah atau kerja, malam merupakan family time yang tidak boleh dilewatkan.

Setidaknya dua jam. Terkadang di jam-jam segitu selain sibuk sendiri seperti sekarang juga diskusi keluarga perihal apapun dan juga edisi becanda.

Waktu baru menunjukkan pukul sembilan malam lewat sedikit. Namun Langit sudah beranjak dari ruang keluarga. Tentu menjadi pertanyaan bagi Ezhar.

"Tumben kak Langit ngantuk jam segini." Gea yang tengah mengerjakan tugas seraya tiduran tidak percaya.

"Nih mata kak Langit udah merah." Dia melotokan matanya. Tadi saat baca dia juga sudah mulai menguap dan mengantuk.

"Ya sudah. Taruh dulu novelnya di rak Langit. Jangan lupa wudhu dulu sebelum tidur."

"Siap Papa." Langit lalu memasuki ruangan lain yang tidak jauh dari ruang tamu. Di sana ada dua rak besar kanan kiri berhadapan dengan tinggi 200 cm, berisi banyak jajaran buku. Seperti yang pernah dia bilang pada Buku tempo waktu, rumahnya banyak novel. Tapi di sini tidak hanya novel,

Namun juga buku islami hingga self improvement. Sudah seperti perpustakaan mini rumah.

Bagian tengah, di antara dua rak, terdapat dua kursi saling berhadapan diisi meja bundar. Di atas meja itu ada pewangi ruangan yang menenangkan. Lantainya terdapat karpet beludru tebal.

Di ujung ruangan ada jendela besar menghadap taman samping rumah. Ada kolam ikan dan air Mancur buatan. Ruangan kecil ini adalah favorite dia dan mamanya.

Jika dia suka novel. Kalau Gea suka buku self improvement. Beda dengan Gara yang anti buku. adiknya itu lebih suka olah raga, membaca komik dan nonton anime.

Dia taruh novel yang tengah dia baca di antara buku lain. Langit lalu memutar badan naik ke tangga. Menuju kamarnya seraya berlari kecil. Ia langsung mengunci kamar dan mengecek lagi ponselnya.

Binaa

[Jam berapa?

[Kayak biasa. Mau ikutan?]

Langit menimbang seraya mengetuk ponsel ke dagunya. Terakhir dia ikut balapan dua bulan lalu, secara diam-diam. Mendapat tawaran seperti ini, dia jadi ingin.

[Mau deh]

Iya sih dia lagi berusaha jadi baik. Berusah rajin. Tapi gak apalah kalau balapan aja. Toh di sekolah dia tetap sedang berusaha belajar dengan baik.

[Oke. Gue tunggu di tempat biasa. Jangan kelamaan keluar]

[Iya]

***

Pukul setengah 12 belas malam. Langit yang memakai pakaian serba hitam, dengan jaket kulit yang membungkus tubuh rampingnya membuka pintu kamar pelan-pelan. Dia memakai jilbab abu-abu dan helm dul face yang dia pegang.

Rumah gelap dan sepi. Hanya ada satu lampu remang yang hidup. Lampu tengah. Ia

Berjalan mengendap-ngendap dengan tatapan wanti-wanti melihat sekitar. Memastikan tidak ada yang keluar.

Langit memutar kunci rumah sepelan mungkin. Membukanya lagi dan mengantongi kunci tersebut. Senyumnya merekah karena aman. Buru-buru di keluar gerbang. Langit tidak membuka gerbang. Kuncinya disimpan Ezhar. Ia memanjat tembok gerbang yang tinggi lewat pohon yang kebetulan tumbuh besar sebelum pagar.

Hap

Ia menjatuhkan tubuhnya dan mendarat sempurna. Tidak susah bagi dirinya untuk melakukan hal ini. Bina di atas mobilnya sudah menunggu.

Langit lekas masuk. "Gimana? Gue tepat waktu kan?" Ia tersenyum bangga. Bina mengacungkan kedua jempolnya. Mobil melaju kemudian.

"Satu jam aja kan ini balapan?"

"Hooh. Kalau finish ya selesai."

Langit memberikan anggukan. "Motornya

Udah di sana?"

"Udah kok. Lo tinggal pakai."

"Huah gue udah lama gak ikut." Langit meluruskan tangganya dan menggerakkan kepalanya kanan kiri.

"Menang hadiahnya gak main-main.

Cuan."

"Menang kalah gue gak peduli. Gue suka aja balapan."

"Tapi kan lumayan."

"Enggak. Gue gak mau nerima uang balapan."

