Cilla Anaya Salsabila,
putri tunggal pemilik perusahaan besar dan pewaris saham kampus barunya. Semua orang mengaguminya—kecuali dirinya sendiri, karena ia tak pernah tahu siapa yang benar-benar tulus.
Saat pindah ke kampus baru, Cilla memilih menyamar menjadi gadis culun. Tanpa kemewahan, tanpa nama besar, hanya dirinya apa adanya.
Ia ingin satu hal:
menemukan cinta yang memilih hatinya… bukan hartanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Baru
Aku terjatuh, sakit,tapi aku tidak akan menyerah.
Cilla pulang ke rumah dengan hati yang masih hancur. Sosok pria seperti Zayn yang hadir menjadi tempat bersandarnya sejenak saat ia terluka. Cilla percaya, Zayn adalah pria baik—jauh berbeda dari mantan pacarnya yang hanya memanfaatkannya demi uang, tanpa cinta yang benar-benar tulus.
Sesampainya di rumah, Cilla langsung masuk ke kamarnya. Ia melepas satu per satu foto polaroid yang terpajang di dinding—kenangan yang dulu terasa indah, kini hanya menyisakan luka.
Air matanya kembali jatuh. Ketenangan yang ia rasakan bersama Zayn tadi hanyalah ketenangan sementara. Bukan berarti semuanya akan sembuh dengan cepat.
Cilla keluar rumah. Ia membakar semua kenangannya bersama Raga.
“Lo jahat banget, Raga. Lo jahat. Ternyata cinta lo ke gue nggak tulus… cuma karena uang,” gumamnya sambil memasukkan satu per satu kenangan ke dalam tong pembakaran sampah.
Cilla duduk di teras, menatap api yang perlahan melahap masa lalunya.
“Non… non, kenapa kok nangis?” tanya Bik Ningsih, asisten rumah tangga Cilla.
“Cilla diselingkuhin, Bik. Padahal hati Cilla udah Cilla kasih sepenuhnya, tapi malah diginiin,” ujar Cilla sambil kembali menangis.
Bik Ningsih memeluk Cilla erat. Sejak ibunya meninggal, Bik Ningsih memang sudah seperti keluarga sendiri bagi Cilla.
“Non teh yang sabar, nyak. Ingat, ada Gusti Allah. Pasti nanti ada gantinya yang terbaik.”
“Makasih ya, Bik. Cilla masuk kamar dulu.”
“Non,” panggil Bik Ningsih saat Cilla hendak melangkah pergi.
“Bibik punya pesan buat non Cilla.”
“Apa, Bik?”
“Pesan bibik cuma satu. Jangan menyerah. Orang tulus itu masih ada buat non teh, cuma belum ketemu aja.”
“Makasih banyak ya, Bik,” ucap Cilla, berusaha tersenyum meski hatinya masih patah.
Cilla kembali ke kamarnya. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri. Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalanya.
“Paras gue, penampilan gue, uang gue, royal gue… cowok ngedeketin gue karena itu semua. Mulai besok, gue bukan lagi Cilla,” ujarnya lirih.
Ia lalu mengambil sebuah buku dan menulis surat untuk ayahnya.
From: Cilla
To: Ayah
Ayah…
Cilla izin pamit untuk sementara waktu ya, Yah.
Cilla pengen hidup mandiri. Cilla pengen ngerasain gimana cari uang tanpa terus bergantung sama Ayah.
Cilla juga pengen menemukan cinta yang benar-benar tulus—bukan yang melihat Cilla dari harta.
Ayah doain Cilla sehat-sehat ya. Ayah jangan khawatir, Cilla bisa jaga diri dengan baik.
Tolong sampaikan pesan Cilla buat Sintia dan Fitri ya, Yah.
Cilla pindah kuliah. Cilla pengen lupain semua kenangan Cilla sama Raga.
Satu lagi, Cilla titip ATM Cilla sama Ayah. Isinya masih banyak kok, Yah. Cilla cuma bawa uang secukupnya buat ngekos. Selebihnya, Cilla mau cari kerja sendiri.
Love you more, Ayah ♥
Cilla segera membereskan semua barangnya ke dalam koper. Ayahnya masih bekerja, di rumah hanya ada Bik Ningsih.
Saat Cilla turun dari tangga, Bik Ningsih menatapnya terkejut.
“Non… non teh mau ke mana atuh? Bawa koper segala?”
“Cilla pamit sementara waktu ya, Bik. Sampai Cilla berhasil mandiri dan ketemu cinta sejati. Tolong titip salam buat Ayah, dan suratnya Cilla taruh di kamar,” ujar Cilla.
Bik Ningsih menatap Cilla dengan mata berkaca-kaca. Ada kesedihan di sana, namun juga terselip harapan. Ia berdoa dalam hati, semoga keputusan yang diambil Cilla menjadi jalan terbaik, dan semoga Cilla benar-benar menemukan cinta yang tulus untuknya.
Cilla tak lagi menggunakan mobil mewahnya. Kali ini, ia menaiki angkot dan mencari kos-kosan yang dekat dengan kampus barunya.
Tak lama kemudian, Cilla tiba di sebuah tempat yang cukup terpencil. Lokasinya memang agak pelosok, sedikit jauh dari jalan lintas, tapi Cilla merasa tak masalah.
Untuk menuju kosan, Cilla harus melanjutkan perjalanan dengan ojek karena angkot tidak masuk ke gang kecil. Setelah turun dari ojek, Cilla menarik napas panjang.
“Gue bakal mulai semuanya dari nol. Semangat, Cilla. Jangan menyerah,” gumamnya, menyemangati diri sendiri.
