Berbeda dari adiknya, Mariana, yang dicintai klan, Gianna Garza dipandang rendah sebagai omega lemah karena belum menemukan serigalanya di usia 17 tahun. Tak hanya dibenci, ia juga difitnah sebagai sosok tak tahu malu yang menyakiti Mariana. Namun, Gianna tak gentar—ia diam-diam berlatih dengan kakek-neneknya, menempa diri dalam bayang-bayang hinaan.
Pada ulang tahunnya yang ke-18, segalanya berubah. Ia akhirnya bertemu roh serigalanya dan pasangan jiwanya, Jackson Makris, Alpha dari Big Silver Moon. Namun, alih-alih menerima takdir, Jackson justru menolaknya mentah-mentah dan mempermalukannya di depan semua orang.
Terbuang dan terhina, akankah Gianna tunduk pada nasib atau bangkit untuk membuktikan bahwa ia lebih kuat dari yang mereka kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marines bacadare, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Gianna mengamati pria itu dari kejauhan, bertanya-tanya apa alasan di balik kebenciannya. Dia tidak pernah melakukan apa pun padanya.
Lelah, dia bangkit dan berlari menuju lapangan tembak tua—tempat yang pernah menjadi pelariannya saat SMA, sebelum dia dilarang menggunakannya hanya karena statusnya sebagai Omega.
Dia meraih busurnya, membidik, dan menembakkan anak panah satu per satu. Tak satu pun meleset dari pusat sasaran. Kemudian, dia mengganti busur dengan pisau, melemparkannya dengan presisi yang sama.
Latihannya berat. Dia tahu bahwa mungkin dia bukan serigala lagi, tapi dia adalah seorang pejuang.
Neneknya telah mengajarinya tentang tanaman obat, ramuan, dan mantra sederhana yang bisa menjadi pengalih dalam pertempuran. Kakek-neneknya selalu berkata bahwa keberanian dan kecerdikan bisa mengalahkan kekuatan, dan dia memilih untuk mempercayainya.
Di luar sana, vampir yang kuat, penyihir, dukun, dan serigala mendominasi berbagai kerajaan. Tapi ada juga kerajaan Raja Marcus—kaum manusia yang bertarung dengan pedang, senjata, dan pisau. Mereka mungkin tak punya sihir, tapi mereka memiliki naga raksasa sebagai sekutu. Dan bahkan tanpa naga, mereka telah memenangkan banyak pertempuran.
Gianna mempersiapkan dirinya, karena dia tahu dalam perang, tidak akan ada yang bisa begitu saja menyingkirkannya. Ini adalah kesempatannya untuk membuktikan bahwa menjadi seorang Omega bukanlah vonis kelemahan.
Namun, di usianya yang hampir delapan belas tahun, dia belum bertemu serigalanya. Kakek-neneknya percaya itu karena dia adalah putri seorang Gamma.
Tapi Gianna justru bersyukur—Omega lain sering dieksploitasi dalam masa birahi atau tunduk pada perintah serigala yang lebih kuat. Tanpa serigala, dia terbebas dari belenggu itu.
Banyak Omega yang dipaksa menikah dengan sesama Omega, atau lebih buruk lagi, hanya dijadikan alat pemuas. Tapi Gianna tidak pernah merasakan kegembiraan menjadi serigala.
Mungkin, suatu hari dia akan menemukan pasangan yang mencintainya tanpa peduli pada hierarki—seperti ayahnya yang dulu menikahi ibunya, seorang Gamma. Tapi lebih mungkin lagi, dia hanya akan berakhir ditolak, dengan rasa sakit luar biasa yang datang bersamanya.
Dengan tekad membara, Gianna terus berlatih, melompati rintangan dan menebas boneka latihannya dengan pedang. Satu-satunya kekuatan yang dia miliki hanyalah ketekunan dan keberanian.
Saat matahari mulai terbenam, dia berjalan menuju pintu keluar, melihat para siswa lain yang masih bertarung dalam wujud serigala mereka.
"Halo, sampah kecil. Kukira kau sudah pulang," suara Mariana menyapanya dengan seringai puas.
"Jangan mulai, Mariana," Gianna mendesah, hendak pergi. Namun, dia malah berhadapan dengan teman-teman saudara perempuannya.
"Bagaimana kalau kita ajarkan pelajaran pada si Omega ini?" salah satu dari mereka menyeringai.
Gianna meraba belatinya, mempertimbangkan perlawanan. Tapi ketika matanya menangkap sosok Raja yang masih berada di area pelatihan, dia menelan keinginannya. Jika dia melawan, dia tahu hukumannya akan lebih berat.
Dia tidak melawan saat mereka menyeretnya, meski dia terus berusaha membebaskan diri. Begitu sampai di area terpencil dekat tempat sampah, dia menyelipkan tangannya ke saku dan menjatuhkan bom warna-warni kecil.
Ledakan pigmen memenuhi udara, disertai jeritan panik Mariana dan gengnya. Tanpa menunggu lebih lama, Gianna melarikan diri, meninggalkan mereka dengan kemarahan mereka sendiri.
