NovelToon NovelToon
RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

RATU UNTUK KELUARGA CHARTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.

Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.

Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEJUTAN LANGIT KELABU

Jalanan kota London sore itu tampak sibuk. Deru mesin dan klakson bersahutan di antara arus kendaraan yang bergerak lambat di bawah langit kelabu. Kabut tipis turun, menambah dingin pada udara yang sudah menggigit. Lampu-lampu toko di tepi jalan mulai menyala, memantul di genangan air hujan yang tersisa dari siang tadi.

Dari balik mobil, bunyi swipper yang menggesek kaca seakan meramaikan keheningan di antara rintik hujan yang kembali turun pelan dan suara sang majikan yang sedari tadi sibuk menelpon di kursi belakang.

Entah dengan siapa dan apa yang Edward Rich Charter itu bicarakan, yang jelas nadanya terdengar tegas dan menusuk.

"Brian!" Sahut Edward tiba-tiba. "Berhenti di bahu kiri sekarang juga!" perintahnya.

Tanpa banyak bertanya, Brian menatap majikannya dari balik kaca spion dengan tatapan ragu namun penuh hormat. Tatapan itu hanya berlangsung sepersekian detik, cukup untuk memastikan bahwa perintah itu memang sungguh-sungguh. Begitu sang majikan memberi isyarat kecil dengan anggukan kepala, Brian segera memutar kemudi ke arah kiri.

Ban mobil berdecit halus di atas aspal basah—sisa hujan yang baru reda beberapa saat lalu. Ia membanting setir dengan cekatan, lalu menepikan mobil mewah berwarna hitam pekat itu ke sisi jalan. Gerakannya terlatih, nyaris tanpa suara, hanya disertai dengus kecil dari rem yang mencengkeram.

“Siapa gadis itu?” Gumam Edward pelan, hampir tak terdengar, namun cukup jelas bagi Brian yang duduk di kursi depan. Suara itu dalam, berat, dan mengandung nada heran yang jarang sekali keluar dari mulut pria setegas Edward.

Brian sedikit menoleh, dari pantulan kaca spion, ia bisa melihat mata majikannya tak lepas menatap ke arah trotoar seberang. Pandangan Edward tajam, namun bukan dengan sorot dingin seperti biasanya—ada sesuatu yang berbeda kali ini, sesuatu yang membuat ekspresinya sedikit melunak. Dari balik kaca depan yang buram oleh sisa embun, ia melihat gadis yang dimaksud Edward.

Gadis itu masih berdiri diam di tempatnya, seolah tak terusik oleh hiruk-pikuk kota di sekitarnya. Di hadapannya, beberapa lukisan terpajang rapi di atas easel kayu yang sudah mulai kusam dimakan waktu. Warna-warna di kanvas tampak kontras dengan suasana kelabu di sekitarnya—pemandangan sungai Thames yang berkilau di bawah matahari pagi, bunga-bunga liar di padang musim semi, dan potret samar seorang perempuan yang tersenyum lembut. Lukisan-lukisan itu seolah menjadi satu-satunya warna di tengah dunia yang perlahan ditelan kabut.

Rambut kecokelatannya sedikit lembap, menempel di pipi yang pucat karena dingin. Ia memeluk satu kanvas kecil di dada, sementara jemarinya yang memucat masih menggenggam kuas. Meski kabut menebal dan lalu lintas mulai menyalakan lampu, gadis itu tetap tak beranjak.

"Kau tunggu disini!" Ucap Edward. Ia kemudian merapatkan mantel hitamnya lalu beringsut dari badan mobil.

Dari balik kaca mobil, Brian bisa melihatnya dengan jelas. Bayangan gadis itu tampak samar di balik lapisan kabut—sendirian, namun kuat. Seolah seluruh dunia yang berlalu di sekitarnya tak lagi penting. Ia seperti lukisan hidup di tengah kota London yang membeku dalam kabut dengan mata yang menyimpan kisah yang belum terucap.

Sementara, Edward mulai menyebrangi jalan dan terus berjalan. Langkahnya melambat ketika jarak mereka tinggal beberapa meter. Ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba menahan namun menolak untuk berhenti—perasaan asing yang jarang ia rasakan. Pandangannya tetap menelusuri jemari Sophia, gadis yang ia maksud. Jemarinya nampak bergetar meski sudah terbalut sarung tangan hitam.

"Permisi, Nak." Sapa Edward sesaat dirinya telah berhasil berhadapan langsung dengan Sophia.

Sophia akhirnya menyadari seseorang tengah berdiri di hadapannya. Ia menoleh pelan, sedikit terkejut melihat pria asing berjas rapi dengan sorot mata yang sulit ditebak.

Sorot mata Edward yang penuh ketegasan itu menatap wajah Sophia yang pucat diterpa cahaya lampu jalan, sementara tatapan matanya kosong namun teduh. "Kau menjual semua lukisan ini?"

Sophia menatapnya sekilas, lalu mengangguk sopan. “Betul, Tuan.” Suaranya lembut, nyaris tenggelam di antara desiran angin yang membawa aroma lembap batu dan tanah.

Edward menurunkan pandangannya, memperhatikan satu per satu lukisan yang dipajang di atas easel kayu. Warna-warna di kanvas tampak hidup—terlalu hidup untuk seorang gadis muda yang berdiri sendirian di jalanan dingin seperti ini. Ada sesuatu dalam setiap goresan kuasnya; kesedihan yang lembut, kerinduan yang tak terucap.

