NovelToon NovelToon
Aku Dia Dan Dirimu

Aku Dia Dan Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erny Su

"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mencintai ku, dan jika pun cinta segitiga ini tetap harus berlanjut maka aku akan pastikan bahwa aku akan menjadi pemenang nya. apapun yang terjadi nantinya." ucap Daisy yang sudah putus asa karena tidak bisa melepaskan diri dari cinta yang terus membelenggu nya.

Dengan luka dan tetes air mata gadis cantik itu melanjutkan langkahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Daisy pun akhirnya bisa memejamkan mata meskipun tidak lama dan hanya beberapa jam saja hingga dia kembali terjaga tempat pukul 04:30.

Seharusnya hari ini dia tidak masuk kuliah karena masih masa berduka, tapi Daisy tidak bisa meninggalkan ujian hari ini yang tentu saja akan menambah nilai nya.

Saat ini dia memang sedang sangat berduka, tapi dia tidak mungkin terus berlarut-larut dalam kesedihan toh ibunya tidak akan pernah kembali meskipun dia terus menangisi nya.

Daisy pun bangun dan beraktifitas seperti biasanya meskipun air mata itu tidak kunjung mau berhenti dan dia sibuk menyeka air matanya sambil menyiapkan semua keperluan kuliah nya hari ini.

Bi Cece pun datang menghampiri nya dengan membawakan dia teh hangat tanpa gula karena Daisy memang tidak terlalu suka dengan yang manis-manis sejak dia kuliah di jurusan kedokteran, kalaupun ada makanan yang manis itu harus dipastikan tingkat kemanisan nya dan bahan yang digunakan dalam pembuatan makanan tersebut.

Dan itu cukup membantu proses penyembuhan sang mama meskipun tidak bisa sembuh sepenuhnya setidaknya nyonya Amelie bisa bertahan selama belasan tahun lamanya.

"Non ini teh nya, non Daisy mau sarapan pagi dengan apa biar bibi buat sekarang?"tanya bi Cece.

"Telur rebus saja bi dua."ucap Daisy sambil mengusap air matanya.

"Non yang tabah ya, bibi tau ini sulit, tapi semua ini harus tetap non Daisy lalui. Bibi hanya bisa berdoa semoga non Daisy bisa bahagia setelah ini."ucap bi Cece sambil mengusap lengan Daisy penuh kelembutan.

"Bi maafin Mama dan Daisy ya, kami selalu membuat bibi dan mamang repot, dan maafkan juga Mama bila selama ini telah berbuat salah."ucap Daisy yang kini semakin terisak dalam tangis nya.

"Tidak non, nyonya dan nona tidak pernah berbuat salah apapun terhadap bibi dan mamang, justru kami yang terkadang berbuat kesalahan saat bekerja, nyonya yang selalu memaafkan dan membantu kami berdua selama ini, berkat kebaikan nyonya anak bibi bahkan sudah sembuh total dan kini dia sudah menjadi sarjana, harusnya bibi yang meminta maaf kepada nyonya. Karena selama ini kami terlalu merepotkan beliau."ucap bi Cece.

Dan itu adalah kenyataan nya, meskipun nyonya Amelie sakit tapi dia tidak pernah sampai menyusahkan asisten rumah nya itu, sekalinya dalam keadaan ngedrop wanita cantik itu pun lebih memilih untuk diantar ke rumah sakit daripada mengandalkan asisten rumah untuk bersusah payah merawat nya.

Nyonya Amelie terlalu mandiri untuk ukuran seorang nyonya rumah, dia akan mengerjakan apapun yang bisa dia kerjakan tanpa bantuan asisten rumah nya , bahkan wanita itu terkadang mencuci piring bekas dia makan dan saat bi Cece memintanya dia selalu bilang bahwa "Bi Cece sudah terlalu banyak pekerjaan jadi biar saya saja yang cuci ini."ucap nya.

