Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Hanya Bayangan
"Aku mengejar bayangan yang selalu menjauh saat cahaya harapanku menyala. Terkadang aku bertanya, apakah mataku yang terlalu buta untuk melihat cahaya lain yang benderang di dekatku, ataukah hatiku yang memang sudah ditakdirkan untuk mati membeku di dalam bayang-bayangmu?" (Buku Harian Keyla, Halaman 19)
Musim kemarau bulan Agustus memang selalu terasa lebih terik dan menyengat dari biasanya. Angin yang berhembus di koridor lantai dua SMA kami tidak lagi membawa kesejukan, melainkan hawa panas yang membuat peluh mudah menetes. Namun bagiku, tidak peduli seberapa panas matahari memanggang bumi hari ini, duniaku tetap terasa seperti sedang berada di tengah badai salju yang tak berujung.
Semenjak insiden sapu tangan di tengah hujan waktu itu, tidak ada yang berubah. Rendi masihlah Rendi si gunung es. Anggukan diamnya di pagi hari masih menjadi satu-satunya "komunikasi" kami. Ia tak pernah mengembalikan sapu tanganku, dan aku tak punya cukup keberanian untuk menanyakannya. Ia kembali menutup rapat pintunya, menguncinya dari dalam, dan membiarkanku berdiri kedinginan di teras hatinya tanpa kepastian.
Siang ini, bel istirahat kedua baru saja berbunyi. Aku melangkah gontai keluar dari ruang guru setelah mengantarkan setumpuk buku tugas sosiologi milik kelasku. Tumpukan buku itu cukup berat, membuat napasku sedikit terengah.
Saat aku menuruni tangga menuju lantai satu, hak sepatu hitamku tak sengaja terpeleset di ujung anak tangga. Tubuhku oleng ke depan. Tumpukan buku di tanganku terlepas dan berserakan ke mana-mana. Aku memejamkan mata, bersiap merasakan hantaman keras lantai keramik pada lutut dan wajahku.
Namun, hantaman itu tak pernah terjadi.
Sepasang tangan yang kuat dan hangat menangkap kedua lenganku dengan sigap, menahan tubuhku agar tidak jatuh terjerembap.
"Hati-hati, Keyla."
Suara itu berat, namun mengalun dengan intonasi yang begitu lembut dan penuh kehangatan. Aku membuka mataku dan mendongak. Jantungku yang sempat melompat karena kaget, perlahan kembali normal.
Di hadapanku, berdirilah Indra.
Indra adalah kapten tim futsal sekolah dari kelas XII-IPA 2. Ia adalah representasi sempurna dari apa yang didambakan oleh sebagian besar siswi di sekolah ini. Ia memiliki postur tubuh yang atletis, kulit bersih yang terawat, rambut yang selalu disisir rapi dengan sedikit pomade, dan senyum yang bisa membuat siapa pun merasa dihargai. Seragamnya selalu wangi, sepatunya bermerek, dan ia tidak pernah kehabisan kata-kata manis untuk membuat orang lain nyaman di sekitarnya.
Ia adalah matahari. Sangat terang, sangat hangat.
"Kamu nggak apa-apa, Key? Ada yang sakit?" tanya Indra lagi, suaranya sarat akan kekhawatiran. Ia melepaskan pegangannya pada lenganku dengan sopan begitu memastikan aku sudah bisa berdiri tegak.
Aku buru-buru memundurkan langkahku, sedikit canggung. "N-nggak apa-apa, Ndra. Makasih banyak ya, kalau nggak ada kamu, mungkin hidungku udah patah nyium lantai."
Indra tertawa renyah, memperlihatkan lesung pipi di sebelah kirinya. Tawa yang sangat lepas dan menular. "Makanya, kalau bawa buku seberat ini, minta tolong sama anak cowok di kelasmu. Atau panggil aku aja, aku siap kok jadi kuli angkut buat kamu kapan pun."
Sambil berkata begitu, Indra berjongkok, mulai memunguti buku-buku sosiologi yang berserakan di anak tangga. Aku segera ikut berjongkok, merasa tak enak hati. "Eh, nggak usah, Ndra. Biar aku aja."
