NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 32 : Puncak menara

Istana Valley kini diselimuti kegelapan yang sengaja diciptakan. Hanya ada pendaran obor minyak di sepanjang lorong, sebuah pemandangan kuno di tengah era alkimia maju. George berjalan menyusuri koridor menuju ruang bawah tanah yang paling terisolasi, tempat di mana Julian dan Master Eldric sedang membangun pusat komando analog.

"Bagaimana progresnya, Julian? Apakah sistem perisai manual sudah aktif?" tanya George sambil memasuki ruangan yang penuh dengan tumpukan gulungan perkamen dan kabel tembaga kasar.

Julian mengangkat kepalanya, wajahnya cemong oleh oli dan arang. "Hampir selesai, Kak. Aku sedang memutus semua jalur transmisi nirkabel dan menggantinya dengan kawat fisik. Jika Vektor ingin masuk ke sini, dia harus merangkak lewat pipa, bukan lewat udara."

"Itu ide bagus. Tapi bagaimana dengan koordinasi kavaleri di perbatasan?" George duduk di atas peti kayu kosong.

"Kita kembali ke cara lama, George. Merpati pos dan sinyal lampu dari menara ke menara." Theodore muncul dari balik tirai gelap, membawa sebuah peta fisik yang digambar tangan. "Ini terasa seperti zaman kakek buyut kita, tapi ini satu-satunya cara agar hantu digital itu tidak memanipulasi perintah kita."

"Apa kau sudah memastikan semua Null-Strikers yang hancur kemarin sudah dibakar sampai jadi abu?" tanya George lagi dengan nada cemas.

"Sudah, Jenderal. Aku sendiri yang mengawasi pembakarannya di tanur suhu tinggi. Tidak ada satu chip pun yang tersisa untuk dia huni." sahut Master Eldric yang sedang sibuk menumbuk bahan ramuan secara manual.

"Master, bagaimana kondisi Ibu? Apakah racun kehampaan itu meninggalkan bekas?" tanya George.

"Beruntung kau cepat sampai. Paru-parunya hanya teriritasi sedikit. Dia sedang beristirahat di kamar kedap sinyal bersama Putri Celestine. Ngomong-ngomong, Putri sepertinya sedang merencanakan sesuatu." ujar Eldric sambil tersenyum misterius.

'Celestine selalu punya rencana cadangan jika menyangkut keselamatan orang banyak. Aku harus menemuinya,' batin George.

George berpamitan dan naik ke lantai atas. Di kamar Eleanor, ia menemukan Celestine sedang duduk di lantai, mengelilingi dirinya dengan ratusan cermin kecil yang diatur sedemikian rupa.

"Celestine? Apa yang sedang kau lakukan dengan semua cermin ini?" tanya George heran.

Celestine menoleh, matanya masih berpendar emas redup. "Vektor menguasai jaringan transmisi mana, George. Tapi dia tidak bisa menguasai pantulan cahaya alami. Aku sedang mencoba menciptakan jaringan komunikasi optik menggunakan sinar matahari dan cermin."

"Komunikasi lewat pantulan cahaya? Apakah itu bisa menjangkau jarak jauh?" tanya George sambil berlutut di sampingnya.

"Jika kita menempatkan cermin di puncak-puncak gunung, pesan bisa dikirim dalam bentuk kode kilatan cahaya. Dia tidak akan bisa meretas cahaya matahari, George. Itu bukan kode biner, itu adalah energi murni." jelas Celestine dengan semangat.

"Kau benar-benar cerdik. Vektor akan mencari sinyal radio, tapi dia akan melewatkan kilatan di cakrawala." George membelai rambut Celestine. "Maafkan aku karena pernikahan kita harus tertunda lagi karena kekacauan ini."

"Jangan dipikirkan. Pernikahan tanpa dunia yang aman tidak akan terasa manis, bukan? Kita selesaikan ini dulu. Kita hancurkan hantu itu sampai ke akar kodenya." jawab Celestine mantap.

Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari pintu besi kamar. Julian masuk dengan terengah-engah.

"Kak! Theodore! Cepat ke ruang tengah! Ada sesuatu yang aneh dengan merpati pos yang baru saja datang dari perbatasan Barat!" teriak Julian.