Tugas bi Cece pun terkadang dikerjakan bersama-sama dengan alasan dia bosan jika harus duduk terus meratapi hidup, satu hal yang tidak pernah Daisy tau bahwa selama ini nyonya Amelie membuka toko bunga dan ia akan pergi ke toko untuk berjualan bersama dua asisten nya, tapi saat jam Daisy pulang nyonya Amelie akan pulang lebih awal dari toko yang kini mungkin terbengkalai karena sudah hampir satu minggu lebih dia tidak buka toko itu.

"Terimakasih bi, semoga amal kebaikan bibi dibalas oleh tuhan, Daisy sekarang mau bersiap dulu, untuk acara tahlilan nanti Daisy akan transfer uang Daisy minta tolong bibi dan mamang siapkan semuanya." ucap Daisy.

"Baik non"balas bi Cece.

Daisy pun bergegas pergi mandi setelah meminum teh hangat tersebut, sementara bi Cece menemui suaminya yang kini berada di halaman depan tengah merapihkan halaman meskipun sudah terlihat sangat rapi.

"Pak, bersiaplah non Daisy akan berangkat pagi-pagi sekali katanya ada ujian praktek." ucap bi Cece.

"Ya ini juga sudah hampir selesai, mobil juga sudah dipanaskan tinggal yang satunya lagi."ucap pria paruh baya itu.

"Ya aku mau rebus telur dulu untuk sarapan non Daisy."ucap bi Cece pada suaminya.

"Apa dia baik-baik saja?"tanya seseorang yang baru saja menginjakkan kaki setelah belasan tahun lamanya tidak pernah terlihat datang kesana.

"Tuan besar."ujar keduanya yang kini membungkuk memberi hormat.

"Dimana putri ku?"ucap pria paruh baya tersebut.

"Nona ada di dalam tuan dia sedang bersiap untuk berangkat kuliah."ucap bi Cece.

Pria itu pun langsung bergegas masuk kedalam, dia melirik ke sekeliling rumah yang dulu pernah ia tempati bersama mantan istrinya yang telah menceraikan dirinya karena dia ketahuan selingkuh.

Dia adalah tuan Wijaya yang datang untuk melihat keadaan putri nya.

Pria itu duduk di ruang keluarga menunggu Daisy turun dari dalam kamar nya, dia memenuhi janji nya untuk datang setelah mantan istrinya tiada untuk membawa Daisy bersamanya.

Tuan Wijaya mungkin dianggap kejam oleh orang-orang yang pernah mengenal nya selama ini karena dia bahkan tidak pernah datang ke rumah yang ia tinggalkan untuk mantan istri dan putrinya itu.

Padahal dia melakukan itu agar tidak terus-terusan menyakiti mantan istrinya saat bertemu dengan nya, dan itu juga permintaan mendiang nyonya Amelie saat mereka resmi bercerai.

Tuan Wijaya sebenarnya masih sangat mencintai nyonya Amelie, tapi vonis dokter yang membuat keluarga nya meminta nya untuk kembali menikah secara diam-diam.

Keluarga besarnya menginginkan cucu laki-laki yang tidak bisa nyonya Amelie berikan karena nyonya Amelie divonis tidak akan memiliki anak lagi, dan saat pernikahan keduanya dilakukan saat itu dia langsung mendapatkan dua putra kembar yang kini usianya beda lima tahun dengan Daisy.

Dan kini setelah hampir menunggu satu jam lamanya, tuan Wijaya bertemu tatap dengan putri yang selama ini tidak pernah ia temui dan Daisy pun sudah mengikhlaskan kepergian sang papah demi kebaikan sang Mama itu pun kini hanya mematung di tempatnya.

Usianya waktu itu masih berusia tujuh tahun, dan Daisy masih ingat hari perpisahan yang sampai saat ini tidak pernah terlupakan itu, dimana pria yang kini ada di hadapannya pergi bersama keluarga barunya.

"Maaf ada apa anda datang kemari, mama saya sudah tiada apa anda juga ingin rumah ini setelah asuransi kesehatan dan juga asuransi pendidikan saya anda ambil?"ucap Daisy to the point.

