NovelToon NovelToon
My Boyfriend Is Daddy'S Friend

My Boyfriend Is Daddy'S Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Duda / Cintapertama
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Sintia beberapa kali memergoki Ara sedang melamun, mereka saat ini tengah berada di perpustakaan untuk merangkum materi tugas yang diberikan dosen pembimbing.

Sintia menyenggol pundak Ara, gadis itu langsung menoleh.

"Kenapa? Mau cerita?"

Yang ditanya menggeleng lemah namun sepersekian detik langsung memasang muka serius.

"Tau nggak sih...."

Ucapan Ara menggantung, Sintia menggeleng. "Ngga."

"Gue belum selesai ngomong, Sintia!"

"Haha, iya apa?"

Ara menyuruh Sintia untuk mendekat ke arahnya, dan seperti biasa gadis itu menurut.

"Bokap gue kayaknya punya pacar deh."

Ucapan itu membuat Sintia diam ditempat tidak berkutik, sedang Ara menatap sahabatnya bingung.

"Kenapa lo? Kaget juga? Ihh, kita sama dong. Secara kan lo bisa lihat sendiri gimana galaknya bokap gue."

Mencoba menetralkan suara agar tidak terlihat gugup Sintia menjawab. "Iya, Ra."

****

Satu hari ini belum ada chat masuk sama sekali dari Arga, Ara yang tiap menit mengirim stiker untuknya karena gabut. Sintia mau memulai chat duluan gengsi. Maklum, perempuan.

Biasa juga Arga pernah beberapa kali sehari tidak mengabari ia alasannya sibuk kerja. Dasar duda anak satu.

Ponsel yang berada diatas meja bergetar membuat gadis yang tadi sibuk dengan laptop segera menoleh.

Love :

Iya nanti saya tunggu di depan kafe.

Pesan itu membuat Sintia mengeryit, Arga salah kirim? Ia kemudian memutuskan menelfon.

Terdengar suara 'halo' diseberang sana.

"Kamu mau ngapain di kafe?"

Arga bingung, alisnya naik. Kemudian ia memandangi ponselnya lalu baru tersadar jika salah kirim.

"Salah kirim."

Jawaban singkat, padat itu membuat Sintia mendengus kasar. "Aku nggak nanya itu. Kamu mau ngapain?"

"Ketemu klien."

"Cewek? Cowok?"

Arga harus menyudahi ini semua, jika tidak Sintia akan lebih lama lagi memberi pertanyaan, bisa-bisa 2 jam baru selesai.

"Aku udah ditunggu, kamu jangan lupa makan."

Tut.

Sambungan terputus. Sintia memandangi ponsel dengan tatapan jengkel, Apa susahnya jawab pertanyaan dari ia. Setiap kali Sintia mulai nanya, Arga akan begitu. Menghindar.

Dibilang possesif juga tidak karena Sintia tidak pernah membatasi pergaulan Arga. Malah Arga yang sering melarang ia untuk ikut kumpul dengan teman-teman cowoknya dengan alasan 'cewek harus bisa jaga diri'.

Ada chat lagi masuk dari Ara. Gadis itu mengirimi ia sharelock.

Ara:

Kesini. Temenin gue. Bokap ketemu cewek!

Semesta selalu tau, tanpa Sintia minta ia malah diberi jalan lewat Ara.

****

Sintia melihat sekitar, saat ini ia tepat berada di depan kafe tempat dimana tadi Ara mengirim ia sharelock. Namun, gadis itu tidak melihat tanda-tanda keberadaan sahabatnya.

"Sin!"

Suara itu mengalihkan perhatiannya. Ara dengan setelan Hoodie dan juga kacamata mendekat ke arahnya.

Gadis itu langsung mengajak Ara untuk masuk. Sebelum itu ia memakaikan masker untuk Sintia.

"Jangan sampai ketahuan, ya!" ujarnya, Sintia mengangguk.

Sintia dan Ara memilih bangku didekat jendela, Disana paling ujung ada Arga sedang duduk dengan seorang wanita, mungkin seumuran dengan Arga. Mereka berdua tampak akrab sekali. Dilihat dari cara ngobrol, ketawa bareng dan saling meledek. Sedang dengan Sintia, Arga hanya tersenyum tipis.