"Udah, biarin aku yang bawa sampai ke kelasmu," Indra memaksa dengan halus. Tangannya tak sengaja bersentuhan dengan punggung tanganku saat kami sama-sama meraih buku yang sama. Kulitnya hangat. Ia menatapku sejenak, senyumnya menyiratkan ketertarikan yang tak ditutup-tutupi. "Lagian, aku juga mau ke kelasmu, nyariin anak-anak."
Kami berjalan beriringan menuju kelasku. Di sepanjang koridor, beberapa siswi yang berpapasan dengan kami tampak berbisik-bisik sambil mencuri pandang ke arah Indra. Ia membalas sapaan mereka dengan ramah, namun langkahnya tetap setia berada di sampingku, seolah ia sedang menjagaku.
Sungguh sebuah pemandangan yang kontras. Jika aku berjalan di samping Rendi, mungkin laki-laki itu akan berjalan sepuluh langkah lebih cepat meninggalkanku, atau menyuruhku menjauh. Sementara Indra, ia menyesuaikan langkah kakinya yang panjang dengan langkah kecilku, memastikan aku tidak tertinggal.
Saat kami masuk ke kelas XII-IPA 1, Bella yang sedang duduk di atas mejaku langsung bersiul menggoda. Lidya yang sedang memakan keripik singkong menghentikan kunyahannya, menaikkan alisnya dengan raut wajah penuh minat.
"Ehem! Silau banget nih siang-siang ada matahari masuk ke kelas!" goda Bella dengan suara cemprengnya, matanya melirik jahil padaku dan Indra bergantian. "Aduh, Key, dianterin pangeran futsal nih ceritanya?"
Aku memutar bola mata, wajahku terasa sedikit panas. "Apaan sih, Bel. Tadi aku hampir jatuh di tangga, terus ditolongin sama Indra. Dia cuma bantuin bawain buku ini."
Indra meletakkan tumpukan buku itu di atas meja guru, lalu berjalan menghampiri meja kami. "Iya, nih, temen kalian ceroboh banget. Untung aku pas lewat. Kalau nggak, mungkin besok dia harus masuk sekolah pakai kursi roda."
"Wah, hero banget sih lo, Ndra," sahut Lidya santai. "Thanks ya udah nyelamatin nyawa sohib gue. Lo tau sendiri si Keyla ini emang agak-agak kalau jalan, kebanyakan ngelamun."
Indra tersenyum manis menatapku. "Sama-sama. Buat Keyla, apa sih yang nggak."
Sorakan Bella makin heboh. Kelasku yang tadinya hanya diisi belasan orang seketika dipenuhi oleh riuh godaan. Aku menunduk, berusaha menyembunyikan wajahku yang mungkin sudah memerah karena salah tingkah.
Di sudut lain, Siska yang sedari tadi sedang mengerjakan latihan soal di mejanya perlahan meletakkan pulpennya. Ia berdiri dengan anggun, membetulkan letak kacamata tebalnya, dan berjalan menghampiri kerumunan kami.
"Makasih ya, Indra, udah bantuin Keyla," ucap Siska dengan nadanya yang sangat lembut dan sopan.
Mata Siska menatap Indra dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada sekelebat kilat di balik lensa kacamata itu—sebuah binar kekaguman yang bercampur dengan rasa iri yang ditekan dalam-dalam. Namun Siska terlalu pandai bermain peran. Dalam sekejap, kilat itu menghilang, digantikan oleh senyum malaikatnya.
"Indra ini emang selalu baik sama siapa aja ya, pantesan banyak yang ngefans," puji Siska pelan, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri tapi memastikan Indra mendengarnya.
"Biasa aja kok, Sis," Indra merendah, meski senyum bangga sempat terlintas di wajahnya. Ia lalu menoleh padaku lagi. "Oh ya, Key. Nanti sore ada tanding persahabatan futsal lawan SMA Garuda di lapangan indoor. Kamu... ada waktu nggak buat nonton?"