"Papah tidak pernah mengambil semua itu sayang, papah masih memiliki tabungan yang cukup untuk biaya hidup papah dan adik-adik mu, papah juga selalu kirim uang setiap bulan untuk mu, tapi Mama mu tidak pernah menggunakan uang itu sedikit pun hingga papah menghentikan transfer tersebut, sekarang papah datang untuk memenuhi janji papah pada mendiang Mama mu untuk membawa mu serta bersama papah saat dia sudah tiada."ucap pria yang kini menatap sendu pada darah daging nya itu.

...*****...

Setelah hampir terlambat akibat perdebatan antara Daisy dan tuan Wijaya, kini Daisy sudah berada di kampus, dia pergi membawa mobil sendiri karena dia meminta kedua asisten pribadi nya untuk mengurus acara tahlilan nanti.

Sementara tuan Wijaya kembali dengan rasa kecewanya setelah penolakan Daisy yang mengatakan bahwa ia tidak sudi tinggal bersama orang yang telah membuat ibunya menderita hingga akhir hayatnya.

Daisy memang tidak salah, dia yang kini sudah beranjak dewasa pun bisa menilai yang mana yang salah dan yang mana yang benar. Dan tuan Wijaya pun tidak menyalahkan putrinya. Dia hanya berharap suatu saat nanti Daisy akan bisa memaafkan dirinya meskipun itu adalah sebuah hal yang mustahil mengingat penderitaan nya selama ini.

Tuan Wijaya menitipkan sebuah kartu ATM dan juga kunci mobil baru pada asisten rumah Daisy, berharap Daisy akan menggunakan itu jika dia sedang terdesak biaya suatu saat nanti.

Dia pun sempat berkeliling rumah untuk melihat keadaan rumah apa ada yang memerlukan perbaikan atau tidak, rumah impian nya dengan cinta pertama nya dulu, kini sudah terlihat sedikit usang terutama di ruang favorit mereka dulu, mungkin Amelie tidak lagi menggunakan ruangan tersebut untuk bersantai atau kegiatan lainnya meskipun sampai saat ini ruangan tersebut masih tetap dirawat dan dibersihkan oleh asisten rumah nya.

Daisy yang baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran kampus pun langsung menoleh ke arah suara yang kini memanggil dirinya berulang kali.

"Daisy..."ucap Jeny yang baru saja turun dari mobil mewah dengan diantar oleh sang kakak yang kini menatap lekat wajah sembab Daisy yang juga terhalang topi yang dia kenakan.

"Jeny, tumben bangun pagi?"ujar Daisy yang menghampiri Jeny yang kini memeluk nya erat.

"Kamu baik-baik saja kan sayang ku, aku sangat khawatir padamu."ucap gadis cantik itu.

"Ehem... Nona tas anda ketinggalan."ucap seseorang yang kini berdiri di belakang Jeny dan bertemu tatap dengan Daisy.

"Tunggu sebentar kak, aku masih sangat khawatir sama dia..."ucap gadis itu manja.

"Hm..."lirih pria yang tak lain adalah Aksa.

Daisy masih memeluk Jeny namun tatapan kesedihan itu lurus pada Aksa yang kini juga masih menatap dirinya.

"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja ayo kita masuk."ucap Jeny yang kini kembali melupakan tas miliknya.

"Jeny tas mu."ujar Daisy mengingatkan.

"Oh my God, sampai lupa... maaf pak sopir aku lali."ucap Jeny yang kini mendapatkan sentilan di jidat dari Aksa.

"Kebiasaan buruk, ingat belajar yang benar jangan keluyuran aku mungkin akan sedikit terlambat menjemput mu."ucap Aksa yang kini seperti seorang ayah yang tengah menasehati putrinya yang baru duduk di bangku TK.

"Baik bos jangan khawatir, lihat calon kakak ipar ku sudah bawa mobil sendiri."ucap Daisy yang kini membuat Daisy memalingkan wajahnya.

"Kakak ipar sesekali tatap wajah calon suami mu itu, dia cukup tampan bukan?"ujar Jeny bercanda yang akhirnya mendapat pukul di tangan nya dari Daisy.

"Aku pergi dulu,"ucap pria tampan itu yang kini diangguki oleh keduanya, tapi belum sempat pria itu masuk mobil, Jeny langsung berteriak.

