Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Duda
Hujan semakin deras menghantam kaca jendela kamar, menciptakan irama yang kontras dengan keheningan di dalam ruangan. Arkan tetap pada posisinya, duduk di tepi kasur sambil terus mengusap rambut Zia dengan ritme yang teratur.
Perlahan, Zia memberanikan diri menyembul dari balik selimut. Mata yang sembab menatap siluet Arkan di kegelapan.
"Kenapa Om pilih aku?" bisik Zia, suaranya parau. "Om bilang aku polos, nggak bisa menyakiti orang. Tapi bukannya orang yang nggak tahu apa-apa justru paling mudah disakiti?"
Tangan Arkan terhenti sejenak. Ia menarik nafas panjang, aroma maskulin yang menenangkan itu kini bercampur dengan wangi lavender dari kamar.
“Karena aku lelah dengan sandiwara, Zia,” jawab Arkan jujur, suaranya rendah dan dalam. "Dulu, aku pikir cinta itu tentang kesesuaian intelektual dan ambisi yang sama. Ternyata, itu cuma kompetisi untuk saling mengungguli. Kamu... kamu berbeda. Kamu marah kalau kesal, menangis kalau takut. Kamu nyata."
Zia tak menjawab. Ia bisa merasakan ketulusan di balik nada bicara pria yang biasanya hanya bisa membuatnya naik darah itu. Tanpa sadar, Zia merentangkan jarinya, menyentuh ujung kaos Arkan.
"Foto itu...dia yang menyakiti Om?"
Arkan terkekeh hambar, namun tangannya kembali bergerak mengusap kening Zia, menyingkirkan anak rambut yang menempel. "Dia tidak menyakitiku dengan pisau, Zia. Dia hanya memilih dunianya sendiri dan meninggalkan aku di saat aku rapuh dan membutuhkan nya. Sejak itu, aku merasa perempuan dewasa hanya akan mendekati jika ada tujuan."
"Dan aku tidak punya tujuan apa-apa selain ingin lulus ujian matematika minggu depan," celetuk Zia polos, yang membuat Arkan benar-benar tertawa kecil.
"Itulah sebabnya aku di sini. Sekarang tidur. Kalau ada petir lagi, tutup telingamu, bukan sembunyi di bawah selimut sampai sesak napas begitu."
Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden, menyinari meja makan yang sudah penuh dengan hidangan mewah. Zia turun dengan seragam SMA-nya yang rapi, meski matanya agak bengkak. Ia terkejut melihat Arkan sudah duduk di sana, menyesap kopi hitam sambil membaca tablet.
"Makan yang banyak, Bocil. Otakmu butuh glukosa supaya nggak pingsan waktu ngerjain soal ujian," ujar Arkan tanpa menoleh, kembali ke mode menyebalkannya.
"Berhenti memanggilku Bocil! Namaku Zia!" seru Zia sambil menarik kursi dengan kasar.
Arkan meletakkan tabletnya, menatap Zia dengan seringai tipis. "Oh, sudah berani ya? Padahal malam tadi ada yang nangis-nangis sambil megangin bajuku supaya tidak pergi."
Pipi Zia merona merah padam. "Itu...itu karena efek trauma petir! Bukan karena aku mau Om di sana!"
"Terserah apa katamu," Arkan berdiri, merapikan jas mahalnya yang tak bercela. "Cepat habiskan rotimu. Supir sudah siap, tapi aku yang akan mengantarmu sampai depan gerbang sekolah hari ini."
Zia melahap susunya. "Hah? Ngapain? Nanti teman-temanku pikir Om itu sugar daddy-ku!"
Arkan membungkuk, menumpukan kedua tangan di meja makan hingga wajah mereka sejajar. "Biarkan saja mereka berpikir begitu. Setidaknya dengan aku yang mengantar, tidak akan ada anak laki-laki ingusan yang berani mendekatimu di sekolah. Ingat, statusmu sudah 'memiliki' Arkanan Hermawan pratama"
Zia terdiam. Di satu sisi ia kesal dengan sifat posesif Arkan yang tiba-tiba muncul, tapi di sisi lain, ada perasaan hangat yang dia rasakan di hatinya.perasaan dilindungi yang belum pernah ia merasakan kenyamanan ini sebelumnya.