Pertanyaan Indra langsung membuat suasana hening sejenak, sebelum akhirnya Bella memekik tertahan sambil mencubit lenganku. Itu bukan sekadar ajakan menonton. Di dunia SMA, diajak menonton pertandingan oleh kapten tim secara personal adalah bentuk pernyataan ketertarikan yang sangat eksplisit.
"Kau menawariku tempat duduk di barisan paling depan untuk melihat kehebatanmu, Indra. Sebuah tempat yang diimpikan ratusan gadis di sekolah ini. Namun mengapa, hatiku tak merespons ajakanmu dengan debaran yang sama?" (Buku Harian Keyla, Halaman 21)
Aku terdiam. Otakku tiba-tiba berputar lambat. Ajakan Indra begitu tulus, matanya memancarkan harapan yang besar. Seharusnya aku merasa tersanjung. Seharusnya aku mengangguk dan meloncat kegirangan.
Namun alih-alih menatap mata hangat Indra, pandanganku justru bergerak di luar kendaliku. Melewati bahu tegap Indra, mataku menyisir bagian belakang kelas.
Kosong. Bangku di belakang mejaku kosong.
Ke mana dia? Bel istirahat tinggal menyisakan waktu lima belas menit. Rendi tidak ada di kelas. Apakah ia berada di perpustakaan lagi? Atau di belakang ruang gudang olahraga?
"Key?" panggil Indra pelan, membuyarkan pencarianku. "Kalau kamu sibuk, nggak apa-apa kok. Nggak usah dipaksain."
"Eh, maaf, Ndra," aku tergagap, merasa sangat bersalah karena malah mencari laki-laki lain saat Indra sedang bicara padaku. "Aku... aku belum tau nanti sore bisa atau nggak. Soalnya aku belum izin sama mamaku, takutnya disuruh langsung pulang."
Itu hanyalah sebuah alasan klasik. Kenyataan yang pahit adalah, aku tidak ingin menghabiskan soreku menyoraki Indra di lapangan yang riuh, jika aku bisa memiliki secuil kemungkinan untuk berpapasan dengan Rendi saat pulang sekolah.
Raut wajah Indra sedikit kecewa, namun ia dengan cepat menutupinya dengan senyum maklum. "Oh, gitu ya. Yaudah, nggak apa-apa. Kalau misal tiba-tiba bisa, kabarin aja ya, atau langsung dateng. Nanti aku suruh anak-anak nyisain tempat duduk buat kalian berempat."
"Pasti, Ndra! Tenang aja, ntar gue seret si Keyla ke lapangan!" Bella menimpali dengan antusias.
Setelah Indra pamit dan kembali ke kelasnya, aku langsung dijatuhi rentetan omelan oleh sahabat-sahabatku.
"Lo gila ya, Key?!" semprot Bella, matanya melotot tak percaya. "Indra lho itu! Indra! Kapten futsal, tajir, ganteng, baiknya kebangetan. Dia secara khusus ngundang lo nonton, dan lo nolak pake alasan klise 'belum izin mama'? Lo sadar nggak sih lo baru aja nolak jackpot?"
Lidya menyedot es jeruknya dengan kencang hingga berbunyi. "Gue setuju sama Bella kali ini. Lo kenapa sih, Key? Jangan bilang lo nolak Indra gara-gara pikiran lo masih nyangkut di kulkas berjalan itu?"
Aku mendesah pelan, menenggelamkan wajahku di antara kedua lenganku di atas meja. "Aku nggak nolak, Lid. Aku cuma nggak mau ngasih harapan ke Indra. Aku nganggep dia cuma temen. Nggak adil kan kalau aku datang dan bikin dia mikir aku punya perasaan lebih?"
Siska mengusap punggungku dengan gerakan yang sangat lembut. "Keyla sayang..." panggilnya, suaranya bagai bisikan angin yang meninabobokan logikaku. "Kamu tau nggak bedanya orang cerdas dan orang bodoh dalam cinta? Orang cerdas memilih rumah yang hangat, di mana dia akan diratukan dan dilindungi. Orang bodoh memilih badai yang dingin, hanya karena dia terobsesi menaklukkan badai itu, padahal akhirnya dia sendiri yang akan mati membeku."