"Tunggu!"ucap nya yang kini membuat Aksa menoleh dengan malas.

"Apa lagi?" balasnya dengan wajah datar nya itu.

"Uang jajan."ucap Jeny.

"Oh my God, kau sudah memiliki uang dari mommy dan daddy sekarang minta padaku juga?"ujar Aksa tampak kesal tapi tak ayal dia pun merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet tebal tersebut.

"Aku tidak ada uang kes sayang, ambil ini tapi jangan lupa kembalikan nanti."ucap Aksa sambil memberikan black card miliknya.

"Wow, sayang kita bisa borong apapun hari ini, termasuk borong mulut pria sombong itu."ucap Jeny yang hendak berlalu pergi tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat Aksa menarik kerah baju nya.

"Ah kakak ini tidak lucu lepas,"ucap gadis cantik itu.

"Ganti dengan ini karena niat mu sudah tidak baik."ucap Aksa datar sambil memberikan card platinum nya.

"Hmm... baiklah ini juga tidak buruk ayo..." ucap Jeny pada Daisy yang kini hanya geleng-geleng kepala.

Keduanya pun pergi meninggalkan Aksa yang justru menatap punggung Daisy dengan lekat. Pemuda tampan itu pergi setelah keduanya tidak terlihat lagi.

Setelah drama panjang akhirnya mereka pun masuk kelas, dan kebetulan saat ini dosen pun sudah masuk kedalam kelas.

Hari ini benar-benar menguras otak, Daisy dan Jeny pun keluar dari dalam kelas dengan helaan nafas setelah melewati ujian yang cukup menguras otak tersebut.

"Sayang kita ke kantin atau cafe, aku butuh istirahat yang cukup sambil isi bahan bakar."ucap Jeny pada Daisy.

"cafe juga tidak buruk, aku juga tidak sempat sarapan tadi."ucap Daisy yang sebenarnya juga ingin bercerita pada Jeny tentang kedatangan sang papah.

"Daisy aku turut berdukacita ya, semoga kamu diberikan ketabahan."ucap pemuda tampan yang selama ini selalu mengejar cinta Daisy.

"Terimakasih kak,"ucap Daisy.

"Moana aku dengar ibumu baru saja meningoy aku turut berdukacita semoga ibumu mendapatkan tempat di sisinya."ucap salah satu Genk alai yang selama ini selalu dianggap musuh oleh Jeny karena tidak jarang mereka begitu menyebalkan, lihat saja saat mereka mengucap bela sungkawa.

"Terimakasih untuk doa nya."balas Daisy.

"Hmm... sama-sama."ujar nya sambil pergi.

"Daisy bukan Ratnasari tapi Wijaya, aku turut berdukacita ya semoga almarhum mama mu tenang disisinya."ujar kakak kelas Daisy meskipun tetap dalam candaan setiap kali mereka bertegur sapa.

"Bisa tidak sekali saja kita tidak bertemu dengan orang yang tidak waras, mereka keterlaluan bagaimana bisa mengucap bela sungkawa suka-suka mereka begitu."ucap Jeny protes.

"Sudah-sudah biarkan saja masih bersyukur mereka masih memiliki kepedulian."ucap Daisy yang kini menuntun Jeny untuk pergi ke tempat tujuannya itu.

Gadis cantik itu masih bersungut-sungut hingga tiba di cafe, dan Daisy hanya diam saja tanpa mau menimpali. Toh percuma saja Jeny tidak akan pernah berhenti mengomel sebelum rasa kesalnya itu hilang.

"Pilih menu yang mana?"ujar Daisy yang kini menyodorkan buku menu pada Jeny yang masih mengomel.

"Ya ampun sayang kamu tau menu favorit ku jadi pesan saja yang itu dan jangan ganggu aku masih sangat kesal."ucap Jeny yang kini membuat Daisy terkekeh pelan.

1
Rosdiana Rosdiana
msh ada lanjutannyakh tor?
Erny Su: Tentunya ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Syamsiar Samude
bingung ceritaxthor knpa Aksa dibikin jatuh hati sama daesy pdhl sdh mw brtunangan malas rasax lanjut baca bila sll bikn greget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!