“Ayo berangkat, Nyonya Muda,” goda Arkan sambil mengedipkan satu matanya.
Mobil sedan hitam mewah milik Arkan berhenti tepat di depan gerbang SMA tempat sekolah Elzia. Kehadiran mobil itu seketika menjadi pusat perhatian para siswa yang tengah berhamburan masuk.
"Turun di sini saja, Om! Jangan sampai depan lobi!" bisik Zia panik, matanya melirik ke kiri dan ke kanan, berharap tidak ada teman sekelasnya yang melihat.
Arkan tidak menghiraukan ucapan Zia. Bukannya berhenti, ia justru memutar kemudi dan masuk ke area drop-off utama sekolah.
"Arkan! Aku bilang berhenti!"
"panggil saya 'Om Arkan' kalau di depan umum, Zia. Jaga sopan santunmu," sahut Arkan dengan tenang sambil menginjak rem dengan halus.
Begitu mobil berhenti, Arkan turun terlebih dahulu. Tindakannya ini memicu bisik-bisik dari gerombolan siswi di koridor. Arkan, dengan setelan jas navy yang pas di badannya dan kacamata hitam, tampak seperti karakter CEO yang keluar dari novel romansa.
Arkan berjalan memutar, membuka pintu untuk Zia.
"Keluar," perintahnya singkat namun tegas.
Zia keluar dengan wajah tertunduk, berusaha menyembunyikan identitasnya di balik tas ransel. Namun, Arkan justru menahan lengannya.
"Zia, tunggu."
Arkan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam (black card ) dan menyelipkannya ke saku seragam Zia
"Pakai ini kalau jam istirahat. Jangan cuma makan bakso di kantin, beli makanan yang bergizi. Dan satu lagi..." Arkan mendekat, mengecup kening Zia sekilas di depan mata semua orang yang menonton. "Belajar yang benar. Jangan berpikir aku terus."
Zia membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga telinga berdenging. "Om... gila ya? Ini sekolah!"
"Aku hanya menandai wilayahku," bisik Arkan dengan seringai nakal sebelum kembali masuk ke mobil dan melaju pergi, meninggalkan Zia yang kini menjadi pusat perhatian seantero sekolah.
Di Dalam Kelas
Zia duduk di kursinya dengan lemas. Sahabatnya, Maya, langsung mendapat ribuan pertanyaan.
"Zia! Siapa cowok ganteng tadi? Itu gula-gula papamu? Atau kamu beneran dapet sugar daddy ?" cerocos Maya sambil mengguncang bahu Zia.
"Dia...dia cuma om-ku, Maya. Jangan bahas itu, plis," bohong Zia, meski hatinya terasa tidak enak.
Tiba-tiba, seorang pria populer di sekolah bernama Reno mendekati meja Zia. Reno adalah ketua tim basket yang sudah lama mengejar Zia, namun Zia selalu menghindar.
"Zia, itu siapa?" tanya Reno dengan nada tidak suka. "Tadi aku lihat dia... nyium kening kamu?"
Zia menelan ludah. "Bukan urusanmu, Ren."
"Jelas urusanku. Aku nggak suka kamu dekat sama om-om girang begitu. Kalau kamu butuh uang atau apa pun, kamu bisa bilang ke aku, bukan malah menjual diri sama—"
PLAK!
Zia menampar Reno dengan keras, matanya berkaca-kaca karena marah. "Jaga mulutmu, Reno! Dia bukan orang seperti itu!"
Di saat suhu panas, ponsel di saku Zia bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Zia tahu itu pasti Arkan.
Nomor Tak Dikenal: "Jangan meladeni bocah itu. Aku menyuruh supirku menjagamu dari jauh. Fokus ke pelajaran mu, atau aku akan menjemputmu lebih awal dan mengurungmu di perpustakaan rumah."
Zia merinding. Bagaimana Arkan bisa mengetahuinya? Ia menoleh ke arah gerbang sekolah dan melihat mobil hitam lain terparkir di sana. Arkan benar-benar serius dengan ucapannya tentang "menjaga" Zia
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