Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.Pertemuan & Rahasia
Langkah Ren bergema pelan di atas lantai marmer koridor utama Akademi Kuoh. Suasana di dalam sini jauh lebih tenang dibandingkan jalanan di luar, namun bagi indera Ren yang tajam, ketenangan ini terasa seperti permukaan air yang menutupi arus deras di bawahnya. Aroma kertas tua, parfum remaja, dan sisa-sisa energi sihir yang sengaja disembunyikan memenuhi udara.
Ia sengaja berjalan dengan tempo yang lambat, membiarkan matanya—yang tersembunyi di balik lensa hitam—membedah setiap sudut bangunan. Struktur bangunan ini kokoh, namun ada sesuatu yang lebih dari sekadar beton dan baja. Di setiap sudut pilar, ia bisa melihat aliran energi yang mengalir seperti sirkuit listrik tak kasat mata.
"Penghalang ini cukup rapi untuk standar dunia baru," batin Ren. Ia tidak terburu-buru. Baginya, observasi adalah kunci.
Para siswa yang berpapasan dengannya mulai berbisik-bisik. Siswi-siswi yang mengenakan seragam khas Kuoh berhenti sejenak, menoleh ke arah pemuda berambut putih yang tampak sangat menonjol itu. Tinggi badannya yang mencapai 188 cm dan aura percaya diri yang tenang membuatnya tampak seperti seorang model yang tersesat di sekolah menengah.
"Siapa dia? Murid baru?"
"Rambut putihnya asli atau cat? Keren sekali..."
"Lihat cara dia berjalan, seperti tidak menyentuh lantai."
Ren hanya tersenyum tipis, sebuah seringai yang nyaris tidak terlihat namun memberikan kesan misterius yang kuat. Ia mengabaikan semua komentar itu. Perhatiannya teralih pada sebuah gedung tua yang terletak agak terpisah dari gedung utama—Klub Ilmu Gaib. Dari sana, ia merasakan denyut energi yang paling kuat, sesuatu yang panas dan destruktif.
Tiba-tiba, di sudut matanya, sistem kembali bergetar pelan di dalam pikirannya.
[SISTEM: Deteksi individu dengan tingkat energi signifikan. Jarak: 20 meter ke arah jam dua.]
[SISTEM: Analisis energi—Power of Destruction. Afiliasi: Faksi Iblis Gremory.]
Ren tidak menoleh secara langsung. Ia terus berjalan dengan santai, namun Six Eyes miliknya sudah mengunci target. Di lantai dua gedung utama, seorang gadis berambut merah panjang yang indah sedang berdiri di dekat jendela, menatap ke arah lapangan. Gadis itu—Rias Gremory—tampak sedang mengamati situasi sekolah, namun saat Ren melangkah masuk ke area pandangnya, ia bisa merasakan tatapan Rias menegang.
[REN: Menarik. Dia menyadarinya, ya? Padahal aku sudah menekan keberadaanku seminimal mungkin.]
[SISTEM: Anda adalah anomali di dunia ini. Tekanan ruang-waktu yang Anda bawa tidak bisa sepenuhnya disembunyikan dari garis keturunan tingkat tinggi.]
Ren terus melangkah menuju ruang kepala sekolah, namun saat ia melewati koridor yang agak sepi di dekat area taman dalam, seorang pemuda berambut cokelat dengan wajah yang tampak lelah—Issei Hyodo—berlari terburu-buru melewatinya. Issei sempat berhenti sejenak, menoleh ke arah Ren dengan ekspresi bingung. Di mata Ren, Issei tampak seperti lampu neon yang berkedip-kedip; ada sesuatu yang sangat kuat di dalam tangan kirinya yang masih tertidur.
"Ah, maaf! Aku sedang buru-buru!" seru Issei sambil melanjutkan larinya.
Ren berhenti sejenak, menatap punggung Issei yang menjauh. Ia menyentuh dagunya, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu.
"Naga? Jadi itu yang mereka sebut sebagai Sacred Gear tingkat tinggi," pikirnya.
[SISTEM: Informasi tambahan—Target tersebut membawa fragmen jiwa Naga Kaisar Merah, Ddraig. Status saat ini: Lemah. Integrasi dengan pengguna: 10%.]
[REN: Lemah, ya? Tapi potensinya cukup besar untuk mengacaukan rencana siapa pun jika tidak ditangani dengan benar. Tidak masalah, dia bukan prioritasku sekarang.]
Ren kembali berjalan. Tujuannya sekarang adalah menyelesaikan administrasi sebagai murid pindahan. Ia butuh "jangkar" sosial di dunia ini agar pergerakannya tidak terlalu mencolok bagi faksi-faksi besar yang lebih agresif. Sambil berjalan, ia merogoh saku celananya, merasakan sebuah koin emas kecil dari dunia Douluo yang ia bawa. Ia memutar-mutar koin itu di sela jarinya dengan lincah sebelum menyimpannya kembali ke inventaris.
Setiap inci sekolah ini memberinya informasi baru. Ia mencatat lokasi-lokasi dengan kepadatan energi tinggi, jalur pelarian yang paling efisien, dan titik-titik lemah pada penghalang sekolah. Bagi Ren, Akademi Kuoh bukan sekadar tempat belajar; ini adalah papan catur pertamanya di alam semesta ini.
Di depan pintu kayu besar bertuliskan "Ruang Kepala Sekolah", Ren berhenti. Ia melepaskan kacamata hitamnya sejenak, mengusap matanya yang terasa sedikit hangat karena memproses terlalu banyak data, lalu memakainya kembali. Ia mengetuk pintu itu dua kali dengan sopan namun tegas.
"Mari kita lihat, seberapa dalam aku bisa masuk ke dalam jaring laba-laba para Iblis ini tanpa merobeknya," bisik Ren dalam hati sebelum pintu itu terbuka.