"Lihat, tuh! Tadi bokap chat gue katanya mau ketemu klient sebentar. Mana ada klient ngobrol ketawa-ketiwi begitu."

Sintia diam, ia menatap Arga dan wanita itu dengan perasaan cemburu. Entah keberanian dari mana, ia malah tanpa sadar melangkahkan kaki ke arah meja Arga. Ara yang melihat itu bingung dan berusaha mencegah Sintia.

Sintia membuka masker yang ia pakai, ia melotot ke arah Arga dan wanita itu. Arga beberapa kali sudah mengkode Sintia namun, perempuan itu tidak kunjung sadar. Kalah dengan rasa cemburu yang ia miliki.

"Oh, ini client kamu itu!"

"Sin—," ucapan Arga dipotong Sintia, ia butuh melampiaskan amarahnya.

"Apa? Aku tadi nanya kamu cewek atau cowok malah gak kamu jawab. Ohh, pantesan sama Tante cantik, ya!"

Ara yang melihat itu refleks menutup mulut, tidak percaya yang terjadi dihadapannya ini.

Arga yang melihat Ara ada disana mengusap wajah kasar. Terbongkar sudah semuanya.

"Sintia, stop!" ucap Arga penuh penekanan.

Sintia menarik tangan Arga membawa pria itu pergi dari sana. Sedang Ara berlari juga ke arah pintu keluar dan memutuskan untuk pulang.

"Tadi ada Ara," ucap Arga begitu mereka ada di parkiran. Sintia meneguk sebotol minum. Untung tadi ia bawa. Perempuan itu langsung menjewer telinga Arga.

"Terus?"

"Dia tau Sintia!"

Sintia tersenyum meledek, perempuan itu bertepuk tangan.

"Emang aku sengaja."

Arga melihat itu tidak habis pikir. Ia mendesah pelan berusaha menelfon anak gadisnya.

"Kenapa?" tanya Sintia ia mendekat ke arah Arga. Namun, pria itu menjauhinya.

"Kamu kenapa sih?"

Arga memasuki mobil, Sintia ingin ikut. Pria itu langsung menghentikan.

"Nggak usah. Kamu pulang sendiri. Aku mau cari anak aku."

Sintia menghentakkan kaki mendengar itu. Arga benar-benar pergi meninggalkannya.

****

Ara beberapa kali terlihat menghindar dari Sintia. Gadis itu mencoba mendekati. Namun, Ara buru-buru pergi. Arga pun begitu, Sintia menelfon tapi selalu direject. Apa perbuatan ia keterlaluan?

Sintia mendesah pelan, ia akhirnya memutuskan untuk datang ke kantor Arga bekerja. Pria itu tidak akan punya alasan untuk menghindar darinya.

Arga sedang fokus dengan laptop. Namun tetap sadar Sintia memasuki ruang tempat ia bekerja. Gadis itu duduk di sofa tanpa diminta.

"Aku mau minta maaf," ucapnya.

Nihil. Arga tidak merespon.

"Arga!"

Barulah, pria itu bangkit dari duduk dan mendekati Sintia. Ia duduk berhadapan dengan gadis itu.

"Sorry deh! Aku keterlaluan ya kemarin. Maaf banget."

"Minta maaf sama Ara," ucap Arga.

"Udah nyoba. Tapi Ara sama kayak kamu. Susah. Kayak batu."

Mendengar itu Arga mendelik. Apa-apaan dia disamakan dengan benda mati. "Bilang apa tadi?"

Sintia menggaruk tengkuknya sembari terkekeh pelan. "Nggak."

"Kamu udah ngomong sama Ara?" Sintia bertanya lagi.

Arga menggeleng samar. "Belum. Semalam aku pulang, dia kunci pintu kamar. Tadi pagi aku mau berangkat, Ara udah nggak ada di kamar."

Sintia merasa bersalah. Semua karena dia. Hubungan mereka bertiga sekarang jadi begini.

****

1
Ekasari0702
kenapa lama sekali up nya
Nadhira Ramadhani: nanti malam insyaallah up kak🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!