Bina tidak lagi berbicara. Langit memang tidak pernah berniat menerima uang jika menang. Dia memang tidak selalu menang.

Kalau beruntung saja.

Mobil melaju cepat membelah dinginnya malam. Menembus kegelapan menuju arena balapan di tempat yang lumayan sepi. Arena balapan anak muda yang menyalurkan hobi mereka.

Mobil merah Bina lalu berhenti di dekat

Arena yang sudah ramai banyak yang menonton dan tidak jarang juga dari para perempuan. Langit menatap sekitar seraya berjalan ke arah motor untuknya sudah disediakan.

Semua mata melirik padanya. Senyum gadis itu merekah. Ia melambai pada beberapa kenalan. Termasuk Bumi yang juga ada di sana bersama Liam.

"Bum, lawan lo Langit?" Liam menoleh bingung. Iya mereka datang ke juga karena Bumi ikut balapan. Tidak pernah dia sangka kali ini lawannya Langit sendiri. Bumi tahu jika langit terkadang ikut balapan. Tidak sesering dirinya. Dia kira gadis itu sudah berhenti dan insyaf.

Bumi merapatkan jaketnya dan melangkah lebar menuju Langit yang kini akan memakai helm full facenya. Dekat motor besar berwarna putih.

"Jadi lo yang main malam ini?"

Baik Bina dan Langit sama-sama terkejut akan keberadaan Bumi. "Lawan gue Bumi? " Ia menatap Bina yang mengedikkan bahu.

"Gue mana tahu."

"Lo yakin balapan malam ini sama gue?" Bumi bertanya lagi. Langit tersenyum dan mengambil sarung tangannya. Memakainya.

"Kenapa enggak?"

Sebelah alis Bumi naik. "Gue rajanya balapan."

"Gak masalah. Gue gak ngejar menang. Udah lama aja gak main," ucapnya acuh tak acuh.

"Jadi lo mau kalah?"

"Yang gak juga. Tetap usaha dong. Kalau gitu buat apa balapan."

"Lo yakin ikut balapan?"

"Lo takut lawannya gue, Bumi?"

Bumi berdecak. Entah kenapa kalau lawan balapan cewek. Langit pula. Ia jadi ragu untuk meneruskan.

"Gue jadi penasaran gimana balapan lawan lo. Ayo Bum. Gak sabar." Langit memamerkan giginya yang rapi dan memakai

Helmnya.

Bumi memutar bola matanya. Tangannya yang menyelip di kantong jaket keluar dan membantu menutup kaca helm Langit yang masih terbuka dari luar.

Tindakan Bumi membuat Langit dari balik helmnya membeku. Ia menatap mata pria itu. Kornea mata Bumi sangat hitam. Tatapan cowok itu juga memenangkan.

Sadar sempat mengangumi Bumi. Langit buru-buru menatap arah lain. Untung saja kaca helmnya gelap.

"Oke, jangan nyesel." Bumi yang tinggi lalu menunduk dan membisikan sesuatu. "Kita lihat seberapa hebat gue Qanita Langit Zoe? Kalau kalah gue bakal minta yang lain. Hm?"

Langit mengerjap. Bumi memundurkan posisinya lalu tersenyum. Dia berbalik badan seraya menyugar rambutnya ke belakang. Para kaum hawa yang melihat itu memekik termasuk Bina.

"Gilaa Bumi makin berdamage."

Langit tersadar dan mengerjap. Ia

Kemudian naik ke atas motornya.

"Eh si Bumi ngomong apaan tadi?" Bina kepo. Langit mengedikkan bahu. "Gak penting." Dia lalu membawa motor itu melaju ke tengah arena balapan. Menyusul Bumi yang sudah ada di sana.

Motor hitam Bumi dan motor besar putih yang dipakai Langit bersebelahan. Bunyi gas mengaum sering sekeliling yang sudah ramai dan heboh. Asapnya membumbung. Keduanya fokus menatap lurus ke depan. Menunggu bendera dikibarkan tanda sudah bisa dimulai balapan.

Bumi melirik saat pada Langit.

"One."

"Two."

"Three."

"GO!"

Kedua motor besar itu menekan gas dan secepat kilat keduanya melaju cepat membelah jalanan malam. Bumi dahulu, Langit tidak mau ketinggalan. Ia menekankan gas habis-

Habisan untuk menyusul.

Keduanya terus kejar-kejaran untuk sampai finish. Beberapa kali Langit bisa mendahului Langit, namun secepat itu pula Bumi kembali mendahului.