Aku mengangkat wajahku, menatap kacamata tebal Siska.
"Indra itu rumah yang hangat, Key," lanjut Siska pelan. Matanya menatapku dalam-dalam, menanamkan sugesti yang sangat kuat. "Dia setara sama kita. Dia bisa ngasih kamu masa depan yang jelas, kebahagiaan yang nyata. Coba kamu bandingin sama Rendi. Apa yang bisa dikasih cowok miskin dan kasar itu buat kamu? Bahkan sekadar ucapan terima kasih aja dia pelit. Kamu mau merendahkan standar kamu sejauh itu?"
Setiap kata yang keluar dari bibir Siska ibarat palu yang menghantam kepalaku berkali-kali. Sakit, tapi tidak bisa kubantah. Rasionalitasku berteriak membenarkan setiap suku kata Siska. Indra adalah pilihan yang tepat. Indra adalah logika.
Tapi hatiku? Hatiku adalah pemberontak paling keras kepala yang pernah diciptakan Tuhan.
"Aku mendengar semua nasihat mereka. Aku tahu Indra adalah surga, dan kau adalah neraka. Tapi mengapa kakiku terus melangkah ke arah api yang kau ciptakan, Rendi?" (Buku Harian Keyla, Halaman 23)
Pukul tiga sore, bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Sebagian besar siswa berhamburan menuju lapangan indoor untuk menonton pertandingan persahabatan futsal. Bella dan Lidya merengek memaksaku ikut, tapi aku bersikeras menolak dengan alasan kepalaku sangat pusing dan ingin segera pulang. Siska memilih untuk ikut menonton bersama Lidya dan Bella, matanya berbinar aneh saat melangkah menuju lapangan, meninggalkanku sendirian.
Aku berjalan sendirian keluar dari gerbang sekolah. Langit sore mulai menguning, menebarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Sopirku belum datang menjemput, jadi aku berdiri di bawah pohon rindang di pinggir jalan, menunggu.
Suara bising mesin motor yang sudah tua dan knalpotnya yang sedikit bocor terdengar mendekat dari area parkiran belakang sekolah.
Aku menoleh. Dan napasku seketika tercekat.
Itu Rendi. Ia mengendarai sebuah motor bebek keluaran tahun sembilan puluhan yang catnya sudah mengelupas di banyak tempat. Ia sudah mengganti seragam sekolahnya dengan kaus oblong hitam yang lusuh dan jaket parasut tipis yang warnanya sudah pudar. Sebuah tas ransel butut menggantung di dadanya.
Ia baru saja selesai membantu Pak Yanto, penjaga sekolah, membereskan kursi-kursi di aula belakang—pekerjaan serabutan yang biasa ia lakukan demi mendapat tambahan beberapa lembar rupiah.
Ia mengendarai motor itu dengan pelan. Wajahnya terlihat sangat, sangat lelah. Keringat masih menempel di pelipisnya. Ia harus segera pergi untuk memulai pekerjaan paruh waktunya yang lain hingga larut malam.
Jarak kami hanya terpaut beberapa meter. Ia melintas tepat di depanku.
"Rendi..." panggilku refleks, suaraku sangat pelan, mungkin lebih mirip bisikan putus asa yang tertelan deru mesin motornya.
Ia tidak menoleh. Matanya lurus menatap jalan raya yang keras. Tidak ada aku di sudut matanya. Ia hanya berlalu, meninggalkanku bersama kepulan asap tipis dari motor tuanya, menjauh dan menghilang di belokan jalan.
Hatiku remuk redam. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya menitik jatuh, membasahi pipiku.
Di saat yang bersamaan, sebuah mobil sedan Eropa keluaran terbaru berwarna perak mengkilap berhenti tepat di depanku. Kaca jendelanya perlahan turun, memperlihatkan wajah Indra yang masih mengenakan jersey futsalnya yang basah oleh keringat. Ia tersenyum hangat, sangat kontras dengan pemandangan punggung Rendi yang baru saja menghilang.
