NovelToon NovelToon
The Beginning Of The Birth Of The Evil God

The Beginning Of The Birth Of The Evil God

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Antagonis / Light Novel / Balas Dendam
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Arfian ray

Di Aethelgard, mata ungu Varian dianggap dosa. Ia bertahan hidup di distrik kumuh hanya demi adiknya, Elara. Namun, malam "Pembersihan Suci" merenggut segalanya.
​Saat Ksatria Suci membunuh Elara di depan matanya, kewarasan Varian hancur. Bukan cahaya yang menjawab doanya, melainkan kegelapan purba. Ini bukan kisah pahlawan penyelamat dunia, melainkan kelahiran sang Evil God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arfian ray, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Sunyi sang Penjagal

Satu tahun telah berlalu sejak malam api itu.

​Hutan Blackwood bukanlah tempat untuk manusia. Hutan ini terletak di perbatasan terjauh kerajaan, tempat di mana sinar matahari kesulitan menembus kanopi pohon-pohon raksasa yang daunnya berwarna hitam keunguan. Di sini, rantai makanan berlaku mutlak. Yang lemah dimakan, yang kuat berkuasa. Penduduk desa di sekitar hutan memiliki pepatah: "Jika kau mendengar suara ranting patah di Blackwood, kau sudah mati."

​Di salah satu dahan pohon ek raksasa, ratusan meter dari tanah, seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun sedang bergantung terbalik. Kakinya menjepit dahan yang kokoh, sementara tubuhnya melakukan gerakan sit-up berulang-ulang dengan ritme yang menakutkan.

​Itu Varian.

​Penampilannya sudah berubah drastis dari bocah cengeng di gang kumuh. Rambut hitamnya tumbuh panjang dan liar, diikat asal-asalan dengan akar tanaman. Bajunya hanyalah sisa-sisa kulit hewan yang dililitkan di pinggang dan bahu. Tubuhnya yang dulu kurus kering karena kurang gizi kini telah bermetamorfosis. Otot-otot kawat yang padat dan efisien melapisi tulangnya, penuh dengan bekas luka cakaran serigala, gigitan ular, dan goresan duri. Kulitnya pucat, nyaris abu-abu, kotor oleh lumpur dan darah kering yang sudah menjadi lapisan pelindung kedua.

​"Sembilan puluh delapan... Sembilan puluh sembilan... Seratus."

​Suaranya datar. Tidak ada engah napas kelelahan.

​Varian melepaskan jepitan kakinya dan membiarkan tubuhnya jatuh bebas. Angin berdesing di telinganya. Tepat sebelum menghantam tanah, ia memutar tubuhnya di udara, mendarat dengan lutut menekuk tanpa suara sedikitpun.

​Selama setahun ini, dia belajar satu hal: Kebencian saja tidak cukup. Kekuatan magis butuh wadah yang kuat. Saat pertama kali dia membunuh Ksatria itu dengan ledakan emosi, tubuhnya hampir hancur karena menampung energi Void. Dia muntah darah selama tiga hari dan lumpuh selama seminggu. Dia sadar, jika dia ingin membunuh Dewa, tubuh manusianya harus melampaui batas manusia biasa.

​Varian berjalan menuju sebuah batu besar di tepi sungai berarus deras. Di sana, ia duduk bersila. Ini adalah sesi latihan keduanya: Kontrol Mana.

​Dia memejamkan mata. Fokus. Dunia di sekitarnya memudar.

​"Keluar..." batinnya.

​Aura ungu mulai merembes keluar dari pori-porinya. Rasanya dingin, menyakitkan, seperti ditusuk ribuan jarum es dari dalam daging. Dulu, energi ini meledak liar mengikuti emosinya. Sekarang, Varian mencoba memaksanya tunduk. Ia mencoba membentuknya.

​Sebuah bola energi hitam seukuran kelereng terbentuk di telapak tangannya. Kecil, tapi padat. Berputar dengan tidak stabil, mengeluarkan suara mendesis yang membuat telinga sakit.

​"Bertahan..."

​Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di pelipis Varian. Rasa sakitnya luar biasa. Energi Void ini bersifat korosif, merusak bahkan bagi penggunanya sendiri jika tidak dikontrol sempurna.