Setelah berbincang dengan pemilik kos, Cilla membayar setengah dari biaya sewa. Sisanya akan ia bayarkan nanti. Ia pun masuk ke kamar kosnya. Tempatnya kecil, sederhana, tapi cukup nyaman untuk beristirahat.
Cilla membuka kopernya dan menatap isi di dalamnya.
“Kalau gue nyamar, tapi baju gue bagus-bagus dan mahal kayak gini, mana ada yang percaya kalau gue miskin,” gumamnya.
Tiba-tiba, sebuah ide muncul di kepalanya.
Cilla pergi ke pasar kecil yang tak jauh dari kosannya. Ia berjalan sambil bertanya ke warga sekitar hingga akhirnya menemukan pasar tersebut. Banyak pedagang kaki lima di pinggir jalan dengan pakaian sederhana yang ditumpuk seadanya.
Harga baju di sana sangat murah—ada yang sepuluh ribu, ada pula yang lima belas ribu rupiah.
“Semurah ini… terus untungnya dari mana, ya?” batin Cilla.
“Tapi ya sudahlah. Biar semuanya berjalan sempurna. Suatu hari nanti, gue pasti bantu pedagang kecil kayak gini supaya bisa jualan di tempat yang layak dan dengan harga yang pantas,” lanjutnya dalam hati.
Cilla memilih beberapa potong baju.
“Ini, Pak. Saya ambil sepuluh baju. Berapa semuanya?”
“Seratus dua puluh ribu, neng,” jawab si bapak penjual.
Cilla menyerahkan uang dua ratus ribu rupiah. Saat si bapak hendak memberikan kembalian, Cilla menolaknya.
“Kembaliannya buat Bapak aja ya. Semangat cari rezekinya.”
“MasyaAllah… makasih neng. Makasih banyak. Cantik, baik pula,” ucap bapak itu dengan mata berbinar.
Cilla tersenyum hangat.
“Sama-sama, Pak.”
Cilla kembali ke kosannya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang kecil yang terasa asing. Malam pun semakin larut.
Namun, Cilla beristirahat dengan tidak nyaman. Suara nyamuk berdengung jelas di telinganya.
“Duh, banyak banget nyamuk sih,” keluhnya.
Cilla mengibaskan tangan, berusaha mengusir nyamuk-nyamuk itu. Tapi bukannya pergi, suara dengung justru semakin terasa hingga akhirnya Cilla terbangun dan duduk di tepi ranjang.
“Ternyata sesulit ini ya jadi orang sederhana,” gumamnya lirih.
Ini pertama kalinya Cilla benar-benar merasakan hidup tanpa kenyamanan yang biasa ia miliki.
“Semangat, Cilla,” ucapnya pada diri sendiri.
Ia lalu membuka koper dan mengambil lotion anti nyamuk. Setelah mengoleskannya, perlahan nyamuk-nyamuk itu menjauh. Cilla kembali merebahkan tubuhnya, berusaha memejamkan mata.
Di tempat lain, ayah Cilla akhirnya pulang dari kantor. Wijaya Aditama—Ketua Yayasan Universitas Negeri Jakarta sekaligus pemilik salah satu perusahaan terbesar di Jakarta—melangkah masuk ke rumahnya.
“Assalamualaikum,” ucapnya.
“Waalaikumsalam,” jawab Bik Ningsih dari dalam.
“Bik, Cilla mana?” tanyanya.
Bik Ningsih tampak ragu.
“Emm… anu, Pak… Non Cilla…”
“Apa, Bik? Yang jelas,” potong Wijaya Aditama.
“Non Cilla pergi dari rumah, Pak.”
“Pergi ke mana, Bik? Ada masalah apa sama Cilla?” tanya Wijaya dengan nada cemas.
“Masalah hati, Pak,” jawab Bik Ningsih pelan. “Non Cilla nitip surat. Suratnya ada di kamar Non Cilla, Pak.”
Wijaya tanpa menunggu lama langsung menuju kamar Cilla. Di atas meja, terlihat selembar kertas. Tangannya sedikit bergetar saat membacanya.
“Cilla… kamu ke mana, sayang?” ucap Wijaya lirih, penuh kekhawatiran.
Ia kemudian turun dari tangga. Di ruang tamu, seorang tamu yang diundangnya sudah datang dan duduk menunggu.
Raka Ramadhan.
Wijaya menghampirinya.
“Selamat malam, Pak,” sapa Raka.
“Malam,” jawab Wijaya singkat.
Raka melirik ke sekeliling, seolah mencari seseorang. Namun sosok yang ia cari tak juga muncul. Akhirnya, ia memberanikan diri bertanya.
“Putri Bapak ke mana?” tanya Raka.
Wijaya menghela napas berat.
“Putri saya… pergi dari rumah.”
“Saya tidak tahu putri saya pergi ke mana,” ucap Wijaya dengan nada berat. “Padahal saya ingin langsung melaksanakan perjodohan kalian. Saya tahu pacar Cilla itu tidak baik untuknya.”
Raka terdiam sejenak, lalu menatap Wijaya dengan serius.
“Pak, saya akan membantu mencari putri Bapak. Saya juga seorang dosen. Saya akan bertanya pada mahasiswa dan jaringan kampus saya.”
“Ide yang bagus,” jawab Wijaya mantap.
Pak Wijaya mengirimkan foto itu kepada Raka—tanpa menyertakan nama apa pun.
Sebuah wajah yang begitu familiar, namun kini memilih menghilang.
Akankah Cilla ditemukan dengan cepat?
Atau justru penyamarannya berhasil, membuat langkah mereka terhenti dan pencariannya semakin sulit?