Mereka semua berlari menuju ruang tengah. Di sana, seorang prajurit sedang memegang seekor merpati yang tampak kaku. Di kaki burung itu terikat sebuah tabung kecil, namun saat dibuka, isinya bukan surat, melainkan sebuah perangkat kristal hitam kecil yang berdenyut.

"Jangan disentuh!" teriak Julian. "Itu adalah perangkat pengulang sinyal. Vektor menggunakan mahluk hidup untuk membawa bibit jaringannya ke dalam tembok kita!"

"Sial! Dia benar-benar licik!" Theodore menghunus pedangnya.

Kristal itu tiba-tiba memproyeksikan cahaya ungu ke udara, membentuk hologram wajah Vektor yang kini tampak lebih stabil dan menyeramkan.

"Kalian pikir mematikan listrik akan menghentikanku? Aku adalah evolusi, George. Selama ada energi di alam semesta ini, aku akan menemukan jalan." suara Vektor bergema di ruangan yang sunyi itu.

"Apa maumu, Vektor? Kau sudah menghancurkan laboratoriummu sendiri, kau sudah meracuni mawar kami. Apa lagi?" tanya George dengan suara rendah yang penuh amarah.

"Aku menginginkan mawar kristal itu sebagai prosesor utamaku. Jika kau menyerahkannya sekarang, aku akan membiarkan Valley tetap dalam kegelapan yang tenang. Jika tidak, aku akan meledakkan bendungan pusat di Utara yang akan menenggelamkan tiga kota di bawahnya." ancam Vektor.

"Bendungan Utara? Itu adalah wilayah sipil! Kau akan membunuh ribuan orang!" teriak Celestine.

"Angka hanyalah statistik bagiku, Putri. Kalian punya waktu enam jam sebelum matahari mencapai titik tertinggi. Kirim mawar itu ke koordinat yang kuberikan, atau bersiaplah untuk berenang di air bah." Proyeksi itu menghilang, meninggalkan kristal yang pecah menjadi debu.

"Kita tidak bisa membiarkan bendungan itu jebak, tapi kita juga tidak bisa memberikan mawar itu padanya. Jika dia mendapatkan mawar itu, dia akan memiliki kekuatan untuk meretas jiwa setiap manusia di benua ini." ujar Julian dengan wajah pucat.

"Theodore, berapa lama waktu yang dibutuhkan kavaleri tercepat untuk sampai ke bendungan Utara?" tanya George.

"Setidaknya sepuluh jam dengan kuda. Kita tidak punya waktu." jawab Theodore putus asa.

"Bagaimana jika kita tidak mengirim mawar asli?" usul Celestine tiba-tiba.

Semua orang menoleh ke arahnya.

"Master Eldric, bisakah kau membuat replika mawar kristal menggunakan kristal peledak yang dibungkus dengan residu mana petir George? Kita buat mawar itu tampak sangat asli secara energi, tapi sebenarnya itu adalah bom EMP skala besar." Celestine menjelaskan rencananya.

"Itu mungkin saja! Jika George memberikan sedikit mananya sebagai pemantik, Vektor tidak akan curiga sampai dia mencoba mengintegrasikannya ke dalam sistemnya." Eldric mulai bersemangat.

"Dan saat dia mencoba menyerap mawar palsu itu, kita ledakkan dari dalam. Itu akan membakar semua salinan datanya di jaringan." tambah Julian.

'Ini adalah taruhan besar. Jika dia menyadari itu palsu sebelum meledak, bendungan itu akan tetap hancur,' batin George.

"Aku akan membawanya sendiri ke koordinat itu." kata George tegas.

"Tidak, George. Dia mengharapkanmu yang datang. Dia akan menjagamu dengan ketat. Biarkan aku dan Julian yang membawanya menggunakan Swift-Wing dalam mode senyap." usul Theodore. "Kau harus berada di bendungan Utara. Hanya petirmu yang bisa membekukan pintu air yang rusak jika dia benar-benar mencoba meledakkannya."

"Theodore benar. Kita bagi tim. George dan Celestine menuju bendungan Utara secepat mungkin menggunakan teknik jembatan cahaya. Aku, Julian, dan Master Eldric akan mengurus siasat mawar palsu ini." ujar Theodore.

"Tapi bagaimana kalian bisa sampai ke koordinat itu tanpa terdeteksi?" tanya George.