Beberapa menit langit kembali tertinggal.

Ia mengakui Bumi jago soal balapan. Memang rajanya balapan. Mendadak otaknya cerdiknya mulai berpikir saat mereka hampir sampai finish.

TIN TIIN

"BUMII!" teriaknya.

TIN!

Ia terus mengklakson. Awalnya Bumi tidak terlalu peduli. Tapi menyadari motor Langit tertinggal jauh. Ia malah memutar arah. Benar saja motor Langit berhenti di tengah jalan.

"Langit kenapa?" Motor mereka sebelahan.

Gadis itu menoleh. "Bum. Kayaknya ada yang salah sama motornya deh, " lapornya

Panik. Langit tidak turun.

"Maksud lo?"

"Remnya."

"Kenapa remnya?"

"Turun deh."

Bumi menurut saja. Ia sampai membuka helm. Langit tersenyum puas dibalik helm full facenya. Sedetik kemudian ia melaju kencang begitu saja. Menekan gas hingga Bumi hampir terjungkal.

Cowok itu melonggo dan baru tersadar dikerjai. "Licik si Langit," decaknya buru-buru naik kembali.

Tawa Langit yang sudah jauh berderai. Ia terus memacu motornya menuju garis finish yang sudah terlihat. Tinggal sedikit lagi motornya sampai. Saat melirik spion yang kaget karena Bumi menyusul.

Brum!!

Motornya kian laju dan sampai di garis finish selang tiga detik dengan Bumi yang datang kemudian. Iya Langit menang. Saat

Motornya berhenti, semua orang menggerubuninya. Ia melepas helm dan bersorak senang.

Bumi juga melepas helmnya. Ia berdecak dan menjadikan tangan sebagai sandaran menatap Langit kegirangan.

"Dasar," cebiknya pelan namun geleng-geleng kepala. Emang ya dalam permainan itu tidak melulu soal skill atau pinter saja. Tapi otak cerdik sangat menentukan juga.

"Wleee!" Langit menjulurkan lidah ke arahnya seraya memberikan dua jempol terbalik. Marah? Tidak. Bumi malah lucu melihat rivalnya sendiri.

"Luar biasa. Raja balapan kalah sama rival sendiri." Liam tertawa. Dia menepuk pundak Bumi. "Sabar Bro."

"Dia cerdik."

"Udah gue duga."

Bumi menyembunyikan senyumnya. Langit kemudian menatap Bina dan bertos senang. Dia juga bertos dengan yang lain.

Langit kemudian turun dari motor dan memegang helmnya. Saat ia turun dan mengedarkan pandang, tubuhnya membeku melihat sosok pria berkemeja yang berdiri melipat tangan di bawah pohon.

Glek!

Langit menelan salivanya susah payah.

Netra pria itu menatapnya tajam dengan wajah dinginnya. Langkanya juga mendekat.

"Ngit, kok pucat?" Bina heran dan menempelkan tangannya ke wajah Langit.

Dingin kok. Dingin udara malam.

"Gue-" Langit terbata.

Bumi yang menyadari juga ikut heran.

"Jadi diam-diam lompat pagar untuk cari mati?" tanya Albiru sarkas. Cowok itu berdiri tepat didepan Langit menatap galak. Bumi dan Bina menoleh heran. Langit sendiri berdiri sedikit takut. Kenapa bisa ada Albiru sih di sini? Iya Itu Albiru. Ia heran kenapa Biru bisa tahu dia balapan. Apa dokter magang itu melhatnya tadi? Tapi kenapa bisa Albiru melihatnya.

"Kak Biru, Langit-"

"Ikut saya balik!" tegas Albiru.

"Langit-"

"Apa perlu saya telfon papa kamu?"

Jantungnya berdebar akan ancaman itu. Ia menggeleng cepat. "Jangan kak Biru.

Langit-"

"Ikut saya dan masuk ke mobil."

Langit mengigit bibir bagian bawahnya.

Untuk petama kalinya Albiru semarah ini. Ia jadi ciut. Rasanya semarahnya Ezhar, Albiru seram. Tatapannya seakan ingin mengguliti.

Albiru berbalik badan dahulu. Langit menghela nafas. Ia buru-buru memberikan helm pada Bina yang bingung.

"Sorry. Gue antara hidup mati."

"Ta-"

Langit lekas berlari menyusul Biru yang berjalan sangat cepat. "Kak Biru tungguin Langit!" kejarnya.

Bumi sontak turun dari motornya dan ikut

Ke sana.