​Zzzzt!

​Bola itu pecah. Gelombang kejut kecil melukai telapak tangan Varian, menyayat kulitnya hingga darah menetes.

​"Gagal lagi," gumam Varian. Nada suaranya tanpa emosi kecewa. Ia hanya menatap darah di tangannya, lalu menjilatnya. Rasa besi itu mengingatkannya pada malam itu. Pada Elara. Pada tujuannya.

​Kegagalan adalah bagian dari proses. Rasa sakit adalah pengingat bahwa dia masih hidup untuk membalas dendam.

​Tiba-tiba, telinganya berkedut. Suara auman rendah terdengar dari semak-semak di seberang sungai. Seekor Dire Wolf—serigala raksasa dengan mata merah—keluar dari kegelapan. Ukurannya sebesar kuda poni. Bagi orang biasa, itu adalah perwujudan kematian.

​Bagi Varian, itu adalah makan malam.

​Dia berdiri perlahan, mengambil tombak kayu yang ujungnya ia runcingkan dan perkeras dengan pembakaran. Mata ungunya bersinar di kegelapan hutan, lebih tajam dan lebih buas dari mata predator di depannya.

​"Kau datang tepat waktu," katanya pada serigala itu. "Aku sedang lapar."

​Pertarungan itu singkat dan brutal. Varian tidak bertarung seperti ksatria yang menjunjung kehormatan. Dia bertarung seperti binatang. Dia melempar pasir ke mata serigala, meluncur di bawah perutnya, dan menusuk jantungnya dari bawah. Efisien. Mematikan.

​Saat Varian sedang membersihkan bangkai buruannya, tanah di bawah kakinya tiba-tiba amblas. Akar pohon tua yang menopang tanah itu lapuk karena pertarungan tadi.

​Varian jatuh terperosok ke dalam lubang gelap yang dalam. Namun, dia tidak berteriak. Dia memutar tubuhnya, mendarat dengan gaya kucing di lantai batu yang dingin.

​Debu beterbangan. Varian terbatuk kecil, matanya langsung memindai kegelapan.

​"Reruntuhan?" gumamnya. Tidak ada rasa takjub di wajahnya, hanya observasi dingin.

​Di hadapannya, berdiri sebuah gerbang batu kuno yang dipenuhi lumut bercahaya. Anehnya, saat Varian mendekat, aura ungu di tubuhnya bergetar hebat. Gerbang itu merespons. Simbol-simbol di batu menyala ungu redup, dan pintu berat itu bergeser terbuka dengan suara gemuruh batu beradu batu.

​Udara apek berbau zaman purba berhembus keluar.

​Varian melangkah masuk tanpa ragu. Rasa takut adalah emosi untuk makhluk hidup yang ingin selamat. Varian tidak peduli pada keselamatan, ia hanya peduli pada apa yang bisa ia dapatkan.

​Di tengah ruangan batu melingkar itu, terdapat sebuah altar obsidian. Dan di atas altar itu, tergeletak tiga benda yang seolah menunggunya selama ribuan tahun.

​Sebuah Gulungan Kitab Kulit Hitam.

Sebuah Pedang Hitam tanpa sarung.

Dan satu set Armor Ringan (Light Armor).

​Varian mendekati altar itu. Tangannya terulur menyentuh armor tersebut. Zirah itu terbuat dari bahan misterius—campuran kulit binatang purba dan logam hitam, dengan aksen garis-garis ungu yang menyala samar seperti pembuluh darah.

​Wuuung.

​Sihir kuno aktif seketika. Armor itu melayang, terurai menjadi bagian-bagian kecil, lalu menempel ke tubuh Varian dengan kecepatan tinggi. Armor itu memiliki sihir auto-fitting, mengecil dan memadat menyesuaikan dengan tubuh anak berusia sebelas tahun itu.

​Varian menatap pantulan dirinya di genangan air yang ada di sudut ruangan.

​Dia tidak lagi terlihat seperti anak liar hutan. Dia terlihat seperti pangeran kegelapan kecil. Baju zirah itu berwarna hitam pekat, menyatu dengan bayangan. Jubah setengah badan menjuntai di belakangnya, robek-robek artistik. Tapi yang paling ia suka adalah garis-garis energi di armor itu. Warnanya ungu.