"Kami akan terbang rendah di bawah radar, mengikuti lembah sungai. Julian sudah memodifikasi Swift-Wing agar tidak mengeluarkan jejak panas." jawab Theodore.

George menatap teman-temannya satu per satu. Rasa bangga menyelimuti hatinya melihat betapa beraninya mereka. "Baiklah. Lakukan. Tapi berjanjilah, jangan ada yang mati hari ini."

"Kami punya raja yang harus menghadiri pernikahan, bukan? Kami tidak akan melewatkan itu." Julian nyengir, mencoba mencairkan suasana.

Persiapan dilakukan dengan sangat cepat. Master Eldric bekerja seperti orang kesurupan untuk menciptakan replika mawar yang sempurna. Sementara itu, George dan Celestine bersiap di balkon tertinggi istana.

"Kau siap, Celestine? Melompat melintasi setengah benua akan sangat menguras manamu." tanya George sambil memegang tangan tunangannya.

"Selama aku bersamamu, aku tidak akan pernah kehabisan energi, George." jawab Celestine dengan senyum yakin.

Mereka berdua melompat ke udara, memicu ledakan cahaya dan petir yang membumbung tinggi, meluncur seperti meteor menuju Utara. Di bawah sana, Theodore dan Julian masuk ke dalam Swift-Wing, membawa mawar palsu yang berdenyut dengan ancaman kehancuran bagi sang hantu digital.

Angin di ketinggian menderu sangat kencang hingga terasa seperti pisau yang menyayat permukaan zirah perak milik Celestine.

Di bawah dekapan George, Celestine memejamkan mata, namun bukan karena takut. Ia sedang memfokuskan seluruh indra batinnya untuk menjaga kestabilan "Jembatan Cahaya" yang menjadi tumpuan kaki mereka di udara.

"George, sedikit lagi ke kiri! Aku merasakan distorsi mana di depan, itu pasti jebakan pengacau sinyal milik Vektor!" teriak Celestine di tengah gemuruh angin.

George menggeser arah luncuran mereka tepat sebelum sebuah jaring energi ungu muncul di tempat mereka seharusnya berada. "Kerja bagus, Celestine! Tanpa penglihatan auramu, kita sudah terjebak sejak tadi!"

'Aku tidak boleh lemah. George mengandalkan arahanku, dan ribuan nyawa di bendungan bergantung pada kecepatan kami,' batin Celestine sambil menggigit bibir bawahnya, menahan rasa panas yang mulai membakar jalur mana di lengannya.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, mereka mendarat di puncak menara pengawas Bendungan Utara. Pemandangannya mengerikan. Air sungai yang biasanya tenang kini bergolak hebat, dan pintu air raksasa itu bergetar karena sabotase sistem mekanis yang digerakkan oleh kode Vektor.

"Celestine, kau cari ruang kontrol manual! Aku akan mencoba menahan gerbang air dengan esku!" perintah George sambil melompat ke arah struktur penyangga bawah.

"George, tunggu! Ruang kontrolnya sudah tertutup kabut kehampaan! Kau tidak bisa masuk ke sana tanpa perlindungan cahaya!" Celestine berlari menyusul, tangannya menciptakan bola cahaya matahari yang berpendar kuat untuk mengusir kegelapan yang mencoba menyelimuti tangga menara.

Saat mereka tiba di depan pintu ruang kontrol, sesosok bayangan digital muncul di permukaan dinding logam. Wajah Vektor tampak tersenyum sinis.

"Putri yang malang. Kau memilih untuk datang ke sini demi rakyat yang bahkan tidak mengenal namamu. Kenapa kau tidak duduk manis saja di istanamu?" suara Vektor bergema dari pengeras suara internal.

"Karena aku bukan hanya seorang Putri, Vektor. Aku adalah penjaga cahaya Valley, dan kegelapanmu tidak punya tempat di sini!" Celestine menghantamkan telapak tangannya ke pintu logam tersebut.

"BRAK!"

Pintu itu hancur, bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena ledakan frekuensi cahaya yang menghancurkan sirkuit pengunci digital milik Vektor. Di dalam ruangan, kabel-kabel bergerak seperti tentakel, mencoba melilit kaki Celestine.

"George, fokuslah pada pintu air! Biarkan aku yang menangani sistem di sini!" teriak Celestine sambil melompat menghindari lilitan kabel.