"Ke mana Bum?" tanya Liam tidak mendapat jawaban.

"Kak Biru. Tunggu!" Langit berhasil meraih ujung kemeja Biru. Langkah Biru berhenti. Ia menatap dingin Langit yang kemudian menarik tangannya kembali dengan takut.

"Kak Biru Langit cuman-"

"Cuman cari cara buat mati. Iya?"

"Engga gitu. Langit cuman hobi aja balapan. La-"

"Hobi?" Ulang Biru tidak habis pikir. "Biar apa? Biar keren? Biar kecelakaan terus gak bisa ngapain-ngapain. Mau koma? Mau dirawat di rumah sakit selamanya? Mau patah tulang sampai gak bisa jalan, iya?!" marah Biru.

Langit tidak tahu kenapa Albiru sampai semarah ini padanya. Padahal cowok itu sangat cuek dan tidak peduli.

"Perempuan macam apa keluar malam

Untuk ini?"

"Ini yang mau kamu kasih buat orang tua kamu yang udah baik sama kamu?! Saya kira kamu gak sebandel ini. Keluar malam diam-diam?"

Air mata Langit mengenang dibentak Albiru. Sekalinya ngomong panjang ya marah.

Langit tahu ini salahnya.

"Jangan marah sama Langit. Jangan bilang papa kak Biru." Ia memohon dengan suara serak.

"Masuk! Saya antar ke depan rumah."

"Kak Bi-"

"SAYA BILANG MASUK."

Langit menunduk takut dan meremas jari-jemarinya. Setetes air matanya jatuh. Kalau Biru marah ia tidak bisa. Langit takut di benci Biru setelah ini.

"Kurang ajar!"

Bumi tiba-tiba datang dan menarik bahu Biru ke belakang dengan keras. Selanjutnya, bogeman keras ia layangkan.

Biru yang tidak siap karena tidak pernah menduga terdorong keras ke badan mobilnya.

Langit memekik kaget. "Kak Biru!"

"Nggak usah bentak Langit kalau lo gak Siapa-siapa dia!" rahang Bumi mengeras.

"Bumi lo apaaan sih!" teriaknya mendorong Bumi menjauh. Matanya menatap marah.

"Lo gak tahu apa-apa. Gak usah asal mukul. Kak Biru cuman nasehatin gue aja."

"Dia buat lo nangis Langit!"

"Bukan urusan lo, Bumi," pekiknya. Bumi menggepalkan tangannya. "Lo pergi aja, " Usir Langit. Dia lalu berbalik badan pada Albiru yang mengusap sudut bibirnya yang sedikit luka.

"Kak Biru gak apa?"

Biru menatap cowok yang berdiri di belakang Langit. Ia menatap dingin lalu masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara.

Langit lekas masuk juga, tapi Bumi menahan lengannya yang dibalut jaket. "Lo

Pulang sama dia?"

"Hm. Rumah kami sebelahan." Langit menarik tangannya.

"Kalau dia ngapain-ngapain?"

"Kak Biru baik."

"Yang kayak tadi baik?" tanya Bumi terkekeh.

"Kak Biru kaget aja. Gak usah peduliin gue. Gue duluan," Langit lekas masuk kemudian. Bumi membuang nafas panjang. Setelahnya mobil itu melaju kencang.

***

Sepanjang perjalanan Langit tidak berani mengajak Biru bicara. Ia takut. Aura pria itu sangat menyeramkan. Mobil terasa dingin dan mencekam. Padahal AC mobil Langit tidak nyala.

Langit hanya duduk gelisah di belakang seraya tatapannya menatap punggung Bumi. Tangannya saling tertaut di atas paha. Ia mengigit bibir.

Sungguh perjalanan itu terasa sangat

Lama. Biru juga tidak berkata apa-apa.

Begitu mobil Biru berhenti di depan pagar rumah pria itu. Biru turun duluan dan membuka pintu agar Langit keluar.

Langit menatap wajah Biru. Apalagi luka di sudut bibir pria itu. "Kak Biru-"

"Keluar!"

"Gak lagi. Jangan bilang papa dan jangan marah please," pintanya penuh permohonan. Tangannya menungkup di depan wajah.

"Keluar!"

Langit menghela nafas. Ia menurut untuk segera keluar. Saat dia sudah keluar, Biru kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.

"Kak Biru-"

Mobil Biru kemudian melaju pergi. Menyisakan angin yang sangat dingin. Dia menatap nanar. Apa Biru membencinya?

Langit menghela nafas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!