​Sudut bibir Varian terangkat sedikit. Senyum tipis yang tidak mencapai matanya.

​"Warnanya..." Varian menyentuh dada armornya, lalu menyentuh kelopak matanya sendiri. "Cocok."

​Alasan yang sangat sepele dan narsistik, tapi bagi Varian, itu sempurna. Armor ini serasi dengan "kutukan" yang ia bawa sejak lahir.

​Ia kemudian mengambil pedang di altar. Beratnya pas. Bilahnya menyerap cahaya di sekitarnya.

​"Mulai sekarang," Varian berbicara pada kegelapan ruangan itu, suaranya bergema. "Siapapun yang melihat warna ungu ini, akan tahu bahwa nyawa mereka sudah berakhir."

​Ia membuka gulungan kitab itu. Judulnya tertulis dalam bahasa kuno yang anehnya bisa ia baca, seolah pengetahuan itu disuntikkan langsung ke otaknya: "Seni Langkah Bayangan: Membunuh Tanpa Suara."

​Varian menutup kitab itu dan menyimpannya. Matanya menatap lurus ke depan, kosong dan tajam.

​"Elara... Kakak dapat baju baru," bisiknya, nadanya datar tanpa emosi sedih. "Bagus untuk dipakai saat membantai mereka nanti."

​Dua tahun kemudian. Kota Ironhold.

​Kota benteng yang terkenal dengan pandai besi dan kriminalitasnya. Di salah satu sudut kota yang paling gelap, berdiri "Tavern Tengkorak Retak".

​Suasana di dalam tavern selalu bising, penuh asap rokok murah, bau alkohol basi, dan keringat pria dewasa. Ini adalah tempat berkumpulnya sampah masyarakat: pencuri, penipu, dan pembunuh bayaran kelas teri.

​Pintu tavern terbuka berderit. Angin malam yang dingin menusuk masuk, membawa serta sesosok figur yang tidak lazim.

​Semua mata tertuju ke pintu. Suara bising perlahan mereda, digantikan oleh bisik-bisik bingung dan tawa mengejek.

​Yang masuk adalah seorang bocah laki-laki berusia tiga belas tahun.

​Dia mengenakan set armor hitam legam dengan garis-garis ungu redup yang tampak kuno namun mahal. Di punggungnya tersemat pedang hitam. Rambut hitamnya diikat rapi. Wajahnya tampan dengan kulit pucat, namun ekspresinya sedingin es balok.

​"Oi, nak!" seru seorang pria besar dengan bekas luka di pipi, salah satu preman senior di sana. Dia sedang mabuk berat. "Ini bukan tempat pesta kostum! Susumu tumpah di sana, pulanglah ke ibumu sebelum kau dipulangkan dalam peti!"

​Tawa pecah di seluruh ruangan. Gelas-gelas beradu.

​Varian tidak berhenti. Dia tidak menoleh. Dia berjalan lurus dengan langkah tegap dan senyap menuju meja bartender. Tatapan mata ungunya lurus ke depan, seolah pria besar yang menghinanya itu tidak ada. Bukan karena dia sabar, tapi karena dia tidak menganggap pria itu sebagai makhluk hidup yang layak diperhatikan.

​Sikap dingin dan tak acuh itu membuat si preman tersinggung. Harga dirinya terluka di depan teman-temannya.

​"JANGAN ABAIKAN AKU, BOCAH!" Pria itu bangkit, kursinya terjungkal. Dia melangkah lebar dan mencengkeram bahu Varian dengan tangan besarnya. "Lepaskan armor mainanmu ini, biar kujual untuk beli minum—"

​Sing.

​Tidak ada yang melihat Varian mencabut pedang.

Tidak ada yang melihat Varian mengayunkan pedang.

​Mereka hanya melihat kilatan hitam samar.

​Pria besar itu tiba-tiba diam mematung. Matanya melotot. Detik berikutnya, tangan pria yang mencengkeram bahu Varian meluncur jatuh ke lantai kayu. Putus rapi di pergelangan, seolah dipotong oleh laser.