Berjalan pulang, dia merasakan lelah yang lebih dalam dari sekadar tubuhnya—kelelahan akibat bertahun-tahun pelecehan yang tak bisa dia hentikan.
Saat melangkah, matanya tertuju pada perbatasan yang memisahkan kawanan ini dari dunia luar. Apakah ada tempat untuknya di luar sana?
Sesampainya di rumah, dia mendapati ayahnya sedang duduk, menatapnya dengan jijik.
"Halo, Ayah. Aku sudah pulang. Bagaimana kabarmu?" sapanya, mencoba mencairkan suasana.
"Aku dengar dari adikmu bahwa kau ditendang keluar dari barisan pelatihan. Kau bahkan tidak berubah." Geraman rendah keluar dari pria itu, membuat bulu kuduknya berdiri.
"Aku tidak tahu malapetaka apa lagi yang ingin kau timbulkan padaku. Adikmu mengatakan sambil menangis bahwa kau melemparkan sesuatu yang menjijikkan padanya. Kenapa kau begitu jahat? Apa kau memang dilahirkan hanya untuk menyakiti?"
Hati Gianna mencelos. Kata-kata itu menusuk lebih tajam dari belati mana pun.
"Ayah, tapi dia—"
"Tapi bukan apa-apa!" pria itu menyela dengan nada penuh kebencian. "Kau hanya wanita kurang ajar yang iri pada adikmu. Keluar dari hadapanku!"
Air mata mulai menggenang di matanya saat dia berlari ke kamarnya, menutup pintu, lalu membiarkan dirinya menangis.
Dia menatap langit dari jendela, mencari jawaban di antara bintang-bintang.
"Dewi Bulan..." bisiknya dengan suara bergetar. "Apakah ini akan pernah berakhir?"
"Dewi Bulan, mengapa begitu banyak penderitaan? Mengapa Kau tidak memberiku kekuatan, seperti Omega dalam cerita yang kubaca? Mengapa aku harus tetap lemah dan tak berdaya?"
Gianna berbisik dengan suara bergetar, air mata terus mengalir di wajahnya. Dadanya terasa sesak, seolah-olah dihimpit oleh kesedihan yang tak berujung. Namun, seperti biasa, tak ada jawaban.
Suara ketukan pelan terdengar di pintu. "Sayang, boleh Nenek masuk?"
Tanpa menunggu jawaban, neneknya melangkah masuk, menatapnya dengan mata penuh kasih dan penyesalan.
"Gadis kecilku, kemarilah."
Tanpa ragu, Gianna berlari ke dalam pelukan neneknya, menangis tanpa hambatan. Beban yang menindih hatinya akhirnya tumpah dalam isakan yang tak tertahan.
"Dia membenciku, Nek... Ayah membenciku. Aku tidak membunuh Ibu, aku tidak pantas menerima semua ini…" katanya dengan suara parau, sementara neneknya mengusap lembut kepalanya.
"Ssst, Nak... Tentu saja ini bukan salahmu. Tapi rasa sakit terkadang membutakan seseorang." Neneknya berbisik menenangkan, membiarkannya menangis hingga tenang.
Setelah beberapa saat, Gianna mengangkat wajahnya. "Nenek, mungkinkah aku bukan putri Ayah? Atau... mungkinkah aku memiliki kekuatan tersembunyi?"
Neneknya menghela napas, menatapnya dengan lembut sebelum menggeleng pelan. "Tidak, Sayang. Ibumu hanyalah seorang Gamma biasa yang tubuhnya terlalu lemah untuk melahirkan. Ayahmu adalah putra kami, dan kami tidak memiliki sesuatu yang ajaib... kecuali sedikit kekuatan penyembuhan dan kemampuan meramu obat yang sudah kuajarkan padamu."
"Jadi aku tidak akan menjadi seperti Omega dalam cerita, yang ternyata memiliki kekuatan besar dan menjadi ratu?" tanyanya, suaranya dipenuhi harapan yang nyaris pupus.
Neneknya tersenyum hangat, menggeleng perlahan. "Tidak, Nak. Tapi kau tidak membutuhkan kekuatan besar untuk menjadi berharga. Hati dan keberanianmu jauh lebih bernilai. Atau apakah kau berpikir seseorang yang tidak memiliki kekuatan itu tidak berarti?"
Gianna menundukkan kepala, menggeleng cepat. "Tentu saja tidak, Nek. Tapi aku benci menjadi Omega yang selalu mereka hina dan tertawakan."
Neneknya menatapnya penuh kebijaksanaan. "Hal terbaik dalam hidup ini adalah bahwa setiap hari adalah lembaran baru, dan apa pun bisa terjadi. Kau masih memiliki perjalanan panjang untuk membuktikan siapa dirimu."
Gianna mengangguk pelan, sedikit cahaya mulai kembali ke matanya. Dia memeluk neneknya erat-erat.
"Tenanglah, Sayang," bisik neneknya lembut. "Jangan pernah kehilangan harapan."