“Kau yang melukisnya?” Tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih pelan, seolah takut merusak suasana yang rapuh di antara mereka.

Sophia kembali mengangguk, sedikit menundukkan wajahnya. “Ya, Tuan. Apakah Anda berminat untuk membeli salah satu lukisanku?” Tanyanya dengan sopan, meski suaranya mengandung nada harap yang disembunyikan dengan rapi.

Edward tidak langsung menjawab. Pandangannya berhenti pada satu lukisan—potret seorang perempuan muda yang tersenyum samar, dengan latar langit keperakan. Senyum itu entah kenapa terasa begitu akrab, menyentuh sesuatu yang lama terkunci di dalam dirinya.

Sementara itu, Sophia menatap pria di hadapannya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Ia belum pernah berhadapan langsung dengan seseorang seperti dia—berdiri begitu tegap, berpakaian rapi dengan mantel panjang berwarna hitam pekat, sepatu mengilap, dan aroma parfum mahal yang samar tercium di antara kabut dingin kota London.

Dari cara pria itu berbicara, caranya menatap, hingga nada suaranya yang tegas namun terkendali, Sophia tahu—ia bukan orang biasa. Bahkan tanpa menyebut nama, tanpa memperkenalkan diri, aura kewibawaannya sudah cukup untuk membuat siapa pun tahu bahwa pria itu berasal dari dunia yang berbeda jauh darinya. Dunia yang berjarak, yang penuh cahaya, sementara dirinya hanyalah bayangan di tepi jalan.

Ia memperhatikan wajah pria itu dari dekat. Usianya mungkin tak jauh berbeda dari usia ayahnya—sekitar empat puluh, mungkin lebih sedikit. Garis-garis halus di sekitar matanya menunjukkan pengalaman, namun bukan kelelahan; justru menunjukkan kekuatan dan kendali.

“Saya bisa membeli semua lukisanmu.”

Ucapan itu keluar dari bibir Edward dengan nada tenang, naMun tegas—nada khas seorang pria yang terbiasa membuat keputusan besar tanpa perlu berpikir dua kali. Suaranya dalam, berwibawa, namun mengandung sesuatu yang lembut di balik ketegasan itu.

Sophia tertegun. Bola matanya membulat, memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram di antara kabut. Untuk sesaat, ia tidak yakin apakah baru saja mendengar dengan benar. Angin dingin berembus di sela-sela rambutnya, membuat helai-helainya menari pelan, namun tubuhnya seolah membeku di tempat. “Serius, Tuan?” Tanyanya ragu, suaranya bergetar di antara napas dingin yang menggantung di udara.

Edward tersenyum samar—senyum yang nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk menenangkan sesuatu di dalam hati Sophia. Ia melangkah sedikit lebih dekat, menatap lukisan-lukisan itu seolah sedang menilai karya seorang seniman besar, bukan sekadar hasil tangan gadis jalanan.

“Ya,” Jawabnya mantap. “Aku akan membeli semuanya… bahkan, jika kau mau, aku bisa memberimu les melukis—cuma-cuma.”

Kata-kata itu meluncur begitu ringan, tapi menggema kuat di telinga Sophia. Les melukis? Sesuatu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dari balik jendela galeri, kini diucapkan begitu saja oleh pria asing yang bahkan belum ia kenal namanya.

Jantungnya berdetak cepat. Ia menatap Edward lama, mencoba mencari kebohongan di matanya, tapi yang ia temukan hanyalah ketulusan yang tenang—dan sedikit keanehan, seperti seseorang yang sedang menebus sesuatu dari masa lalu.

Sophia menggigit bibir bawahnya pelan. Antara percaya dan tidak, antara harapan dan kehati-hatian, ia merasa dunia yang dingin di sekitarnya mendadak hangat.

“Tuan…” Ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. “Saya tidak tahu harus berkata apa…”

"Katakan dimana alamat rumahmu?" Tandas Edward.

Sophia menelan ludah pelan, menatap pria itu dengan sedikit gugup. Ia ragu sejenak—tidak terbiasa ditanyai oleh orang asing, apalagi pria seanggun dan sekaya dirinya. Namun tatapan Edward tidak mengandung ancaman, hanya ketegasan dan keinginan untuk tahu.

“Di… di kota kecil, Tuan,” jawabnya akhirnya, suaranya lembut namun jujur. “Di daerah Greenwich, dekat tepi sungai. Di sana ada gang kecil menuju perumahan tua—saya tinggal di salah satu rumah sederhana di ujungnya.”

Edward mengangguk. "Pukul sembilan pagi saya akan datang ke rumahmu untuk menandatangani persetujuan bahwa kau telah menjual semua lukisan ini pada saya. Dan, saya akan memberikanmu kompensasi yang layak." Jelasnya. "Dua ratus lima puluh ribu pound sterling, bagaimana?"

Sophia membelalakkan mata birunya. "A-Apa?"

"Apa kurang?"

"Ti-tidak Tuan, ma-maksud saya..."

"Saya akan datang besok." Edward berpaling dan berbalik pergi menuju mobilnya lagi.

Sementara, Sophia masih terpaku di tempat, menatap punggung pria itu hingga mobilnya melesat pergi, meninggalkan angin dingin yang mengibas ujung rambutnya—dan hatinya masih belum sempat memahami apa yang baru saja terjadi.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!