​Darah menyembur deras, membasahi bahu armor Varian.

​"AAAAARGH! TANGANKU! TANGANKU!" Pria itu menjerit, jatuh berlutut sambil memegangi ujung lengannya yang buntung. Darah muncrat ke mana-mana.

​Varian bahkan tidak melirik pria yang sedang meraung kesakitan di kakinya. Dia mengibaskan darah dari pedangnya dengan satu sentakan cepat, lalu kembali menyarungkannya dengan bunyi klik yang memuaskan.

​"Berisik," ucap Varian datar.

​Keheningan total menyelimuti tavern. Tawa mati seketika. Para pembunuh bayaran yang tadinya meremehkan kini menatap Varian dengan waspada, tangan mereka meraba gagang senjata masing-masing. Itu bukan gerakan amatir. Itu gerakan pembunuh terlatih yang sudah membunuh ratusan kali.

​Varian sampai di depan meja bartender. Bartender itu, seorang pria tua botak dengan satu mata dan wajah penuh parut luka, menatap Varian dengan tertarik. Tangannya siaga di bawah meja, memegang crossbow yang sudah dikokang.

​"Susu hangat habis," kata Bartender itu menyindir, mencoba menutupi ketegangannya.

​"Aku cari kerja," kata Varian. Suaranya monoton, tanpa nada meminta. "Membunuh. Siapa saja."

​Bartender itu menaikkan alis satu-satunya. "Kau punya nyali, Nak. Dan jelas kau punya keahlian. Tapi di sini ada aturan. Kami tidak menerima bocah ingusan kecuali dia..." Bartender itu melirik tangan yang terpotong di lantai. "...kecuali dia gila."

​Dia merogoh laci dan melempar sebuah gulungan kertas lusuh ke atas meja.

​"Ini kontrak sampah. Tidak ada yang mau ambil. Targetnya seorang pedagang kaya yang gagal bayar hutang pada Viper Clan. Masalahnya, pedagang itu paranoid. Dia menyewa empat pengawal mantan tentara kerajaan. Bayarannya 50 koin emas."

​"Aku ambil," kata Varian cepat, tangannya langsung menyambar kertas itu sebelum bartender selesai bicara.

​"Tunggu," Bartender itu menyeringai licik, ingin menguji moralitas bocah ini. "Klien minta 'pembersihan total'. Pedagang itu punya istri dan dua anak kecil. Klien tidak mau ada saksi mata yang hidup. Kau sanggup membunuh anak-anak seusiamu, Nak? Atau kau akan menangis memanggil ibumu?"

​Mata ungu Varian berkedip sekali. Tidak ada keraguan. Tidak ada rasa mual. Tidak ada kebimbangan moral.

​Bayangan Elara yang mati terbakar melintas di kepalanya sekejap. Tapi bukannya rasa sedih yang muncul, justru pemikiran pragmatis yang dingin dan bengkok: Di dunia ini, yang lemah mati. Jika anak-anak itu lemah, mereka memang ditakdirkan mati. Sama seperti Elara. Aku hanya mempercepat takdir.

​"Anak kecil lebih mudah dibunuh," jawab Varian datar, menatap mata Bartender tanpa rasa bersalah. "Leher mereka lunak."

​Senyum Bartender hilang. Dia menelan ludah. Dia telah melihat banyak pembunuh psikopat, tapi kekosongan di mata bocah ini... itu sesuatu yang lain. Bocah ini tidak jahat karena dia menikmati rasa sakit; dia jahat karena dia tidak merasakan apa-apa.

​"Namamu?" tanya Bartender, nadanya kini lebih hormat.

​Varian berbalik, melangkahi pria yang masih merintih kesakitan di lantai tanpa memedulikannya. Dia berjalan menuju pintu keluar, jubah hitamnya berkibar pelan.

​"Void."

​Dan dengan satu kata itu, legenda pembunuh cilik bermata ungu dimulai. Malam itu, keluarga pedagang itu akan tidur untuk selamanya, dan Varian akan tidur nyenyak di atas tumpukan mayat mereka, selangkah lebih dekat dengan tujuannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!