"Keyla? Kok belum pulang? Nunggu jemputan ya?" tanya Indra ramah. Ia tidak jadi ikut bertanding? Atau ia sengaja menyelinap keluar hanya untuk memastikan aku pulang dengan aman?
Aku buru-buru menghapus air mataku dengan punggung tangan, berusaha tersenyum meski aku tahu senyumku pasti terlihat sangat menyedihkan. "Eh, iya, Ndra. Sopirku lagi kejebak macet katanya."
Indra langsung membuka pintu mobilnya dari dalam. "Ayo naik, aku anterin pulang. Cuaca di luar panas banget, debu lagi. Nanti kamu sakit nunggu di pinggir jalan gini."
Tawaran yang sempurna. Seseorang mengulurkan tangannya untuk menarikku dari kesendirian, menawarkanku tempat yang nyaman dan ber-AC. Siska pasti akan bertepuk tangan jika melihat ini.
Namun, yang terlintas di kepalaku justru punggung Rendi yang dibakar terik matahari di atas motor tuanya. Membayangkan Rendi harus menelan panasnya debu jalanan sementara aku duduk di mobil mewah bersama laki-laki lain, membuat dadaku sesak oleh rasa bersalah yang tak beralasan. Aku merasa seperti sedang mengkhianatinya, padahal Rendi bahkan tidak menganggapku ada.
"Nggak usah repot-repot, Ndra. Makasih banyak," tolakku dengan suara serak, mundur selangkah dari mobilnya. "Sopirku udah deket kok, bentar lagi sampai. Kamu... kamu balik aja ke lapangan, dicariin anak-anak pasti."
Indra menatapku dengan kening berkerut. Matanya yang tajam bisa melihat sisa air mata di pipiku, dan penolakanku yang terlalu tegas membuatnya menyadari sesuatu. Ia menoleh ke arah jalan raya, ke arah hilangnya motor Rendi beberapa saat yang lalu.
Indra adalah laki-laki yang cerdas. Meski ia tak mengucapkan apa-apa, aku tahu ia bisa merasakan ke mana arah pandanganku sebenarnya berlabuh. Senyum di wajah Indra perlahan memudar, tergantikan oleh tatapan sendu yang tak bisa kuterjemahkan.
"Kamu yakin, Key?" tanyanya sekali lagi, suaranya kini terdengar jauh lebih pelan dan sedikit rapuh.
Aku mengangguk. "Yakin, Ndra. Hati-hati di jalan ya."
Indra mengangguk pelan. Ia menaikkan kembali kaca jendelanya, lalu mobil mewahnya itu perlahan melaju pergi, meninggalkanku sendirian di bawah pohon rindang.
"Aku membiarkan matahari pergi, memilih untuk tetap berdiri di tempatku berpijak, demi menunggu bayangan yang bahkan tak pernah menjanjikan untuk kembali menemuiku. Betapa menyedihkannya wujud cinta ini." (Buku Harian Keyla, Halaman 25)
Aku memeluk tasku erat-erat, membiarkan diriku tenggelam dalam tangisan diam di pinggir jalan yang bising. Keputusanku menolak Indra adalah bukti betapa parahnya racun cinta ini telah merusak kewarasanku.
Siska benar, aku adalah orang bodoh yang memilih kedinginan badai. Aku mengejar bayangan Rendi, punggung yang selalu menjauhiku setiap kali aku berusaha melangkah mendekat.
Namun di hari itu, aku juga bersumpah pada diriku sendiri. Jika Rendi adalah bayangan yang terbentuk dari rasa sakit dan kemiskinan, maka aku akan terus berdiri di belakangnya. Aku akan menjadi satu-satunya orang yang tidak akan pernah meninggalkannya, bahkan jika bayangan itu sendiri berusaha keras untuk menelanku dalam kegelapannya. Aku hanya berharap, sebelum hatiku benar-benar hancur menjadi debu, ia mau menoleh sedikit saja untuk melihat bahwa aku ada di sini, mencintainya hingga nyaris mati.
semangat ya kak
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik