"Wanita bisa hidup bahagia tanpa lelaki." Itu tekad kuat yang Adira tanamkan pada dirinya.
*
Ketika bahagia terlalu lama menyapa, terkadang kita harus lebih waspada, karena bencana bisa datang di saat yang tenang, itulah yang di hadapi oleh Adira yang kini berada di jurang kehancuran. Ia tidak hanya kehilangan suami yang selama ini sempurna untuknya, tetapi juga orang yang selalu ada dan menemani setiap langkah di hidupnya sejak kecil.
Penderitaan Adira semakin dalam saat ia menyadari bahwa perselingkuhan ini bukan hanya mencuri kebahagiaannya, tapi juga kehidupan dan jiwanya.
Di tengah amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan, Adira menolak menjadi korban yang pasrah. Ia bangkit dengan tekad yang membara, membalikkan keadaan, dan melontarkan sebuah gugatan yang mengejutkan. "Aku Talak Suamimu!"
Keputusan berani ini bukan hanya tentang memutus ikatan pernikahan, tetapi juga sebuah deklarasi perang terhadap pengkhianatan. Karena Adira tidak sudi untuk di hina lebih jauh lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meidame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB
•Baru jadian udah LDR
Setelah resmi berpacaran dengan Yovan hidup Adira dan kebiasaannya berubah. Biasanya Adira bangun tidur hanya akan melamun, kini ia harus membuka aplikasi chat untuk mengabari kekasihnya. Jika Adira akan keluar atau melakukan apapun itu, harus memberitahu Yovan. Awalnya semua itu terasa mudah bagi Adira. Toh, hanya tinggal mengetik dan mengabari saja.
Hingga akhirnya hal yang sepele itu menjadi ujian untuk hubungannya.
Di karenakan Yovan yang semula tinggal di rumah sodaranya harus kembali pulang ke Jakarta, tempat tinggal orangtuanya. Karena kerja sama pekerjaan Yovan dan sepupunya, Rain sudah selesai. Alhasil, mereka berdua pun menjalani hubungan jarak jauh, yaitu, LDR.
"Kabarin aku terus ya Sayang dan jaga diri.." Ucap Yovan saat berpamitan pada Adira di depan rumah gadis itu. Karena Yovan pergi mengendarai sepeda motor.
Adira menahan rasa sedih namun menahan air matanya, karena sejujurnya dia lebih merasa kesal dengan keadaan ini. Karena baru saja pacaran dua hari masa sudah harus berjarak jauh. "Iya Sayang, hati-hati. Kabarin aku juga."
Padahal Adira mendambakan hubungan yang bisa bertemu secara rutin dan berkembang dalam berbagai hal bersama. Tapi itu hanyalah mimpi Adira.
Lalu Yovan pun melajukan motornya dan pergi menjauh dari pandangan mata Adira. Mereka berdua sebenarnya sama-sama berat untuk menerima kondisi ini. Tetapi, Yovan yang bekerja sebagai freelance, walaupun bisa dimana saja. Dia tetap harus kembali ke rumahnya. Karena sang ibu yang terus rewel.
"Dih, Dira! Gitu amat sih liatin si Yovan pergi, kayak pacar kamu aja! Inget Dir, si Yovan itu udah ada ceweknya." Suara sahabat sekaligus anak angkat orangtua Dira terdengar dari arah depan. Mendengar ucapan itu Adira hanya memutar bola matanya malas. Dan segera masuk ke dalam rumah minimalis dengan dua lantai meninggalkan Mira yang berlari kecil menyusulnya.
Di dalam kamar pun Mira mengekori Adira. Padahal gadis itu disediakan kamar sendiri oleh orangtua Adira. Jelas Adira tau, Mira pasti akan mengoceh tentang lelaki atau pacarnya.
Mira naik ke atas ranjang dan tidur terlentang di samping Adira yang tengkurap.
"Dir, gimana ya caranya luluhin hati Mas Rain? Padahal mantanku dari SMA itu semuanya mudah lhoo di gaet!"
Adira yang sedang men-chat Yovan pun mengerutkan dahinya. "Kamu bukan typenya, Mas Rain kali."
PLAKK
Mira menepuk pantat Adira. Karena tidak terima dengan perkataan saudaranya itu. Lantaran dari segi fisik tentu saja Mira sangat cantik seperti artis. Kulit putih mulus, hidung kecil, bibir pink alami. Dan rambutnya hitam lurus sepunggung. Dia juga sangat modis. Belum lagi dadanya berisi dan ukurannya cukup menggoda, pinggul membahana. Apa yang kurang?
"Apa mungkin Mas Rain sukanya cewek kurus kerempeng ya?" Tebak Mira.
Jelas saja Adira tertawa mendengar hal itu.