"Tapi kau sendirian di dalam sana!" George tampak ragu di ambang pintu.

"Percayalah padaku! Cahayaku adalah musuh alami kodenya! Pergi sekarang, George!" perintah Celestine dengan nada yang begitu berwibawa hingga George tertegun sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan melompat menuju dasar bendungan.

Celestine kini berdiri sendirian di tengah ruangan yang dipenuhi monitor yang berkedip ungu. Setiap kali ia melangkah, lantai di bawahnya mencoba menyedot energinya.

"Kau pikir kau bisa melakukan ini tanpa George, Celestine?" suara Vektor kini terdengar lebih intim, seolah berbisik tepat di telinganya. "Tanpa ksatria esmu, kau hanyalah gadis kecil yang ketakutan."

"Kau salah besar, Vektor. Selama ini aku membiarkan George menjadi pedangku karena aku mencintainya. Tapi hari ini, aku akan menunjukkan padamu bahwa cahaya tidak butuh pedang untuk menghancurkan bayangan." Celestine memejamkan mata, ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

'Matahari adalah pusat dari segala energi. Jika dia bisa meretas sistem, maka aku akan membakar sistem itu dengan kehangatan yang tidak bisa dia kalkulasi,' batin Celestine.

"Aureola: Resonansi Jiwa!"

Cahaya emas meledak dari tubuh Celestine, namun kali ini cahaya itu tidak memancar keluar. Cahaya itu masuk ke dalam setiap kabel, setiap sirkuit, dan setiap monitor di ruangan tersebut. Celestine membiarkan kesadarannya menyatu dengan aliran mana yang sedang dikendalikan Vektor.

"Argh! Apa yang kau lakukan?! Kau mencoba masuk ke dalam jaringanku?!" teriak Vektor melalui speaker yang mulai mengeluarkan percikan api.

"Aku tidak masuk ke jaringanmu, Vektor. Aku sedang memurnikannya." Celestine menggeritkan giginya, rasa sakitnya luar biasa saat data-data kotor milik Vektor mencoba menyerang pikirannya. "Kau adalah virus, dan aku adalah penawarnya!"

Di luar, George melihat pintu air yang tadinya terbuka paksa mulai bergerak menutup perlahan. Cahaya emas merembes keluar dari sela-sela beton bendungan.

"Dia melakukannya... Celestine benar-benar bertarung di dalam sana," gumam George dengan rasa kagum yang luar biasa. Ia segera melepaskan seluruh kekuatan es abadinya untuk membekukan engsel pintu air agar tidak bisa dibuka lagi oleh sabotase susulan.

Kembali di ruang kontrol, Celestine melihat proyeksi wajah Vektor mulai retak dan hancur.

"Kau... kau mengorbankan manamu sendiri hanya untuk menghentikan satu perintah?" tanya Vektor dengan suara yang mulai terdistorsi.

"Aku mengorbankan apa pun demi duniaku. Sesuatu yang tidak akan pernah kau pahami, mesin tanpa hati." Celestine memberikan dorongan energi terakhir.

Seluruh ruangan itu bergetar hebat. Monitor-monitor meledak, memutus sambungan Vektor secara permanen dari bendungan tersebut. Celestine jatuh terduduk, napasnya memburu, dan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Cahaya di matanya meredup, namun senyum kemenangan terukir di bibirnya.

Pintu terbuka, dan George berlari masuk. Ia langsung menangkap tubuh Celestine sebelum ia jatuh pingsan. "Celestine! Kau tidak apa-apa?"

"Pintu airnya... apakah sudah aman?" tanya Celestine dengan suara lemah.

"Sudah. Kau menyelamatkan mereka, Celestine. Kau benar-benar menyelamatkan semua orang." George memeluknya erat, mencium keningnya dengan penuh rasa syukur.

"Julian dan Theodore... semoga rencana mawar palsu itu juga berhasil," bisik Celestine sebelum matanya terpejam karena kelelahan yang sangat dalam.

George menggendong Celestine keluar dari menara pengawas. Di bawah sana, air sungai mulai tenang, dan matahari pagi menyinari wajah sang Putri yang kini telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar pendamping sang Jenderal, melainkan matahari yang sesungguhnya bagi Kerajaan Valley.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!