Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Sampainya dirumah, Fatih bertemu dengan abahnya yang sudah rapih tengah menunggu pujaan hatinya.
"Assalamu'alaikum, Abah." Salamnya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah." Jawab Abah.
"Abah ingin pergi ke mana?" Tanyanya setelah duduk.
Sebelum Abah menjawab, seseorang telah menarik perhatian nya. Sosok pujaan hatinya yang begitu cantik dimatanya.
"Ayo, Mas. Aku sudah siap." Ajaknya. Tak menyadari jika disana juga ada putranya yang menatap kagum pada dirinya.
"Masya Allah." Puji Fatih. Ahmed menepuk paha sang anak. "Istri saya itu. Jaga pandangan mu." Peringat nya.
"Loh, ada Fatih?" Hafshah terkekeh salah tingkah. Ia merasa malu karena baru menyadari kehadiran putranya disana.
"Hm, umma Ingin pergi ke mana?" Tanyanya lagi setelah pertanyaan pertama tak mendapat jawaban dari abahnya.
"Kami ingin ke beit, Alie." Beritahunya. "Kau ingin ikut?" Tanya Ahmed.
"La, kalau saya ikut, siapa yang akan menggantikan abah mengisi kajian?"
"Ah, ya. Rupanya amar telah memberi tahu mu lebih dulu. Baiklah, kami pergi dulu."
"Ya Abah."
Fatih mencium tangan kedua orangtuanya. "Hati-hati, Abah, umma."
"Pergi dulu yah sayang." Ucap Hafshah. Fatih mengangguk.
"Assalamu'alaikum." Salam keduanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah." Jawabnya. Ia memperhatikan orang tuanya hingga hilang dari pandangannya.
"Huft, sebaiknya saya siap-siap sekarang."
Fatih berjalan memasuki kamar, sampainya didalam segera ia bergegas untuk membersihkan diri.
Tak lama Fatih keluar dengan sarung dipinggangnya dan kaos hitam yang menutup tubuhnya.
Tok tok
Ketukan pintu terdengar dari luar, kemungkinan itu amar. Segera Fatih membuka pintu kamar nya dan ternyata dugaannya benar.
"Assalamu'alaikum, barra. Afwan, mengganggu waktu mu bersiap."
"Wa'alaikumussalam, tidak apa. Ada apa, amar?"
"Mobil antum ban nya bocor. Tadi, saya sudah membawanya ke bengkel. Namun, kemungkinan besok baru bisa diambil."
"Yasudah, pakai mobil yang ada saja. Syukron, sudah membawa mobil saya ke bengkel."
"Mobil, pesantren tidak apa?"
"Tidak masalah, sudah atau ada masih perlu kamu bicarakan?"
"Tidak ada."
"Baiklah, saya izin untuk bersiap lebih dulu?"
"Na'am, silahkan. Saya permisi, assalamu'alaikum."
Amar berlalu pergi seusai mendengar jawaban salam dari Fatih. Begitupun dengan Fatih yang kembali masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap.
Ke esokan harinya Fatih hendak pergi mengajar namun Ahmed memintanya untuk menemuinya lebih dulu.
Jadilah, sekarang Fatih masih dirumah.
"Ada apa Abah?" Tanyanya.
Ahmed tersenyum. "Bagaimana nak?" Bukannya menjawab melainkan Ahmed kembali melempar pertanyaan.
Dahi Fatih mengernyit, lantas ia berfikir sejenak untuk mengingat sesuatu. Namun hasilnya nihil ia sama sekali tak ingat.
"Tentang perjodohan." Ujar Ahmed
Fatih terdiam, ia masih belum memberikan jawaban nya sekarang. Melihat keterdiaman Fatih membuat Ahmed tersenyum simpul.
"Nanti ba'da dzuhur, ikut abah ke beit Alie."
"Na'am Abah." Manut Fatih.
Fatemah sejak tadi duduk bersimpuh dengan jari-jari tangan nya yang terus menggulir tasbihnya. Mengharap ridho Allah SWT untuk diberikan kesembuhan bagi anaknya.
Alie yang baru saja pulang, melihat istrinya yang masih saja berdiam diri disana pun menghampirinya.
"Zaujati, kamu tidak lelah?"
"Suamiku sudah pulang ternyata. Ingin makan apa? Biar aku siapkan."
Fatemah hendak bangun dari duduknya namun Alie mencegah nya.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Ya, apa suamiku? Katakan."
"Bukankah kau yakin dengan kuasa-Nya?"
Fatemah mengangguk pelan. "Ya, tentu suamiku."
"Lantas mengapa kamu masih menangis? Bersedih boleh, hanya saja jangan terlalu berlarut. Kamu paham 'kan dengan maksudku?"
"Iya, maafkan aku..."
Fatemah menunduk merasa bersalah. Sedangkan Alie bergerak memeluknya.
"Mau makan apa suamiku?"
Alie melepas pelukannya lalu tersenyum. "Apa saja sayang."
"Baiklah, aku siapkan dulu."
"Aku ikut."
Lantas fatemah dan Alie pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.
"Fatem, nanti Ahmed akan datang kemari."
"Iyah, kemarin mereka sudah bilang 'kan?"
"Mengingatkan saja. Jamuannya apa?"
"Euhm, aku masakan daging saja?"
"Hanya ada daging?"
"Iyah, aku belum pergi ke pasar."
"Ya sudah biar aku saja yang pergi ke pasar."
"Memangnya sempat?"
"Insyaallah, aku pergi ke pasar dulu. Kamu masak dagingnya aja lebih dulu biar cepat selesai ok?"
"Iyah... Maaf yah aku gak--"
"Sssst sudah tidak apa. Aku pergi dulu, assalamu'alaikum."