"Kamu itu Mir, dari kecil ngejer Mas Rain. Gak capek apa? Padahal udah banyak cowok yang kamu pacarin. Masih aja setiap jadi jomblo baliknya ke Mas Rain."
Mira bangkit dari kasur lalu berdiri di depan cermin tinggi. Mengetatkan pakaiannya, membuat lekuk tubuhnya tercetak dengan indah di balik balutan daster selutut yang dia kenakan.
Melirik sekilas membuat Adira tak habis pikir dengan saudara angkatnya itu. Yang selalu ingin meraih Mas Rain yang sikapnya seperti es kulkul, dengan kasta yang sangat tidak mungkin untuk Mira gapai. Ya mungkin saja di gapai, kan jodoh tidak ada yang tau. Tapi masalahnya Mira bergonta-ganti pacar dan itu di ketahui oleh Mas Rain. Yang kebiasaannya bersih dan higienis setau Adira.
Menurut pemikiran Adira, pasti Mas Rain tidak suka dengan gaya hubungan yang Mira jalani selama ini.
"Dir.."
Adira tak menoleh dan sibuk dengan sharelok live yang di kirim oleh Yovan. Pacarnya itu bilang jika dia tidak ingin Adira merasa khawatir, makanya lelaki itu mengirimkan lokasinya. Tentu Adira merasa sangat senang.
"Dir.. " Panggil Mira lagi.
"Hm.. Iya?"
"Aku pernah bilangkan ke kamu, kalau Yovan itu dekat sama Olif."
Mendengar perkataan itu lagi membuat perasaan Adira tidak enak. Dari awal dia berkenalan dengan Yovan, selalu saja Mira mengatakan jika lelaki itu dekat dengan seseorang bernama Olif. Awalnya Adira percaya, namun setelah mengetahui kebenarannya dari Yovan. Bahwa Olif sudah bertunangan dan mereka hanya sebatas dekat sebagai teman. Tentu saja Adira tak lagi mendengarkan ucapan Mira.
Dan, tentang hubungan Yovan dan Adira sedari awal, Adira tidak memberitahukan hal itu pada Mira. Bukan karena tidak ingin, tapi entah kenapa Adira malas untuk di komentari atau membahas hubungan pribadinya itu.
"Iya kamu sering bilang hal itu, kenapa?"
"Aku sebenarnya gak suka sama Olif, kemarin itu pas dia dateng ke kafe, Mas Rain senyum sama dia. Padahalkan dia udah deket sama Yovan!"
"Lhoo kan mereka udah kenal dari kecil Mir, kenapa kamu harus engga suka?" Jelas saja Adira lebih tau tentang hubungan ketiga orang itu karena Yovan menjelaskan. Sedangkan Mira, mengambil kesimpulan dari apa yang dia ingin simpulkan saja.
"Astaga! Dir, kamu gausah kepolosan deh.. Mas Rain sama Yovan itu orang kaya. Pasti si Olif itu mau nguasain mereka berdua. Dan aku ga rela."
Deg, perasaan Adira menjadi tidak enak ketika Mira mengatakan hal itu. "Kamu mau deketin Mas Yovan?" tanya Adira ragu. Takut jawaban Mira membuatnya merasa tidak nyaman.
"Enggak! Aku sukanya sama Mas Rain! Aku harus bikin Olif sama Yovan jadian. Biar cewek itu gak ganggu Mas Rain lagi."
Perasaan lega terasa di dada Adira. Namun dia tak habis pikir dengan tujuan Mira ingin menyatukan Yovan dengan Olif.
"Buat apa kamu lakuin hal itu? Toh kita kan gak tau hubungan pribadi mereka gimana. Dan juga hidup mereka seperti apa."
"Ish kamu tuh ya Dir! Gak umur 17, enggak sekarang udah 19 tahun. Masih aja lugu. Cowok cewek itu gak ada sejarahnya murni temenan. Makanya aku gak akan biarin Olif bikin Mas Rain jatuh hati."
"Yaudah kamu tunjukin aja dong kehebatan dan keunggulan kamu. Bukan malah mau nyomblangin orang." Jelas saja Adira akan berusaha agar Mira tidak mengusik ketenangan Yovan dan dirinya.
"Ouh jelas dong, dari segi fisik aja aku menang. Olif itu badannya flat walaupun berisi. Juga kulitnya agak coklat. Gak selevel sama aku. Dia cuma menang karena udah lama kenal aja sama Mas Rain. Dan juga karna si Yovan tuh."
Sebenarnya Adira merasa aneh dengan sifat Mira yang selalu merasa hebat dan tidak tertandingi oleh siapapun. Seolah semua lelaki di muka bumi ini akan bersujud tersungkur di kakinya untuk mengemis cinta. Padahal itu kan hanya masalah tipe saja.
"Iya Mir, gimana kamu aja deh." -asal jangan ganggu Yovan dan aku. Lanjut Amira dalam hatinya.